Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Menjelang persalinan part 2


__ADS_3

Semua menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi Raina, berharap operasi nya cepat selesai dan mereka berdua baik-baik saja.


Mikaila bersandar di lengan Bram, " Mas, aku takut," lirih Mikaila sangat pelan.


"Semua akan baik-baik saja," jawan Bram tak kalah pelannya.


Didalam ruang operasi, Arya terus menggenggam erat tangan Raina, dan berusaha membuat Raina tenang.


"Kak, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Raina saat operasi nya sedang berlangsung, ia sudah tak bisa merasakan bagian bawahnya.


Arya melihat apa yang sedang dokter lakukan, "Dokter sudah mulai, semua nya berjalan lancar." 


Arya tak tahan melihat apa yang dokter lakukan pada perut istrinya, Arya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan wajah Raina mengecup singkat bibir Raina.


"Apa kau mau mendengar cerita lucu?" tanya Arya mengusap lembut air mata Raina yang kembali menetes.


"Cerita apa, Kak?"


Arya mengecup punggung tangan Raina yang sejak tadi di genggamnya dan mulai menceritakan saat mereka kepulauan tempat kakek dan Dika. Menceritakan bagian mana mereka menangkap ikan dan memasak menggunakan kayu bakar. 


Raina sedikit melupakan rasa takutnya, mendengar cerita Arya, ia bahkan tertawa saat Arya menceritakan kelakuan lucu Gavin.


Di luar ruangan operasi.


"Bu, sebaiknya kamu duduk saja!" ucap ayah Mikaila melihat istrinya terus berjalan mondar-mandir. Terkadang ia ke kamar mandi. Semenjak Raina masuk ke ruang operasi terhitung sudah puluhan kali Ibu Mikaila keluar masuk kamar mandi. Ini adalah Cicit pertamanya membuat ia sangat gugup.


"Kalau Ibu duduk, rasa buang air kecil ibu tiba-tiba datang, Ibu sudah lelah bolak balik ke kamar mandi, Yah." jawab ibu.


"Apa Ibu tidak lelah juga bolak balik seperti itu, Ayah saja lelah, Bu. Melihat Ibu" sahut ayah.


"Kalau Ayah lelah, jangan lihat Ibu, lihat saja Kelvin atau Gavin sana." kesal Ibu.


Gavin yang namanya di sebuah menunjuk dirinya Sendiri, "Ngapain juga, Nek. Kakek lihat Gavin, lagian ucapan Kakek benar, kalau Nenek jalan terus nanti Nenek kelelahan, entah ujung-ujungnya Gavin juga kan yang disuruh pijitin Nenek," sahut Gavin.


"Jadi kamu ga ikhlas mijitin Nenek selama ini, ha?"


"Bukan gitu, Nek. Nenek sudah tua nanti lutut Nenek sakit lagi."


Ibu Mikaila terus berdebat dengan Gavin, Arsy sesekali ikut nyambung dengan pembahasan mereka.


Sesekali Ayah, Ibu, Gavin dan Arsy tertawa. Gavin sengaja membuat suasana menjadi sedikit mencair, Mikaila yang sejak tadi tanpa sadar meremas lengan Bram juga ikut tertawa mendengar candaan Gavin.


Bram membiarkan apa yang dilakukan Mikaila, ia tahu jika Istrinya itu sangat gugup. Bahkan beberapa kali kuku Mikaila menancap sempurna di lengan Bram. Bram menggunakan kaos lengan panjang, Namun, ia menggulung tangannya hingga ke sikunya.


Bram memperhatikan Kelvin yang hanya duduk diam dan terus mencoba menghubungi seseorang.


"Apa ada masalah dengan Kelvin?"tanya Bram.

__ADS_1


Mikaila melihat kearah Kelvin yang ikut bergabung dengan yang lainnya. Namun sepertinya ia larut dalam dunianya sendiri.


"Tidak, Kelvin tak pernah cerita apapun padaku," jawab Mikaila.


"Coba nanti kau tanyakan padanya, apa masalahnya!" ucap Bram memperhatikan perubahan Kelvin semenjak pulang dari luar negeri.


"Iya, Mas. Nanti aku tanyakan. Mas, kenapa operasi nya lama ya? Apa ada masalah?" cemas Mikaila menatap lampu ruang operasi Raina masih menyala yang berarti operasi masih berlangsung.


Bram yang melihat Mikaila teralihkan dari meremas tangannya dengan cepat menurunkan lengan bajunya. Lengannya sudah terasa sakit, sesekali tanpa sadar Mikaila juga mencabut bulu tangan Bram. Bram hanya bisa meringis menahan rasa sakitnya, ia ingin menegur, tapi tak tega melihat raut wajah cemas Mikaila.


"Mungkin sebentar lagi" jawab Bram mengusap tangan Mikaila yang kembali meremas lengan Bram yang sudah tertutupi lengan bajunya.


Di dalam ruang operasi.


Raina merasa lebih tenang setelah mendengar cerita Arya. 


Arya kembali berdiri dan melihat bagian perut Raina. Arya meringis melihatnya. Ia mengecup kening Raina, dan juga kembali mengecup genggaman tangan mereka. Demi melahirkan benihnya istri itu mengalami hal yang menurut Arya sangat mengerikan. Melihat kondisi perut istrinya yang harus di belah demi mengeluarkan bayinya.


"Ada apa, Kak?"tanya Raina melihat perubahan raut wajah Arya.


"Tak apa-apa, sebentar lagi kita akan bertemu bayi kita." jawab Arya mencari alasan.


Raina hanya tersenyum mendengar ucapan Arya.


Baru saja Arya mengatakan jika mereka sebentar lagi akan bertemu dengan bayi mereka, suara tangisan bayi memenuhi ruang operasi. Anindita mengangkat bayi perempuan dan langsung memperlihatkan kepada Arya dan Raina.


Mereka telah menyandang status baru, menjadi orang tua, kehadiran bayi kecil itu membawa status baru bagi keduanya. Raina menutup mulutnya dengan salah satu tangan yang tak digenggam oleh Arya. Air matanya menetes,  bayi yang selama ini selalu dirasakannya di dalam rahimnya kini hadir menyapanya dengan suara tangisan yang begitu merdu di telinganya...


"Iya, sayang. Kamu Ibu yang hebat, bayi kita sudah lahir."


Arya bernafas lega. Ia tertawa, tapi ada air mata tergenang di pelupuk matanya. Beban yang selama beberapa bulan terakhir ia pikul kini terangkat sudah, setiap malam Arya tak tenang, ia tak bisa tidur.  Memikirkan mimpinya dan Raina yang terus mengganggu malamnya. 


Mendengar tangis bayinya membuat hatinya terasa lega. Rasa senang, bahagia, haru, sedih, bangga, menjadi satu. 


Arya menghujani wajah Raina dengan ciumannya. Rasa syukur terus keluar dari mulut mereka berdua.


Setelah membersihkan bayi mungil yang masih terus menangis, Anindita meletakkannya di dada Raina, seketika tangisan bayi cantik itu berhenti dan digantikan tangis bahagia dari ibunya. Raina menangis saat bayi yang selama ini bergerak di perutnya kini ada di dadanya, sedang berusaha menggapai wajahnya. Menggerakkan tangan kecilnya.


Bukan hanya Raina, Arya juga meneteskan air mata saat bayi kecil itu menggenggam tangannya, dan membawa tangan Arya ke mulut kecilnya memberikan hisapan kecil di jarinya. 


Arya mencium pipi kecil putrinya yang sedang menguap, Arya tersenyum saat putri kecilnya itu terlihat sangat susah membuka matanya. Arya kemudian beralih mengecup kening Raina, "Terima kasih ya sayang, ini hal terindah dalam hidupku," ucap Arya.


Raina hanya bisa mengangguk, ia masih sesegukan, bibirnya masih bergetar dan terus mengusap punggung bayi kecilnya yang kembali terlelap di dadanya.


Anindita dan beberapa dokter lainnya kembali melanjutkan proses operasinya. Raina sudah melupakan rasa takut. Rasa bahagia setelah melihat anaknya mampu membuat ia melupakan jika sekarang dirinya sedang ada di meja operasi.


Arya terus mengganggu bayi yang sedang tertidur pulas membuat Raina gemas dan memukul tangan suaminya itu.

__ADS_1


Bayi itu akan menangis saat Arya menarik jarinya yang sedang dihisap bayi kecil itu.


"Kak, kok wajahnya mirip Kakak semua," protes Raina yang melihat hidung, bibir, mata, bayinya sangat mirip dengan Arya.


"Ya, iyalah dia kan anaknya Kakak," jawab Arya.


"Bayi ini kan juga anak Raina, masa semuanya mirip Kakak."


Mereka terus berdebat mengenai kemiripan wajah anak mereka, Anindita hanya tersenyum melihat mereka berdua, tadi mereka terlihat begitu khawatir dan Sekarang mereka terlihat sangat bahagia.


Setelah Raina dibersihkan Ia pun akan dipindahkan ke ruang perawatan.


Lampu ruang operasi mati, bertanda operasi telah selesai. Mereka semua langsung berdiri dan berjalan mendekati pintu.


Selang beberapa waktu, pintu ruang operasi terbuka dan keluarlah Anin dan beberapa dokter lainnya.


"Mbak. Bagaimana dengan Raina dan bayinya?" tanya Mikaila langsung menghampiri Anindita.


"Operasinya lancar, bayinya juga sangat cantik, sebentar lagi mereka akan dipindahkan ke ruang rawat sebaiknya kalian menemuinya saat sudah dipindahkan," ucap Anindita.


Mereka semua mengucap syukur atas suksesnya proses persalinan Raina. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat keluarga baru mereka.


Ibu Bram baru datang "Maaf ya, Ibu baru datang. Bagaimana apa Riana sudah melahirkan?"tanya Ibu Bram.


"Sudah Bu, Raina sudah melahirkan. Ibu dan bayinya sehat, sebaiknya kita menemui mereka saat sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kita tunggu di sana saja ya," ucap Anin mengarahkan mereka semua ke ruang perawatan yang sudah disediakan.


Raina di pindahkan ke ruangan perawatan yang paling mewah di rumah sakit itu, mengingat Rumah Sakit itu adalah milik dari keluarga mereka.


"Kok, Ibu bisa terlambat datang sih?" tanya Anin saat mereka berjalan ke ruang perawatan.


"Iya, Ibu sudah mau datang sejak habis magrib, tapi Ibu terus saja pingin pipis, perut ibu juga mulas akhirnya bukannya pergi ibu malah bolak-balik ke kamar mandi."


Anindita tertawa, Ia jadi mengingat bagaimana saat Isabella melahirkan dulu. Ia juga sangat panik, bahkan melupakan jika waktu itu dia juga adalah seorang dokter kandungan, ia tak membantu proses persalinan anaknya sedikitpun. Anin benar- lupa apa yang harus dilakukannya. Ilmu kedokteran hilang saat ia sendiri mengalami kepanikan melihat anaknya kesakitan akan melahirkan cucunya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca🙏


Selamat buat Arya dan Raina atas kelahiran Putri pertama mereka.


Keluarga Abraham Wijaya bertambah satu orang lagi🌹 jadi makin ramai. Semoga Kelvin dan Gavin cepat menyusul Arya biar keluarga Abraham Wijaya semakin ramai.


jangan lupa ya, Kak. beri dukungannya dengan memberi like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku 🥰


Author m anha ❤️

__ADS_1


love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2