
Mikaila mendatangi makam anaknya,mengusap batu nisan Putri kecil yang belum pernah dilihatnya itu.
Air matanya terus menetes membasahi pipinya,walau menahan dengan sekuat tenaga,namun Ia tetap tidak bisa menahan air matanya .
Lama ia duduk memandang pusara putrinya,Bram terus mengusap bahu Mikaila.
"Sayang yang ikhlas ya, semoga bayi kita tenang di sana.Semoga kelak kita akan dipertemukan lagi di surga," ucap Bram.
"Aku ikhlas Mas,tapi hatiku masih tetap sakit. Dia pasti kedinginan di bawah sana,Aisy pasti kesepian,"ucap Mikaila kembali meratap.
"Iya sudah tenang sayang, Allah pasti menempatkannya di tempat yang paling indah di surga,"ucap Bram.
Mikaila tetap duduk,ia tak ingin meninggalkan bayi kecilnya di sana sendiri.
"Sayang Arsy lebih membutuhkan kamu,
bayi kita sudah tenang bersama para bidadari di Surga,kita pulang ya kasihan Arsy,"ucap Bram.
Mikaila pun menuruti perkataan suaminya, sepanjang perjalanan pulang Ia hanya diam dan terus melihat ke arah luar.
Malam hari Mikaila menatap semua baju-baju yang sudah dipersiapkan untuk bayi kembarnya, baju yang masing-masing memiliki pasangan.
Mikaila memisahkan semua pakaian Aisy ke dalam sebuah tas.
"Mau dibawa kemana baju-baju Aisy sayang?"tanya Bram.
"Aku mau nyumbangin ke panti Mas semoga saja di panti barang-barang ini jauh lebih berguna ,"ucap Mikaila.
Mikaila mengusap baju kecil yang sama dengan yang dipakai Arsy saat ini, air matanya kembali menetes .
"Mas aku boleh simpan ini ya,"ucap Mikaila memperlihatkan baju Aisy pada Bram.
"Tentu,simpanlah," ucap Bram.
Mikaila menyimpan satu pasang baju, sepatu dan topi.Ia menyimpannya di sebuah kotak cantik.
Keesokan harinya mereka semua mengunjungi panti asuhan, memberikan pakaian itu kepada panti tempat Raina dulu .
Tak lama kemudian telepon berdering panggilan dari Alex, Bram sedikit menjauh dari mereka.
"Halo Pak, saya sudah mencari tahu tentang panti itu tapi ternyata panti itu sudah pindah dan tempatnya sekarang sudah berdiri sebuah mall ,saya bertanya pada semua orang sekitar sini dan menurut mereka anak yang bernama Raina ikut ke kampung bersama pemilik pesantren itu,"ucap Alex dari balik telfon.
"Apa kamu yakin Raina yang dimaksud adalah Raina yang kita cari?" tanya Bram memastikan.
"Iya Pak, saya sudah melihat fotonya dan memang Raina yang kita cari,"jawab Alex lagi.
"Semoga saja Raina bersama orang yang tepat kali ini."ucap Bram mengakhiri panggilannya.
Satu pesan masuk di ponsel Bram.
Foto Raina bersama Natali yang memakai hijab dan di tengah mereka berdiri seorang kakek berpakaian layaknya ustad.
,
,
__ADS_1
Syana mengajak Dimas bertemu,
"Dimas kita putus aja ya,"ucap Syana saat Dimas baru sampai,bahkan belum sempat duduk.
"Ha,"tanya Dimas kaget diputuskan mendadak.
"Iya kita putus."ucap Syana mengulangi perkataannya.
"Maksudnya?"tanya Dimas duduk dan menatap Syana bingung.
"Kakak suka sama Ayasa kan?"tanya Syana langsung pada intinya.
Dimas tak menjawab pertanyaan Syana.
" Aku sudah tau kak,tak usah di tutupin lagi .Aku dengar semua curhat kak Dimas sama om Bram di Bar,"ucap Syana.
"Maaf, aku sudah berusaha melupakannya,"jawab Dimas merasa bersalah.
"Sudahlah nggak apa-apa, aku hanya sedikit kecewa aja sama kak Dimas,tapi santai aja Kak.Saran aku sebaiknya kak Dimas menyatakan perasaan kakak pada Ayasa,"ucap Syana lagi.
"Entahlah,"ucap Dimas menghela nafasnya.
"Menurut yang aku lihat , Ayasa juga mempunyai perasaan yang sama dengan kak Dimas.,"ucap Syana berpindah duduk di samping Dimas.
"Masa sih?"tanya Dimas.
"Iya,kak Dimas ga perhatian sikap Ayasa berbeda ke kakak?,"tanya balik Syana.
Dimas menggeleng.
"Kalau dia nolak aku gimana,"ucap Dimas memelas.
"Bukan gitu maksud,hanya saja,"ucap Dimas menggantung.
"Kak Dimas,kalau menurut aku Kak Dimas ungkapin aja perasaan kak Dimas dulu, di terima dan ditolaknya itu urusan nanti. Yang penting ungkapin aja dulu.Takutnya nanti kak Dimas menyesal,denger-denger Ayasa mau mencoba membuka hatinya untuk El Barack." ucap Syana yang sudah mulai memakan pesanannya yang baru saja datang .
"Gitu ya,,,"ucap Dimas ikut makan.
"Jadi sekarang kita mantan ya?"tanya Syana dengan mulut penuh makana.
"hemmm,"jawab Dimas mengangguk,mulutnya juga penuh makanan...
Begitu lah mereka,,tak ada sedikitpun kejaiman di antara mereka.
Keesokan harinya di kantor.
Dimas terus memikirkan apa yang dikatakan Syana, jujur perasaannya semakin dalam terhadap Ayasa.
Dimas tidak konsentrasi dengan pekerjaannya dia terus mandar mandir di dalam ruangannya kemudian yang memutuskan untuk menemui Ayas.
"Halo Syana, kamu bisa nggak bantu aku ketemu sama Ayasa?"tanya Dimas menelpon Syana.
"untuk apa?"tanya Syana kepo.
" kamu nggak usah tahu, bisa nggak?"tanya Dimas lagi.
__ADS_1
"Nggak,"ucap Syana.
"Kenapa?" tanya Dimas .
"Orang Ayasa sudah di Bandara,"ucap Syana.
"Bandara, ngapain dia ke Bandara?"tanya Dimas.
"Mau nonton Drakor,"ucap Syana mematikan panggilan Dimas.
Dimas menatap layar HPnya.
"Bandara, ngapain Ayasa ke Bandara,Emang di Bandara bisa nonton Korea," tanya Dimas pada dirinya sendiri .
"Bandara," ucap Dimas saat ia menyadari kebodohannya.Ia segera berlari keluar kantor dan melajukan mobilnya menuju Bandara.
Sesampainya di sana di Bandara Dimas melihat Yoga dan Arandita berjalan keluar Bandara dan naik ke mobil.
"Sepertinya aku terlambat,"gumam Dimas. Ia pun kembali ke kantor dengan perasaan kecewa memaki kebodohannya sendiri.
Minta nomor Ayasa," chat Dimas pada Syana.
Syana pun mengirim kan nomor ponsel yang di minta Dimas .
Malam hari di Apartemennya Dimas terus-menerus menatap ponselnya,menatap nomor Ayasa.
Dimas ragu akan menelepon atau tidak,iya terus menimang-nimang dan akhirnya menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar,namun saat terdengar suara Syana Dimas refleks mematikan panggilannya.
"Siapa sih iseng banget," ucap Ayasa menyimpan kembali ponselnya.
Tak lama kemudian ponsel Ayasa kembali berdering dan dengan nomor yang sama,
"Halo siapa ini ?"tanya Ayasa mengangkat panggilan nya.
Tak ada jawaban dari si penelpon.
"Siapa sih, aku matiin ya!"ucap Ayasa sedikit mengancam.
"Halo aku Dimas," ucap Dimas terbata-bata.
"Dimas siapa?" tanya Ayasa.
"Aku Dimas temannya Arjuna maksud aku Bram," ucap Dimas.
"Kak Dimas," batin Ayasa dan langsung mematikan teleponnya.
"Kak Dimas telepon aku!"gumam Ayasa langsung menonaktifkan ponselnya.
"loh kok dimatikan,"ucap Dimas mencoba menelpon lagi namun sudah tak aktif .
"Apa dia nggak mau bicara sama aku ya,"batin Dimas."Tapi kenapa?" tanya Dimas pada dirinya sendiri.
"Apa ini kenapa kak Dimas nelpon aku,dia dapat nomorku darimana,"ucap Ayasa modar- mandir di kamarnya .
Malam ini keduanya tak bisa tidur,larut dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
💗💗💗💗🙏💗💗💗💗
Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberi like dan komen sebanyak-banyaknya love you. 💖