Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Demi Bumilku.


__ADS_3

Raina tak mau memakan soto yang sudah dipesankan Arya untuk nya, Ia hanya mengaduk-aduk soto yang ada di hadapannya.


Tadinya Raina berpikir Arya akan membawanya ke tempat biasa mereka membeli soto.


Mereka biasanya membeli soto di pinggiran jalan. Namun, karena saat ini ia sedang hamil, Arya membawa mereka ke Restoran bintang lima. Arya beralasan kalau ia mengkhawatirkan keadaan bayinya.


Wajah kecewa jelas terlihat di raut wajah mereka, membuat mereka semua tak bersemangat untuk memakan soto itu. Walau di tempat yang mewah dan di jamin kebersihannya.Namun, rasanya tetap nikmat saat berada di warung kang soto pinggir jalan.


"Kalian kenapa? ayo makan sotonya, nggak akan habis kalau kalian liatin terus," ucap Arya. Iya sendiri sudah mulai makan soto miliknya.


"Kak, Raina maunya di tempat biasa kita makan," ucap Raina.


"Di sini atau di sana kan sama saja, namanya tetap soto. Lagian rasanya juga nggak jauh beda kok," ucap Arya.


"Ya bedalah Kak, tempatnya aja beda rasanya juga pasti beda, Aku lebih suka yang disana," kekeh Raina.


"Sekarang makan saja dulu, kita kesana lain kali," tegas Arya.


Tak ada yang berani membantah termasuk Raina . Walau tidak sesuai dengan keinginan mereka, tetap mereka tepat menghabiskan yang sudah mereka pesan.


Setelah makan mereka pun langsung pulang, Arya mengajak Reina ke tempat lain. Namun, Raina sudah malas ingin kemana-mana, ia hanya ingin pulang. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan di dalam mobil, Gavin sibuk mengirim pesan kepada seseorang, sedangkan Arsy lebih memilih memainkan game di ponsel Arya. Raina sendiri tak mau melihat kearah Arya dan terus melihat keluar jendela.


"Kakak enggak bolehin kalian makan di sana karena kakak khawatir dengan bayi kita. Di sana itu kurang bersih walaupun rasanya enak," ucap Arya memecah keheningan.


Raina tak menjawab dan tetap melihat keluar jendela. Melihat deretan penjual buah yang ada di tepi jalan. Ingin rasanya ia meminta Arya Untuk menghentikan mobilnya dan meminta ia membeli beberapa buah.Namun rasa kesalnya seolah mengunci mulutnya dan lebih memilih menahan keinginannya untuk memakan buah yang ia lihat.


Mobil terus melaju. Saat mata Raina tertuju pada sebuah kedai martabak telur, Raina tak bisa lagi menahan keinginannya, dengan ragu ia menoleh kearah Arya..


"Kak, Raina ingin martabak telur," lirih Raina.


"Kau bilang Apa?!" tanya Arya pura-pura tak mendengar ucapan Raina.


"Raina ingin martabak yang ada di sana Kak, apa boleh?" ucap Raina sambil menuju ke kedai martabak yang sebentar lagi akan mereka lewati.


Arya memelankan kendaraannya tadinya Arya ingin kembali menolak keinginan Raina karena melihat kedai martabak itu ada di pinggir jalan, tetapi melihat raut wajah memohon istrinya, Ia pun memarkirkan mobil di dekat kedai itu.


"Kau tunggu di sini saja, biar Kakak yang belikan," ucap Arya keluar dari mobil mengitari mobil menuju ke pintu mobil yang ada di dekat Raina, mengetuk kaca jendelanya.l.


Riana membuka kaca jendela, "Ada apa kak?" Tanya Raina.


"Apa ada pesanan lain?" tanya Arya pada Gavin dan Arsy.


"Enggak ada, Kak. Beli itu aja semua, sekalian buat bunda dan yang lainnya di rumah," sahut Gavin.


"Oke, baik," Arya kemudian berjalan menuju ke kedai martabak telur itu.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya pesanannya selesai, dan ia kembali ke mobil. Raina yang sudah tak sabar langsung memakan martabak telur yang sudah sangat menggiurkan walau dengan mencium aromanya. Begitu juga dengan Arsy, Gavin yang melihat Raina dan Arsy makan dengan lahap akhirnya ikut makan martabak tersebut.


Raina yang melihat Arya sesekali melirik mereka menyuapi suaminya itu.

__ADS_1


Saat sampai di rumah dan baru memarkirkan mobilnya, Bram dan Mukaila juga baru datang.


Arsy yang melihat Papa dan Bundanya baru datang langsung menghampiri mereka dengan wajah cemberut.


"Papa sama Bunda dari mana?" tanya Arsy mulai berkaca-kaca.


Mikaila langsung memeluk Putri manjanya itu.


"Papa sama Bunda cuman keliling-keliling disini aja kok, bosen di rumah nungguin kalian lama sekali pulangnya," ucap Mikaila mencari alasan.


"Papa, Arsy juga ingin jalan-jalan pakai motor," rengek Arsy.


"Ini sudah malam, bagaimana kalau Papa besok antar kamu ke sekolah pakai motor?!" ucap Bram.


"Iya, aku mau," ucap Arsy terlihat begitu senang.


Gavin langsung membawa masuk sisa martabak telur yang telah mereka makan dan sebagian memberikan pada sekuriti yang menjaga keamanan rumah mereka.


*****


Pagi hari saat sarapan.


Ponsel Mikaila berdering, itu adalah panggilan video dari ibunya di kampung.


Mikaila menyimpan ponselnya di atas meja agar ibunya bisa melihat mereka semua yang sedang sarapan.


"Pagi, Nenek," sapa Arsy begitu melihat wajah neneknya di layar ponsel bundanya.


"Baik, Nek!" ucap Arsy.


"Bagaimana kabar, ibu?" tanya Mikaila.


"Kabar ibu baik, bagaimana kabar, cicit ibu?" tanya ibu Mikaila.


"Kabarnya baik, Nek," jawab Arya. "Raina sering merengek ingin ke kampung, Nek," jawab Arya.


"Ya sudah, kalian datang saja, Kakek pastinya sangat senang jika kalian datang. Lagian kandungannya sekarang sudah memasuki 4 bulan jadi nggak masalah kalian jalan-jalan ke sini. Nenek juga ingin memanjakan cicit nenek!" ucap Ibu Mikaila.


"Nanti dulu ya Bu, takutnya terjadi sesuatu pada kandungan Raina. Inikan masih 4 bulan, tunggu beberapa bulan lagi ya Bu," ucap Mikaila


Raina sudah meminta untuk pulang ke kampung semenjak bulan pertama kehamilannya. Namun, mereka terus melarang dengan alasan keselamatan janinnya. Sampai usia kandungannya ke-4 bulan, keinginannya itu belum juga terpenuhi.


"Iya sudah, nggak apa-apa, Kamu jaga baik ya kandungannya," ucap ibu Mikaila,


Mereka terus mengobrol sambil sarapan bersama walau di tempat yang berbeda....


Setelah selesai sarapan, mereka pun mengakhiri percakapannya.


"Papa, Papa sudah selesai ya makannya?"

__ADS_1


Papa kan harus ngantar Arsy di ke sekolah pakai motor," tagih Arsy mengingatkan janji Papanya yang semalam.


"Iya, mana tas kamu, kita berangkat pakai motor," ucap Bram.


"Papa panaskan motornya dulu, Papa lupa menyuruh pak slamat memanaskan mesinnya," ucap Bram berdiri dari duduknya kemudian menuju ke garasi, mengeluarkan motor Kelvin.


Arsy dengan setia menunggu Papanya di teras rumah ditemani oleh bundanya dan Raina.


Gavin yang sudah menyiapkan mobilnya pergi lebih dulu ke kantor sedangkan Arya langsung masuk ke ruang kerja ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.


Setelah memastikan motornya siap, Bram pun mengantar Arsy ke sekolah menggunakan sepeda motor untuk yang pertama kalinya.


Raina Masih betah duduk bersama dengan mertuanya di teras rumah, memandang bunga-bunga yang ada di taman yang kini mulai bermekaran. Kegemaran Mikaila dalam mengurus bunga-bunga masih ia lakukan sampai saat ini.


"Oh ya, Raina, kapan pemeriksaan kandungan mu?" tanya Bunda yang merasa jika sudah lama mereka tak memeriksakan kandungan Raina.


"Tiga hari lagi bunda," jawab Raina.


"Sepertinya USG kali ini kita bisa tahu jenis kelamin nya. Bunda jadi penasaran. cucu Bunda cewek atau cowok ya" seru Bunda. "Itu sama saja, yang terpenting ibu dan baby-nya sehat," lanjutnya mengusap perut Raina.


Raina dan Mikaila saling menatap dan terdiam mereka bisa merasakan ada tendangan kecil dari dalam perut Raina.


"Bunda itu apa tadi?" tanya Raina tertegun. "Apa yang tadi itu adalah tendangannya?"


Raina yang baru pertama kali merasakan gerakan di perutnya yang begitu kentara, sangat senang.


"Iya, Sepertinya dia ingin menyapa kita, mengucapkan selamat pagi kepada kita.," senyum bahagia Mikaila terus mengelus perut Raina berharap ia bisa merasakan tendangan dari cucunya lagi.


"Bunda, sudah 4 bulan kok bayinya belum aktif ya?" tanya Raina.


"Bunda juga gak tahu pasti, tapi waktu Bunda mengandung Arya emang sih sekitar 5 bulan baru gerakan. Hamil Arya terasa berbeda saat hamil Kelvin dan dan Gavin baru 4 bulan saja mereka sudah sangat aktif di perut Bunda.Lain juga saat Bunda sering merasakan sakit di area bawah perut. Bunda pokoknya mereka semua berbeda-beda," jelas Mikaila.


"Bunda aku takut deh, saat melihat video ibu-ibu yang melahirkan. Rasanya terlihat sangat sakit ya?" tanya Raina.


"Kamu jangan suka nonton video-video seperti, itu nggak baik. Takutnya kamu jadi kepikiran kan," ucap Mikaila.


"Iya Bunda, Raina jadi takut menjelang proses persalinannya."


"Semua akan baik-baik saja, kita serahkan semua pada yang kuasa. Bunda yakin kamu pasti kuat untuk melahirkan anakmu."Bunda menggenggam tangan menantunya .


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membacaπŸ™


jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi like dan komennyaπŸ™


Salam darikuπŸ€—


Author m anha ❀️

__ADS_1


I love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2