
Pagi hari ibu Mikaila sudah sibuk di dapur,ia membuat sarapan nasi goreng kesukaan putrinya,dan menghangatkan bakso yang di bawanya dari kampung.
"emmm wangi banget,bikin nasi goreng ya Bu?"tanya Kaila
"iya,ibu kangen masakin kamu.Bram mana sayang?"
"lagi di ruang kerjanya Bu,sebentar lagi juga turun,"
Mikaila memakan bakso yang sudah di bumbui kacang dan kecap kesukaannya.
"ini bakso mang Ujang kan Bu?"
"iya,ini ibu pesan spesial buat kamu,"
"enak banget Bu,"
Bram datang dengan pakaian kerjanya.
"makan apa sayang?"mengecup puncak kepala istrinya.
"bakso mas,dibawa ibu dari kampung."
Walau sedang hamil besar, Mikaila tak lupa mengurus suaminya,begitu Bram duduk ia langsung mengambilkan nasi goreng yang sudah di sediakan di meja makan.
Menuangkan air putih dan secangkir kopi.
"mas nanti jadwal pemeriksaan kandungan,kata mba Anin kita datangnya agak siang soalnya hari ini banyak jadwal operasi nya."
"nanti mas jemput,"
"kalau mas sibuk aku perginya sama ibu aja,,"
"enggak ko sayang,nanti mas yang antar.Mas juga ingin lihat kondisi bayi kita."
Mikaila mengantar Bram sampai di depan pintu mencium punggung tangannya dan melambaikan tangan.
"hati-hati ya mas,"
"ibu senang liat kalian bahagia,"
"iya Bu,Kaila sangat bahagia.Mas Bram sayang sama aku."
"bi Yanti,ayo sini kita makan. sekalian panggil yang lain.Saya masak banyak tadi,tapi maklum ya masakan kampung."
"ini enak ko Bu," jawab Mikaila.
"iya bagi kamu enak,orang dari kecil kamu makan masakan ibu."
"kami makanannya di dapur aja Bu,"jawab bi Yanti.
"udah ga apa-apa,jangan sungkan.Kita sama aja,ayo silahkan duduk.
Mereka pun makan bersama.
"aww "pekik Mikaila saat perutnya sakit,
"kamu,kenapa nak?"
"aww,Bu perut Ade sakit banget,"
"aduh jangan-jangan kamu mau melahirkan,"
__ADS_1
Semua menghentikan makannya,padahal mereka makan dengan lahap.Walau resep kampung tapi rasanya sangat enak.
Semua panik,Siti berlari ke kamar mengambil tas yang sudah di siapkan,pak slamat langsung mengambil kunci mobilnya dan memarkirkan mobilnya di depan pintu.
Bi Yanti langsung menelfon Bram,mba Lala membantu ibu menenangkan Mikaila.
Saat semua panik pak Wawan dan Wahyu hanya sibuk melihat mereka dan tetap duduk menghabiskan makanannya.
Bram yang mendapat kabar kalau Mikaila kontraksi langsung memutar balik mobilnya.
"mba,perut Mikaila sakit.Aku langsung bawa ke rumah sakit ya."ucap Bram menelfon kakaknya.
"ya udah langsung bawa aja,"
"aku baru menuju kerumah,"
"santai saja,ga usah buru-buru,"
"iya mba."
"Bu udah ga sakit"ucap Mikaila bingung.
"iya itu baru kontraksi awal,Siti tasnya masukin di mobil aja,"kata ibu yang melihat Siti terus menenteng tas ransel yang lumayan besar.
"bi Yanti tolong telfon mamanya Bram ya,"
"iya Bu"
"Bu sakit lagi"mencengkram sudut meja.
"tarik nafas sayang,hembuskan pelan pelan."
ibu menuntun Mikaila namun semua yang ada di sana ikut menarik nafas seperti yang di contoh kan ibu.
"lagi menuju kesini non,tadi bibi sudah telfon."
"ibu sakit banget,,"
"anak ibu ga boleh cengeng,kamu ga malu sama bayi kamu,"
"huff huff huff,,,sakitnya berkurang Bu,"
"kamu bisa jalan sayang,"
"iya Bu,bisa,"
"ayo kita tunggu Bram di mobil."
Baru beberapa langkah sakitnya datang lagi.
"Bu sakit lagi,"Mikaila mencengkram tangan ibunya,"
"aduh,kenapa ibu jadi lupa motong kuku kamu ,padahal semalam ibu udah keluarin pemotong kuku dari tas ibu."
"emangnya kenapa Bu,"tanya Mikaila
"ga apa-apa,masi sakit?"
"udah nggak Bu,"
"ayo jalan lagi,"
__ADS_1
Saat sampai di teras rumah Mikaila mengalami kontraksi lagi.
"aww, ibu ini kenapa tambah sakit Bu,"tanyanya dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.Tangannya bergetar menahan sakit.
"sabar sayang,tarik nafas.Suami kamu sudah datang,"melihat mobil Bram memasuki gerbang.
Bram yang melihat Mikaila kesakitan langsung berlari dan menggendong Mikaila ke mobil yang sudah di siapkan pak slamat.
Pak slamat dengan sigap mengambil alih kemudi.
"Siti kamu ikut temenin ibu ya,"
"iya Bu,"
Mereka ikut naik ke mobil.
Ibu duduk di kursi depan sedangkan Siti duduk di kursi paling belakang membawa tas kecil yang sudah di persiapkan untuk keperluan Mikaila...
"Masi sakit sayang,"tanya Bram yang melihat Mikaila sedikit tenang.
"udah mendingan mas,"
"mau minum?"
Siti dengan refleks memberikan air minum yang ada di dalam tasnya,dan memberikan beberapa lembar tisu basah karena melihat Mikaila berkeringat.
"mas sakit lagi,"keluh Mikaila.
Bram mengusap perut Mikaila
"tahan ya sayang,sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."
Siti meringis melihat kuku-kuku jari Mikaila menancap sempurna di lengan Bram.
Bram bisa merasakan rasa sakit yang di alami istrinya,namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain menenangkannya.
Rasa sakit Mikaila semakin bertambah seiring pembukaan yang semakin bertambah pula.
Mikaila tak lagi menancapkan kukunya tapi lebih tepatnya sudah mencakar lengan Bram hingga terlihat ada darah yang menetes di sana.
"sabar sayang,rumah sakitnya sudah dekat,"ucap Bram menenangkan istrinya,ia sudah merasa perih di bagian lengannya namun ditahannya seolah tak terjadi apa-apa pada lengannya itu.ia sadar betul rasa sakit yang di rasakan nya tak sebanding dengan apa yang di rasakan istrinya saat ini demi melahirkan anaknya,darah dagingnya.
Mikaila mencakar bahkan sekali-kali menggigit tangan Bram untuk mengurangi rasa sakitnya.
Ibu yang melihat kelakuan putrinya itu ingin menegurnya,namun di cegah oleh Bram dan seolah berkata aku baik-baik dengan isyarat mengangguk kepalanya.
Saat sampai di rumah sakit,sudah terlihat keluarga Bram sedang menunggu mereka.
Bram langsung mengangkat Mikaila ke tempat yang sudah di sediakan.
"Lengan Mas kenapa?"tanya Arabela karena melihat penampilan Bram yang acak-acakan.
Saat di mobil tangan Mikaila mencakar lengan Bram dan tangan satunya menarik-narik baju Bram dan mulutnya tak tinggal diam,ia menggigit apa saja anggota tubuh Bram yang dekat dengan mulutnya.Lengan dan dada Bram menjadi sasaran empuknya.
"udah ga apa-apa,"jawab Bram singkat.
Bram ikut masuk ke ruang persalinan sedangkan yang lainnya menunggu di luar .
"ko lama sekali ya,"kata ibu Mikaila mulai panik,
"iya,ini sudah 2 jam kita nunggu,"sambung ibu Bram yang tak kalah paniknya.
__ADS_1
"sabar Bu, Mikaila pasti bisa,lagian di dalam ada Bram dia pasti jagain Kaila,"ucap Aran memenangkan kedua ibu yang dari tadi mandar-mandir layaknya setrikaan.
Ibu Mikaila, ibu Bram, Arandita, Arabela dan siti menunggu di luar kamar bersalin dangan cemas.