Pilihan Ku

Pilihan Ku
Kehadiran Zaky.


__ADS_3

Zahra melahirkan bayi laki-laki,wajahnya memang sangat mirip dengan Zahra , namun matanya milik Bram.Randy dan keluarganya menyambut kelahiran bayi Yang mereka beri nama Zaky.


Yoga yang mendapat informasi bahwa Zahra melahirkan hanya beberapa bulan setelah pernikahannya sedikit curiga dengan bayi yang dilahirkan Zahra.


Yoga diam-diam mengambil Sempel DNA Bram dan melakukan tes pada bayi Zahra.


Saat hasilnya keluar Yoga sangat terkejut karena hasilnya positif,yang artinya bayi itu adalah anak Bram.


Awalnya Yoga tak mau memberi tahu Bram,namun ia pikir Bram pasti punya cara menyelesaikan masalahnya sendiri.


Raihan sempat melihat isi pesan Mikaila dimana pesan itu adalah foto mereka berdua,


Mikaila berlari ke luar kafe,Raihan hanya bisa melihat wanita yang ia cintai meninggalkannya.


Walau sudah berusaha menepis perasaannya itu namun Raihan tetap tak bisa menghilangkan Mikaila dari pikirannya.


"apa yang aku lakukan,ini tidak benar.bagaimana kalau Bram marah padanya."batin Raihan mencemaskan Mikaila.


Saat sampai di kantor Mikaila terburu-buru naik ke lantai atas tempat ruangan suaminya.


Saat di depan pintu Mikaila mengatur nafasnya dan merapikan penampilannya.


"prangkkk,"Mikaila mendengar suara benda kaca jatuh di dalam ruangan Bram, Mikaila menggigit bibir bawahnya menutup mata dan menghembuskan nafasnya kasar.


Dengan perlahan Mikaila membuka pintu dan melihat ponsel Bram melayang kearahnya.


Mikaila sangat terkejut, untuk saja ia sempat menghindar sehingga ponsel itu membentur dinding bukan wajahnya.


"bagaimana ini,apa yang harus aku lakukan,apa mas Bram marah karena aku bertemu dengan Raihan."batin Mikaila menjerit.


Ruangan Bram sangat berantakan dan terlihat Bram dan Yoga menatap nya sangat tajam.


Mikaila menunduk menghindari tatapan keduanya,ia melihat amplop di dekat kakinya.


Mikaila memungut dan berjalan ke arah Bram.


"mas aku tadi ketemu Humaira ko di kafe,tapi ia cepat pulang karena ada kliennya."ucap Mikaila pelan nyaris tidak terdengar,ia memeluk amplop itu di dadanya.


Tak ada jawaban dari Bram,ia hanya diam dan terus menatap Mikaila lebih tepatnya menatap amplop itu.


"tiba-tiba ada Raihan minta gabung,ya aku iyain aja mas,"tambah Mikaila.


Hening,tak ada suara hingga beberapa saat.


"mas marah ya?"tanya Mikaila memecah keheningan.


"apa?"tanya Bram balik,ia tidak fokus pada ucapan Mikaila.


"mas aku benar-benar ga bermaksud berduaan dengan Raihan seperti di foto itu kami ga sengaja bertemu di kafe,aku hanya menghabiskan eskrim ku."ucap Mikaila memegang tangan Bram membuat amplop itu juga menyentuh tangannya.


"iya sayang,mas percaya kamu ga akan macam-macam di belakang mas,maaf ya tadi mas sedikit emosi,ada Banyak pekerjaan hari ini,"ucap Bram menarik Mikaila ke pelukannya dan tangan satunya menarik amplop itu dari tangan Mikaila.


Melihat amplop itu sudah di tangan Bram Yoga mendekat mengambilnya dan keluar dari ruangan itu.


Bram bernafas lega saat Yoga keluar ruangan membawa amplop hasil tes DNA nya.

__ADS_1


"ini sudah jam pulang sekolah Arya,kita jemput dia yuk,"ucap Bram menghapus air mata Mikaila.


Mikaila mengangguk dan menghapus jejak air matanya.


Bram menggenggam tangan Mikaila sepanjang perjalanan,


"baru begini saja ia sudah sangat sedih, bagaimana kalau ia mengetahui kebenaran Zahra,"batin Bram.


Mereka sampai di sekolah Arya,Arya berlari saat melihat bunda dan papanya datang.


"Hay bunda"ucap Syakila yang juga menunggu ayahnya.


"Hay sayang,"jawab Mikaila.


Raihan datang menjemput putrinya.


Bram menatap Raihan dengan tatapan tajam, tatapannya seolah berkata jangan dekati istri ku.


"siang pak Bram,"sapa Raihan ia merasa tidak enak setelah kejadian di kafe tadi.


Bram tak menjawab ia langsung mengajak istri dan anaknya pulang.


Sepanjang perjalanan Bram hanya terdiam, pikirannya kacau, Mikaila tak berani memulai pembicaraan ia berpikir Bram masih marah padanya.


Saat di rumah Bram juga terus berada di ruang kerjanya,,,


Arya menghampiri papanya,


"papa"ucap menghampiri papanya.


"papa apa sudah ada kabar tentang Raina?tanya Arya naik ke pangkuan papa nya.


"belum sayang, Alex masih terus mencarinya."jawab Bram.


"Alex? tanya Arya melihat Bram


"ya Alex,suatu hari nanti papa akan mengenalkannya pada mu,"ucap Bram mengecup kening Arya.


"tidurlah,"ucap Bram pada Arya dan langsung di turuti Arya.


Bram terus berada di ruang kerjanya hingga pagi.Pikirannya benar-benar kacau ia terus memikirkan bayi yang baru dilahirkan Zahra,ia tak ingin kehadiran nya menggangu rumah tangga dengan Mikaila,tapi ia juga tak ingin lari dari tanggung jawab.Walau bagaimana pun bayi itu adalah anaknya darah dagingnya.


Bram kembali ke kamarnya dan melihat Mikaila tertidur sambil menopang kepalanya di meja di atas karpet dan di depannya terdapat secangkir kopi.


Bram mengambil kopi dan meminum nya,


"masih hangat,"gumam Bram.


"apa dia baru saja tertidur,"Bram mengangkat Mikaila tidur di kasur.


Bram turun ke dapur bermaksud menyimpan cangkir bekas kopinya dan mencari makanan,,karena terlalu memikirkan masalah nya ia sampai melewatkan makan malam.


Bram melihat ada lebih dari sepuluh cangkir kopi disana dan semuanya masih utuh dan sudah dingin.


Mikaila tidak berani menemui Bram di ruang kerjanya sehingga ia hanya menunggunya di kamar ia membuat kopi untuk Bram, berharap Bram datang dan ia akan menawarinya kopi.

__ADS_1


Mikaila terus melihat jam sambil mengecek kopinya,saat kopinya dingin ia akan membuat nya kembali.


Mikaila sudah sangat mengantuk,ia duduk agar dapat mengusir rasa kantuknya.


"mau bibi buatin makan den,?"tanya bi Yanti yang melihat Bram di dapur.


"ga usah bi,aku makan buah saja."Bram mengambil buah apel dan berjalan kembali ke kamar nya.


Bram ikut berbaring di samping Mikaila, mengusap wajah tenang dan lembut istrinya.


Merasa ada yang menyentuh pipinya Mikaila membuka matanya.


"mas,"ucapnya.


"tidurlah."ucap Bram membawa Mikaila ke pelukannya.


"maaf mas,"ucap Mikaila mempererat pelukannya.


Bram membalas pelukan hangat Istrinya.


"mas yang seharusnya minta maaf,sudah merahasiakan kesalahan mas."batin Bram.


Pagi hari Bram mengantar Arya ke sekolah dan terus kekantor nya,ia memanggil Yoga keruangannya.


Yoga mengunci pintu dan memastikan tak akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.


Mereka membahas masalah bayi yang dilahirkan Zahra.


"seperti Randy mengakui kalau bayi itu adalah bayinya."ucap Yoga.


"kenapa ia tak memberitahuku?,"tanya Bram.


"seperti ia pernah berniat memberitahumu,tapi entah apa alasannya sehingga ia membatalkan niatnya."jawab Yoga.


"maksud nya.?ucap Bram lagi.


"menurut informasi,ia membeli beberapa tespek di apotik kemudian langsung ke kota ini,ia juga datang ke kantor.Sepertinya ia ingin menemui mu."ucap Yoga menjelaskan.


Bram memijat kepalanya,sejak semalam ia tidak menemui jalan keluar dari masalah ini.


"kamu tenang saja seperti mereka tidak memberitahu kepada yang lain,dan sepertinya Randy sudah menerima anak itu seperti anaknya sendiri."ucap Yoga mencoba menenangkan Bram.


"semoga saja tak ada masalah nantinya,"ucap Bram.


"mas tolong pastikan anak itu tak kekurangan apapun,"tambah Bram.


"tentu saja"jawab Yoga.


Bersambung,,,


Terimakasih sudah membaca karya pertamaku,,maaf karena masih banyak kekurangan.🙏


Semoga menghibur 💗


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏

__ADS_1


__ADS_2