Pilihan Ku

Pilihan Ku
Dokter juga Seorang Ibu.


__ADS_3

Dimas menatap foto Ayasa yang tersimpan rapi di laptopnya, terlihat begitu cantik di mata Dimas.


"Mengapa aku tak bisa melupakan senyum manis ini,jantungku berdebar setiap menatap foto ini dan mendengar namanya ,apa Aku benar-benar mencintainya."Gumam Dimas mengusap layar ponselnya.


"ini tidak benar ,Sekarang aku sudah punya Syana .Aku akan menjalankan hubungan ini dengan baik," ucap Dimas ia kemudian mengambil ponsel dan menelepon Syana.


"halo sayang,kita keluar yuk lagi suntuk nih,"ucap Dimas setelah panggilannya terhubung,.


Setelah ajakannya diterima Syana, Dimas kemudian menghapus semua foto Ayasa yang ada di laptopnya dan bergegas mengambil kunci mobil.


Mereka berjalan-jalan di tepi pantai, duduk sambil menikmati kelap kelip lampu yang begitu indah.


Alarm di HP Syana berdering ,Syana melihat ponselnya dan tertera tulisan hari ulang tahun Ayasa.


" ya ampun kok bisa lupa sih," ucap Syana menepuk jidatnya kemudian ia menelepon Ayasa.


"ada apa sih,"tanya Dimas.


"aku lupa hari ini ulang tahun Ayasa dan aku belum mengucapkan selamat kepadanya."jawab Syana.


Sambungan telepon Ayasa terhubung , Dimas bisa mendengar suara Ayasa,karena Syana memasang pengeras suara di ponselnya..


Jantung Dimas lagi-lagi berdetak kencang saat mendengar suara yang begitu dirindukannya.


"selamat ulang tahun ,Maaf ya baru bisa ngucapinnya sekarang aku lupa," ucap Syana menyesal.


"Ga papa kok, makasih ya ucapan selamatnya," jawab Ayasa.


"kamu lagi sama siapa, kok aku dengar suara cowok ,"tanya Syana.


"Aku lagi sama El Barack, teman aku dari Turki,"jawab Ayasa.


"cie cie yang udah punya pacar, selamat ya udah nggak sendiri lagi ngerayain ulang tahunnya. Oya kapan kamu balik ?"tanya Syana.


"gak tahu nih mungkin beberapa bulan lagi ," jawab Ayasa.


Mereka terus berbincang-bincang, sementara Dimas memilih berjalan sendiri tak jauh dari Syana.


Hatinya terasa sakit membayangkan Ayasa bersama pria lain...


Di kampung halaman Jabbar.


Isabela sedang memeriksa pasiennya tiba-tiba perutnya terasa sakit.


"kenapa ini, apa sudah waktunya aku melahirkan," batin Isabela.


ketakutan akan melahirkan sudah membayanginya dengan cepat ia mengambil ponsel dan menelepon Jabbar suaminya yang bekerja di bengkel samping kliniknya.


Beberapa saat kemudian Jabbar langsung menghampirinya,


"Ada apa sayang, kenapa perutnya ?"tanya Jabbar panik melihat wajah kesakitan istrinya.


"sepertinya bayinya sudah mau lahir ,bagaimana ini aku takut,"ucap Isabela mulai menangis.


" aku telepon Ibu dulu ya,"jawab Jabbar .Tangan Jabar bergetar saat memegang ponselnya..


"Bu Isabela mau melahirkan ,cepat kesini ,"ucap Jabbar saat mendengar suara ibunya.


Ibu langsung panik dan memanggil suaminya agar mengantarnya ke klinik.Tak lupa ibu membawa tas yang sudah disiapkannya untuk persalinan menantunya.


"kak sakit ,"ucap Isabela memegang perutnya.


Beberapa bidang sudah membantu menyiapkan proses persalinan.


Isabela mencengkram tangan Jabar, tangan Isabela bergetar menahan sakit .

__ADS_1


"ibu ibu telepon Ibu aku mau Ibu," ucap Isabela disela tangisnya, air matanya sudah tak terbendung lagi menetes dengan deras membasahi pipinya.


Jabbar dengan sigap mengambil ponsel dan menelepon mertuanya.


"ibu sakit,ibu sakit. Ibu ke sini sekarang," ucap Isabela saat mendengar Ibu nya dari balik telfon.


"sayang kamu sudah mau melahirkan," tanya Anin mendengar jeritan anaknya.


" ibu ke sini sekarang,aku mau ibu,"Isabela terus menangis merintih menahan sakit.


Walau sudah sering menangani pasien saat melahirkan namun berbeda kali ini, Anin begitu panik iya tak tahu harus apa,ia duduk mematung.


"Bram," Anin mengambil ponsel dan menelepon Bram meminta adiknya itu menyiapkannya pesawat sekarang juga.


Anindita tanpa membawa apapun langsung ke bandara, pesawat pribadi Bram sudah menunggu disana Dan ia langsung diterbangkan ke tempat putrinya.



Tak butuh waktu lama,,,ia sudah mendarat di bandara kato tempat putri kecilnya,dan klinik anaknya itu dekat dari bandara.


Jabbar sudah meminta seseorang untuk menjemput mertuanya itu...


"astagfirullah aku lupa memberitahu Mas Surya," ucap Anindita yang baru sadar jika ia belum memberitahu suaminya dan tak membawa apapun saat berangkat ke bandara.


Anindita menelepon suaminya, namun tak diangkat ia kemudian menelepon Syana memberitahu jika iya sekarang ada bersama Isabela yang akan melahirkan dan meminta Syana memberitahu ayahnya.


"ibu pergi sendiri nggak ngajak kami,"protes Syana


" Maaf Ibu lupa, Ibu panik sudah dulu ya Ibu sudah mau sampai di klinik, kasihan kakak kamu. Jangan lupa langsung beritahu Ayah,Oya jika ada jika ada yang ke sini tolong bawakan pakaian ibu.Ibu tak bawa apa-apa ,"ucap Anindita mengakhiri panggilannya.


Syana menatap layar ponselnya dan menggeleng.


" Ibu jahat banget sih ninggalin aku," ucap Syana bergegas ke rumah sakit...


"Mungkin Ayah sedang operasi,"batin Syana.


Anindita menghampiri anaknya yang meringkuk kesakitan.


"Sudah pembukaan berapa ,"Tanya ibu Isabela pada bidan yang menanganinya.


"sudah pembukaan 6 Bu ,"jawab bidan tersebut.


"ibu sakit,"rintih Isabela menggenggam tangan ibunya .


"sabar ya sayang, sebentar lagi bayinya akan keluar sabar ya,"ucap Ibu mengelus perut anaknya.


Anindita melihat penampilan menantunya yang sudah sangat berantakan ,sedari tadi Isabela terus mencengkram tangan Jabbar, menarik baju bahkan menjambak suaminya.Dengan begitu ia sedikit merasa tenang.


Jabbar hanya pasrah menerima setiap serangan istrinya, rasa sakitnya tak sebanding dengan Apa yang dirasakan istrinya saat ini. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


"pembukaan sudah lengkap,"ucap bidan yang membantu persalinan Isabela...


"Dokter kandungannya mana? kenapa cuma kau hanya sendiri?" tanya Anin yang tak melihat Dokter disana.


" ibu kan dokter ,ibu saja yang bantu aku ,"ucap Isabella


" nggak bisa, Ibu takut,panggil dokter yang lain aja ya, Ibu tunggu di luar," ucapan Anindita.


" kok gitu sih Bu, aku mau sama ibu,aku takut,"rengek Isabela terus menggenggam tangan ibunya.


Ibu tunggu di luar ya ,"ucap Anin lagi.


"Aku nggak mau,ibu harus disini sama aku ,"Isabela sudah menggenggam erat tangan Ibu dan suaminya.


"Ibu temani ya,jangan nangis," ucap Anin mengalah. iya tak tega melihat lelehan air mata yang jatuh di pipi anaknya.

__ADS_1


Jabbar hanya melihat perdebatan dua dokter yang sedang ketakutan, ia ingin tertawa namun Ia juga kasihan melihat istrinya.


Air ketuban sudah pecah ,Isabela terus mengejan berusaha mengeluarkan bayinya .


Saat mengejar ia mencengkram erat tangan Jabar hingga kuku-kukunya menancap di lengan suaminya itu.


Jabar yang merasakan kesakitan menggenggam erat pegangan panjang persalinan.


Anin yang melihat Isabella mengejan ikut mengejan,


" tarik nafas buang, tarik nafas buang ,"hanya itu yang bisa iya ucapkan iya tak melakukan apapun dalam proses persalinan itu semua ilmu kedokteran yang ia pelajari hilang begitu saja saat melihat putrinya kesakitan saat akan melahirkan cucunya.


Anindita bisa melihat kepala cucunya.


"sedikit lagi sayang,"ucap ibu Isabela memberi semangat putrinya...


"Bu aku sudah ga kuat,"ucap Isabela lemas.


"sayang kamu pasti bisa,"ucap Jabbar mencium kening istrinya yang sudah bercucuran keringat...


"ayo Bu sedikit lagi.,"ucap ibu bidan.


"iya sayang ,, sedikit lagi,"tambah Anin.


Isabela kembali mengejan dengan sekuat tenaga namun usahanya sia-sia posisi bayi tersebut tak bergerak maju.


Sementara Ibu Jabbar terus bolak-balik di balik pintu ruang persalinan ,Ayah Jabbar hanya duduk melihat istrinya.


"Duduk bu,Ayah capek lihatnya.


"Ibu khawatir,"ucap ibu.


"tenang aja di dalam sudah ada ibunya, ibunya itu dokter kandungan,"ucap ayah mencoba menenangkan istrinya.


" iya yah dokter kandungan, tapi ibunya juga takut.Ia bahkan tak melakukan apa-apa untuk anaknya," keluh Ibu Jabbar...


"tarik kepalanya kenapa diam saja,,"tegur ibu kepada dokter kandungan Isabela...


"Ibu minggir jangan di situ, Ibu menghalangi dokter ,"ucap Isabella yang melihat ibunya menghalangi dokter yang sedang menolong persalinan nya.


Ibu Isabella berada di depan dokter sehingga dokter tidak bisa leluasa membantu.


"maaf,"ucap Anin baru menyadari posisinya.


Sebenarnya saat kepala bayi keluar Anindita bisa saja menariknya namun ia tak melakukan apa-apa, tangannya kaku dan hanya bisa melihat kepala cucunya...


"sekali lagi ya Bu,,,tarik nafas dan dorong,"ucap dokter yang sudah berada di posisi seharusnya...


Isabela mengikuti arahan dokter,ia menarik nafas dalam dan mendorongnya dengan sangat kencang dan terdengarlah suara tangisan bayi,


"oeeee. oeee oeee,"Bayi


tampan lahir dengan sempurna,,,


"makasih sayang,,"ucap Jabbar mencium kening dan punggung tangan istrinya..


Semua ikut menitikkan air mata melihat bayi mungil itu menangis sangat kencang ..


Dokter meletakkan bayi tersebut di dada ibunya.


Jabbar dan Isabela mengecup putranya untuk yang pertama kalinya.


"selamat ya sayang,"ucap Anin mengecup pucuk kepala putrinya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’–πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komen sebanyak-banyaknya.


Terima kasih semua selamat beraktivitasπŸ’–πŸ’–πŸ’– Salam dari m anha.


__ADS_2