Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Sapaan Yang Mengharukan.


__ADS_3

Sore hari sesuai rencana, mereka akan pergi ke klinik untuk memeriksakan kondisi kehamilan Raina. Mikaila membawa beberapa bekal termasuk mangga yang telah Ia kupas dan beri bumbu rujak dan beberapa cemilan lainnya. Mikaila bahkan membawa bubur yang tadi dimakan oleh Raina, berjaga-jaga siapa tahu saja menantunya itu ingin makan saat di perjalanan.


Arsy juga sangat antusias ingin ikut melihat bayi yang ada di rahim Raina, Arsy terus mengusap perut Raina yang masih rata.


Raina bisa melihat kebahagiaan di wajah semua keluarganya menyambut kelahiran bayi yang tengah ia kandung.


Sepanjang perjalanan Raina terus bersandar di bahu Bunda Mikaila, kepalanya masih terasa sangat pusing. Bunda mengeluarkan rujak mangga muda yang tadi dibuatnya.


"Kamu mau makan ini?" tanya bunda Mikaila menyodorkan rujak mangga tersebut kepada Raina.


Raina yang melihat rujak mangga muda itu langsung berbinar, sebenarnya sejak kemarin Ia ingin makan sesuatu, tetapi ia tak tahu entah apa yang diinginkannya.Namun, saat melihat rujak mangga itu, ia menyadari jika dari kemarin rujak mangga lah yang selalu diinginkannya.


Raina menegakkan duduknya dan mulai memakan rujak mangga muda itu.


Arsy yang lihat Raina makan dengan lahap ikut mencoba memakannya.


Baru segigit Arsy langsung membuangnya.


"Ih, nggak enak, kecut!" ucapnya sembari mengambil tisu dan mengelap lidahnya, rasa asam itu seolah menempel pada lidahnya. Arsy mengambil minum yang ada di belakang jok dan langsung meminumnya hingga tandas.


"Bunda, kok buatnya mangga yang masih masam sih?! apa nggak ada yang manis atau buah-buahan lain yang enak," protes Arsy.


"Iya, nanti Bunda buatkan.Ade maunya buah apa saja?" tanya Mikaila.


"Apa aja Bunda, yang penting jangan seperti ini. Rasanya masam, ga enak. Arsy nggak suka," ucap Arsy menaikkan bahunya melihat rujak yang di makan Raina. Arsy juga sangat suka makan rujak.


Raina terus memakan rujak tersebut sepanjang perjalanan, sampai di klinik Anindita ia merasa lebih baik. Rasa mualnya tiba-tiba hilang setelah menghabiskan rujak mangga yang dibuat oleh mertuanya.


"Apa nggak apa-apa Bunda? makan mangga muda seperti itu, rasanya kan masam. Apakah Raina tak akan sakit perut?" tanya Arya yang melihat Raina menghabiskan rujak tersebut.


"Enggak apa-apa kok, Raina kan tadi sudah makan bubur jadi nggak masalah kalau dia memang ingin makan rujak. Bunda nggak kasih cabai kok, jadi aman?" jawab Bunda Mikaila.


Setelah sampai, Arya dengan segera membuka pintu mobil untuk Raina dan menuntunnya keluar. Sejak tahu jika Raina tengah mengandung anak mereka, Arya menjadi lebih perhatian. Ia bahkan menemani Raina saat akan ke kamar mandi, takut kejadian kemarin terulang lagi. Arya sangat takut saat melihat Raina jatuh di kamar mandi kemarin.


"Apa mau aku ambilkan kursi roda?" tawar Arya.


"Enggak usah,Kak. Raina bisa kok jalan sendiri," jawab Raina yang merasa sudah jauh lebih baik.

__ADS_1


"Apakah kamu mau aku gendong aja," ucap Arya.


"Enggak usah, Kak. Raina benar udah bisa kok jalan sendiri." tolak Raina.


"Baiklah, kalau kamu meresa kuat," ucap Arya mengalah.


"Ya udah, Kak. Gendong Arsy aja," ucap Arsy merentangkan tangannya kepada Arya.


"Ok, sini kakak gendong," ucap Arya, benar menggendong Arsy di punggungnya dan mereka pun berjalan masuk menuju ke ruangan Anindita.


Anindita sengaja meminta mereka datang lebih awal, Jika mereka datang saat malam hari pasiennya sudah sangat banyak.


Raina mulai dibaringkan di ranjang pesien. Perut Raina mulai di beri jelly dan melakukan proses USG.


"Ini janin kalian," ucap Anindita memperlihatkan pada mereka sebuah titik sebesar biji jagung pada layar. Semua melihat ke arah yang ditunjuk oleh Anin. Semua tersenyum melihat janin tersebut yang begitu kecil.


"Itu bayinya?" tanya Arsy kecewa. Ia berpikir ia akan benar-benar melihat sosok seorang bayi di dalam rahim Raina, bukannya sebuah titik seperti itu.


"Iya sayang kan kita nunggunya 9 bulan baru bayinya bisa keluar," jelas Anindita.


"Kenapa bentuknya cuman titik, bukan bayi kecil?" tanya Arsy masih dengan raut kecewa.


"Iya Tante, Arsy akan menjaga Adik bayinya Arsy," ucap Arsy antusias.


Anindita kemudian memperdengarkan suara detak jantung bayi yang tengah berkembang didalam rahim Raina, suara detak jantung bayi kecil itu sungguh membuat semuanya menjadi terharu. Mata Arya berkaca-kaca, mendengar suara detak jantung bayinya. Itu adalah suara detak jantung dari bayi mereka.


Raina yang mendengar suara detak jantung tersebut meneteskan air matanya. Ia tak menyangka saat ini ada nyawa yang sedang berkembang di rahimnya.


Mikaila juga tak bisa menahan air matanya, ia memeluk Bram, menyandarkan kepalanya di dada suaminya melihat ke arah layar, melihat titik kecil itu dan mendengar suara detak jantungnya. Mendengar detak jantung calon cucu mereka.


"Sekarang kamu masih dalam tahap ngidam. Tante tau kamu susah untuk makan, tapi usahakan ya kasihan bayi kamu. Saat ini ia sangat membutuhkan banyak nutrisi dan itu bisa ia dapatkan Jika kamu makan makanan yang sehat dan bergizi," nasehat Anindita.


Raina mengangguk, ia mengerti dan bertekad akan menjaga anaknya dan memenuhi semua apa yang dibutuhkannya. Walau ia harus memuntahkan kembali makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


Pemeriksaan selesai, mereka pun kembali dengan sangat bahagia. Saat dijalan seperti keinginan Arsy, Mikaila singgah untuk membeli beberapa buah.


Raina menunggu di dalam mobil, hanya Arsy dan Bunda yang pergi memilih buah yang akan mereka buat rujak.

__ADS_1


Arsy memilih buah yang ia suka, Mikaila hanya mendorong troli mengikuti kemana Arsy pergi.


Satu demi satu buah dimasukkan ke dalam troli, Arsy bahkan mengambil buah yang tak bisa dibuat menjadi rujak.


"Ade, apa ini nggak kebanyakan," tegur Bunda saat Arsy masih mengambil beberapa macam buah saat troli nya sudah hampir penuh.


"Enggak lah Bunda, kan kak Raina juga bisa memakan buahnya nanti. Ade membutuhkan banyak nutrisi kata tante Anin," ucap Arsy mengingatkan bundanya.


"Oh iya ya, kita kan juga harus mengisi kulkas dengan buah bukan hanya untuk dibuat rujak saja," ucap Mikaila. Tadinya Ia membeli buah hanya untuk di buat rujak, ia lupa jika buah-buahan di rumahnya sudah habis.


Mikaila ikut membantu memasukkan beberapa jenis buah yang dianggapnya disukai oleh Raina dan kebanyakan ibu hamil pada umumnya. Mereka tidak hanya membeli buah, Mikail juga membeli beberapa macam susu untuk ibu hamil dengan berbagai rasa. Beberapa bahan makanan lain yang memiliki nutrisi dan gizi yang baik.


"Kok Bunda lama sekali ya, Pah?" tanya Arya yang sedari tadi menunggu di mobil. "Bunda bilangnya mereka hanya sebentar.Namun, ini sudah 1 jam berbelanja kenapa bunda tak kunjung keluar dari Supermarket ya," keluh Arya menyandarkan bahunya.


Arya melihat ke kursi belakang, Raina juga sudah tertidur di sana.


Mikaila dan Arsy tanpa sadar terus mengambil dan mengambil bahan makanan hingga 3 troli sudah penuh. Mereka pun segera membayar belanjaan mereka dan meminta petugas yang bekerja di sana membawanya ke mobilnya.


Arya dan Bram saling pandang saat melihat 2 orang karyawan mengikuti mereka dengan kedua tangannya di penuhi barang belanjaan mereka.


Mikaila mengatur barang-barang tersebut di bagasi dan memberikan tips kepada mereka. Mikaila masuk ke mobil dan meminta Arya untuk menjalankan mobilnya.


Arya yang tadinya ingin protes mengenai lamanya waktu mereka berbelanja dan banyaknya bahan makanan yang mereka beli mengurungkan niatnya saat melihat Papanya menggeleng dan mengisyaratkan agar ia melajukan mobilnya saja.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membacaπŸ™


Jangan lupa ya, tinggalkan jejak kalian dengan memberi like dan komennyaπŸ™


1 like dan komen dari kalian sangat berarti bagi kami para author, semua itu bisa menjadi penyemangat bagi kami agar bisa berkarya lebih baik lagi.πŸ€—


Salam darikuπŸ₯°


Author m anha ❀️


Love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2