
Bram dan Jabbar berangkat ke bengkel, dengan sepeda motor kesayangan Jabbar. ia membelinya dengan uang hasil kerjanya sendiri.
Bram ingin melihat seperti apa kehidupan kelurga istrinya. Ia membantu mengerjakan yang bisa ia kerjakan.
"Sudah berapa lama kamu kerja di sini?" tanya Bram.
"Sudah lama Mas, mungkin 4 tahunan. Waktu lulus SMK aku kerja di bengkel ayah temanku, setelah punya modal sendiri baru aku buka bengkel ini, Alhamdulillah dari bengkel ini bisa bantu-bantu ayah.
"Bagaimana kalau Mas kasi kamu modal buat bengkel ini lebih besar?"
"Ga usah Mas ,ini sudah lumayan."
"Mas ngerti maksud kamu, begini aja modal yang Mas kasih di anggap utang aja, setelah bengkel ini berhasil kamu bisa balikin modal Mas, bagaimana?" tanya Bram menawarkan.
"Aku ngomong sama ayah dulu ya, Mas," jawabnya ragu.
"Kamu itu sudah dewasa, harus bisa mengambil keputusan sendiri. Mas hanya ingin bantu kamu. Ayah kalian sekarang ayah aku juga, aku ga bisa bantu banyak karena tinggal jauh dengan kalian, jadi setidaknya dengan memberi modal Mas bisa ikut membantu ayah juga."
"Baiklah, akan aku terima," ucap Jabbar akhirnya menerima bantuan dari kakak iparnya.
"Semuanya biar mas yang urus."
"Iya, Mas, makasih."
Jarak dari bengkel ke rumah sekitar 30 menit, saat di perjalanan Bram meminta Jabbar mengantarkannya ke Dealer mobil,.mereka pun sampai di tempat yang dituju.
"Mau ngapain Mas kita kesini?" tanya Jabbar bingung. Namun, tetap mengikuti Bram masuk ke dalam Dealer tersebut.
"Ya mau beli mobil la, Dek. Mau ngapain lagi coba, inikan tempat jual mobil," ucap Bram menepuk pundak Jabbar.
"Iya juga sih," ucap Jabbar menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Mereka memilih-milih mobil yang cocok untuk keluarga, Jabbar hanya mengikuti apa yang Bram pilih.
"Saya ambil yang ini aja," kata Bram pada pria yang melayani mereka, sambil menyodorkan kartunya.
"Mari ikut kami."
"Jabbar kamu aja ikut dia!"
"Iya, Mas," Jabbar hanya menurut saja.
"Mas tunggu di kafe depan ya,"
"Ok, Mas,"
Bram menunggunya di kafe sambil meminum kopi, Jabbar datang menghampiri dan menyodorkan kartu kepada Bram.
__ADS_1
"Mas ini kartunya."
"Sudah selesai?"
"Bentar lagi katanya."
"Kamu pesan minum dulu!"
"Sekalian kita makan aja Mas, aku lapar banget nih. Mas mau makan apa?"
"Samain aja sama kamu."
"Ok, Mas,"
"Gila beli mobil kaya lagi beli permen aja," batin Jabbar sambil berjalan memesan makanan.
Setelah semua urusannya selesai mereka pulang, Jabbar dengan motornya sedangkan Bram membawa mobil, mereka sampai di rumah jam 8 malam.
Sebelumnya mereka sudah mengabarkan akan pulang telat dan akan makan malam di luar. Mikaila dan kedua orang tuanya sedang duduk-duduk di teras rumah saat mereka datang. Jabbar memarkir motornya di teras rumah.
"lho kak, Mas Bram mana?" tanya Mikaila yang tak melihat suaminya.
"Tu...." tunjuk Jabbar dengan dagunya ke arah Bram yang memarkirkan mobilnya di samping rumah.
"Itu mobil siapa, Nak?" tanya ibu.
"Ko bisa?" tanya ibu lagi.
"Ya bisa la, Bu, mas Bram kan punya uang banyak, beli mobilnya pake kartu, tinggal gesek aja," jawabnya berbisik karena Bram sudah berjalan mendekati mereka.
"Mas beli mobil?" tanya kaila Sambil mencium punggung tangan suaminya.
"iya, biar nanti kalau berkunjung ke sini gampang kalau Mau kemana-mana," jawabnya singkat dan ikut duduk bersama yang lain.
"Ade sana siapin air mandi buat suamimu""Iya Bu, Mas aku kedalam dulu ya,"
"Bram masuk dulu yah ,Bu,"
"Iya, Nak."
Bram masuk ke kamar dan menghampiri Mikaila di kamar mandi yang tengah menyiapkan air untuknya.
"Sehari ga lihat kamu Mas kangen banget, Sayang," ucapnya sambil memeluk dari belakang.
"Mas, mandi dulu," ucap Mikaila berbalik dan mengecup singkat pipi Bram.
"Temenin Mas mandi ya,"
__ADS_1
Tok..tok..tok.suara ketukan pintu kamar Mikaila.
"Mas mandi aja, Kaila buka pintu dulu ya,"
"Hemm," jawab Bram singkat ada rasa kecewa di hatinya.
Mikaila keluar, ia bisa melihat wajah kekecewaan suaminya itu.
"Ada apa Bu?" tanya Mikaila setelah membuka pintu dan melihat ibunya tengah berdiri di sana.
"Ibu dan ayah mau keluar, kakak kamu juga tadi keluar sama temannya. Mungkin ibu agak lama jadi ibu bawa kunci aja. kakak kamu mau nginap katanya di rumah temannya,"
"Iya, Bu, hati-hati di jalan,"
"Sana buatin minum suami kamu, ibu pergi dulu, assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam."
Mikaila ke dapur membuat kopi untuk Bram dan membawanya ke kamar.
"Ini mas kopinya," katanya kepada Bram yang baru keluar dari kamar mandi.
"Siapa tadi?" tanya Bram sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dan duduk di tepi ranjang.
"Ibu, mereka pamit mau keluar katanya, dan kakak juga lagi nginap di rumah temannya,"
"Di rumah hanya kita berdua?" tanya Bram dengan senyumnya dan berjalan mendekati isterinya.
"Ia, Mas hanya kita berdua," memeluk suaminya, ia mengerti apa yang di inginkan suaminya saat ini.
Tanpa ragu Bram langsung membawanya ke tempat tidur menindihnya dan mulai melancarkan aksinya.
"Apa kamar ini kedap suara?" tanya Bram.
"Engga lah, Mas," jawab Mikaila memukul pelan dada Bram.
"Kalau begini sih tetangga juga bisa dengar," ucapnya dan mereka tertawa.
Bram melalui hari harinya di kampung, ia banyak membantu warga, tentu saja dengan uangnya, ia memberi modal kepada para pengusaha kecil, membantu merenovasi masjid dan sekolahan dan masih banyak lagi yang ia sumbangkan.
Warga sangat terbantu dengan keberadaan seorang Abraham di kampung mereka, ayah Mikaila sangat bangga kepada menantunya, begitu juga Mikaila ia semakin mencintai suaminya itu.
Bram berencana membangun rumah di kampung itu, agar saat mereka berkunjung nanti akan lebih nyaman.
Ia menyerahkan semua urusan pembangunan bengkel dan rumahnya kepada orang yang di rekomendasikan olah Yoga, orang yang selama ini selalu membantu mereka dalam urusan pembangunan.
Bram tak ingin mempekerjakan orang sembarangan dalam urusan ini, ia lebih percaya dengan orang-orang yang telah lama bekerja dengannya walaupun di pastikan biayanya cukup mahal.
__ADS_1
bersambung.