Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Kekecewaan Pak Wijaya.


__ADS_3

"Apa maksud kamu Gavin?"


"Anak Papa mu bagaimana?"


Kedua pertanyaan itu seolah menjadi petir yang menyambar.


Mereka semua diam dan hanya bisa saling menatap. Semua yang ada di sana sudah mengetahui kebenaran Zaky, hanya orangtua Bram lah yang tak mengetahui kenyataan Zaky.


Gavin yang ditanya hanya diam dan menatap kakek dan neneknya kemudian beralih menatap semua keluarga yang juga melihat ke arahnya. Tak ada yang menjawab.


Tak mendapat jawaban dari Gavin, Ayah menatap Bram. "Apa maksud dari perkataan Gavin tadi?" tanya ayah,


"Bram kamu punya anak lain, kamu selingkuh dari istri kamu," geram Ibu Bram.


"Enggak kok Bu," dengan cepat Mikaila mengangkat bicara mendengar suaminya dituduh selingkuh.


"Kalau dia tidak selingkuh darimu, bagaimana Bram bisa punya anak dari wanita lain?. Itu kan maksud Gavin tadi?" tanya ibu, kemarahan terlihat jelas di wajahnya.


"Bukan seperti itu Bu," ucap Mikaila.


"Bram, jelaskan apa yang di maksud Gavin tadi?!" ucap Pak Wijaya dengan kilatan kemarahan di matanya, menatap putra satu-satunya, putra kebanggaannya.


"Bukan seperti itu Ayah, semua tidak seperti yang kalian bayangkan," ucap Bram mencoba menjelaskan.


"Apa kau punya anak dari wanita lain?" bentak ayah pada Bram.


"Ayah dengarkan dulu penjelasan Bram,"


Ayah menggebrak meja, membuat semua yang ada disana tersentak.


Raina yang merasa situasinya tidak terkendali lagi mengajak Arsy untuk naik ke kamar.


"Arsy temani kakak untuk mengemas barang seserahan ya," bisik Raina menarik Arsy. Arsy hanya mengangguk dan kembali melihat kakeknya yang terlihat begitu marah.


Semarah apapun kakek dia mengerti jika cucunya itu sedang ketakutan. Ia mencoba menahan emosinya.


Begitu melihat Arsy sudah menjauh dibawa oleh Raina, ayah kembali menatap Bram


"Bram jawab pertanyaan ayah, kau punya anak dari wanita lain atau tidak?" tegas ayah.


Bram tak punya pilihan lain selain jujur,


"Iya Ayah," jawab Bram.


Ayah mencengkram erat sendok yang dipegangnya dan menatap semua yang ada di sana, tak ada ekspresi keterkejutan di wajah mereka.


"Apa kalian semua sudah tahu masalah ini?" tanya Ayah.


Lagi-lagi tak ada yang menjawab, semuanya diam seribu bahasa.


"Begini Pak, semuanya sudah terjadi. Bram juga tidak sengaja melakukannya, ia sama sekali tak berniat untuk menghianati Mikaila," ucap Ayah Mikaila mencoba untuk berbicara.


Ayah menaikkan tangannya meminta besannya itu untuk tak membela anaknya.


"Papa kecewa sama kamu Bram, Papa selama ini sangat menjaga nama baik keluarga kita. Tapi tindakanmu ini sudah mencoreng nama baik keluarga kita! nama baik yang selamat puluhan tahun Papa jaga,"ucap Ayah Bram berapi-api.


Ibu juga sangat marah melihat anaknya itu,


"Mikaila, kenapa kamu tak pernah mengatakan ini semua kepada Ibu? apa kau tak menganggap aku ini ibumu?!" kecewa ibu.


"Bukan begitu Bu," ucap mikaila mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Ibu juga sangat kecewa padamu, masalah sebesar ini kau merahasiakannya dari ibu," kesal ibu.


Ayah mencoba berdiri namun tiba-tiba jantungnya terasa sakit dan kembali duduk sambil memegangi dadanya.


"Ayah," panik Bram.


Semua refleks ingin mendekati ayah, ayah kembali menaikkan tangannya meminta mereka untuk tak mendekatinya.


"Ayah dengar dulu penjelasan Bram," lirih Bram mencoba mendekati ayahnya namun lagi-lagi Ayah memberi isyarat tangan agar tak mendekatinya.


Ayah meringis kesakitan memegangi dadanya tangannya mengepal dengan gemetar menahan emosi dan kecewa terhadap putranya.


Ibu Bram mengelus punggung suaminya,


"Ayah Tenanglah, ingat penyakit Ayah," ucap Ibu Bram takut melihat kondisi suaminya.


"Suruh sopir menyiapkan mobil, kita pulang sekarang," pinta Ayah.


"Ayah biar Bram yang mengantarkan Ayah,"


Bram mendekat dan mencoba memapah ayahnya untuk berdiri, Ayah menepis tangan putranya itu dan mencoba berjalan dibantu oleh istrinya saat melihat mobil mereka sudah berada di depan pintu rumah Bram.


Bram duduk di tempat ayahnya tadi, ia duduk dan mengusap kasar wajahnya.


"Kaila ambilkan ponselku," pinta Bram tanpa melihat Mikaila. Mikaila dengan sigap langsung berlari ke kamarnya dan kembali turun dengan berlari membawa ponsel Bram.


"Ini Mas," ucap Mikaila memberikan ponsel Bram.


Bram mencari kontak Anindita kakaknya yang berprofesi sebagai seorang dokter yang juga tahu tentang kebenaran Zaky.


"Kak, Ayah tahu tentang Zaky, sekarang Ayah sangat marah padaku. Aku takut terjadi sesuatu pada ayah. Ayah baru saja meninggalkan rumah ku. Mereka pulang dengan kondisi sangat marah," ucap Bram kemudian menutup ponselnya setelah mendengar jawaban Anindita.


Di kediaman dokter Surya suami dari dokter Anindita.


"Ada apa?" tanya Surya melihat istrinya sedang terburu-buru.


"Ayah sudah tahu tentang anak Bram. Sekarang Ayah sedang sangat marah, aku takut terjadi sesuatu pada Ayah," ucap Anin.


Surya yang merupakan dokter yang menangani penyakit dari mertuanya itu dengan cepat mengambil beberapa peralatannya, dia tahu kondisi mertuanya itu sangatlah lemah, apalagi mendengar kabar seperti ini Ia takut jantungnya tak bisa menerima kenyataan ini.


Dengan cepat mereka berdua turun dari kamar, Syana yang melihat kedua orang tuanya terburu-buru dengan cepat menghampiri mereka.


"Ayah, Ibu mau kemana? Ada apa?" tanya Syana mengikuti mereka yang sedikit berlari ke arah mobil.


"Ada masalah dengan Kakekmu, kami akan kesana," ucap Anindita tanpa menjelaskan lebih lanjut kemudian ia dengan cepat naik ke mobil.


Mereka pun pergi, Syana hanya melihat mobil kedua orang tuanya meninggalkan kediamannya dengan terburu-buru.


Syana yang tak tahu apa-apa langsung menelpon Ayasa.


"Halo Ayasa, apa terjadi sesuatu dengan kakek?" tanya Syana.


"Emangnya kenapa? Ada apa dengan kakek ?tanya balik Ayasa.


"Ayah dan ibuku terburu-buru katanya ada masalah dengan kakek," ucap Syana.


"Ya sudah, kita ke sana. Aku akan memberitahu Mama dan Papaku," ucap Ayasa ikut panik.


"Iya aku juga akan kesana," jawab Syana kemudian berlari mengganti pakaiannya dan mengambil kunci mobil lalu langsung menuju ke rumah besar.


Ayasa yang mendapat telepon dari Syana langsung memberitahu kedua orang tuanya.

__ADS_1


Mereka pun panik tanpa tahu apa yang terjadi dan mereka semua bergegas menuju ke rumah besar.


Sementara di kediaman Abraham,


Bram masih memijat kepalanya,


"Arya ambil kunci mobil, kita susul kakekmu ," ucap Bram.


Arya dengan sigap berlari mengambil kunci mobil dan mereka pun berjalan keluar.


"Ibu, Ayah titip Arsy ya," ucap Mikaila yang juga ikut berlari menyusul Bram dan juga Arya.


Arya dengan cepat mengendarai mobilnya mengejar mobil kakek dan neneknya yang sudah dari tadi meninggalkan kediaman mereka.


"Kakek Nenek, apakah hari ini Gavin melakukan kesalahan besar lagi?!" tanya gavin merasa bersalah. Semua kekacauan ini karena kesalahannya yang tak bisa menjaga ucapannya.


Ayah Mikaila menepuk punggung cucunya itu.


"Cepat atau lambat mereka juga akan tahu, mungkin memang sudah saatnya mereka tahu. Semoga saja kakekmu bisa menerima semua ini," ucap Ayah Mikaila mencoba menenangkan kan Gavin.


"Apa aku juga harus ikut ke sana ?" tanya Gavin meminta pendapat kakeknya.


"Sebaiknya kau tinggal saja di sini, Nenek takut kau akan menambah masalah di sana, biarkan saja dulu situasinya tenang," ucap Nenek.


Gavin teringat akan Queen, Ia dengan cepat mengambil ponselnya dan menelpon adik sepupunya itu.


"Halo Queen, apa kakek sudah sampai?" tanya Gavin.


"Belum, bukannya kakek akan menginap di sana?" tanya Queen,


"Ada masalah di sini, kakek marah dan pulang," jelas Gavin.


"Kok bisa marah?" tanya Queen penasaran.


"Kamu nggak usah tahu, yang jelasnya kalau ada apa-apa tolong telepon aku ya!" pinta Gavin.


"Kak Gavin buat masalah lagi ya, kak Gavin buat kakek marah ya ," tebak Queen.


"Jangan banyak nanya Queen, kerjakan saja apa yang kakak perintahkan tadi," ucap Gavin.


Queen yang mendengar nada serius dari kakak sepupu nya itu tak berani mencandai nya lagi.


"Iya kak, nanti Queen kabarin," ucap Queen kemudian mengakhiri teleponnya.


"Mama, mama," panggil Queen memanggil Arabela mamanya.


"Ada apa sih Queen?" tanya Arabela.


"Kakek mau pulang, kata Gavin Kakek sedang marah." ucap Queen membuat Arabela terkejut.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca


Mohon dukungan dan bantuannya ya, dengan memberi


LIKE, VOTE, KOMENNYA ❤️🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha,(Ig anha5569)

__ADS_1


love you all 💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2