Pilihan Ku

Pilihan Ku
Tangis Mikaila.


__ADS_3

Bram menatap foto Inanti dan menatap Mikaila,


"Maaf"ucap Bram sambil ikut naik ke ranjang pasien yang memang cukup besar,menarik Mikaila kepelukannya.


"sejak kapan kamu melihat foto ini?"tanya Bram pelan sambil mengusap-usap punggung istrinya.


"waktu bulan madu dulu,saat mas ninggalin aku,"menghapus air matanya yang semakin tak terbendung.


"tidurlah biar kamu dan bayi kita cepat sembuh sayang"mengecup kening dan mempererat pelukannya.


Kata maaf mereka artikan berbeda, Bram meminta maaf karena tanpa sengaja menyakiti hati istri nya, sedangkan Mikaila mengartikan kata maaf yang di ucapkan Bram karena tidak bisa mengabulkan permintaannya tentang foto yang ada di dompetnya.


Mikaila dengan sekuat tenaga menahan tangisnya,ia memukul-mukul dadanya pelan mencoba mengusir sesek yang ada di sana.


Bram yang seharian kesana-kemari mengurus keperluan mereka selama di rumah sakit merasa sangat lelah dan tertidur.


Mungkin bagi seorang Abraham foto itu tak masalah berada di sana,namun berbeda dengan Mikaila di usianya yang masih labil dan dalam kondisi hamil membuat ia sangat sensitif,membuat luka yang menyayat hati setiap melihat foto itu.


Melihat Bram yang tertidur pulas Mikaila ke kamar mandi dan menumpahkan air matanya di sana,ia duduk di lantai dan menagis layaknya anak kecil,ia membekap mulutnya agar tak menggangu Bram.


Bram yang merasa Mikaila tak ada di sampingnya memeriksa di kamar mandi,dan benar saja Mikaila ada di sana sedang menangis.


Bram menghentikan langkahnya mendengar tangis istrinya itu,ia berdiri di balik pintu,,


Bram mengeluarkan dompetnya dan melihat foto Inanti,memasukkannya kembali dan ikut terduduk di lantai depan pintu kamar mandi, menyandarkan kepalanya di dinding,ia bisa mendengar dengan jelas suara tangis Mikaila karena pintunya tak tertutup rapat.


"apa yang telah aku lakukan,aku tak menyangka kalau keberadaan Inanti sangat menyakitimu.Mas tak bermaksud melakukannya,mas sangat mencintai kalian,mas menyimpan ini semua hanya sebagai kenangan tak lebih dari itu.Kamulah sekarang tujuan hidup mas"batin Bram.


Lama ia terduduk di sana sampai suara Isak tangis Mikaila tak terdengar lagi.


Bram membuka pintu dan melihat Mikaila telah tertidur.Ia mengangkatnya dan kembali membaringkannya.


Mengusap pelan perut Mikaila yang masi rata,


"jangan menyusahkan bunda mu ya,maaf sudah membuat kalian bersedih,"mengecup kening Mikaila.


Kondisi Mikaila dan janinnya semakin membaik,hari ini Mikaila akan menjalani pemeriksaan lagi dan kali ini Dokter menyarankan agar di lakukan USG.


Bram dan ibunya membawa Mikaila ke ruang praktek Anindita.


Mikaila sangat bahagia saat melihat layar dan mendengarkan penjelasan Anin kalau ada bayi di dalam rahinnya.Ia bahkan meneteskan air mata saat mendengar suara detak jantung bayinya.

__ADS_1


"mas"ucapnya


"iya sayang itu bayi kita"ucap Bram mengecup punggung tangan Mikaila.


"Karena kondisi ibu dan anak sudah sehat jadi bisa pulang siang ini juga,tapi harus tetap banyak istirahat dan minim obatnya yang teratur. Sebulan sekali harus di bawa untuk kontrol ya dek."ucap Anindita kakak ipar Mikaila sekaligus yang akan menjadi Dokter kandungan nya.


Saat pulang ibu yang mendorong Mikaila di kursi roda sedangkan Bram membawa beberapa barang mereka.Saat Bram memasukkan barang ke dalam mobilnya,ibunya justru membawa Mikaila ke arah mobilnya.


Anindita ikut membantu Mikaila naik ke mobil ibu nya.


Bram yang melihat Mikaila berada di mobil ibunya menghampiri,


"lho sayang mobil kita di sana,"ucap Bram sedikit bingung menatap kakak dan ibunya.


"Mikaila akan tinggal di rumah ibu sampai ia benar-benar sembuh,"kata ibu menutup pintu mobilnya.


"Oya bu,Mikaila belum boleh melayani Bram selama sebulan"ucap Anindita kepada ibunya.


"sebulan mba,ga salah tuh,"protes Bram.


"kandungan istri kamu itu sangat lemah jadi harus ekstra hati-hati.Ucap Anin,sebenarnya kandungan Mikaila cukup kuat kalau hanya untuk melayani Bram, namun ia ingin memberi sedikit pelajaran kepada adiknya itu.


"apa ga bisa di kurangin mba?,"tawar Bram.


"aku akan pelan-pelan ko mba"


"ga boleh dek,kamu ko maksa sih dek,"


"udah ibu mau pulang,kasian Mikaila dia harus banyak istirahat.Pokoknya selama sebulan Mikaila tidurnya sama ibu,kamu tidur sama ayah kamu aja. "ucap ibu saat mobil akan di jalankan.


Bram pasrah dan menuju mobilnya,mengikuti mobil ibunya yang lebih dulu meninggalkan rumah sakit.


Mikaila dibawah ke kamar untuk beristirahat,ibu mertuanya sangat memanjakannya.


Dan benar saja saat malam hari Bram tidur di kamar tamu sedangkan Mikaila tidur di temani ibu mertuanya.


Bram sangat gelisah ia telah terbiasa tidar di pelukan sang istri.


Mikaila terbangun dari tidurnya merasa ada yang yang memegangi perutnya.Ia membuka matanya dan benar saja Bram ada di sampingnya,memasukkan tangannya ke dalam baju Mikaila memegangi perutnya yang masi rata.


Mikaila merasa sangat nyaman di dekapan sang suami,ia mengecup bibir Bram dan tertidur kembali.

__ADS_1


Ibu Bram terbangun karena ingan buang air kecil,ia langsung ke kamar mandi,dan saat kembali ia melihat putranya itu ada di tempat tidur,bukan lagi memegangi perut Mikaila namun kini tangannya sudah berada di puncak gunung kembar sang istri entah apa yang dicarinya disana.Ibu Bram hanya menggeleng dan kembali tidur di dekat menantunya itu.


"aww"pekik Bram saat ibunya mencabut beberapa helai bulu kakinya.


"sakit Bu,"protes Bram sambil mengelus-elus kakinya.


"sana ke mesjid dan subuh,"


"Iya bu,"jawab Bram malas.


Ibu membawakan Mikaila makanan ke kamarnya dan membantunya meminum obat,ibu mertuanya itu bahkan membantu saat akan ke kamar mandi.


Mikaila sangat bahagia mendapat perlakuan istimewa dari ibu mertuanya,nenek Bram bahkan sering menemaninya di kamar.


Karena merasa istrinya aman untuk di tinggalkan Bram pamit bekerja.


Saat melewati rumah lamanya Bram teringat akan foto Inanti,ia membelokkan mobilnya ke arah rumah lamanya,dengan sigap satpam yang berjaga langsung membuka pintu gerbang.


Ini untuk kali pertamanya ia datang ke sini setelah menikahi Mikaila,ia melihat sekeliling tak ada yang berubah.


Bram menuju ke kamarnya,saat melewati kamar anaknya ia berhenti dan masuk ke kamar itu.


Bram duduk di meja belajar anaknya yang belum sempai dipakai sanga anak.Mengusap foto yang ada di atas meja itu.


"papa sayang Tasya,"


Bram kemudian ke kamarnya,ia duduk di tempat tidur.


Bram mengambil dompetnya dan mengeluarkan foto Inanti dari sana,


"yang tenang ya di sana,doain mas bahagia dengan Mikaila,"ucapnya menaruh foto tersebut di laci meja yang ada di dekat tempat tidur itu.


Bram melihat sekeliling kamar itu,masi sama saat sang istri masi ada disana,dan masi sangat rapi.


Bram keluar dari rumah itu dan saat melewati satpam ia memberi beberapa lembar uang dan memberi kunci rumah itu yang selama ini di bawahnya ,


"pak saya titip rumah ini ya "ucap Bram memberi kunci.


"iya tuan , terimakasih"ucap satpam mengambil kunci dan uang yang di berikan Bram.


Bram memutuskan untuk menyimpan semua kenangan Inanti di rumah ini,dan fokus dengan istrinya yang sekarang.Ia tak ingin lagi membuat Mikaila bersedih.Ada hati yang harus dijaganya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2