
Saat mereka sampai di rumah, terlihat ada mobil Syana terparkir di depan rumah mereka.
"Itu mobilnya Kak Syana kan?" tanya Gavin.
"Iya, itu memang mobil kak Syana. Sepertinya mereka juga baru datang," sahut Arya.
"Loh, kok dia bawa koper?" tanya Gavin yang terus memperhatikan ustaz Ilham menurunkan sebuah koper besar dari bagasi mobilnya.
"Mungkin mereka ingin menginap," sahut Mikaila yang juga ikut memperhatikan mereka.
"Masa iya nginep bawa koper sebesar itu Bunda," sahut Gavin.
"Iya, siapa tahu kan mereka mau menginap beberapa hari,"
"Itu mah bukan nginep Bunda, tapi numpang," Kelakar Gavin.
Arya memarkirkan mobilnya di depan mobil Syana dan mereka pun turun...
"Syana, kalian dari tadi datangnya?" sapa Mikaila.
"Baru kok tante, tante dari mana?" tanya Syana.
"Kami dari klinik memeriksakan kandungan Raina," ucap Mikaila.
"Oh ya, kemarin aku juga dari klinik Ibu memeriksakan kandungan Ku," Ucap Syana mengusap perutnya.
"Kakak juga sudah hamil?" tanya Raina berbinar dan menghampiri Syana.
"Iya, ini baru bulan pertama. Usia kandungan kamu sudah berapa bulan?" tanya Syana mengusap perut Raina yang terlihat sudah mulai membuncit.
"Jalan 4 bulan Kak," jawab Raina.
Bram yang turun langsung hampiri ustaz Ilham dan menyalaminya. "Ayo kita masuk ke dalam," ucapnya.
"Iya ya, aku kok malah nyapa kalian di sini, nggak mempersilahkan kalian masuk," ucap Mikaila mempersilahkan mereka semua masuk.
Bi Yanti dan beberapa asisten rumah tangga lainnya sedang menyiapkan makan malam.
Begitu Syana masuk dan berjalan mendekati dapur, ia bisa mencium aroma makanan dan membuatnya langsung mual, dengan cepat Ia berlari ke kamar mandi dan muntah.
Semua sudah berpengalaman dengan Raina, mereka sudah tahu apa penyebab Syana juga menjadi mual dan muntah.
Ustaz Ilham membantu Syana dan mendudukkannya di sofa. "Kamu yakin mau menginap di sini?" tanyanya khawatir.
"Iya Kak, Syana pengen nginep di sini," ucap Syana lemah.
"Kamu istirahat di atas saja, Bi Yanti sedang memasak. Kamu pasti nggak nyaman kan mencium aroma masakannya?" tanya Mikaila.
"Iya Tante, sudah beberapa hari ini aku nggak bisa makan. Jangankan makan, mencium aromanya saja udah ga suka, perut kayak dikocok pengen muntah," ucap Syana kembali ingin muntah mengingat makanan.
"Bunda mengerti, Raina baru saja selesai melewati fase itu."
"Raina, kamu berapa bulan di fase ngidam?" tanya Syana pada Raina yang ikut duduk di dekatnya.
"Masuk bulan keempat udah nggak mual dan muntah lagi kak, sekarang makan apa aja sudah sangat nyaman, malah aku pingin makan terus sekarang, kak!" jelas Raina.
"Semoga saja aku tak lama melewati fase ini, rasanya kepalaku mau pecah, perut mual nggak bisa ngapa-ngapain," Keluh Syana.
__ADS_1
"Kalau kamu sakit, ngidam, ngapain kamu ke rumah kami. Bukannya istirahat di rumahmu sendiri," sahut Gavin.
"Ini bawaan bayi, dia ingin menginap di sini," jawab Syana.
"Kamu jangan memfitnah bayimu sendiri, masa dia yang mau nginap di sini. Itu pasti hanya akal-akalan kamu saja."
"Terserah kamu mau bilang apa, aku males berdebat dengan mu. Tak ada faedahnya" sahut Syana jengah. "Aku mau istirahat, makin mual aku ngelihat wajah pas-pasan mu!" ucap Syana berdiri dan meminta Ilham yang sedari tadi memperhatikan mereka berdebat ikut mengantar nya ke kamar.
"Gavin, ibu hamil itu memang maunya banyak jadi kamu jangan ngomong gitu. Lagian ga baik ngomong gitu di depan Ilham, kesannya kita nggak mengijinkan mereka untuk menginap di sini.
"Gavin kan hanya bercanda Bunda, kak Syana juga nggak marah kan, dia cuek aja Thu,"
"Iya, kak Syana ga masalah, tapi tetap saja ustadz Ilham itu masih baru di di keluarga kita. Dia belum tau kalau kamu becanda nya suka kelewatan." sahut Arya.
"Walau niat kita hanya bercanda, belum tentu mereka menganggapnya sebagai candaan. Bagaimana Kalau mereka menganggapnya serius, pasti akan sakit hati dan Itu enggak baik."
"Iya Bunda, nggak lagi," ucap Gavin memilih untuk kembali ke kamarnya. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Semenjak Arya sudah jarang ke kantor, Gavin semakin sibuk, tak ada lagi waktu untuk mengajak wanitanya walau hanya sekedar makan siang. Tapi Gavin tak bisa menghindar, ia mengerti jika Raina adalah segalanya untuk kakaknya.
Beruntung ada Dika yang selalu membantu pekerjaannya. Walau Gavin terus menggerutu di sela pekerjaannya yang sangat banyak. Namun, Ia tetap mengerjakannya mengingat itu juga untuk masa depan keluarganya.
Malam hari semua berkumpul untuk makan malam, kecuali Syana. Ustadz Ilham juga bergabung dengan keluarga besar Abraham Wijaya untuk makan malam..
"Ilham apa Syana nggak ikut makan?" tanya Mikaila yang tak melihat Syana ikut bergabung dengan mereka.
"Syana sudah tidur, tadi dia terus saja mual dan muntah. Katanya kepalanya sangat pusing jadi tadi dia langsung tidur."
"Sudah, jangan dibangunkan. Kasihan, jika dia bangun nanti dan mau makan, minta saja sama Bi Yanti. bi Yanti selalu siap di dapur.
"Kakak kapan pulangnya?" tanya Gavin. "Kakak berapa lama mau menginap di sini?"
"Terserah Syana saja sih, aku hanya nurut, aku juga kasihan melihat dia muntah terus di rumah, semoga saja kalau disini mualnya sedikit berkurang."
"Setahuku ga ada Tante, bahkan air putih saja sangat susah untuk di minumnya."
Gavin yang mendengar jawaban dari ustaz Ilham tersenyum licik. Sebuah Ide tiba-tiba terlintas di pikirannya.
Baru saja mereka selesai membicarakan Syana, Syana turun dan menghampiri mereka di meja makan, duduk dengan lemas.
"Kamu makan ya!" tawar ustaz Ilham.
Syana mengangguk lemah.
Mikaila dengan segera mengambilkan makanan untuk Syana.
"Kamu mau makan apa?" tanya Mikaila.
Syana terlihat lemas melihat menu yang ada di meja makan, ia sama sekali tak berselera makan, tapi Syana juga harus tetap makan demi bayi yang ada di dalam rahimnya.
"Kak, dulu Raina sangat suka makan mangga. Mangga muda, apalagi yang baru dipetik dari pohonnya," ucap Gavin.
Syana yang tadinya lemas tiba-tiba berbinar mendengar ucapan Gavin.
"Pasti rasanya sangat segar, tapi di mana kita bisa mengambil mangga," lirih Syana dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tenang aja, Kak! Dibelakang rumah ini ada pohon mangga, rasanya sangat enak, apalagi mangga yang masih muda terus dibuat rujak, uh...mantap," ucap Gavin memperagakan memakan mangga. Membuat air liur Syana tiba-tiba menggenang di mulutnya.
"Benarkah?!! Aku ingin makan mangga muda," pinta Syana berbinar menatap suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan mengambilkan nya,"
"Biar aku tunjukkan pohonnya," ucap Gavin bersemangat.
"Aku ikut, Kak!" ucap Syana.
"Kak, Raina juga ingin mangga," pinta pada Arya.
"Mangkanya nggak harus Kakak kan yang memanjatnya?" bisik Arya.
"Nggak kok, Kak. Yang penting Raina mau makan mangga, cuma pingin aja,"
"Yuk kita kebelakang, kita ikut mereka ke belakang."
Mereka pun semua mengikuti Gavin, ustaz Ilham dan Syana kebelakang.
Ustad Ilham melihat pohon tersebut dari akar hingga ke atas daunnya, terlihat begitu tinggi.
"Apa ada galah?" tanya Ilham yang juga tak yakin apakah ia bisa memanjat pohon tersebut.
"Enggak ada kak, dulu kami hanya memanjatnya," ucap Gavin merasa bangga.
"Harus dipanjat ya? Apa ada tangga?" Tanya ustadz Ilham lagi.
"Enggak, ga ada tangga. Harus di panjat." jawab Gavin dengan cepat.
Ustaz Ilham pun perlahan mulai mendekati pohon mangga itu, ia sudah sangat lama tak memanjat pohon mangga. Terakhir ia memanjat pohon saat ia masih SD dan itu sudah sangat lama.
"Pohon ini sangat tinggi, jarak rantingnya juga sangat jauh. Gimana cara panjat nya ya," batin ustaz Ilham.
"Kakak, mau ngapain?" tanya Syana.
"Kamu kan mau mangga, ya Kakak mau mengambil buah mangga buat kamu!."
"Tapi, bayi kita maunya Gavin yang panjat pohon mangganya," ucap Syana.
"Ha..., aku. Anak-anak siapa, yang panjat siapa. Kamu Yang benar saja, kak! Aku nggak mau. Itu ada ayahnya, kenapa jadi aku yang panjat."
Mendengar jawaban Gavin, Syana langsung berkaca-kaca. Setetes air mata jatuh di pelupuk matanya.
"Lah, kok malah nangis sih. Udah diam, iya aku panjat," ucap Gavin mengalah melihat air mata Syana.
Tak biasanya seorang Syana bersikap manja seperti itu.
Apa ini memang bawahan bayinya ya, pikir Gavin menggaruk kepalanya sambil berjalan mendekati pohon tersebut.
πππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Mohon dukungannya ya,, dengan memberi like, vote dan komennya π.
Semoga bisa up rutin lagi ya,,maaf jika agak telatπ€π€
Salam darikuπ
Author m anha β€οΈ
__ADS_1
love you all ππππ
ππππππππππππππ