Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Kehamilan Raina


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Kini usia kandungan Raina memasuki 8 bulan, menjelang 9 bulan. Jadwal kelahiran Putri pertama mereka 3 Minggu lagi.


Raina berjalan menuruni tangga dengan terburu-buru, "Raina, kamu mau kemana terburu-buru seperti itu?" tegur Mikaila.


"Nggak kemana-mana kok, Bunda.ย Hanya ingin mengisi air," ucapannya memperlihatkan gelas dan botol air minum yang di bawahnya.


Mikaila menghampiri Raina dan mengambil gelas serta botol air tersebut.


"Kamu kalau ingin sesuatu, biar Bunda yang ambil kan. Bunda nggak mau ngeliat lagi kamu sampai turun tangga seperti tadi. Bagaimana jika kamu jatuh, kamu itu harus perhatikan keselamatan bayi kamu," tegas Mikaila.


"Iya, Bunda. Maaf," lirih Raina.


Mikaila masih merasa trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, saat ia menuruni tangga dan terjatuh sehingga ia harus kehilangan salah satu bayinya.


Raina yang tak pernah sebelumnya dibentak oleh Mikaila tertunduk.


Mikaila menarik Raina ke pelukannya, "Bukan maksud Bunda untuk membentak kamu, Bunda hanya khawatir dengan kesehatan kalian. Bunda sudah pernah mengalami kehilangan seorang bayi dan itu sangat menyakitkan. Kita sudah mengandung, menyayanginya dengan sepenuh hati, memiliki banyak harapan padanya. Namun, belum sempat kita merawat dan menggendongnya kita sudah kehilangannya. Bunda tak mau kau juga mengalaminya. Jadi Bunda mohon, mulai sekarang berhati-hatilah apalagi di saat kau menuruni tangga," ucap Mikaila mengelus bahu Raina.


"Iya Bunda, maaf. Raina akan lebih hati-hati lagi," ucap Raina.


Mikaila mengusap perut Raina yang sudah sangat membuncit, sebuah tendangan kecil bisa ia rasakan dari dalam rahim Raina.


Sapaan bayi kecil yang sudah mereka nantikan.


"Bunda sudah tidak sabar melihat bayimu, semoga kau dan bayimu akan sehat selalu dan proses persalinannya akan lancar, kalian selalu dilindungi oleh Allah SWT," ucap Mikaila mengecup menantu yang Sudah dianggap seperti putrinya itu.


"Amin Bunda. Raina sebenarnya merasa takut menjelang persalinan."


"Ini adalah persalinan pertamamu jadi wajar kalau kau merasa khawatir, cemas dan takut, tapi percayalah semua akan baik-baik saja, kita akan bertemu dengan bayi kecilmu. Putri kecil kita," ucap Mikaila dengan garis senyum lihat jelas di bibirnya.


"Iya, Bunda. Raina pasti bisa," ucap raina yakinkan dirinya sendiri.


"Kamu naik saja kembali ke kamar mu, berhati-hatilah saat menaiki tangga, Bunda yang akan ambilkan air untukmu."


Raina mengganggu kemudian kembali di kamarnya.


Menjelang kelahirannya Raina menjadi pusat perhatian di rumah itu. Arya semakin posesif begitu juga dengan Mikaila. Tak jarang Mikaila membawakan makanan ke kamar Raina, setiap melihat Raina menuruni tangga ada rasa ketakutan tersendiri di hati Mikaila.


Mikaila sudah pernah menyarankan agar mereka pindah tidur di kamar bawah. Namun, Raina merasa tak nyaman jika bukan tidur di kamarnya sendiri, begitu juga dengan Arya.


Arsy sangat senang saat merasakan tendangan bayi yang ada di dalam perut Raina, saat pulang sekolah Arsy akan menghabiskan waktu di kamar Raina, bermain dengan bayi yang masih ada di perut Raina. Arsy menekan pelan perut Raina dan akan mendapatkan respon berupa tendangan dari dalam perut Raina di bagian yang sama, yang Arsy tekanan. Tendangannya samakin lama samakin aktif, gerakannya sudah semakin jelas terasa.

__ADS_1


Hari ini adalah jadwal USG, semua kembali mengantar Raina ke klinik Anindita.


Saat USG, Arsy sangat senang saat melihat dengan jelas wajah bayi yang selama ini dinantikannya, bahkan bayi itu seolah tersenyum padanya saat Anindita mengarahkan kan pada wajah bayi kecil itu.


"Tante, kapan bayinya akan lahir?" tanya Arsy yang sudah tak sabar ingin melihat langsung bayi tersebut.


"Sabar ya sayang, tak lama lagi kita akan bertemu langsung dengan bayi nya. Persalinannya mungkin sekitar 2 minggu lagi," ucap Anin.


Dokter Anita menyarankan jika Raina memilih melakukan operasi sesar untuk persalinannya nanti. Namun, Raina menolak dan ingin mencoba proses persalinan secara normal.


"Apa ada masalah?" tanya Mikaila khawatir.


"Pinggang Raina termasuk dalam ukuran kecil, jadi akan sulit jika ia memilih untuk melahirkan secara norma."


"Tapi, ada kemungkinan Raina bisa melahirkan bayinya secara normal 'kan?" tanya Mikaila.


"Tentu saja itu bisa, hanya saja akan sedikit sulit di bandingkan kebanyakan wanita lainnya, ditambah Raina juga masih sangat mudah dan Ini pengalaman pertamanya, makanya aku menyarankan sebaiknya melakukan operasi sesar, tapi jika memang Raina ingin mencoba melahirkan secara normal itu juga tak masalah," jelas Anin.


Anindita kembali menjelaskan jika ia akan kesulitan dalam proses melahirkan jika ia memaksa memilih melahirkan secara normal, karena ada beberapa hal yang menyebabkannya kesulitan nantinya. Namun, Raina tetap kekeh ingin mencoba melahirkan secara normal. Arya sudah membujuknya untuk mengikuti saran Anin, tetapi Raina tetap pada keinginan awalnya, semua itu tak menggoyahkan pendirian Raina untuk tetap melakukan persalinan secara normal, ia ingan meresakan bagaimana perjuangan seorang ibu yang memperjuangkan hidup dan matinya, menahan rasa sakit demi melahirkan anak-anak mereka.


"Kak, Raina yakin bisa melahirkan secara normal," ucap Raina menggenggam tangan Arya.


"Kamu sendiri dengar kan, Apa kata Tante Anin, sebaiknya kamu menjalani operasi saja," ucap Arya memelas.


"Iya, aku tau. Aku akan berusaha melewatinya dan melahirkan bayi kita, tante Anin juga bilang 'kan kalau Aku masih ada peluang untuk melahirkan bayi kita secara normal."


"Bismillah, Kak. Raina bisa," ucap Raina meyakinkan Arya. "Raina duduk di sana ya, Kak," tunjuk Raina pada kursi dimana disana ada bunda dan Arsy sedang duduk.


Arya hanya bisa mengangguk dan melihat Raina berjalan menuju adik dan Bundanya.


Arya mengusap wajahnya kasar, ada ketakutan di hatinya saat Raina terus berkeinginan melahirkan secara normal.


Melihat kegelisahan Arya, Mikaila menghampiri putranya.


"Tenanglah, Bunda yakin Raina bisa melahirkan secara normal, Bunda mengerti jika Raina ingin melahirkan bayi kalian secara normal," mengusap punggung Arya.


"Tapi Bunda, jika memang melahirkan secara sesar adalah pilihan yang terbaik, bukankah sebaiknya kita memilih itu saja," ucap Arya.


"Kita coba saja dulu, jika Raina sudah tak bisa melahirkan secara normal barulah kita melakukan tindakan operasi."


Arya melihat kearah Raina yang sedang duduk di ruang tunggu bersama dengan Arsy. Mereka terlihat sangat senang sambil terus bermain dengan bayi yang ada di dalam rahim Raina.


"Semoga semua baik-baik saja Bunda," ucap Arya menghela nafas dalam.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan selesai mereka pun langsung pulang, hari sudah malam Arya langsung mengantar Raina untuk beristirahat di kamar.


Sepanjang malam Arya terus memikirkan tentang proses persalinan Raina nantinya, Arya terus khawatir hingga ia terbawa mimpi. Arya bermimpi jika Raina dan bayinya meninggalkan dirinya, ia melihat jika Raina berbalik berjalan menjauh sambil terus tersenyum padanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain hanya melihat mereka pergi semakin menjauh dan hilang di balik kabut.


Arya terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya, Arya kemudian berbalik menatap Raina yang tengah tertidur pulas. Mengusap lembut perut istrinya, lagi-lagi tendangan dari bayi kecilnya terasa di sana.


"Papa akan berusaha melindungi kalian berdua," Arya mengecup perut Raina yang tadi nampak gerakan anaknya.


Arya sudah tak bisa tidur lagi, ia terus mengusap rambut Raina, entah mengapa ia sangat ketakutan saat mengingat mimpinya.


Pagi hari,


Raina terbangun dan saat membuka mata ia melihat Arya yang terus menatap pada dirinya.


"Kakak sudah bangun?" lirih Raina dengan suara serak khas bangun tidur.


Arya mengusap lembut pipi Raina.


"Bisakah Kakak meminta sesuatu darimu?" ucap Arya menatap Raina dalam.


"Tentu saja, Kak. Kakak mau minta apa?"


"Selama ini kakak tidak pernah meminta satupun darimu, tapi tolong kali ini kabulkan permintaan Kakak. Kakak mohon setuju saran Tante Anin, mari kita melakukan operasi sesar saat proses persalinan mu,"


Raina hanya terdiam dan hanya menatap pada Arya, Raina bisa melihat raut wajah serius di wajah suaminya. Raina juga bisa melihat ada raut wajah kesedihan dan kecemasan di sana.


"Kamu mau ya! mengabulkan permintaan Kakak, Kakak sangat mencintaimu, sangat khawatirkan mu."


Raina hanya terdiam dan terus menatap wajah Arya, dalam hatinya ia sangat menginginkan melahirkan bayinya secara normal, tapi Raina juga ingin mengabulkan permintaan dari suaminya yang terlihat begitu tulus.


๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


Terima kasih sudah membaca๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Jangan lupa ya tetap dukung karya Pilihan Ku dengan cara memberi like, vote, dan komen di setiap babnya.


Dukungan kalian sangat berarti๐Ÿค—


Salam dariku๐Ÿฅฐ


Author m Anha๐Ÿค—


thank you allโค๏ธ

__ADS_1


Sampai jumpa di BAB berikutnyaโ˜บ๏ธ


๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


__ADS_2