
Ayah Mikaila sangat sibuk mengatur keperluan pembangunan rumah Bram dan Mikaila,
Bram memilih rancangan rumah yang sederhana,,rumah berlantai dua dengan kolam renang yang luas di bagian depan rumah khusus untuk anak-anak dengan prosotan dan kolam renang untuk orang dewasa di bagian samping.
Ia sengaja membuat kolam untuk anak-anak agar saat mereka berkumpul di rumah itu anak-anak bisa merasa nyaman.
pembangunan hampir selesai, banyak warga yang ikut membantu pembangunan tersebut bahkan para ibu-ibu dengan sukarela membuatkan beberapa makanan atau sekedar cemilan untuk para pekerja.
Walau baru di kampung itu namun Bram sudah sangat di hormati olah para warga karena kebaikan hatinya..
Jabbar ikut dalam proses perancangan bengkel mobilnya, awalnya ia menolak rancangan yang di ajukan oleh tim dari kantor Bram, karena menurutnya itu terlalu besar,namun karena dukungan ayahnya iapun menyetujui rancangan tersebut.
Ting,satu pesan masuk di ponsel Jabbar,
"semangat kakak💪💪😘"pesan dari Isabela.
"terima kasih"balas Jabbar.
Jabbar tidak begitu merespon pesan dari Isabela,namun karena Isabela adalah keluarga dari Bram ia membalas pesannya seadanya.
sifat Jabbar memang selalu dingin kepada setiap wanita yang mendekatinya.
Hari ini Bram berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya,ada rapat penting yang harus di hadirinya.
Mikaila duduk di teras rumah sehabis mengantar Bram berangkat bekerja,ia melihat pohon mangga yang tengah berbuah lebat di sudut pagar tembok yang menjulang tinggi di samping rumahnya.Tiba-tiba perutnya terasa mual, iapun berlari ke dapur.
Bi Yanti yang memang sedang bekerja di dapur melihat Mikaila yang berlari ke kamar mandi yang ada di dapur.
"non hati-hati,jangan lari-lari,"pekik bi Yanti mengikut majikannya.
Mikaila memuntahkan semua isi perutnya hingga ia berkeringat dan wajahnya pucat,bi Yanti yang melihat keadaan Mikaila panik dan memanggil Siti yang sedang menyapu di dapur.
"Siti ambilkan air minum,"teriak bi Yanti.
Siti dengan cepat memberikan air minum.
Mikaila meminum air itu hingga habis namun langsung di keluarkan lagi, seolah-olah perutnya menolak apa yang masuk ke sana.
Bu Yanti dan Siti memapah Mikaila hingga ke kamarnya.
"non istirahat aja dulu ya bibi buatin teh hangat"ucap bi Yanti sambil menyelimuti majikannya itu yang terlihat sangat lemah.
Mikaila hanya mengangguk mengiyakan ucapan bi Yanti.
"bi apa sebaiknya kita telfon pak Bram ya?"tanya Siti.
"kita tunggu aja dulu,biarkan dia nona istirahat itu biasa untuk ibu yang hamil muda,"ucap bi Yanti memenangkan.
Hingga siang hari keadaan Mikaila tetap sama,apapun yang masuk ke perutnya selalu di muntahkan nya,tubuhnya benar-benar lemah.
Bu Yanti yang melihat kondisi Mikaila khawatir dan memutuskan menelfon Bram.
Bram yang mendengar kondisi Mikaila memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
"Bi aku mau makan mangga yang ada di samping sana,"tunjuknya ke arah pohon yang tadi di lihatnya.
"iya nanti bibi nyuruh Wahyu yang ambilkan ya non"kata bi Yanti.
"aku mau lihat bi,pak Wahyu metik mangga"Kaila penuh semangat.
"non disini aja ya,nanti bibi bawa kesini,"
"ga mau bi aku mau lihat mangga nya di petik,"kekeh Mikaila.
"biarkan saja bi,mungkin itu kemauan bayinya,"ucap Bi Lala.
Kaila mengangguk dengan senyum di wajahnya sambil mengusap-usap perutnya.
Bi Yanti hanya bisa pasrah dengan kemauan Mikaila.
Mereka semua pergi ke halaman samping tampat pohon mangga yang di maksud Mikaila,tak lupa Siti membawa sebuah kursi plastik tempat Mikaila duduk nantinya,bi Lala membawa payung sedangkan bi Yanti membawa keranjang dan pak Wahyu menenteng tangga.
Pak Wawan dan pak Slamat yang melihat mereka seperti melihat keluarga yang akan pergi piknik,dan mereka pun ikut menghampirinya karena penasaran.
"ini pada mau kemana?"tanya pak Wawan kepada Wahyu.
"ini bumil mau makan mangga yang disana,"tunjuknya pada pohon mangga yang sudah berada di depannya.
"oww"ucap pak slamat dan pak Wawan bersamaan.
Saat pak Wahyu akan memanjat tangga yang telah di dekatkan di pohon agar mempermudah ia memanjat Mikaila menghentikannya.
"ada apa non,"tanya pak Wahyu.
"biar aku yang petik sendiri mangga nya,"jawab Mikaila memegang tangga.
Semua yang mendengarnya terkejut,mana mungkin seorang istri dari Abraham Wijaya yang sedang hamil muda di biarkan memanjat pohon..
"jangan non,bahaya,"ucap bi Yanti melepaskan tangan Mikaila dari tangga.
"aku bisa ko bi,di kampung aku sering manjat pohon mangga yang jauh lebih tinggi dari ini,"ucapnya meyakinkan.
"biar saya aja ya non,saya ahlinya kalau manjat mangga non,nanti saya ambilkan buah yang paling bagus ya non,"memelas.
"iya non biar Wahyu aja yang manjat ya non,"bujuk bi Lala.
"iya non biar saya yang manjat juga,"ucap pak Wawan.
"iya Wan, cepat ambil mangga nya."pak Slamat juga ikut membujuk.
"tapi aku maunya petik sendiri,aku bisa kok,"mulai menaikkan satu kakinya bersiap menaiki anak tangga.
Semua panik dan terus membujuk nona muda mereka.
Bram yang sudah ada di depan gerbang membunyikan klakson mobil karena tak seperti biasanya tidak ada yang membukakan pintu gerbang.
Pak Wawan yang mendengar suara klakson mobil Bram berlari membuka gerbang.
__ADS_1
Bram memarkirkan mobilnya di depan rumah dan memberi kuncinya kepada pak Wawan.
"maaf pak,"ucap pak Wawan.
"itu ada apa pak"tanya Bram mendengar keributan di halaman samping.
"itu pak,nona mau panjat mangga,"jawab pak Wawan.
"apa,manjat mangga,"heran Bram mendengar apa yang baru di dengarnya,
Bram dan pak Wawan sedikit berlari menuju sumber keributan dan melihat istrinya itu sudah menaiki 2 anak tangga dengan bi Yanti yang menahan kakinya.
Bram langsung mengangkat tubuh Mikaila dan mendudukkannya di kursi yang di bawa Siti.
"Kamu mau ngapain,"tanya Bram
"itu mas,aku hanya mau makan mangga.Tapi ga boleh,"keluhnya dengan muka di buat memelas.
"mau makan mangga atau petik mangga,"
"aku mau makan mangga yang aku petik sendiri mas,"merayu.
"nanti pak Maman yang manjat ya,"bujuk Bram.
"ga mau,"
"ya udah kalau gitu mas yang petik buat kamu,mau?"
"iya deh,"
"gitu dong, kalau kamu manjat kasian bayi kita,"mengusap-usap perut Mikaila.
Mikaila tersenyum senang mendengar ucapan suaminya yang entah mengapa baru beberapa jam tak melihatnya ia sudah sangat merindukan aroma suaminya itu.
Bram membuka jas dan dasi ya,menggulung lengan bajunya hingga siku dan mulai menaiki anak tangga di bantu pak slamat dan pak Wawan.
"hati-hati tuan,"kata bi Yanti yang tau betul ini kali pertamanya Bram memanjat pohon.
Walau dengan susah payah akhirnya Bram berhasil memetik 2 buah mangga dan membawanya turun sendiri,sesuai keinginan Mikaila..
"Oya kedalam,disini panas sayang."
"sayang sini mangga nya."mengambil mangga dari tangan Bram.
Bi Lala mengupas mangga di meja makan karena bumil ingin melihat mangga itu di kupas,Bram meminta bi Yanti mengambilkan makanan untuk Mikaila karena menurut bi Yanti saat di telfon istrinya itu belum makan apapun dari pagi.
Sambil menunggu mangga nya, Mikaila bercerita kepada Bram kalau saat di kampung ia sering memanjat pohon mangga salah satu warga di sana tanpa izin dan saat ia dan Humaira ketahuan meraka akan lari sekencang-kencangnya.
Bram mendengar sambil terus menyendok kan makanan ke mulut Mikaila yang tak menghentikan celotehan nya walau mulutnya penuh dengan makanan,hingga makanan yang ada di piring habis dan memberikan segala susu ibu hamil dan juga di habiskan.
Bi Lala sengaja memperlambat cara kupas nya agar nona nya itu menghabiskan makanannya dan melihat pemandangan lucu di hadapannya.
Bersambung.
__ADS_1