
Sebulan sudah berlalu, Mikaila tengah menanti waktu persalinannya, seperti biasa ia akan merengek agar kedua orang tuanya datang menemani dirinya saat operasi nanti.
Persalinan kali ini Dr Anindita kakak iparnya menyarankan agar melakukan operasi ,terlalu beresiko jika ia memaksa melahirkan secara normal.
Isabela dan Jabbar juga ikut datang .
Bram menjemput mereka di bandara,
Jabbar dan Isabela langsung ke rumah Pak Surya ayah dari Isabela.
Setelah mengantar Jabbar dan Isabela Bram langsung pulang ke rumahnya.
Seminggu lagi Mikaila akan menjalani operasi..
Kelvin dan Gavin bermain bersama, Kelvin menjahili adiknya ,ia menyembunyikan mobil-mobilan Gavin di tangga,
Gavin terus mencari mobil-mobilan miliknya.
Tak lama kemudian kakek dan neneknya datang mereka berlarian menyambut kedua orang tua Mikaila tersebut.
Bram memanggil Mikaila yang sedang beristirahat di kamar,
"Sayang bangun ayah dan ibu sudah datang," ucap Bram.
"Sekarang ayah dan ibu di mana?"tanya Mikaila .
"ada di bawah, lagi main sama anak-anak ,"Jawab Bram .
Bram dan Mikaila berjalan turun ke lantai bawah. Ibu tersenyum saat melihat anaknya turun tangga dengan perut yang sudah membesar.
Mikaila tak melihat mobil-mobilan yang disembunyikan kelvin di tangga, Mikaila menginjaknya dan jatuh terguling guling di tangga ,Bram sempat memegang tangan istrinya namun pegangannya tak cukup kuat sehingga terlepas.
"Mikaila,"teriak Bram.
Namun teriakannya yaitu tak dapat menghentikan istrinya yang terus bergulir hingga ke lantai dasar.
Ia mematung melihat Mikaila jatuh tersungkur ke lantai dan memegang perutnya.
"Kaylaaaa,"pekik ibu saat melihat putrinya jatuh dari tangga. Ibu segera berlari menghampiri anaknya .
Sementara Bram berdiri mematung, iya tak percaya dengan apa yang terjadi .
Dengan gemetar ia menghampiri istrinya
" Mas bayi kita," ucap Mikaila sebelum kesadarannya hilang ,
"sayang bangun sayang" ucap Bram panik.
" cepat bawa ke rumah sakit," ucap Ayah yang juga panik melihat kondisi putrinya.
Ibu Mikaila sudah menangis melihat anaknya mengeluarkan darah .
Dika yang juga ada di sana langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Dr Anindita .
"Apa jatuh dari tangga,"Pekik Anindita mendapat kabar dari Dika.
" cepat bawa ke rumah sakit sekarang," ucap Anindita.Ia segera menyiapkan ruang operasi.
__ADS_1
Bram mengangkat Mikaila ke mobil dan menancap gas menuju rumah sakit,ayah dan ibu Mikaila ikut bersamanya .
Tangan Bram bergetar namun Ia tetap berusaha fokus menyetir .
Setibanya di rumah sakit Anindita langsung berlari menghampiri mobil Bram dan langsung membawa Mikaila ke ruang operasi.
Saat menunggu kedatangan Bram, Anindita menelpon ibunya dan semua bergegas datang ke rumah sakit termasuk Jabbar Kakak Mikaila..
Bram mondar-mandir di luar ruang operasi bajunya berlumuran darah Mikaila, nafasnya terengah-engah dadanya terasa.
Bram merasa sesak ia melihat darah yang ada di tangannya .
"Bu istriku Bu," keluh Bram pada ibunya yang baru datang .
"Sabar nak dia pasti baik-baik saja," ucap ibu menenangkannya...
Sementara di rumah Gavin dan Arya menangis, ia ikut menyaksikan bundanya jatuh di tangga.
Namun yang paling terpukul adalah Kelvin
Ia merasa bersalah, ia menganggap dirinya lah yang telah menyebabkan Bundanya jatuh .
Kelvin melihat mobil-mobilan Gavin yang tadi ia sembunyikan sudah ada di lantai di depan tangga bersama darah Bundanya .
"Aku yang sudah buat bunda jatuh,bunda jatuh pasti karena mobil-mobilan itu," ucap Kelvin menunjuk mobil yang ada di dekat tangga.
" nggak kok, ini semua kecelakaan Kelvin nggak salah apa-apa," ucap Mbak Siti pengasuh mereka,
" iya den, Mbak Siti benar ini bukan salah Aden semua ini kecelakaan," ucap Yanti memeluk Kelvin yang menangis sesegukan .
"Bibi bagaimana keadaan Bunda, aku ingin ke bunda Aku ingin Bunda," ucap Gavin disela tangisnya .
Arya ikut menangis iya tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan kedua adiknya .Ia juga merasa takut sedih melihat bundanya.
Di rumah sakit .
Operasi berjalan cukup lama, Bram benar-benar merasa sesak dan takut .
Bayangan akan kehilangan istrinya untuk kedua kalinya terus membayangi pikirannya,Bram berusaha menguasai dirinya dan berpikir positif.
Operasi selesai pintu ruang operasi terbuka dan keluarlah Anindita, semua menghampiri .
Bram langsung menghampiri kakaknya
"Kak bagaimana anak dan istriku," tanya Bram dengan tatapan penuh harapan.
Anindita langsung memeluk adiknya
"Sabar ya Kakak tidak bisa menyelamatkan salah satu anak kalian,"ucap Anindita mengusap bahu adiknya .
"istriku,"tanya Bram lagi.
"Mikaila baik-baik saja dan satu bayi kalian juga dalam kondisi baik,"ucap Anin.
Semua bernafas lega, walaupun mereka harus kehilangan satu bayi setidaknya ibu dan satu bayi lagi masih bisa diselamatkan.
Beberapa saat kemudian Mikaila dipindahkan ke ruang rawat, saat ini Mikaila masih dalam pengaruh obat dan masih belum sadar.
__ADS_1
Bram dan yang lainnya memakamkan jazad salah satu bayi.
Bram memegangi batu nisan bayinya, rasa penyesalan terus memuncak di hatinya .
"Maafkan papa nak,papa tidak bisa menyelamatkanmu," ucap Bram menatap nanar kuburan anaknya..
kemudian iya memegang batu nisan Inanti.
"Aku titip anakku ya,jagalah mereka." batin Bram.
"Aisy Putri Abraham Wijaya,"tulisan yang ada di batu nisan bayi manggil itu,bayi yang belum sempat mendapat dekapan dari ibunya.
Ayah Mikaila mendekati Bram dan mengelus bahu menantunya itu.
" kamu harus kuat Mikaila dan anak-anak kamu jauh lebih membutuhkan kamu ,bayi kalian ini sudah mendapat tempat yang paling baik di sisi Allah SWT dan kelak akan menanti kalian di surga. kamu harus ikhlas ini semua sudah kehendak Allah," ucap Ayah Mikaila membuat Bram jauh lebih tenang.
Mereka semua kembali ke rumah sakit.
Bram duduk memegang tangan istrinya,bayangan saat ia memegang tangan istrinya di tangga terus membayanginya.
"Andaikan aku memegangmu lebih erat semua ini takkan terjadi," batin Bram penuh sesal .
Mikaila membuka mata
"sayang syukur lah kamu sudah sadar,"ucap Bram mengecup kening Mikaila.
" Mas bayi Ku ,"Ucap Mikaila memegangi perutnya yang sudah rata.
"Bayi kita baik-baik saja, sekarang sedang bersama ibu di ruang bayi," ucap Bram.
" syukurlah Mas ,aku sangat khawatir,"Ucap Mikaila.
"Bagaimana keadaan kamu sayang,mana yang sakit," tanya Bram.
" enggak Mas, enggak ada yang sakit, aku senang bayi kita baik-baik saja," Ucap Mikaila yang sudah berurai air mata.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Bram menghapus air mata istrinya.
Bram belum berani mengatakan jika salah satu bayi mereka tidak selamat, khawatirkan keadaan Mikaila akan memburuk jika mengetahuinya.
Merahasiakannya untuk saat ini adalah pilihan yang paling baik...
"Aku ingin melihat anak-anak kita,"ucap Mikaila.
" sabar ya sayang, kondisi kamu juga sedang tidak baik. Kita melihatnya setelah kau lebih baik ya, Mas khawatir akan keadaan kamu,"ucap Bram.
"aku enggak apa-apa Mas, aku ingin melihat bayi kita," ucap Mikaila lagi.
" tolong dengarkan Mas kali ini, Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu,"ucap Bram mengecup punggung tangan Mikaila.
"Iya Mas Aku istirahat," pasrah Mikaila,ia menggenggam erat tangan suaminya dan kembali tertidur.
😭😭😭😭🙏😭😭😭😭😭
Like,like, like.😭😭😭
🙏🙏🙏🙏✌️🙏🙏🙏🙏💖
__ADS_1