Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Surat perjanjian.


__ADS_3

Raina berbincang dengan nenek sambil mengurus tanaman hiasnya, sedangkan Arya menghampiri kakek yang sudah duduk di kursi roda sambil memberi makan ikan-ikan hias kesayangannya.


"Bagaimana kabar kakek?" tanya Arya.


"Kamu lihat sendiri kan, kakek masih bisa mengurus ikan-ikan kakek berarti kakek masih sehat," canda kakek tertawa.


"Kamu dengan siapa kesini?" tanya kakek,


"Aku bersama Raina kek," jawab Arya.


"Bagaimana kabar Papa mu?"


Kabar tentang kebenaran penyakit Bram sudah diketahui oleh semua keluarga.


"Papa baik-baik saja kek," jawab Arya.


"Bunda mu pasti mengurus Papamu dengan sangat baik," ucap kakek mengingat menantunya itu.


Ia bisa melihat jika anaknya mendapatkan begitu banyak cinta dari istrinya.


Arya mengangguk,


"Kau juga harus mencari pendamping yang baik yang bisa mengurusmu, Raina gadis yang baik apalagi yang kau tunggu mengapa kau tak langsung menikahinya,"


"Raina belum siap kek,"


"Kakek sangat berharap masih bisa melihat cicit dari mu sebelum kakek berpulang," ucap Kakek terbatuk-batuk dan memegangi dadanya.


Arya yang melihat kondisi kakeknya yang semakin menua tak sanggup mengatakan kebenaran Zaky, ia takut akan memperburuk keadaannya.


"Ayo kita pergi bersama mereka," ucap kakek menunjuk Raina.


Arya mendorong kursi kakek ke taman belakang, di sana ada Raina dan nenek sedang mengurus tanaman kesayangan nenek.


Raina yang melihat Arya datang sambil mendorong kakeknya langsung berdiri dan menyambut kedatangan kakek, Raina mencium tangan kakek dan memberi salam.


Mereka duduk di teras rumah sambil melihat bunga-bunga nenek yang sedang bermekaran,


bunga itu cantik dan harum.


"Raina," panggil kakek.


"Iya kek," jawabannya cepat melihat kearah kakek.


"Kamu mau yah menikah dengan Arya, usiamu sudah cukup untuk menikah. Akan lebih baik jika kau tinggal bersama mereka." ucap kakek.


Raina hanya diam,


"Menurut kakek, Sekarang atau nanti sama saja," ucap kakek penuh harapan.


Raina melihat ke Arya yang juga melihatnya,


"Bagaimana nak, kamu mau kan," tanya nenek berbinar dan menggenggam tangan Raina.


"Raina terserah kak Arya aja kek nek,"ucap Raina yang tak enak untuk menolak.


"Baiklah kita akan menikah 2 bulan lagi," ucap Arya,


"Nenek setuju," sergap nenek.


"Kakak juga setuju, kita akan melaksanakan pernikahan kalian dua bulan lagi," ucap kakek tertawa dan menepuk pundak Arya,


Raina membulatkan matanya menatap Arya, Arya hanya melempar ciumannya pada calon istrinya itu.

__ADS_1


Raina berpikir jika Arya juga akan menolak, baru saja mereka membahas sebelum datang ke sini jika ia belum siap dan masih ingin meminta waktu.


Namun sepertinya Arya justru memanfaatkan kesempatan itu.


"Mereka pulang saat malam hari, di perjalanan Arya hanya terdiam.


"Kakak kenapa?" tanya Raina,


"Aku lagi memikirkan Zaky, sepertinya belum waktunya kita memberitahu kakek, Kamu lihat sendiri kan tadi bagaimana kondisi kakek aku takut kalau ia tak bisa menerima kenyataan ini"


"Iya juga sih Kak, kakek pasti sangat menjunjung nama baik keluarga dan kakek pasti tak menyangka jika Papa mempunyai anak dari wanita lain. Tapi jika kita jelaskan kan secara pelan-pelan pasti Kakek bisa mengerti ," ucap Raina.


"Kamu benar juga, tapi aku nggak tahu harus menjelaskan dari mana,"


"Bagaimana kalau kita tanya nenek terlebih dulu, Jika nenek yang menjelaskannya kepada kakek pasti kakek akan lebih bisa menerimanya," usul Raina.


"Kamu benar juga. Baiklah kapan-kapan kita ajak nenek ke luar, kita bahas diluar rumah aja,"


"Itu lebih baik kak,"


"Kamu nggak apa-apa kan kita nikah cepat ?"tanya Arya.


"Kak sepertinya dua bulan lagi itu terlalu cepat untuk Raina," ucap Raina.


"Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya kakek dan nenek sudah sangat menyetujuinya,"


"Tapi kan kita belum membicarakan ini sama Papa dan Bunda," ucap Raina.


"Bunda pasti setuju, Kalau Bunda sudah setuju Papa juga pasti setuju, setuju tidak setuju Papa pasti menurut apa kata Bunda," ucap Arya mengingat jika selama ini Papanya itu selalu menurut apa yang dikatakan oleh bundanya.


"Iya Kak, tapi ada syaratnya," ucap Raina,


"Syarat, Syarat apa?" tanya Arya.


"Baiklah, tak masalah," ucap Arya mengangguk sambil terus fokus nyetir.


*****


Keesokan harinya di kantor, Raina menghampiri Arya di ruang kerjanya dan memberikan secarik kertas di depannya,


"Tanda tangani ini,"


"Apa ini ?" tanya Arya melihat Apa isi kertas tersebut.


Gavin memperhatikan raut wajah kakaknya.


Gavin juga ada di sana untuk meminta tanda tangan Arya, Iya duduk di kursi di depan Arya dan terus mengamati perubahan raut wajah kakaknya itu.


"Emang itu apa kak?" tanya Gavin.


Arya tak menjawab hanya menatap Raina tak percaya dengan apa yang ia baca,


"Kamu serius ini syaratnya?" tanya Arya,


Raina mengangguk tanpa dosa,


"Apa enggak bisa di ganti syarat yang kedua?" tawar Arya.


Raina menggeleng dan memberikan pulpen di tangan Arya.


"Silakan ditandatangani," ucap Raina menunjuk dimana Arya harus menandatanganinya.


Gavin Yang penasaran langsung berdiri dan melihat Apa isi dari secarik kertas yang harus kakaknya tanda tangani itu.

__ADS_1


*****


Surat perjanjian pernikahan,


Pihak pertama Arya,


Pihak kedua Raina.


Isi perjanjian,



Pihak pertama harus selalu menuruti pihak kedua ,


Pihak Pertama tak boleh menyentuh pihak kedua tanpa izin pihak kedua.



*****


Gavin tertawa setelah membaca apa isi dari kertas yang membuat wajah Arya berubah.


"Kalian beneran mau nikah?" tanya Gavin tak percaya.


"Emangnya kenapa?" tanya Raina,


"Kalian itu masih anak-anak, udah mau buat anak," tawa Gavin.


Natali yang mendengar tawa Gavin ikut masuk,


"Ada apa sih?" tanya Natali kepo,


"Ini nih, teman kamu kebelet nikah," ucap Gavin.


"Kamu mau nikah?!"


Raina mengangguk,


"Dengan siapa?!" pertanyaan konyol Natali.


"Ya dengan aku lah, kamu pikir dengan siapa!" ucap Arya kemudian menandatangani surat perjanjian tersebut.


"Siang nanti kita temui Papa dan Bunda ya," ucap Arya memberikan secarik kertas itu kepada Raina.


"Oke Kak," jawab Raina.


Raina dan Natali keluar ruangan Arya dan kembali ke ruang kerja mereka.


Kini ruang kerja mereka berada di ruangan lain, mereka diberi ruangan khusus untuk mereka berdua, ruangan yang sangat nyaman dan lebih mirip seperti kamar daripada ruang kerja.


"Itu beneran Kak disetujui perjanjiannya ?" tanya Gavin yang melihat kakaknya menandatangani surat perjanjian tersebut.


"Itu urusan nanti, dia mau menikah saja sudah bagus," ucap Arya tersenyum dan menandatangani berkas yang diberikan Gavin padanya.


"Kalau butuh tips dan saran hubungi Gavin aja kak, Gavin pakarnya," ucap Gavin mengambil berkas itu lalu keluar sambil masih terus tertawa membayangkan persyaratan konyol Raina.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca


Tidak bosan-bosan nih kak di ingatin untuk terus memberi LIKE VOTE KOMENNYA 🙏


salam dariku Author m anha ❤️❤️🙏🙏

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2