
Mikaila menangis saat mengetahui salah satu bayinya telah meninggalkannya,Bram mendekap erat istrinya iya tahu istrinya saat ini sangat terpuruk begitu juga dirinya.
"Maafkan Mas Sayang, Mas tidak bisa menjaga kalian," ucap Bram .
"Aku yang salah Mas, aku tidak bisa menjaga anak kita, aku yang telah membuatnya meninggalkan kita. Jika aku lebih berhati-hati semuanya takkan terjadi," ucap Mikaila sesegukan.
" Jangan bicara seperti itu, tak ada yang menginginkan semua ini, semua ini bukan salahmu, bukan salah Mas atau salah siapapun, ini sudah kehendak Allah. Mas harap kamu bisa ikhlas menerima semua ini kamu harus tetap kuat, kita masih punya Arsy dia sangat membutuhkanmu," ucap Bram.
Mikaila tetap menangis, walau berusaha mengikhlaskan. Namun, hati kecilnya tetap tak rela, ia sudah bersama bayinya itu selama 9 bulan dan kini ia meninggalkannya.
Mikaila dan bayinya sudah sehat dan sudah dibolehkan pulang, Arya dan Gavin yang selama ini tak diizinkan menengok Bundanya di rumah sakit. keduanya menyambut dengan gembira, mereka memeluk Bundanya dan mencium adik mereka.
" Kakak, Kelvin mana?" tanya Mikaila pada Arya yang tak melihat Kelvin menyambutnya.
Arya menggeleng.
"Mas, Kelvin mana?" tanya Mikaila menatap suaminya.
"Kelvin merasa bersalah, dia menganggap mobil-mobilan yang ia simpan di tangga adalah penyebab semua ini, Mas sudah berusaha menjelaskannya namun Ia tetap menyalahkan dirinya sendiri," ucap Bram.
Malam itu kelvin menangis di kamar Bundanya, Bram yang kembali ke rumah karena melupakan sesuatu mendengar tangisan Kelvin dari walking closet.
"Kelvin kamu kenapa nak?" tanya Bram.
"Papa maafin kelvin, kelvin yang sudah simpan mobil-mobilan itu di tangga Kelvin nakal, Kelvin yang sudah buat bunda jatuh, Kelvin yang sudah buat adik meninggal, Kelvin nakal, Pah. Maafkan Kelvin," ucap Kelvin terus menangis.
Dengan cepat Bram mendekap tubuh anaknya yang bergetar karena menagis.
"Bukan Sayang, ini bukan salah Kelvin, ini sudah kehendak Allah SWT, Allah lebih sayang Ade Aisy, jadi Kelvin gak boleh nyalahin diri sendiri," ucap Bram mengelus punggung Kevin .
"Kevin nakal," ucap Kelvin terus menyalahkan dirinya.
Bram tak menyangka jika Kelvin ternyata juga sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sama seperti dia yang juga menyalahkan dirinya karena tak menjaga Mikaila.
Malam itu Bram tak jadi kembali ke rumah sakit dan meminta Jabbar menggantikan nya menjaga Mikaila.
Bram terus mejelaskan kepada Kelvin jika semua yang terjadi bukanlah kesalahan nya..
,
,
Kelvin duduk di sudut kamarnya, Mikaila menghampiri anaknya,
"Nak, Kevin nggak kangen Bunda," ucap Mikaila mendekati Kelvin yang menyembunyikan wajahnya di balik lututnya.
"Kelvin, sini peluk Bunda ya. Bunda kangen sama Kelvin," ucap Mikaila semakin mendekati putranya.
Kelvin langsung berlari memeluk Bundanya dan menangis sejadi-jadinya.
"Bunda maafin Kelvin, kelvin yang salah," ucap Kelvin menyembunyikan wajahnya di dada Bundanya .
__ADS_1
"Sayang kamu nggak salah, nggak ada yang salah, semua sudah ditakdirkan sama Allah kita nggak boleh marah sama Allah kan.Jadi kelvin jaga enggak boleh nyalahin diri sendiri. Kevin, mau kan bantu Bunda ngerawat adik ?" tanya Mikaila mengangkat wajah Kalvin agar menatapnya.
"Maukah bantu Bunda kita rawat ade sama-sama," ucap Mikaila lagi .
"Iya Bunda," ucap Kelvin mengganggu.
Mikaila tersenyum dan mengusap air mata di pipi anak putranya.
Bram yang sedari tadi mendengar percakapan mereka ikut mendekat.
"Kita lihat adek yuk," ajak Bram menggendong Kelvin kamarnya. Disana sudah ada Arya dan Gavin yang terus menciumi adiknya.
Kelvin tersenyum saat melihat bayi mungil itu tidur pulas, tiba-tiba Arsy tersenyum saat kelvin duduk di dekatnya.
"Lihatkan ade juga kangen kelvin," ucap Mikaila melihat senyum kecil Arsy.
Kelvin tersenyum dan mencium pipi adik kecilnya.
Bram menamai anaknya "Arsy Putri Abraham Wijaya" dan "Aisy Putri Abraham Wijaya".
Ibu Mikaila dan ibu Bram sibuk menyiapkan kan acara syukuran dan tahlilan.
Syukuran untuk Arsy dan tahlilan untuk Aisy..
Dua acara yang tak seharusnya di lakukan bersamaan.
Ayasa ikut bersedih mendengar berita duka dari Om nya itu, ia meminta izin kepada papanya untuk pulang dan menghadiri acara tersebut.
Yoga tentu saja mengizinkan putrinya, ia yakin putrinya itu pasti sangat merindukan suasana kekeluargaan.
Hari ini lagi-lagi Yoga, David dan Dimas menemui klien di luar.
Sepulang dari rapat tersebut Yoga meminta David ke bandara.
"Ngapain ke bandara, Pak?" tanya Dimas.
Yoga tak menjawab dan hanya melirik Dimas dan kembali fokus pada ponselnya, ia sedang membalas chat Ayasa. Ayasa mengatakan jika dirinya sudah ada di bandara dan memberitahu posisinya.
Begitu sampai di bandara Yoga langsung turun dan menghampiri putri sulungnya. David dan Dimas duduk menunggu di dalam mobil.
"Oh jantungku ,"ucap Dimas memegang jantungnya dan menatap Ayasa yang berjalan bersama Yoga ke arah mereka.
" Jangan bilang kamu juga menyukai Ayasa," ucap David menatap Dimas
.
"Kenapa senyumnya semakin menggoda, oh Tuhan jagalah hatiku engkau maha membolak-balikkan hati ," ucap Dimas lagi tak menjawab pertanyaan David.
David hanya menggeleng melihat tingkah konyol Dimas.
Dimas terus memperhatikan Ayasa berjalan disamping Yoga, tersenyum manis .
__ADS_1
Ayasa terlihat sangat cantik dengan penampilan barunya, terlihat lebih dewasa dan anggun, ia mengenakan hijab yang semakin membuat hati Dimas meronta-ronta..
"Kok dia tambah cantik aja sih," batin Dimas.
Ayasa sedikit terkejut saat Yoga membuka pintu untuknya dan di kursi depan ada Dimas.
Ayasa duduk di belakang Dimas.
David mulai melajukan mobilnya, Dimas membuka jas dan menutup wajahnya,ia merasa sangat frustasi melihat perubahan. Ayasa .
Ayasa memandang aneh ke arah Dimas begitu juga dengan Yoga.
"Kita sekarang kemana?" tanya David .
"Kita ke restoran dulu Ayasa pasti lapar," ucap Yoga .
David melajukan mobilnya menuju restoran, saat sampai di restoran dan semuanya sudah turun dari mobil. Namun Dimas tetap tinggal di dalam mobil.
"Dimas kamu nggak turun?" tanya David. Dimas menggeleng di balik jas yang menutupi wajahnya .
"Yakin nggak mau makan?" tanya David lagi Dimas kembali menggeleng.
Mereka pun meninggalkan Dimas di mobil, saat dirasa semua sudah pergi Dimas perlahan-lahan membuka jas yang menutup wajahnya .
"Ada apa denganku, Aku benar-benar sudah gila," ucap Dimas menatap wajahnya di cermin yang sudah sangat berantakan.
Satu chat dari Syana masuk di ponselnya .
"Sayang kamu dimana?" tanya Syana.
Dimas tak menjawab pesan Syana, dia melakukan panggilan video call.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Syana melihat wajah Dimas yang berantakan, rambutnya sudah acak-acakan.
"Sepertinya aku akan mati sayang,," ucap Dimas frustasi.
"Maksudnya ?" tanya Syana tak mengerti .
"Aku mau bunuh diri aja ya?" ucap Dimas.
"Kak Dimas apaan sih, ga jelas ," ucap Syana mematikan panggilannya..
Beberapa saat kemudian Yoga, David dan Ayasa berjalan menuju mobil,
Dimas lagi-lagi memperhatikan Ayasa. Namun, saat mereka membuka pintu dan masuk Dimas kembali menutup wajahnya.
"Kak Dimas apa-apaan sih aneh banget," batin Ayasa.
"Kenapa aku belum bisa melupakan Kak Dimas," batin Ayasa melihat Dimas dari belakang. Jantungnya masih berdetak kencang saat melihat Dimas sama saat sebelum ia pergi keluar Negri.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberi like dan komen di kolom komentar terima kasih sekali lagi.
Jangan pernah bosan ya baca karyaku love you semua 💗💗💖💖💖