
Setelah puas berbelanja membeli barang-barang yang mereka butuhkan, 4 wanita cantik terlihat tertawa senang dengan menenteng barang belanjaan mereka, walau tak banyak, tapi harganya mencapai miliaran.
Sementara ibu masih melihat beberapa barang yang mereka lewati dan menarik perhatiannya, tak ingin rugi, ibu meminta Kartu Mikaila. Siapa tau aja ada yang ia sukai.
"Kalian mau beli apa lagi?" tanya Mikaila pada menantu dan calon menantunya.
"Udah, Bunda. Ini sudah sangat banyak," ucap Natali memperlihatkan paper bag yang di tangannya.
"Iya, Bunda. Dada aku juga sudah mengeras, seperti Ayra mau nyusu," ucap Raina.
"Aku juga udah capek, Bunda," sahut Diandra. Rasa lelahnya saat berbelanja kemarin masih terasa.
Mereka pun ikut bergabung dengan Bram dan yang lainnya, di kafe. Mikaila sudah meminta Gavin memesankan minum untuk mereka sebelumnya, saat mereka datang, pesanannya sudah datang.
Ayra yang melihat mamanya datang langsung melompat-lompat kegirangan di pangkuan Arya, bayi itu langsung merentangkan tangannya ingin di gendong mamanya. Arya menggoda putrinya dengan menjauhkan dari Raina, membuat Ayra menjerit menagis. Bayi itu sudah sangat ingin menyusu.
"Arya," tegur Bram saat Arya terus menggoda putri kecilnya yang sudah berderai air mata, pipi chubby nya sudah memerah karena menagis.
"Papa nakal ya," ucap Raina saat mengambil Ayra dari Arya. Bayi kecil itu masih sesegukan karena ulah Papanya.
Raina memasukkan Ayra ke dalam kerudung panjangnya, memberikan ASI pada bayinya. Baru saja bayi itu menyusu ia sudah terlelap tidur sambil terus menghisap ASI nya. Masih terdengar suara sesegukan Ayra dari dalam hijab Raina, sesekali masih terdengar isakan kecil disana.
"Kamu ya, anak udah nangis masih aja di goda," gerutu Mikaila yang kasihan mendengar suara sesegukan cucunya.
"Iya, Bunda. Kak Arya gitu. Suka banget buat Ayra nangis." Aduh Raina.
"Lucu aja Bunda lihat pipinya memerah!" ucap Arya.
Salah satu keuntungan memakai hijab panjang, tak perlu mencari tempat untuk memberi ASI, cukup memasukkan bayi kedalam hijab.
"Udah shoppingnya?" tanya Bram pada Mikaila yang duduk di sampingnya.
"Belum, Mas. Aku mau beli skincare dan kawan-kawannya." Mikaila mengedipkan matanya. "Mas, hari ini aku menggunakan uang Mas lumayan banyak, ga apa-apa kan?" tanya Mikaila mengembalikan kartu ajaib Bram.
"Nggak apa-apa, kamu habiskan juga ga apa-apa!" Mengambil kartu yang disodorkan Mikaila padanya.
Bi Yanti dan yang lainnya mana?" tanya Arya yang hanya melihat nenek, Bunda, istrinya, Diandra dan Natali yang ikut bergabung dengan mereka.
"Yang lainnya sudah pulang," ucap Mikaila.
Raina mengambil kalung yang tadi dibelinya dan memasangkannya ke leher Ayra yang sedang tertidur pulas di pangkuan Papanya.
Walau baru berusia 8 bulan, tapi bobot Ayra sudah lumayan. Membuat Raina cepat pegal saat menggendongnya.
"Ih, cantiknya anaknya Mama," ucap Raina melihat putrinya memakai kalung dengan berliontin kupu-kupu.
"Kamu beli apa untuk aku?" tanya Arya melihat istrinya.
"Nggak ada!" jawaban Raina sambil terus memperbaiki pengait kalung Ayra.
"Gitu ya, kamu. Udah ada Ayra kamu Jadi lupain aku. Masa dari sekian banyak barang yang kamu beli enggak satupun buat aku," kesal Arya kecewa.
"Hehehe maaf ya, aku lupa."
"Kamu kan bisa pergi beli sendiri," ucap Raina mengelus lengan Arya yang menahan badan Ayra.
Arya hanya melengos mendengar alasan istrinya, semenjak ada Ayra, semua perhatian Raina berpusat pada putrinya itu, tapi Arya tak mempermasalahkannya, Arya justru senang jika Raina memperhatikan putri meraka, Arya sendiri jarang membantu Raina mengurus Ayra karena pekerjaan kantor yang semakin banyak seiring semakin berkembang Wijaya group di bawah kepemimpinannya.
__ADS_1
"Kamu beli apa untuk aku?" tanya Bram pada Mikaila yang sedang minum.
Membuat Mikaila tersedak dan terbatuk-batuk.
Bram menepuk punggung Mikaila, "Minum dulu," ucap Bram memberikan air mineral miliknya.
"Kamu ini kenapa sih, minum sampai tersedak kayak gitu," tegur ibu.
"Ini, nih Bu. Mas Bram bikin kaget," ucap Mikaila setelah berhasil menguasai batuknya.
"Aku kenapa?" Bingung Bram yang merasa tak melakukan apapun.
"Iya, Papa nanyain apa yang dibeli Bunda untuk Papa. Bunda kan ga beli apa-apa jadi kaget deh," canda Gavin tapi memang kenyataannya seperti itu.
Mikaila juga tersenyum terpaksa pada suaminya, dia juga tidak membeli apa-apa untuk Bram.
"Jangan bilang Bunda juga tidak membeli apa-apa untuk papa," tebak Gavin yang mengerti arti dari senyuman bundanya.
"Ada kok, tapi Bunda belinya nanti saja jika sudah mau pulang "alasan Mikaila.
"Sama aja Bunda, bilang aja Bunda juga lupa." ucap Gavin tertawa ditahan, melihat ekspresi wajah Bundanya.
"Gitu tuh jika sudah menikah, Kakak Arya dilupakan karena ada Ayra, sedangkan Papa di lupakan karena bunda bareng para menantunya," tambah Gavin menertawai nasib papa dan kakaknya.
Kelvin menahan tawanya melihat raut wajah papa dan kakaknya mendengar candaan Gavin.
Gavin menatap Nenek yang sedari tadi duduk manis menikmati jus alpukat miliknya.
"Nenek pasti lupa juga kan sama kakek!" Tebak Gavin.
Ayah dan pak Slamat memilih bermain catur di rumah dari pada keluyuran menemani mereka semua berbelanja.
"Wah ternyata cuman Nenek yang sayang suaminya," ucap Kelvin yang semakin membuat Gavin menertawakan Arya dan Papanya.
"Ih ... ibu kok nggak bilang-bilang sih kalau mau beliin buat Ayah, aku kan bisa beliin buat suami aku juga," ucap Mikaila melihat jam tangan ayahnya.
"Ngapain juga Ibu memberitahu kamu, kamu kan bisa inisiatif sendiri membeli untuk suami kamu."
"Iya, tapi kan Mikaila lupa, Bu!"
"Kalau kita cinta nggak akan lupa," ucap ibu cium kotak jam tangan untuk suaminya.
Membuat Kelvin yang sedang meminum kopinya terbatuk-batuk mendengar ucapan neneknya.
Gavin sudah tertawa terbahak-bahak bahkan beberapa pengunjung cafe melihat kearahnya.
Mikaila mengerucutkan bibirnya mendengar ibunya dan melempar Gavin dengan kentang goreng yang ada di depannya. Gavin menangkap dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Aku sayang kamu dan cinta sama suamiku, tapi lupa. Nanti kita beli sama-sama ya!" Merangkul lengan Bram merayu.
"Benar tuh, Nek. Kalau cinta nggak akan lupa," ucap Gavin kembali menegaskan ucapan neneknya, membuat Mikaila sekali lagi mengambil kentang goreng dan melempar pada anaknya itu dan menatap suaminya dengan senyuman bersalah.
"Udah ga apa-apa!" Bram menghentikan tangan Mikaila yang kembali ingin mengambil kentang goreng.
Mereka menikmati hidangan di cafe itu dengan terus bercanda gurau.
__ADS_1
"Hmm ... Arsy sama Clara mana?" tanya Bram yang baru menyadari jika putri kesayangannya tak ikut bergabung dengan mereka.
"Eh .. iya ya, kemana mereka?" ucap Mikaila baru menyadari ketidak hadiran putrinya.
Kelvin langsung merogoh sakunya, mengambil ponsel dan menelpon ke kontak Arsy.
"Kamu di mana?" tanya Kelvin setelah Arsy mengangkat panggilan nya.
"Lagi di tempat permainan, Kak."
"Kelian kemari, di cafe depan pintu masuk sekarang!" ucap Kelvin pada adiknya.
"Bentar lagi ya, Kak. Aku lagi bermain dengan Clara. 5 menit lagi selesai.
"Kalau selesai langsung ke sini, ya!"
"Oke, Kak."
"Bagaimana, mereka ada di mana?" tanya Bram saat melihat Kelvin matikan panggilannya.
"Mereka sedang bermain di wahana permainan."
"Raina, apa kalung seperti itu masih ada?" ucap Mikaila menuju kalung yang dipakai oleh Ayra.
"Nggak tahu Bunda, tapi coba deh Bunda tanya aja!"
"Ya udah, temenin Bunda ke toko yang tadi ya, takutnya Arsy ngambek lagi kalau nggak dibeliin apa-apa."
"Ya ampun, sayang. Kamu lupa juga dengan putrimu!, kamu nggak beliin buat aku nggak apa-apa, masa Iya kamu juga lupa membeli untuk Arsy," ucap Bram menatap kecewa pada Istrinya.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar lupa," ucap Mikaila mengecup pipi Bram. Agar suaminya itu tak semakin marah padanya.
Dengan cepat Mikaila mengambil tasnya dan menarik Raina, mereka terburu-buru meninggalkan kafe menuju ke toko perhiasan, takut jika Arsy sudah datang dan ngambek karena tak dibelikan perhiasan yang sama dengan Ayra.
Putri Abraham yang beranjak remaja itu masih suka cemburu saat semua membari perhatian pada Ayra.
Begitu sampai di toko perhiasan, Mikaila menanyakan kalung tersebut. Namun ternyata mereka sudah kehabisan stok nya.
"Bagaimana ini," ucap Mikaila gusar.
Raina kemudian menunjuk salah satu kalung yang ada di etalase, "Bunda bagaimana kalau kita pilih yang ini aja, kita beli yang sama untuk Clara." Menunjuk satu kalung dengan liontin berbentuk hati..
"Ya udah ... mbak aku ambil yang 2 ini ya!" ucap Mikaila menunjuk kalung tersebut dan berharap putrinya tidak ngambek.
Perhiasan selesai.
"Bunda kita beli dasi, yuk!" ajak Raina melihat toko yang ada di depan mereka.
"Boleh." Mikaila dan Raina membeli dasi untuk suami mereka, tak lupa Mikaila juga membeli untuk kedua putranya, Kelvin dan Gavin.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mohon ya Kak, mampir ke karya ku yang lainnya.
makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
salam dariku Author m Anha 🙏💗🙏
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖