Pilihan Ku

Pilihan Ku
Memaafkan dan Menerima.


__ADS_3

David terbangun dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Ia membuka mata dan melihat sekelilingnya.


"dimana ini,"gumamnya.


Tenggorokannya terasa kering,


David mencoba untuk bangun dan berusaha meraih air minum di atas meja namun usahanya sia-sia,ia tak bisa banyak bergerak.Bram benar-benar mematahkan beberapa tulangnya.


David menyerah,ia menghela nafas panjang dan memilih memejamkan matanya dan kembali beristirahat,saat ini ia menyadari dirinya kini sendiri dan sangat membutuhkan ibunya.


"ibu,aku sangat merindukanmu,"batin Davin setetes cairan bening menetes dari matanya.


Bram menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur,


"mas,jangan marah lagi ya,aku takut,"ucap Mikaila pelan menatap mata Bram.


"maaf,"ucap Bram mengusap rambut Kaila dan menariknya agar bersandar di dadanya.


"mas,semua sudah terjadi.David sudah menyesali perbuatannya.Bisa kah mas memaafkannya?"


Bram tak menjawab,ia hanya diam dan memeluk erat Mikaila,,


Bram berangkat bekerja seperti biasa,saat di jalan ia menelfon Arabela.


"kamu ada di mana?"tanya Bram dari balik telfon.


"Dirumah mas,"jawab Arabela.


Arabela sangat ingin menemani David di rumah sakit,tapi ia tak ingin menambah kemarahan Bram,ia akhirnya pulang setelah memastikan kondisinya baik-baik saja.Arabela menitipkan kepada Isabela yang kebetulan sedang piket malam,meninta untuk sesekali menengok David dan mengabarinya.


"kamu siap-siap,mas jemput kamu,"Bram mematikan ponselnya.


"kemana,"batin Arabela dan langsung ke kamar mengganti pakaian dan mengambil tasnya.


Arabela keluar saat mendengar suara mobil Bram,


"masuk,"ucap Bram saat melihat Arabela.


Bela dengan patuh langsung masuk dan duduk menunduk tak berani menatap wajah kakaknya.


Bram mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


"turun,"ucap Bram saat sudah sampai dan Arabela masih tetap duduk di dalam mobil.


"kenapa mas Bram membawaku ke mari,jangan bilang mas Bram akan memukuli David lagi."batinnya.


Arabela merasa gelisah sambil mengekor di belakang Bram, ia mengirim pesan kepada Isabela memberi tahunya kalau ia dan Bram sedang menuju ruangan David.


Isabela yang masih berada di rumah sakit langsung berlari menuju ke kamar David.


Mereka masuk ke kamar rawat dan melihat David masih menutup matanya.


Merasa ada yang datang,David membuka mata dan mencoba untuk duduk saat menyadari kedatangan Bram.


Arabela refleks membantunya saat David terlihat kesusahan.


"Rawatlah dia sampai sembuh dan temui mas,"ucap Bram meninggalkan mereka.


Isabela yang baru sampai melongo mendengar ucapan Bram,dalam benaknya ia akan memukuli David lagi.


"pagi om,"ucapnya sambil berusaha mengatur nafasnya saat Bram menuju ke arah nya.


"pagi,kamu masih di sini,"tanya Bram.


"iya om,aku ada jadwal malam,ini juga sudah mau pulang,"ucapnya dengan senyum di paksa.


"jaga kesehatan saat sedang bekerja,"ucap Bram mengacak rambut Isabela dan berlalu meninggalkan mereka.


Isabela menghampiri mereka.

__ADS_1


"om Bram kenapa?"tanyanya pada Arabela.


"ga tau,"mengangkat bahunya.


David memperhatikan wajah Arabela,ada garis senyum yang samar di sana.


"David, bagaimana perasaanmu?"tanya Isabela mulai memeriksa kondisi David,mencatatnya.


"sudah lebih baik,"


"aku akan ke apotik dulu ambil obatnya,"ucap Isabela meninggalkan mereka berdua.


David menggenggam tangan Arabela.


"maaf,aku benar-benar menyesal,aku tak pernah bermaksud menyakitimu.Aku sangat mencintaimu,"ucap David dengan mata berkaca-kaca.


Arabela memeluk David,ia menangis sejadi-jadinya.Tak bisa di pungkiri ia juga masih sangat mencintai nya.


Entah karena kehamilannya ia selalu merindukan David dan menginginkan pelukan darinya.


David membalas pelukan Arabela,hatinya terasa lega mendapat maaf dari wanita yang ia cintai.


"maaf,maaf,"ucap David mengusap rambut Arabela.


Arabela melepas pelukannya.


"apa masih sakit?"tanyanya melihat beberapa luka lebam di wajah David.


David menggeleng.


"maafin mas Bram ya,"


"aku pantas menerima ini,hatiku jauh lebih sakit saat kita berpisah," membawa tangan Bela ke dadanya dan mencium punggung tangannya.


Isabela datang membawa obat dan makanan untuk mereka.


"makanlah,dan minum obatnya,aku pulang dulu ya,nanti aku kesini lagi,"Isabela menyimpan makanan dan beberapa cemilan di atas meja.


"cepat sembuh ya."


"makasih,"ucap David.


Arabela menyuapi David dan memberinya obat.


"tidur lah,"ucap Arabela membantu David berbaring.


"jangan pergi,"


Arabela mengangguk dan tersenyum,ia merapikan selimut David.


David yang memang masih sangat lemah kembali tertidur.


Arabela mengusap perutnya dan menatap David yang sudah terlelap.


Ibu dan Anindita mendatangi kantor Bram.


disana sudah ada Aran dan Yoga.


Mereka berkumpul di ruangan Bram.


"bagaimana sekarang,"tanya Anindita memecah keheningan.


Sedari tadi tak ada yang berani mulai pembicaraan mengingat apa yang telah Bram lakukan kepada David.


Meraka saling pandang.


"ya mau gimana lagi,kita nikahkan mereka,"ucap Bram.


"ibu setuju."


"biar bagaimanapun Arabela sekarang sedang mengandung,anak itu perlu orang tua yang lengkap."ucap Anindita.

__ADS_1


"sebaiknya di lakukan secepatnya sebelum kandungnya membesar."sambung Aran.


"aku bisa saja mengirim Arabela keluar Negeri sampai anaknya lahir,tapi sudahlah,tak ada gunanya juga kita memisahkan mereka,itu hanya akan membuat mereka dan bayi kesusahan."ucap Bram.


"kita akan menikahkan mereka setelah David keluar dari rumah sakit?"tanya Yoga.


"sepertinya begitu,kita undang keluarga dekat saja,"jawab Bram.


"setelah kondisinya benar-benar pulih,ibu enggak mau dikira kita maksa dia nikahin Bela,pasti nanti banyak yang mempertanyakan kenapa ia babak-belur kaya gitu."


"aku hanya mematahkan beberapa tulangnya saja,"ucap Bram santai berjalan ke meja kerjanya.


Yoga hanya tertawa mendengar ucapan Bram dan ikut kembali bekerja.


"memang seberapa parah?"tanya Aran.


"kalau suamimu telat sedikit saja, mungkin David akan masuk ruang ICU."jawab Anin.


"OOO,"Arandita mengangguk angguk.


"ibu mau pulang,kalian urus saja semuanya,usahakan kalian merahasiakan ini semua dari ayah dan nenek."ucap ibu mengambil tas branded nya dan keluar dari ruangan Bram.


"mba juga mau kerumah sakit,sebentar lagi jam kerja mba,"


"aku ikut mba,"Aran menitipkan Gibran pada Yoga dan ikut kerumah sakit bersama Anin.


Aran menghampiri ruangan David.


Membawa beberapa macam buah-buahan.


"assalamualaikum,"ucapnya saat masuk ruangan.


"waalaikumussalam,"ucap Arabela dan David bersama.


"mba Aran"ucap Bela melihat siap yang datang.


"bagaimana keadaan kamu,"tanya Aran pada David sambil menyimpan buah yang dibawanya.


"sudah baikan mba,"jawab David.


"Bram keterlaluan sekali,"ucapnya saat melihat kondisi David.Wajahnya penuh lebam.


Arabela mengupas buah dan memberinya kepada David.


"kamu juga harus banyak makan buah,agar bayimu Sehat."ucap Aran yang membuat David menghentikan kunyahan David dan melihat kearah Arabela.


"kamu hamil,"tanya David


Arabela mengangguk.


David ingin memeluk Arabela,


"awwe,"David memegang bagian perutnya yang terasa saat ia mencoba untuk menegakkan duduknya.


"jangan banyak gerak dulu,"Arabela membantu David ke posisi semula.


"kamu jangan banyak tingkah,Bram sudah menyetujui hubungan kalian,jangan Sampai ia memasukkan mu keruang ICU ."ucap Arandita melihat tingkah mereka.


"iya mba,"ucap Arabela.


"mba pulang dulu,Gibran ada di kantor nanti dia ganggu pekerjaan papanya."


"hati-hati mba,"


Mereka berpelukan,


"jangan terlalu lelah,kandungan kamu masih sangat muda."mengusap perut Arabela.


"iya mba."


terimakasih sudah mampir,,,💗

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya 🙏🙏


__ADS_2