Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Kekhawatiran


__ADS_3

Sama dengan malam-malam sebelumnya, malam ini pun mereka berkumpul di ruang kerja Bram, mengerjakan beberapa pekerjaan yang dibawa dari kantor. Mendiskusikan semua masalah yang terjadi dan menyelesaikannya secara bersama-sama.


Seperti biasanya Bram selalu menunggu Mikaila tidur sebelum pergi ke ruangannya.


Bram yang melihat Mikaila sudah tertidur pulas perlahan-lahan turun dari tempat tidur mengecup kening istrinya lalu menuju ke ruangan kerjanya.


Ketiga putranya sudah lebih dulu mengerjakan beberapa pekerjaan yang bisa mereka kerjakan.


"Bagaimana, Apa kalian ada masalah?" tanya Bram,


"Ga ada Pah, pekerjaan Arya lancar-lancar saja, sampai saat ini Arya masih bisa menanganinya," jawab Arya.


" Ada sedikit masalah Pah, Perusahaan di luar negeri sedikit sulit bagi Kelvin untuk menjangkaunya,"


Mereka pun mendiskusikan masalah yang terjadi, mencari jalan keluar agar tidak merugikan perusahaan.


Mikaila terbangun saat ingin buang air kecil, setelah kembali dari kamar mandi Mikaila baru sadar jika Bram tak ada di sampingnya.


"Mas Bram ke mana ya?!" gumam Mikaila mencari ke seluruh ruangan di kamar itu, namun ia tak menemukan Bram.


"Apa di kamar Arsy ya,"


Mikaila membuka pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Arsy yang dulunya adalah kamar ketiga putranya, namun Bram juga tak ada di sana.


"Apa Mas Bram ke kamar anak-anak,"


Mikaila kemudian mendatangi kamar Arya, Kelvin dan Gavin. Bram juga tak ada disana begitu juga ketiga putranya.


"Kemana mereka semua!" batin Mikaila.


Mikaila melihat sedikit cahaya dari ruang kerja Bram,


"Apa mereka di ruang kerja mas Bram."


Mikaila masuk kembali ke kamarnya dan membuka pintu penghubung antara kamarnya dan ruang kerja Bram, Ia hanya membuka sedikit saja dan melihat kedalam ruangan itu.


Dugaannya benar, Bram dan ketiga anaknya ada di dalam dan sepertinya mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu.


"Apa yang mas Bram lakukan di ruang kerjanya, apa Mas Bram sudah kembali bekerja ," batin Mikaila.


Setelah melihat itu Mikaila kembali menutup pintu secara perlahan, ia terus mondar-mandir memikirkan apakah Bram kembali bekerja lagi, apakah Bram merahasiakan itu darinya.


Lama Mikaila menunggu Bram. Sesekali ia duduk di sofa, terkadang ia memainkan permainan di ponselnya namun Bram tak kunjung datang.

__ADS_1


Mikaila melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan jam 3 dini hari.


"Mengapa Mas Bram belum kembali juga, Apa ada masalah dengan perusahaan,"


Tak lama kemudian gagang pintu berputar menandakan jika ada yang membukanya,


Mikaila pura-pura menutup matanya, Bram masuk, ia bisa mendengar jika Bram masuk ke kamar mandi. Mikaila membuka matanya, melihat ke kamar mandi. Saat Bram keluar dari kamar mandi Mikaila kembali menutup matanya.


Perlahan Bram masuk ke dalam selimut dan memeluk Mikaila, mencium pipi istrinya dan tidur sambil memeluknya.


Mikaila terus berpura-pura tertidur, saat merasa nafas Bram sudah teratur yang menandakan jika ia sudah tidur, Mikaila berbalik dan menatap wajah suaminya. Mengusap wajah Bram kemudian turun ke dadanya. Mikaila tidak berkata apa-apa, ia memeluk erat suami yang sangat di cintai nya itu, mencium dada Bram dan ikut tidur di dekapan Bram.


Malam berikutnya Mikaila kembali pura-pura tertidur, Bram yang melihat ia tertidur melakukan hal yang sama dengan malam-malam sebelumnya.Bram pergi ke ruang kerjanya.


"Apa Mas Bram setiap hari melakukan ini," gumam Mikaila yang mengintip dari balik pintu.


Mereka kembali melakukan kegiatan yang sama dan Bram pun kembali ke kamar di jam yang sama dengan malam kemarin.


Setiap hari Mikaila terus memperhatikan suaminya. Memperhatikan apa yang dilakukan Bram, saat makan, saat berjalan, dan apapun itu.


Selamat seminggu ini Mikaila terus berpura-pura tak tau jika Bram meninggalkan nya saat malam hari.


Mikaila bisa melihat jika Bram sesekali mengelus dadanya sambil meringis menahan sakit.


Mikaila mendatangi Pak Surya di rumah sakit, meminta laporan kesehatan Bram beberapa bulan terakhir.


Pak Surya awalnya tak mau memberitahu kondisi sebenarnya namun Mikaila memaksa.


"Kondisi Bram akhir-akhir ini memang sangat menurun, sepertinya ia kurang istirahat dan kekalahan." Ucap pak Surya.


Jika malam-malam sebelumnya Mikaila pura-pura tertidur, tidak untuk malam ini.


Malam ini Mikaila sengaja menunggu Bram. Iya berdiri di balkon kamarnya, membiarkan udara dingin berhembus menusuk hingga ke tulang-tulangnya, air matanya menetes ia tak menyangka jika selama ini Bram melakukan hal itu.


Bram masuk ke kamar dan tak melihat Mikaila di atas tempat tidur,


"Kemana Mikaila," batin Bram kemudian memeriksa di kamar mandi, istrinya itu tak ada disana.


Bram melihat pintu di balkon kamar terbuka, ia menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang memberi kecupan ringan di leher istrinya.


"Apa yang kau lakukan disini, udaranya sangat dingin. Tidakkah kau merasa dingin?"


Mikaila tak menjawab,

__ADS_1


Bram bisa mendengar jika istrinya itu sedang menangis, Bram membalik badan Mikaila dan melihat wajah sembab istrinya.


"Ada apa, kenapa kau menangis?" tanya Bram menetap dalam mata istrinya.


"Apa Mas masih mencintaiku?"


"Apa maksudmu ?!, mengapa kau bertanya seperti itu?!,Mas sangat mencintaimu. Kau segalanya bagi mas, kaulah hidup mas," ucap Bram membawa Mikaila ke pelukannya,


"Mas, Sejak kapan Mas mulai bekerja ?" tanya Mikaila.


"Bram tak menjawab,"


"Mas apa kau tau betapa khawatir nya aku dengan kesehatanmu," ucap Mikaila sesegukan, air matanya terus mengalir membasahi pipinya,


"Maaf, mas hanya membantu anak-anak,"


"Tapi mas tau sendiri kondisi mas tidak baik-baik saja,"


"Mas hanya tidak ingin melihat anak-anak dalam kesulitan."


"Lalu bagaimana dengan kesehatan Mas, Mas Surya bilang kesehatan mas semakin menurun, pasti ini penyebabnya, karena mas mulai bekerja lagi,"


"Dengar sayang, Mas sudah membangun perusahaan ini untuk mereka. Mas tidak bisa melihat perusahaan hancur dan juga masa depan mereka, Setidaknya jika mas meninggal mereka sudah bisa mandiri dan kehidupan mereka sudah terjamin,"


"Apa maksud Mas, mas sudah janji tidak akan meninggalkanku," Mikaila semakin menagis mendengar ucapan Bram.


"Bukan itu maksud Mas, Mas tidak akan meninggalkanmu, mas akan berusaha melawan penyakit ini,"


"Jika mas terus bekerja seperti ini, kesehatan mas akan semakin memburuk. Aku tau mas mengkhawati kan masa depan anak-anak, tapi mas harus memikirkan aku juga.Aku sangat mencintai kamu mas," Mikaila menagis sejadi-jadinya.


"Maaf," hanya kata itu yang bisa Bram ucapkan.


Bram memeluk erat tubuh Mikaila.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberi


👉 LIKE, VOTE, KOMENNYA ❤️❤️


Mampir juga ke My Papa My Boss 💗💗🙏


Salam dariku Author m anha 💖

__ADS_1


__ADS_2