
Mereka semua pulang ke rumah, ke kediaman Abraham Wijaya. Begitu mobil mereka memasuki gerbang, semua langsung melihat kearah mobil Bram dan Arya. Semua sedari tadi berkumpul di teras rumah. Meraka sangat cemas.
Pak slamat yang merasa tak tenang setelah kepergian Mikaila, iapun memutuskan untuk mengikutinya menggunakan mobil. Namun, pak Slamat melihat motor yang di kendarai Mikaila tadi sudah terparkir di bahu jalan. Pak Slamat mencari informasi pada beberapa orang yang masih berkerumun di sana.
Mereka mengatakan jika penumpang motor tadi mengalami kecelakaan dan sepertinya suaminya sudah membawanya ke rumah sakit .
Pak Slamat kembali dan memberitahu kabar tersebut kepada semua orang yang ada di kediaman Abraham. Raina yang merasa khawatir langsung menelpon Arya. Namun, Arya tak mengangkat ponselnya.
Semua hanya bisa nunggu.
Begitu mobil mereka berhenti dan Arya keluar, Raina langsung berlari menghampirinya,
"Sayang, pelan-pelan. Kamu sedang hamil," tegur Arya.
"Maaf Kak, Bagaimana keadaan Bunda?" tanya Raina.
"Bunda baik-baik saja, hanya luka lecet," jawab Arya langsung membuka pintu mobil untuk Bundanya. Raina melihat jika bunda memang benar baik-baik saja, Ia pun menghampiri mertuanya itu. "Aku dengar Bunda kecelakaan, apanya yang Sakit Bunda?" tanya Raina berjalan mengikuti Mikaila.
"Bunda baik-baik saja kok, cuma luka lecet," Mikaila memperlihatkan jari kelingkingnya.
"Oh syukurlah, aku sangat panik mendengar jika Bunda kecelakaan."
"Kamu tahu dari mana Kalau Bunda kecelakaan?" tanya Arya.
"Aku tahunya dari Pak slamat, katanya tadi dia menemukan motor bunda di jalan."
"Motor? Motor apa maksud kamu?" tanya Arya yang tak mengerti. Gavin dan Arya berfikir jika bundanya mengalami kecelakaan mobil.
"Maaf, tadi bunda pakai motor kamu!" ucap Mikaila menunjuk ke arah garasi tempat biasanya motor Arya terparkir.
"Terus, motorku mana bunda?" tanya Arya.
"Mas, motor Arya mana?" tanya Mikaila pada Bram yang berjalan masuk sambil terus menggendong Arsy.
"Udah Mas kasih sama orang yang tadi membantu kalian!" ucap Bram tanpa menoleh ke arah mereka.
Arya hanya menghela nafas panjang. Bukan masalah harga, motor itu punya kenangan tersendiri untuknya dan Raina.
Ia hanya bisa menatap garasi tempat motor kesayangannya.
Arsy yang sedari tadi terus menangis merasa lelah dan tertidur saat perjalanan pulang. Bram menggendong Arsy masuk ke kamarnya.
Membaringkannya di kasur dan memberinya selimut, mengusap lembut wajah putrinya. "Jangan pernah tinggalkan Papa," ucap Bram mengecup kening putrinya. Ia duduk di sisi kasur. Menatap wajah yang begitu tenang, terlelap tanpa dosa.
Mikaila memeluk Bram dari belakang.
"Mas, masih marah sama aku?" tanya Mikaila manja.
Bram mengecup lengan Mikaila yang melingkar di lehernya, "Enggak kok, Mas mana bisa marah sama kamu. Kamu adalah orang yang paling berharga dalam hidup Mas."
"Mas. Maaf ya, tadi pergi tanpa izin mu, aku berfikir tempatnya tidak jauh makanya aku langsung keluar."
"Mau itu jauh atau dekat, alangkah baiknya kalau kamu ingin keluar minta izin pada ku. Aku sangat menyayangi kalian berdua itulah yang membuat aku bersikap seperti ini,"
__ADS_1
"Aku mengerti kok, Mas. Mas marah sama kami Karena Mas sayang," ucap Mikaila.
Sementara di kamar Arya.
Raina membantu Arya membuka kemejanya.
"Kakak nggak ke kantor lagi?" tanya Raina.
"Enggak, Kakak mau istirahat sebentar. Sore nanti kita pergi untuk memeriksa bayi kita ke dokter Anin. Tadi kakak dari rumah sakit, kakak lupa untuk menemui Tante Anin untuk menanyakan jadwal mu.
Arya berbaring di pangkuan Raina, sambil terus mengusap perutnya sampai ia tertidur.
Raina perlahan memindahkan kepala Arya di atas bantal, dengan sangat perlahan takut akan membangunkannya.
Raina bernafas lega setelah berhasil memindahkan kepala Arya dari pangkuannya, ia ingin ke kamar mandi.
"Aaaww," pekik Raina saat mencoba berdiri. Kakinya terasa keram dan hampir terjatuh.
Arya yang mendengar pekikan Raina langsung terbangun dan dengan cepat menghampiri Raina.
"Ada apa? Kamu sudah kontraksi? Mana yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang ya!"
Raina tertawa melihat kepanikan Arya, "Kak, bayi kita masih 4 bulan, masa iya Raina kontraksi."
"Belum ya," Arya mengusap tengkuknya dan tersenyum bodoh mengingat kebodohannya.
Bayangan akan persalinan Raina terus membayangi Arya, ia takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya saat persalinan nanti.
Semua sudah Arya pelajari.
"Kak, kakiku kerem. Aku ingin ke kamar mandi, ingin pipis."
Arya langsung mengangkat Raina, "Sayang, timbangan kamu berapa sih?"
"Aku berat ya, kak!"
"Enggak kok," jawab Arya berusaha untuk tetap tersenyum sambil menggendong Raina.
Raina tersenyum dalam hati, ia bisa melihat jika Arya terlihat kesusahan mengangkatnya. Raina sendiri menyadari kenaikan berat badannya, kandungan baru berusia 4 bulan, berat badan Raina sudah naik 5 kg. Ia tak bisa membayangkan berapa kg lagi kenaikan berat badannya hingga persalinan nanti.
Sore hari semua bersiap untuk ke klinik Anindita.
Arya bersiap dengan sangat bersemangat, hari ini USG kedua Raina, terakhir janinnya masih berbentuk Titik kecil. Sekarang usianya sudah 4 bulan, "Pasti sudah banyak perbedaan," pikir Arya.
Mikaila dan Arsy juga dengan senang ingin pergi, walau Bram sudah meminta mereka beristirahat. Namun, mereka tetap kekeh ingin ikut.
"Papa, Arsy ingin lihat Ade bayi," rengeknya.
"Tapi, kalian baru saja mengalami kecelakaan, sebaiknya kalian istirahat di rumah saja."
"Kami baik-baik saja kok, Mas. Tak ada luka lain selain jari kelingking aku dan siku Arsy.
Tadi itu aku bawa motor dengan sangat pelan," jelas Mikaila.
__ADS_1
Bram sebenarnya juga ingin melihat cucunya. Namun, Ia juga khawatir dengan kondisi Mikaila dan Arsy. Kedua wanitanya itu terus merengek, akhirnya ia pun mengalah dan mereka pun ikut bersama Arya dan Raina ke klinik Anindita.
Gavin yang melihat seluruh keluarganya pergi tak ingin ketinggalan, Ia juga ingin melihat calon keponakannya.
Mereka semua pergi dengan perasaan yang sudah tak sabar ingin melihat Calon keluarga baru mereka. Begitu sampai di Klinik, Raina langsung masuk ke ruangan Anin dan melakukan pemeriksaan. Semua fokus pada layar dan menantikan sosok bayi yang ada di rahim Raina.
Semua tersenyum, saat di layar sudah nampak sosok bayi yang begitu menggemaskan.
"Mah, Itu bayinya bukan titik lagi," seru Arsy sangat gembira.
"Iya, kan udah 4 bulan, sayang. Kita tunggu 5 bulan lagi."
"Tante bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Arsy.
"Sebentar ya, coba kita lihat," ucapan Anin. "Wah selamat ya, bayinya perempuan."
"Yeeee," Arsy berjingkrak gembira. "Arsy punya teman main."
Semua tertawa melihat Arsy yang begitu gembira, ia bahkan melompat di atas sofa yang ada di ruangan itu. Mereka harus menunggu 5 bulan lagi agar bisa bertemu langsung dan benar memeluk dan menggendong bayi mungil itu.
Arya membantu Raina untuk duduk, pemeriksaannya sudah selesai.
Anin memberikan resep obat kepada Arya, "Usahakan terus mengkonsumsi obat Ini, ini sangat baik untuknya.
"Iya Tante, Arya akan perhatian obatnya."
"Apa semua kondisinya baik-baik saja? Perkembangan janin dan posisinya?" tanya Mikaila.
"Iya, semuanya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," jawaban Anindita yang mengarti kekhawatiran Mikaila.
"Bunda, kapan kita membeli perlengkapan bayi?" tanya Arsy antusias.
"Kita belinya saat usia bayinya 7 bulan ya, sekarang bayinya masih terlalu kecil," jawab Mikaila.
"Yah, padahal Arsy ingin membeli pakaian untuk Ade bayi, pasti sangat lucu," ucap Arsy mengerucutkan bibirnya.
"Sabar ya Sayang, semua ada waktunya,"
"Iya bunda," ucap Arsy duduk di samping Raina dan terus mengusap perut Raina.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
salam dariku 🤗
Author M anha ❤️
Love you all 💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1