Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Ruangan Ku Kebanggaan ku.


__ADS_3

Mereka sedang mendiskusikan beberapa masalah pekerjaan kantor hingga mereka melupakan waktu.


Saat Arya dan Kelvin sedang sibuk berdiskusi, Gavin yang merasa sangat mengantuk dan lelah langsung membaringkan tubuhnya di sofa.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari,


"Sebaiknya kita pulang, ini sudah larut malam," ucap Arya.


"Iya kak, ini dibereskan besok aja ya. Aku sudah sangat mengantuk." ucap Kelvin melihat berkas-berkas yang berserakan hingga ke lantai.


"Hmmm, Kakak juga sangat lelah."


Kelvin melihat Gavin tidur di sofa,


"Vin ayo kita pulang," kelvin membangun Gavin sedangkan Arya mencuci wajahnya di kamar mandi, ia harus tetap terjaga agar bisa membawa mobil.


Kelvin terus membangunkan Gavin, namun Gavin yang memang susah dibangunkan tak juga bangun.


Kelvin duduk dan memejamkan matanya ia bermaksud istirahat sejenak sambil menunggu Arya keluar dari kamar mandi.


Arya keluar dari kamar mandi dan melihat kedua adiknya itu sudah tertidur pulas, kelvin tidur dengan posisi duduk.


"Kelvin, Gavin ayo kita pulang," Arya membangunkan mereka, keduanya hanya bergumam dan kembali tidur.


Arya yang juga sudah merasa sangat lelah memutuskan malam ini mereka menginap saja di kantor, Arya memilih masuk ke kamar yang ada di ruangan itu.


Gavin terbangun saat merasa sesak, ternyata Kelvin sedang menindihnya, Gavin yang sangat mengantuk akhirnya mengambil bantalan sofa dan tidur di lantai. Ia benar-benar sangat lelah sepulang sekolah langsung menghabiskan waktu di kantor dengan pekerjaan yang menumpuk.


****


Arya terbangun saat mendapat telepon dari Raina.


"Gavin dan Kelvin nggak sekolah ya?! mereka kok belum datang?"


"Sepertinya mereka belum bangun, semalam kami menginap di kantor," jawab Arya menguap dan melihat jam yang ada di dinding.


"Oh ya udah ya kak, aku hanya mau tanya itu mereka tak biasanya ga masuk sekolah. Raina matiin ya, Gurunya udah datang,"


"Iya, nanti langsung ke kantor ya,!"


"Iya kak," jawab Raina.


Arya mencoba bangun sambil terus memijat tengkuknya yang terasa pegal,


Saat membuka pintu Arya melihat Papa dan bundanya ada di kantor, Arya melihat sekelilingnya ruangan Papanya sudah sangat berantakan. Dengan cepat ia membangunkan Kelvin dan Gavin.


Sama halnya dengan Arya, Kelvin dan Gavin juga terkejut melihat Papa dan Bundanya ada di kantor dan menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.


"Bunda ngapain di sini, Papa juga ya," ucap Gavin masih mengucap matanya. Sementara Arya dan Kelvin dengan sigap membersihkan ruangan itu, memungut semua sampah dan merapikan berkas-berkas yang berserakan.


"Plak " kelvin memukul lengan Gavin yang masih belum tersadar sepenuhnya.


"cepat beresin, Ada papa sama Bunda," bisik kelvin.


Bukannya membantu membereskan Gavin malah mengambil bantal sofa yang tadi dipakainya dan naik ke sofa melanjutkan tidurnya.


Bram berjalan masuk ke meja kerjanya, Mikaila langsung membersihkan kursi dan meja yang dipenuhi dengan makanan, kelvin ikut membantu Bundanya membersihkan kekacauan yang mereka buat.

__ADS_1


"Mas, Mas nggak apa-apa kan ?" tanya Mikaila khawatir melihat Bram sedari tadi hanya diam saja.


Bram hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mikaila dan menatap kedua putranya yang sudah berdiri di hadapannya.


Semua terdiam dengan pikiran masing-masing,


"Mas, kita pulang ya," ucap Mikaila memecah kesunyian,


Bram tak menjawab, ia langsung menyalakan laptop yang ada di mejanya,


"Mas, mau ngapain?" tanya Mikaila mematikan kembali laptop tersebut,


Bram lagi-lagi tak menjawab, ia hanya melihat Mikaila dan langsung nyalakan kembali laptopnya,


"Mas udah janji ya," ucap Mikaila tak mau menyerah dan terus mematikan laptop tersebut.


Saat meminta izin untuk bekerja lembur, Arya sudah memberitahu Bundanya jika perusahaan Papa mereka Sadang tak stabil,,dan itu alasan mereka harus lebih banyak di kantor.


"Mas hanya ingin melihat hasil kerja mereka," ucap Bram.


"Ya udah, Mas lihatkan saja, ngapain nyalain laptop?"


"Hasil apa, hasil ngeberantakin ruangan seperti ini. Mas ingin melihat hasil pekerjaan mereka bukan ulah mereka," ucap Bram penuh penekanan dan berusaha menyalahkan laptopnya kembali.


Namun Mikaila terus menghalanginya dengan berdiri di depannya,


"Mas, ayo kita pulang," ajak Mikaila,


Bram tak menyerah, ia menarik Mikaila ke pangkuannya, memegang erat kedua tangannya dan menyalakan laptop.


"Mas cuman lihat sebentar,"


"Aku marah beneran ya Mas kalau mas sampai nyalain laptop itu," ancam Mikaila menatap tajam pada Bram.


Bram hanya menghela nafas dan kembali mematikannya.


"Baiklah," ucap Bram melepas Mikaila.


"Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di sini ?" tanya Bram menatap kedua putranya yang berdiri di depannya dan 1 putranya lagi yang masih terlelap di sofa.


"Enggak ada apa-apa Pah ," jawab Kelvin


"Kalau nggak ada apa-apa mengapa kalian harus menginap di kantor dan apa-apaan semua ini," ucap Bram sedikit meninggikan suaranya.


Kelvin diam dan menunduk,


Mikaila mengusap dada suaminya,


"Tenang dong mas," ucap Mikaila yang melihat amara dimata suaminya.


"Mas Yoga, sebenarnya apa yang terjadi di perusahaan ini?" tanya Bram beralih kepada Yoga.


Yoga mengambil laporan tahunan yang ada di sudut meja dan akan memberikannya kepada Bram, namun Mikaila langsung mengambilnya dan menyembunyikan berkas tersebut di belakangnya.


"Sini berkasnya,"


"Enggak," ucap Mikaila menggeleng dan memasukkan berkas tersebut ke dalam tasnya,

__ADS_1


"Kayla, berikan berkasnya,"


"Mas, Aku mau ke sekolah Arsy. Kalau masih mau tinggal di sini aku pergi aja sendiri ke sekolah," ucap Mikaila berjalan keluar.


"Kayla tunggu," panggil Bram,


Mikaila mengacuhkan panggilan Bram dan terus berjalan.


"Bersihkan ruangan ini, Papa akan ke sini lagi, Papa ingin mendengar penjelasan kalian ," ucap Bram keluar menyusul istrinya.


Arya dan Kelvin bernafas lega...


"Sebaiknya kalian bereskan ruangan ini sebelum Papa kalian datang lagi dan memarahi kalian ," ucap Yoga meninggalkan ruangan itu, begitu juga dengan David dan Dimas.


Saat di lobby Mikaila bertemu dengan Raina dan Natali.


"Kalian ngapain disini?" tanya Mikaila,


"Enggak apa-apa Bunda, kami hanya ingin ketemu kak Arya aja," ucap Raina.


"Arya lagi sibuk, kalian ikut bunda aja ya, kita shopping hari ini," ajak Mikaila.


Mendengar kata shopping Raina dan Natali yang tadinya mendapat telepon dari Arya agar bergegas datang ke kantor langsung mengangguk mengiyakan ajakan Mikaila.


Bram melajukan mobilnya ke sekolahan Arsy, menjemput Putri kecilnya itu kemudian pergi ke mall terbesar di kota itu.


Begitu sampai Arsy, Raina dan Natali langsung berjalan lebih dulu,


"Mas, Mas nggak apa-apa kan ?" tanya Mikaila mengelus dada suaminya.


"Mas gak apa-apa , Mas hanya sedikit kecewa melihat ulah anak-anak," jawab Bram.


"Sabar ya mas, wajarlah mereka masih anak-anak. Mereka pasti bisa bekerja dengan baik seiring bertambahnya usia mereka,"


Bram menemani mereka berbelanja namun pikirannya masih berada di kantor,


Iya sangat marah melihat Ruangan kebanggaannya menjadi berantakan namun perasaan sebenarnya ia merasa sangat kasihan melihat ketiga putranya sepertinya sangat kelelahan.


Ia merasa bersalah telah melimpahkan tanggung jawab yang begitu besar kepada mereka.


💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖💖


Jangan bosan ya beri


👉 LIKE


👉 VOTE


👉 Komennya.


Di setiap bab ya kak🙏


Mampir juga ke My Papa My Boss 🙏


Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2