
Dua bulan sudah berlalu.
Yoga berdiri di dermaga,memandang lautan luas di hadapannya.
Hembusan angin sepoi-sepoi,ombak yang bergulung beraturan memecah di bebatuan karang,sangat jauh berbeda pada malam Bram menghilang.
"dimana kamu Bram,"batin Yoga.
Tim pencari sudah banyak yang menyerah,bahkan tim SAR sudah menghentikan pencariannya.
Hanya orang Bram yang tetap setia menyisir kedalaman lautan.
Alex datang dengan membawa kotak.
"apa ini,"tanya Yoga saat Alex menyodorkan sebuah kotak.
"lihatlah,"Ucap Alex.
Yoga membuka kotak tersebut dan melihat sebuah jas yang sudah lusuh,bahkan sebelah lengannya sudah tak ada.
Yoga tau betul kalau jas itu adalah milik Bram.
Tangan Yoga bergetar saat mengangkat jas itu,melihat jas yang sudah tercabik-cabik.
Yoga melihat ke arah Alex.
"mereka menemukan nya tersangkut di karang, sangat jauh dari sini."jawab Alex memandang ke tengah laut,
Yoga juga kembali memandang lautan,mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.Menerkah-nerkah apa yang telah terjadi pada bos mereka.
"aku harap Bram masih hidup,"ucap Alex.
"semoga saja,"jawab Yoga.
Di kediaman Abraham Wijaya.
Mikaila terus berharap suatu saat Bram pasti kembali padanya.
Ia berdiri di balkon kamarnya melihat si kembar bermain bersama pas Wahyu,,,tawa mereka sedikit menghibur hatinya.
"mas,kamu sudah janji tak akan meninggalkan ku dan anak-anak.
Dimana kamu sekarang mas, cepat lah kembali kami sangat merindukan mu."batin Mikaila menatap Arya yang terus memeluk foto Bram.
keluarga Bram sudah kembali ke rumah mereka masing-masing,hanya ayah dan ibu yang menemani Mikaila.
Jabbar juga sudah kembali ke kampung,walau berat meninggalkan adiknya, namun salah satu dari mereka harus pulang.
Mikaila berusaha tegar saat di hadapan ayah dan ibunya,namun mereka tau anaknya itu sedang tidak baik-baik saja.
Mikaila selalu menangis saat ia sedang sendiri.
Keluarga Wijaya semakin sedih saat
Keadaannya nenek Bram semakin memburuk tiap hari,,ia terus menanyakan keberadaan Bram.
Nenek bram memanggil Mikaila,ia memberikan Mikaila sebuah gelang yang selama ini di pakainya,
__ADS_1
"ambil ini nak,,,gelang ini Bram beli buat nenek dengan gaji pertamanya bekerja di kantor,Ini sangat berharga buat nenek dan Bram.
Tolong jaga baik-baik ya, nenek yakin Bram pasti baik-baik saja dan akan segara berkumpul bersama kita lagi."ucap nenek Bram mengelus punggung tangan Mikaila yang menggenggam tangan nya.
Mikaila hanya mengangguk,ia sudah tak sanggup berkata-kata lagi.
"kamu harus kuat demi anak-anak kalian,"sambung nenek.
Mikaila kembali mengangguk,kini ia sudah terisak pelan.
Ibu Bram membawa Mikaila ke pelukannya.mengecup kening menantunya itu dan mencoba menguatkannya.
Ibu Mikaila hanya bisa mengelus-elus punggung putrinya yang sudah bergetar menahan isakannya.
Ayah Bram duduk di samping ibunya,terus menuntunnya membacakan kalimat syahadat.
Semua berkumpul dan hanya bisa menunduk menahan tangisnya....
Ayah Bram begitu terpukul,anak laki-lakinya menghilang entah kemana dan entah bagaimana keadaannya sekarang, danbsekarang ibunya juga meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Anindita terus menguatkan ayahnya,ia khawatir penyakit jantungnya dapat kambuh lagi,ia sudah kehilangan adik dan nenek ia tak akan kuat bila kehilangan ayahnya juga.
Pak slamat sudah sadar dan mulai membaik,ia merasa bersalah karena tak bisa menjaga Arya dengan baik saat itu.
Raihan yang mendengar kabar menghilangnya Bram mencoba kembali mendekati Mikaila,ia menjadikan Syakila dan Arya sebagai alasan untuk bertemu Mikaila....
Jujur di hatinya masih tersimpan rapat nama Mikaila dan berharap bisa memilikinya.
Raihan dan putrinya berkunjung ke rumah Mikaila,ia membawa beberapa buah-buahan dan cake yang cantik.
"apa kami mengganggu,"tanya Raihan yang sudah duduk di ruang tamu.
"bunda aku bawa ini untuk Arya,"ucap Syakila menunjuk kan kotak mobil-mobilan yang baru di belinya.
"bentar ya,bunda bawa Arya kesini,"ucap Mikaila mengelus kepala Syakila yang duduk di dekat nya.
Mikaila datang dengan Arya di gendongannya.
"ini untuk kamu,"ucap Syakila memberikan kotak tersebut kepada Arya.
Arya hanya melihat dan tak menyentuhnya,ia bersandar di dada Bundanya.
Mikaila mengambil kotak tersebut dan menyimpannya di samping Arya,
"makasih ya sayang,sudah memberikan Arya mobil-mobilan.
"iya bunda,"jawab Syakila tersenyum manis.
Mereka berbincang-bincang, Syakila bercerita tentang kegiatannya di sekolah,ia selama ini selalu ingin bercerita seperti sekarang, namun tak ada yang bisa ia ajak bercerita.
Mikaila sengaja menanggapi cerita Syakila dan terus bertanya agar Syakila mau lebih banyak bercerita tentang sekolah mereka,agar putranya mau ikut berbicara.
Namun Arya tetap diam.
Raihan diam-diam memperhatikan Mikaila dan putrinya,ia bisa melihat kebahagiaan di wajah Syakila..
"andai ia bisa menjadi milikku."batin Raihan.
__ADS_1
Sejak saat itu Raihan sering berkunjung kerumah Mikaila, Syakila selalu datang menghibur Arya.
Berkat Syakila Arya sudah sedikit demi sedikit keluar dari rasa traumanya.
Semua menyambut Raihan dan Syakila dengan ramah, Mikaila senang karena semenjak Syakila berkunjung Arya semakin membaik.
Raihan merasa senang,ia berpikir usahanya untuk mendekati Mikaila berhasil..
Ibu Bram hampir setiap hari berkunjung ke rumah Bram menengok cucu dan menyapa besannya,ia bisa melihat jika Raihan menyukai menantunya itu.
Ada rasa tak nyaman saat melihat Raihan menatap menantunya penuh maksud.
Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa,ia tak tau apakah anaknya masih hidup atau sudah pergi mendahuluinya.
Hari ini ulang tahun Arya,semua berkumpul merayakannya secara sederhana,hanya ada keluarga besarnya saja dan satu buah kue ulangtahun yang lengkap dengan lilin.
Arya duduk di pangkuan bundanya ia terlihat tersenyum melihat kue ulangtahunnya.
Untuk pertama kalinya anak itu meneteskan air mata setelah malam kelam itu.
Mikaila mengusap air mata anaknya penuh kasih,mencium seluruh wajah nya,hatinya terasa sangat perih namun ia tetap tersenyum.
Mereka berdua tersenyum,
Entah mereka tersenyum bahagia atau mengingat seseorang yang tak bersama mereka sekarang.
Malam ini semua menginap di rumah Bram,mereka ingin menghibur Arya dan khususnya Mikaila.
Walau ia tersenyum namun sangat jelas terlihat ia sangat rapuh saat ini.
Malam hari hujan turun sangat lebat, sesekali suara gemuruh petir mengagetkan mereka.
Termasuk Arya yang tengah tertidur bersama kedua adiknya.
Semua keluarga berkumpul di ruang tamu,,
Arya keluar kamar,Kelvin yang juga terbangun karena kaget mengikuti kakaknya secara diam-diam.
Arya turun dari tangga dan berjalan ke arah pintu,tak satupun yang sadar jika Arya berjalan di belakang mereka menuju pintu depan,ia membuka pintu dan menatap lurus ke pintu gerbang.
"Dwarrrr"suara petir mengagetkan nya, ingatan saat melihat papanya tertembak tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"papa aaaaaa,"teriak Arya histeris.
Membuat semua yang ada di ruang tamu terkejut.
Kelvin yang sedari tadi mengikuti nya ikut terkejut mendengar teriakan kakak nya,ia langsung duduk di tangga saat melihat semua berlari ke arah Arya yang sudah menagis menjerit-jerit memanggil papanya.
Mikaila langsung membawa Arya ke pelukannya.
"tenang sayang,ini bunda.Jangan takut ya,ada bunda oke."ucap Mikaila memeluk erat tubuh anaknya yang terasa dingin.
"Papa,papa,papa,,papa,"Arya terus menangis memanggil papanya.
πππππ
Terimakasih sudah terus membaca πππ₯Ίπ₯Ί
__ADS_1
Kalian semua adalah penyemangat ku dalam berkarya ππππ
Jangan bosan-bosan tekan like vote dan berikan komentar membangun.π€π