
Pagi hari Arya bersiap ke kantor. Pagi ini
untuk yang pertama kalinya setelah Raina dinyatakan hamil, Arya akan mulai aktif ke kantornya.
Melihat Raina yang sudah keluar dari masa ngidamnya, membuat Arya menjadi lebih tenang untuk meninggalkan istrinya.
Raina Sudah beberapa hari ini tak pernah lagi mual dan muntah, ia juga sudah terlihat begitu segar.
"Kamu yakin nggak apa-apa kakak tinggal ke kantor?" tanya Arya saat Raina membantunya untuk menggunakan dasi.
"Iya, Kak. Raina nggak apa-apa kok, lagian di rumah kan ada Bunda," ucap Raina.
Arya mengusap perut Raina yang semakin membuncit.
"Kakak akan pulang cepat dan mengantar kalian ke klinik tante Anin. Hari ini jadwal USG kan?" tanya Arya.
"Iya Kak, semalam Tante Anin sudah menelepon Raina agar kita tidak lupa datang memeriksa bayinya."
"Semoga saja bayi kita baik-baik saja dan tumbuh dengan baik. Kakak sudah tidak sabar ingin menggendongnya," ucap Arya menunduk dan mengecup perut Raina.
Lagi-lagi bayi itu seperti menyapa mereka, saat Arya selesai pengecup perut Raina, Arya kembali mengusapnya. Bayi itu kembali menendang.
Arya tertegun merasakan tendangan bayinya. Arya melihat Raina, Sejak kapan Bayi kita sudah mulai menendang?" tanya Arya berbinar.
"Sudah dari tiga hari yang lalu, Kak. Tapi masih sesekali."
Arya Kembali mengecup perut kemudian kening Raina. Arya sangat senang dan sudah tak sabar menantikan kelahiran anaknya.
"Ayo kita turun ke bawah untuk sarapan, bayi kita pasti lapar," ucap Arya menggandeng Raina berjalan keluar.
Seperti biasa mereka sarapan dipenuhi dengan candaan. Setelah itu mereka berangkat ke kantor. Bram juga ada jadwal meeting di kantor hari ini.
"Kamu yakin gak mau ikut sama Papa?" tanya Bram pada Arsy.
"Arsy biar aku aja Mas, yang ngantar. Kebetulan hari ini ada rapat di sekolah, aku sekalian aja nungguin rapatnya," ucap Mikaila.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Mas mau ke kantor dulu," ucap Bram.
Setelah mereka pergi, Mikaila juga bersiap-siap akan mengantar Arsy kesekolah, ia meminta Pak Wahyu untuk mengantarnya.
"Bunda kita naik motor aja ya," pintar Arsy.
"Naik motor?" tanya Mikaila ragu.
"Apa Bunda bisa membawa motor?" tanya Arsy.
"Dulu bunda bisa bawa motor, tapi sudah lama. Kalau pakai motor ini sepertinya Bunda nggak bisa," ucap Mikaila melihat motor Kelvin.
"Kita pakai motor kak Arya saja!" tunjuk Arsy pada motor yang terparkir di dalam garasi.
__ADS_1
"Oh iya ya, kalau motor kak Arya Bunda bisa," Mikaila yang baru mengingat jika ada satu motor lagi di dalam garasi mereka.
Mikaila mengeluarkan motor Arya dan memanaskannya.
"Saya antar aja ya Bu," tawar Pak Wahyu yang merasa khawatir melihat Mikaila mengeluarkan motor. Selama tinggal disana, ia belum pernah melihatnya membawa motor.
"Aku bisa kok Pak, bawa motor ini," ucap Mikaila.
"Sebaiknya izin sama Pak Bram dulu, Bu." ucap pak Wahyu masih berdiri di depan motor Mikaila.
"Pak, sekolahan Arsy nggak begitu jauh dari sini, jadi nggak usah minta izin. Mas Bram tahu kok kalau aku bisa bawa motor," kekeh Mikaila.
Arsy pun langsung naik ke bonceng bundanya, "Kami akan pelan-pelan, Pak," sahut Arsy.
Mikaila dengan perlahan menjalan motornya. Pak Wahyu hanya bisa melihat motor yang di tumpangi Mikaila semakin menjauh.
"Bu, emang Mikaila bisa bawa motor?" tanya Pak Slamat pada istrinya yang juga berdiri dengan cemas melihat Mikaila keluar dengan menggunakan motor.
"Aku juga nggak tahu Pak, semoga mereka baik-baik saja. Aku kok merasa nggak enak ya, melihat mereka pergi naik motor. Aku telepon pak Bram saja," ucap Bi Yanti kemudian masuk dan menelepon Bram.
"Apa Mikaila pergi mengantar Arsy menggunakan motor? Kenapa diizinkan Bi? Itu kan berbahaya!" ucap Bram khawatir.
"Kami sudah melarangnya, tapi ia tetap ingin mengantar Arsy menggunakan motor."
"Apa mereka baru saja pergi?" tanya Bram.
"Ya sudah, aku akan menyusul mereka," ucap Bram mematikan panggilannya dan meninggalkan rapat yang baru saja dimulai.
"Arya, kamu gantikan Papa," ucap Bram langsung keluar dari ruangan itu dengan sedikit berlari menuju ke mobil.
Dengan cepat ia melajukan mobilnya, berharap mereka baik-baik saja. Bram begitu cemas mengetahui jika Mikaila menggunakan motor mengantar Arsy ke sekolah, istrinya itu sudah lama tak menggunakan motor. Membuat Bram menjadi sangat khawatir.
Jarak dari kantor ke sekolah lebih dekat dari jarak antara sekolah dan kediamannya. Saat melewati gerbang sekolah, Bram melambatkan laju mobilnya.
"Sepertinya mereka belum sampai ke sekolah," batin Rafiz kemudian kembali melajukan mobilnya.
Bram kembali memperlambat laju mobilnya saat melihat ada kerumunan tak jauh dari sekolahan Arsy. Bram mencoba melihat apa yang terjadi di sana, dan matanya tanpa sengaja melihat tas sekolah Arsy dipegang salah satu dari warga.
Bram dengan terburu-buru mengarahkan mobilnya ke kerumunan yang tak jauh dari sana.
Setelah Bram mendekat, benar saja. Motor yang tergeletak di sana adalah motor yang di pakai oleh Arsy dan Mikaila.
Arsy dan Mikaila duduk tak jauh dari motor itu. Dengan cepat Bram berlari menghampiri mereka, Arsy yang melihat Papanya datang langsung berhamburan dan memeluknya.
Arsy masih kaget karena kecelakaan tadi, Ia langsung menangis saat diperlukan Papanya. Bram hanya mengusap lembut rambut putrinya itu, mengusap punggung Arsy dengan sayang.
"Mana yang sakit" ucap Bram meriksa tubuh dan melihat darah disikut anaknya itu.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Bram pada Mikaila yang terlihat sangat pucat.
__ADS_1
Mikaila hanya mengangguk, tangannya masih bergetar karena kaget.
Bram membawa mereka ke mobil.
"Pak, ini motornya mau dibawa kemana?" tanya salah satu orang yang tadi membantu.
"Motor itu buat bapak saja," ucap Bram kemudian mulai melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Orang itu hanya melongo mendengar apa yang Bram ucapkan.
Tadinya, Mikaila menghindari seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang di jalan, membuat Ia tak bisa menguasai motornya dan jatuh. Untung saja Mikaila mengendarai nya dengan sangat pelan mengingat ia sedang membonceng putrinya dan sudah sangat lama ia tak membawa motor lagi.
Bram yang khawatir langsung membawa Mikaila ke rumah sakit, saat dalam perjalanan ia menelpon Anin dan menggambarkan Jika ia sedang menuju ke rumah sakit membawa Arsy dan Mikaila yang baru saja kecelakaan motor.
Anin yang mendengar kata kecelakaan langsung panik, Anindita meminta perawat untuk menyiapkan ruang operasi dan segala macam perlengkapannya..
Anin dengan cemas menunggu di depan rumah sakit. Saat melihat mobil Bram datang, Anin langsung berlari menghampirinya.
"Bagaimana keadaan mereka," tanyanya Anin saat Bram turun dari mobil.
Anin melihat Mikaila yang juga turun dari mobil dan terlihat jika ia baik-baik, kemudian Anin melihat Arsy, yang ada di gendongan Bram. "Kalian baik-baik saja? Kamu bilang mereka kecelakaan?"
"Iya, mbak cepat periksa mereka!" pinta Bram berjalan masuk lebih dulu. Anin hanya mengikutinya dari belakang sambil memegang tangan Mikaila.
Anin membawa mereka ke ruangannya, dan mengobati luka yang ada di jari kelingking Mikaila, serta luka lecet di siku Arsy.
Mikaila dan Arsy hanya diam saat Bram terus mengoceh, menasehati Mikaila jika lain kali ya tak boleh lagi menggunakan motor. Bram juga tak memperbolehkan lagi Mikaila membawa kendaraan sendiri.
Mikaila yang merasa takut pada Bram hanya mengangguk, tertunduk lesu seraya memainkan jemarinya di atas pangkuannya. Mengusap jari kelingkingnya yang telah diperban.
Arsy terus berusaha menahan isakannya, bibirnya bergetar saat Anin mengobati luka di sikunya. "Sakti ya?" tanya Anin.
Arsy hanya bisa menggeleng menjawab pertanyaan tantenya. Arsy menahan tangisnya. dia juga takut melihat papanya yang sedari tadi memarahi mereka. Selama ini ia tak pernah melihat papanya semarah ini.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Maaf ya up-nya agak telat. βοΈπ
Jangan lupa like dan komennya π
Salam darikuπ€
Author m anhaβ€οΈ
love you all πππ
ππππππππππππππ
__ADS_1