
"Halo Kak," jawab Gavin menjawab panggilannya.
"Kenapa kamu Nggak ngangkat telepon Kakak?" tanya Kelvin kesal.
Ternyata yang menelpon Gavin dengan nomor ponsel Arya adalah Kelvin. Kelvin sengaja memakai nomor Arya untuk memanggil Gavin, ia tahu jika ia memanggil menggunakan nomor ponsel Arya Gavin pasti akan mengangkat panggilannya. Ternyata dugaannya benar, Gavin benar mengangkat panggilan dari Arya dan mengabaikan panggilannya.
"Jika kau berani mematikannya panggilan kakak, kau tau sendiri akibatnya," ancam Kelvin yang tahu jika adiknya itu pasti akan mematikan jika tahu yang meneleponnya bukanlah Arya, tapi dirinya.
Dugaan Kelvin ternyata benar, baru saja Gavin akan menekan tombol untuk mematikan panggilan dari Kelvin. Namun, Gavin langsung mengurungkan niatnya saat mendengar ancaman Kelvin.
"Iya kak. Iya. Aku tidak akan mematikannya, ada apa?" tanya Gavin pura-pura tak tahu.
"Apa selama ini kamu yang menyembunyikan Diandra?" tanya Kelvin tegas.
"Maksud kakak apa sih? Ngapain juga aku nyembunyiin Diandra. Emangnya kita main petak umpet apa!"
"Gavin Aku serius," tegas Kelvin mendengar candaan Gavin.
Kelvin baru saja mendapat kabar dari sahabatnya jika Diandra sedang bersama dengan Gavin saudara kembarnya. Sahabatnya itu juga mengirim beberapa foto dimana Gavin sedang menghabiskan waktu dengan Diandra dan Clara. Begitu mendapat telepon dari sahabatnya itu Kelvin langsung menghubungi Gavin. Namun, Gavin tak mengangkat panggilannya. Membuat Kelvin sangat marah, berkali-kali ia memanggil nomor telepon Gavin, Gavin justru mematikan ponselnya.
Kelvin yang melihat pesannya sudah terkirim langsung meminjam ponsel Arya untuk memanggil adiknya itu.
"Aku juga serius, Kak. Aku tak mengerti apa yang kakak maksud?" Gavin tetap berpura-pura tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Sekarang kamu jawab pertanyaan dengan jujur, apa selama ini kau sudah tahu jika Diandra tinggal di gedung itu juga?" Tanya Kelvin yang belum tahu jika gedung yang ditempati Diandra adalah milik Gavin. Teman Kelvin hanya memberikan informasi jika Diandra tinggal di gedung itu juga.
"Iya, selama ini aku sering bertemu dengan Diandra, memangnya ada apa sih, Kak? memangnya kakak selama ini mencarinya?"
Kelvin terdiam, berpikir apakah benar jika Gavin benar-benar tak tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka, apa Diandra tidak pernah membicarakan masalah mereka dengan Gavin.
"Kamu sekarang di mana?"
"Aku di Apartemen Diandra, tadi kami habis bermain, jadi malam ini aku menginap di apartemennya," jawab Gavin.
"Kakak akan kesana, pastikan Diandra tetap bersamamu."
"Emangnya ada apa Kak? ada urusan apa Kakak dengan Diandra?" tanya Kelvin yang ingin mengetahui sendiri kejadian sebenarnya dari kakaknya itu.
"Kau tidak usah tahu, tetap pastikan Diandra ada bersamamu. Aku akan kesana sekarang juga," ucap Kelvin mematikan teleponnya.
Gavin melihat ponselnya sudah mati. Entah mengapa hatinya juga merasa sakit mengetahui jika Kelvin pernah menyentuh Diandra, gadis yang sangat dicintainya.
Gavin membuang ponselnya ke kasur dan segera tidur.
Pagi hari Gavin dibangunkan oleh suara ketukan pintu.
Dengan malas Gavin membuka pintu
dan melihat Clara yang ada di luar sana.
"Clara. Ada apa? Kakak masih sangat mengantuk!" Gavin yang semalam tak bisa tidur setelah berbicara dengan Kelvin, Ia terus memikirkan apa yang harus dilakukan, agar masalah mereka cepat selesai, dan Diandra mau menerima dirinya.
"Kakak, kak Diandra sudah memasak sarapan untuk kita, kakak mau sarapan bersama?" tanya Clara.
Gavin yang melihat Diandra terlihat begitu cantik dengan memakai celemek menggantung di lehernya memutuskan untuk ikut makan bersama.
Saat makan Diandra mengutarakan maksudnya jika ia ingin kembali ke Apartemen ibunya dan ingin memulai mencari pekerjaan.
"Tapi untuk apa, kau bisa tinggal di sini."
"Nggak, Kak. Aku nggak mau terus bergantung dengan kakak, aku nggak mau ngerepotin kakak, aku hanya ingin mencoba hidup mandiri," jelas Diandra.
__ADS_1
"Diandra, aku tak pernah sekalipun merasa direpotkan oleh mu. Aku sangat senang bisa membantumu dan Clara, aku mohon terimalah bantuanku, aku benar tulus membantumu."
Diandra hanya terdiam, keputusannya sudah bulat. Ia tak ingin lagi meminta bantuan pada Gavin.
"Maaf Kak, tapi aku hanya ingin belajar mandiri, aku nggak bisa terus menerima bantuan Kakak lagi," ucap Diandra menghentikan makannya dan beranjak dari sana.
Gavin mengikuti Diandra,
"Diandra. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, kita bicara di sana," tunjuk Gavin pada balkon.
"Apa yang ingin Kakak bicarakan?" tanya Diandra.
"Kita bicara disana, tak baik didengar oleh Clara," ucap Gavin melihat Clara yang sedang melihat mereka.
Diandra mengikuti Gavin yang berjalan menuju ke balkon.
"Kak Kelvin sudah tahu tentang keberadaanmu dan sekarang dia sedang menuju kesini," ucap Gavin menetap Diandra.
Diandra langsung melihat ke arah Gavin dengan kening berkerut.
"Apalagi yang harus dibahas. Semuanya sudah jelas, aku juga tidak ingin meminta apa-apa dari kak Kelvin. Aku tak mau bertemu dengannya lagi," lirih Diandra pelan.
"Tapi menurut kakak, sebaiknya kamu bicarakan masalah ini dengan Kelvin, biar masalahnya cepat selesai."
"Apa yang harus diselesaikan?! Kak, apa dengan bicara Semua akan kembali seperti semula?!" Diandra dengan suara sedikit meninggi. Ia sudah sangat sabar menahan semua rasa sakit di hatinya.
"Diandra aku mengerti, takkan ada yang bisa menyelesaikan masalah ini, tapi setidaknya bicaralah dulu pada kak Kelvin ."
"Apa, Kak. Apa lagi yang mau dibicarakan, aku tak ingin bertemu dengannya lagi, tolong mengerti aku, Kak," mohon Diandra pada Gavin dengan berderai air mata.
Diandra yang sudah meneteskan air mata. Mendengar nama Kelvin saja sudah membuatnya sangat sakit hati, ia benar-benar tak ingin bertemu dengan pria yang sudah melecehkan nya itu.
Mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing
"Diandra, bagaimana dengan tawaran ku? Apakah kamu sudah memikirkannya?" tanya Gavin setelah beberapa saat terdiam.
"Tawaran apa maksud kakak?" Diandra berpura-pura tak mengerti apa yang dimaksud oleh Gavin.
"Tawaran untuk menjadi pendamping hidupku?" tanya Gavin singkat menetap Diandra dalam.
"Kenapa harus aku, Kak. Aku bukan wanita yang sempurna buat kakak, aku ini hanya wanita kotor. Masih banyak wanita yang lebih baik dariku yang bisa menjadi pendamping kakak," ucap Diandra memalingkan wajah sambil mengusap air matanya.
"Diandra aku sama sekali tak pernah menganggapmu dan melihatmu sebagai wanita yang seperti kau bicarakan itu. Aku hanya melihatmu sebagai seorang wanita yang sangat aku cintai dan hatiku memilihmu. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan Clara," ucap Gavin menggenggam tangan Diandra.
Diandra menatap mata Gavin, ia bisa melihat begitu besar cinta Gavin kepadanya. Bisa menerima keadaan dirinya yang sudah tak suci lagi, ia merasa jika dirinya tak pantas.
Diandra melepas genggaman tangan Gavin.
"Setelah sarapan, Aku akan kembali ke apartemen ibuku," ucapnya.
"Diandra, tak bisakah kau memberikanku kesempatan?"
Diandra tak menjawab dan hanya membuang wajahnya, tak ingin melihat mata Gavin yang semakin menggoyahkan pendiriannya.
Gavin bersandar di dinding balkon mengusap wajahnya kasar, memasukkan kedua tangannya di saku jaket hoodie yang dipakai kemudian melihat ke langit. Gavin tak tau harus berkata apalagi, ia hanya menghembuskan nafasnya kasar menandakan jika ia sedang sangat frustasi.
Awalnya Ia berpikir jika ia menyatakan perasaan dan keinginan kepada Diandra, Diandra akan menerimanya. Ternyata dugaannya salah, Diandra menolaknya.
"Diandra apa Kau menolakku hanya karena … itu bukan masalah bagiku," lirih Gavin menatap Diandra tanpa mengubah posisinya.
"Beri aku waktu dan biarkan aku sendiri untuk saat ini. Aku mohon, aku benar-benar membutuhkan waktu untuk memikirkannya. Satu hal yang pasti, aku tak ingin bertemu dengan Kak Kelvin lagi."
__ADS_1
"Tapi kak Kelvin akan kesini!"
"Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. kak, aku mohon," pinta Diandra.
"Kak Kelvin," teriak Clara saat membuka pintu ternyata Kelvin sudah ada di sana. Semalam setelah berbicara dengan Gavin, Kelvin langsung berangkat ke luar negeri dengan pesawat jet pribadi milik keluarganya, tak lupa Ia juga mengajak Natali bersamanya.
Diandra yang mendengar Clara memanggil nama Kelvin langsung panik dan menatap Gavin memohon.
"Aku akan menemui kak Kelvin di luar, jika kau memang belum siap untuk menemuinya masuklah ke kamarmu. Aku tak bisa menghentikan Kakak ku untuk menemuimu, tapi aku akan mengusahakan mengulur waktu agar kau bisa mempersiapkan dirimu," ucap Gavin keluar menemui Kelvin. Diandra langsung berlari ke kamarnya, dengan tangan bergetar ia mengunci pintu dan terduduk di lantai memeluk kedua lututnya.
Bayangan saat Kelvin mengambil paksa kesuciannya kembali terlintas di pikirannya. Mendengar nama Kelvin saja disebut sudah sangat membuatnya ketakutan, ia tak yakin apakah dia mampu bertemu dengan Kelvin lagi. Mengetahui jika Kelvin ada di luar sudah membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Kakak," sapa Gavin melihat Kelvin dan Natali sudah masuk.
"Dimana Diandra?" tanya Kelvin tanpa basa-basi, ia masih sangat kesal dengan adiknya itu.
"Duduk dulu, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Gavin mengarahkan Kelvin dan Natali ke sofa yang ada di ruang tengah.
"Kak Kelvin, kenapa baru datang? Clara sangat merindukan, Kakak," ucap Clara yang duduk di dekat Kelvin.
"Iya, Kakak juga yang sangat merindukan Clara," ucap Kelvin membawa Clara ke pelukannya. "Maaf Kakak nggak pernah menemuimu."
"Clara tau kok, kakak pasti sibuk," Clara dengan senyum senang melihat Kelvin.
"Clara bisakah kau masuk ke kamarmu sebentar! Ada yang ingin kami bicarakan," ucap Gavin.
Clara pun menurut dan langsung masuk ke kamarnya.
Begitu Clara masuk Kelvin langsung menatap tajam pada Gavin yang menyembunyikan semua ini darinya.
"Apa maksud semua ini? Kamu kan yang menyembunyikan Diandra. Kamu tahu kan kalau kakak mencarinya?!" cacar Kelvin.
"Iya, aku yang menyembuhkannya. Aku juga sudah tahu apa yang sudah kakak lakukan padanya," jawab Gavin balas menatap tajam pada Kelvin.
Sebelum Kelvin berangkat ke luar negeri, ia menemui Natali dan ia bertemu dengan Alex. Alex mengatakan jika selama ini ternyata Diandra tinggal di Apartemen yang sudah dibeli oleh Gavin. Sepertinya Gavin memang sengaja membeli Apartemen itu untuk menyembunyikan Diandra dari mereka.
Mendengar itu Kelvin menjadi yakin jika Gavin tahu apa permasalahan yang mereka hadapi dan ia yakin jika Gavin memutuskan untuk pindah ke luar negeri karena masalah itu.
Gavin dan Kelvin saling tatap dengan kemarahan mereka masing-masing.
Kelvin merasa marah Karena Gavin menyembunyikan Diandra dari nya.
Gavin juga merasa kesal, mengapa kakaknya itu harus melecehkan wanita yang dicintainya.
Keduanya mengepal tangannya dan mengeraskan rahangnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
sambil menunggu up terbaru bis mampir ke karya terbaruku kak🙏🙏
Salam dariku Author m anha ❤️
Love you all 💕💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1