
Kediaman Abraham Wijaya telah dihias secantik mungkin dan semewah mungkin untuk menyambut para tamu yang akan datang memberi selamat kepada kedua mempelai.
Para tamu undangan mulai berdatangan,
Beberapa dari Keluarga Wijaya sudah bersiap untuk menyambut para tamu.
Anak-anak Panti asuhan yang sudah datang langsung di persilahkan untuk menempatkan tempat yang telah disiapkan khusus untuk mereka.
Para kolega bisnis Pak Wijaya juga sudah mulai berdatangan, mereka disambut oleh Yoga dan Pak Wijaya sendiri walau dengan menggunakan kursi roda.
Teman-teman Arya juga banyak yang mulai berdatangan dan mereka disambut oleh Kelvin dan Gavin.
Arya sudah berada di tempat akan di laksanakan nya ijab kabul bersama Papanya.
Bram mendampingi anaknya, ia bisa melihat ketegangan di wajah Arya.
Arya sesekali menghela nafasnya, menetralkan detak jantungnya yang sudah tak bisa dikendalikan nya.
Arya juga duduk dengan gelisah.
"Tenanglah," bisik Bram mencoba menenangkan putranya.
"Iya Pah, Arya sudah berusaha tenang, tapi tetap saja tak bisa," jawab Arya.
Arya semakin tegang saat Pak penghulu sudah duduk di depannya dan mulai membuka lembaran demi lembaran berkas-berkas yang bersangkutan dengan pernikahannya.
"Pah, apa Papa dulu juga tegang kayak gini," bisik Arya.
"Iya, dulu juga Papa sangat tegang waktu menikahi bunda mu, walau saat itu bukan pengalaman pertama Papa, namun tetap saja Papa juga masih tegang. Jadi wajar saja kalau kamu juga merasakan seperti saat ini. Tapi tenang saja semuanya akan baik-baik saja," jelas Bram pada Arya.
Arya mengangguk dan kembali mengelus dadanya.
Zaky datang dan langsung disambut oleh Gavin dan Kelvin.
Zahra bisa melihat jika ketulusan Kelvin dan Gavin saat menyambut putranya, namun ia juga bisa melihat jelas tatapan tak suka dari kedua anak Mikaila itu kepada dirinya.
Zahra menghentikan langkahnya saat melihat Pak Wijaya yang sedang menyambut para tamu tamunya, ia takut untuk melangkah masuk ke dalam acara tersebut.
Ibu Mikaila yang melihat mereka datang langsung menghampiri mereka.
Ibu Mikaila memeluk Ibu Zahra, tetangga sekaligus sahabatnya.
"Terima kasih ya kalian sudah mau datang di acara pernikahan cucuku," ucap ibu Mikaila pada Ibu Zahra.
"Seharusnya saya yang berterima kasih, kamu sudah mengundang kami semua datang ke acara ini," ucap Ibu Zahra.
"Sudah, ayo kita masuk, sebentar lagi acaranya akan dimulai," ucap Ibu Mikaila menuntun mereka semua masuk.
__ADS_1
Zahra menggandeng tangan Randy dan berjalan masuk, namun Zahra langsung menunduk saat semua mata keluarga Wijaya menatapnya dengan penuh rasa kesal.
Randy menyadari situasi Itu, ia mengusap tangan Zahra yang menggandengnya dan membawanya masuk mengikuti Ibu Mikaila dan mertuanya.
Mereka langsung dipersilahkan untuk duduk di barisan para tamu. Ibu Mikaila juga duduk bersama dengan mereka.
"Siapa yang mengundangnya?!" ucap Arabela melihat Zahra.
"Sepertinya yang mengundangnya itu adalah Tante Mikaila.," ucap Ayasa.
"Hati tante terbuat dari apa sih, kok bisa-bisanya Tante mengundang orang yang sudah hampir menghancurkan rumah tangganya, kalau aku jadi tante jangankan untuk mengundangnya, aku mungkin bahkan tak mengizinkannya menginjakkan kaki di kota ini," kesal Syana.
"Sudahlah jangan membicarakan hal itu, jangan merusak suasana pesta dengan hal-hal seperti itu. Mikaila saja sudah ikhlas menerimanya kita tak usah membahasnya lagi, tak enak didengar para tamu," ucap Anindita. Sebenarnya dia juga kesal tapi dia tetap menahan diri, ini adalah acara yang penting bagi adiknya Abraham.
Sementara di dalam rumah Mikaila sudah bersiap-siap untuk keluar bersama dengan Raina. Mereka sudah menunggu di tempat yang sudah disiapkan.
"Bagaimana Pak! apa acaranya bisa kami mulai?' tanya Pak penghulu kepada Abraham.
"Iya Pak, tentu saja kita bisa memulainya sekarang," ucap Bram.
Bram memberi kode kepada Yoga jika acaranya akan segera dimulai.
Yoga mendorong mertuanya untuk mendekat ketempat akan melaksanakan ijab kabul, begitu juga dengan ibu Bram dia mendekat untuk memberi dukungan kepada cucunya itu.
Ibu Bram mendekati Arya yang terlihat tegang.
"Santai saja, semua akan berlalu dengan Cepat," ucap nenek menepuk-nepuk pundak cucunya itu.
"Bisa tolong dipanggilkan mempelai wanitanya!" ucap Pak penghulu.
"Baik Pak, saya akan panggilkan," ucap Ibu Bram kemudian berjalan menuju di mana tempat Raina menunggu.
Ibu masuk di ruangan tersebut,
Raina tak kalah tegangnya dengan Arya, sedari tadi tangannya terasa dingin namun Ia terus mencoba untuk tetap tenang. Kehadiran bunda Mikaila di dekatnya sungguh sangat membantunya.
"Ayo kita keluar, acaranya sudah akan dimulai," ucap Ibu membantu Raina berdiri begitu juga dengan Mikaila. Mereka merapikan terlebih dahulu gaun yang Raina pakai.
"Bunda aku kok deg-degan ya," ucap Raina memegang tangan Bunda Mikaila.
"Sudah tenang saja, serahkan semuanya pada Arya, kau tinggal duduk manis saja," ucap nenek.
"Iya, Ibu benar. kalau seperti ini Kita cuman tinggal duduk aja dan serahkan semuanya pada calon suami kita. Aku nggak bisa bayangkan gimana perasaan Arya sekarang, pasti dia sangat deg-degan." ucap Mikaila membayangkan wajah anaknya itu.
"Jangan ditanya lagi, Sudah dari tadi anakmu itu sangat gelisah," ucap Ibu menahan tawanya.
Raina sedikit terhibur mendengar celotehan calon mertua dan calon nenek mertuanya itu.
__ADS_1
"Ayo cepat jalan, calon suamimu sudah menunggu," canda Bunda Mikaila.
Mereka pun mendampingi Raina keluar, Arsy juga tak mau ketinggalan, dia berjalan disamping bundanya.
Semua mata tertuju pada calon pengantin yang terlihat begitu anggun dibalik cadarnya.
Arya sangat senang melihat pemandangan yang ada di depannya. Calon istrinya berjalan di dampingi bunda, adik dan neneknya yang terlihat begitu sangat cantik. Mereka berjalan menuju ke arahnya.
Merekalah wanita-wanita yang selama ini ada di hatinya.
Arsy langsung menghampiri Papanya dan duduk di pangkuan Papanya.
Bunda dan Nenek langsung mengarahkan kan Raina duduk di samping Arya.
Saat Raina di dudukan di sampingnya jantung Arya semakin berdetak kencang. Seakan jantung nya itu akan melompat dari dadanya.
Acara pun dimulai, Pak penghulu mulai menjabat tangan Arya dan memulai ikrar ijab Kabul.
Semua fokus pada apa yang akan diucapkan oleh seseorang Arya Wiguna.
Dengan satu tarikan nafas Arya menjadikan Raina sebagai istrinya yang sah.
Teriakan kata sah, dari semua yang hadir di sana khususnya nya dari keluarga Wijaya membuat hati Mikaila terasa tersentuh, Mikaila meneteskan air mata melihat Putra pertamanya kini telah menjadi seorang suami.
Mikaila tak menyangka waktu berlalu begitu cepat, bayi yang ia lahirkan dan besarkan dengan penuh kasih sayang kini sudah memiliki tanggung jawab besar yang harus membimbing istrinya.
Bram menggenggam tangan Mikaila dan mengecupnya, dia tahu istrinya itu pasti sangat terharu melihat anak mereka kini sudah menjadi seorang suami. Status baru dan tanggung jawab yang baru yang harus Iya jalankan.
Semua memberi selamat kepada kedua mempelai. Keluarga Wijaya sangat bahagia mereka kedatangan keluarga baru, Raina menantu baru di keluarga Abraham Wijaya.
Bram dan Mikaila sangat senang melihat raut kesenangan di wajah anaknya namun kesenangan mereka berubah saat Randy dan Zahra menghampiri mereka.
"Selamat ya Arya, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah," ucap Randi mengucapkan doa yang tulus dan menjabat tangan kedua mempelai begitu juga dengan Zahra.
Sebenarnya Zahra tak ingin maju ke depan, karena di sana sudah berkumpul para keluarga Wijaya. Iya tak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya, mungkin saja mereka sudah memaafkannya namun ia bisa merasa jika semuanya masih kesal padanya dari cara mereka menatapnya.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca
jangan lupa ya beri dukungan kalian dengan memberi Like, vote dan komennyaππ
Ditunggu ya Kakπ€
Salam dariku
Author m anhaβ€οΈ
__ADS_1
love you allππ
ππππππππππππππ