Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Nasi Goreng Spesial


__ADS_3

Pagi hari Gavin menutup kepalanya dengan bantal, ia masih sangat mengantuk. Namun, sejak tadi suara ketukan pintu terus mengganggunya. Semakin lama ketukan itu semakin nyaring, seolah ingin mendobrak pintu kamarnya.


"Siapa sih, pagi-pagi seperti ini mengganggu," kesal Gavin berjalan gontai menuju ke pintu kamarnya dan melihat siapa yang sejak tadi telah mengganggu tidurnya.


Gavin bernafas malas, saat melihat orang yang sejak tadi mengganggu tidurnya adalah Syana. Gavin pun kembali berjalan kasurnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya, mengambil bantal guling dan kembali ingin melanjutkan tidur.


Syana menarik guling Gavin.


"Kakak apaan sih, aku masih ngantuk kak, semalam aku begadang ngerjain pekerjaan kantor yang menggunung," protes Gavin.


Syana menarik Gavin untuk duduk.


"Iya Kak, Ada apa? Ada yang bisa Gavin bantu? tanya Gavin dengan matanya yang masih terpejam.


"Kakak mau makan nasi goreng!"


"Ha ... makan nasi goreng? Kan ada suami kakak, minta kak Ilham aja untuk beli. Kenapa malah bangunin aku." Gavin kembali merebahkan dirinya di kasur.


Syana memukul Gavin dengan bantal guling yang ngasih dipegangnya.


"Kakak nggak mau nasi goreng yang dibeli, Kakak pengen kamu yang masakin kakak nasi goreng," ucap Syana terus berusaha membangunkan Gavin.


Mendengar ucapan Syana Gavin langsung duduk dan menatap aneh pada Kakak sepupunya itu.


Syana yang tahu arti tatapan heran Gavin padanya langsung mengusap perutnya.


"Kakak mohon ya, Kakak benar-benar lapar. Tadi kakak sudah minta kak Ilham yang memasak, tapi Kakak nggak bisa memakannya. Rasanya bikin mual. Kak terus muntah, mau ya' buatin kakak nasi goreng?" pinta Syana dengan ekspresi yang sangat menyedihkan menurut Gavin.


"Iya, kakak tunggu di luar. Aku ke kamar mandi dulu."


"Cepat ya, kakak benar-benar lapar. Sajak semalam kakak tidak makan. Semalam kan cuman makan mangga," ucap Syana semakin memasang wajah memohon nya.


"Iya, Iya. Gavin akan buatkan nasi goreng buat kakak, oke! sekarang kakak keluar."


Syana pun keluar dan Gavin masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.


"Ini, Syana yang ngerjain aku atau ini benar-benar keinginan bayinya ya?" batin Gavin menggeleng kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Gavin melihat di sana sudah ada Ustaz Ilham yang menyiapkan bahan-bahan untuk nasi goreng.


"Istri Kakak benar-benar ngidam pengen aku yang masak atau cuman ngerjain aku ya?" tanya Gavin pada Ilham yang sibuk memotong bawang.


Ilham mengangkat bahunya sebagai jawaban, ia sudah mengerti jika Gavin dan Syana selalu tak cocok saat bertemu.


"Sepertinya, itu benar berkeinginan bayi kami, kakak sudah siapkan bahannya tinggal kamu masak aja," ucap Ustaz Ilham.


"Aku belum pernah lho Kak, masak. Enggak apa-apa nih aku masak buat Syana. Kalau rasanya ga enak gimana?"


"Itu lihat nanti saja, yang penting kamu coba buat dulu, siapa tau Syana mau makan masakan kamu."


"Ga apa-apa ya, walau rasanya ga karuan?"


"Ya, mau di apa lagi, dia maunya kamu yang masak." jawab ustadz Ilham.


"Oke ... Hari ini Chef Gavin akan bereaksi," ucap Gavin menggulung lengan bajunya dan mulai mengambil apa yang harus dipakai nya.


"Kakak, kita tunggu di sini saja. Biarkan Gavin Yang masak sendiri," teriak Syana dari arah meja makan.

__ADS_1


"Kamu bisa kan masak sendiri ?" tanya Ilham ragu.


"Tenang Kakak, kan ada Mbah Google," ucap Gavin mengeluarkan ponselnya.


Walau dengan ragu, Ustadz Ilham tetap meninggalkan Gavin di dapur dan menuju pada Syana yang memanggilnya.


Bi Yanti hanya melihat apa yang dilakukan Gavin, tanpa ada niat membantunya. Mereka semua sudah diminta oleh Syana agar tak ada yang membantu Gavin dalam memasak. Ia benar-benar menginginkan masakan Gavin. Syana sendiri bingung, tapi mungkin itu adalah bawaan bayi, pikirnya.


Syana terus memperhatikan Gavin memasak di dapur, ia terlihat begitu serius.


"Apa anak itu benar-benar bisa masak ya," batin ustad Ilham khawatir.


Mikaila, Bram, dan Arsy turun menghampiri Syana di meja makan.


Arya dan Raina juga turun dan langsung melihat Gavin yang sedang di dapur.


Mereka hanya saling pandang dan melihat Gavin yang sudah sibuk di dapur, sepertinya ia sedang memasak.


"Gavin lagi masak apa?" tanya Bram.


"Syana yang minta Gavin masakin nasi goreng Om."


"Emang Gavin bisa masak?" tanya Bram menatap Mikaila.


"Enggak," jawab Mikaila singkat.


Gavin yang telah selesai memasak berjalan ke arah mereka dengan membawa satu piring nasi goreng buatannya.


"Ini dia, nasi goreng spesial buat bumil yang sangat bawel ini," ucap Gavin letakkan nasi goreng di depan Syana.


Syana mengambil sendok dan mulai masukkan sesendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya.


Semua harap-harap cemas menunggu apa yang akan dikatakan Syana! Seperti apa rasa nasi goreng buatan Gavin.


"Hmmm, Rasanya enak," ucap Syana memberikan dua jempolnya pada Gavin.


"Benarkah? Aku tak sempat mencobanya. Aku takut keracunan," canda Gavin.


"Benarkah rasanya enak?" tanya Ustadz Ilham yang melihat istrinya maka dengan sangat lahap.


Syana mengangguk sambil terus mengunyah.


Mikaila Yang penasaran berjalan menuju ke dapur, begitu juga dengan Gavin yang merasa penasaran dengan rasa nasi goreng buatannya sendiri. Ia berpikir Syana akan langsung memuntahkan nasi goreng buatannya karena rasanya tak enak. Namun, ternyata Syana memakannya dengan sangat lahap.


"Apa rasa nasi goreng ku memang enak ya," ucap Gavin mengambil sendok untuknya dan bundanya.


Mereka bersamaan mengambil nasi goreng dan menyuapi ke mulutnya.


Begitu nasi goreng itu masuk ke dalam mulut mereka, Mikaila dan Gavin saling tatap dan langsung berlari ke wastafel, memuntahkan nasi goreng yang ada di mulut mereka.


Gavin dengan cepat berlari ke arah kulkas dan mengambil air minum satu botol dan meminumnya hingga habis.


Mikaila juga dengan cepat menuju gavin dan ikut mengambil air minum.


"Kamu kasih apa sih, ke dalam nasi goreng kamu. Rasanya benar-benar tak enak?" tanya Mikaila.

__ADS_1


"Aku masukin saja semua bahan yang sudah disiapkan Ustaz Ilham dan memberi sedikit tambahan sesuai arahan petunjuk mbah Google."


"Rasanya sangat tak enak, tapi kenapa Syana makanya begitu lahap?" tanya Mikaila masih melihat Syana yang makan nasi gorengnya dengan sangat lahap. Di piringnya tersisa tinggal sedikit nasi goreng.


"Apa benar ya, bayinya yang memang menginginkan masakan ku. Bukan mengerjai aku?" tanya Gavin melihat bundanya.


"Ibu hamil emang gitu, keinginan mereka aneh-aneh dan sepertinya Kakak kamu itu memang lagi ngidam pengen kamu masakin, bukan ngerjain kamu. Jadi, lain kali kalau dia minta kamu yang masak, ya kamu masak aja, biar dia bisa makan. Kasihan bayinya, sejak kemarin ia tak makan dan terus aja muntah.


"Tapi, nggak apa-apa Bunda rasanya hancur?" tanya Gavin menjadi khawatir.


"Ya jangan dong, kamu masaknya di usahanka walau ga enak setidaknya tidak hancur seperti ini. Harus enak lah, kamu gak kasihan sama bayinya. Bagiamana jika bayinya memakanan makanan kamu yang enggak enak, terus dia muntah lagi di dalam rahim."


Gavin tertawa mendengar candaan Bundanya. Gavin membayangkan bagaimana jika bayi Syana benar-benar muntah di dalam rahim, saat merasakan nasi goreng buatannya.


"Ah! sudah. Nasi goreng kamu buang aja, nanti bunda yang akan buat lagi," ucap Mikaila yang juga ikut tertawa mendengar canda dirinya sendiri.


"Apakah Raina juga suka ya, dengan masakan ku. Ia juga kan lagi hamil," ucap Gavin.


"Jangan, jangan kasih Raina. Bunda gak mau cucu Bunda juga muntah karena masakan kamu. Itu rasanya benar-benar hancur, untuk Raina biar Bunda saja yang masak," ucap Mikaila bergegas memasak nasi goreng yang baru untuk mereka semua.


Bu Yanti yang melihat Mikaila berjalan ke dapur, juga ikut berjalan menuju dapur. Begitu juga dengan asisten rumah tangga yang lainnya. Mereka sudah mulai sibuk di dapur membuat sarapan untuk mereka semua.


Pagi ini mereka terlambat memasak karena membiarkan Gavin memasak untuk ibu hamil.


Mereka mengerti jika ibu hamil memanglah sangat istimewa dan harus lebih diperhatikan.


Syana sudah menghabiskan makanannya.


"Makasih ya, nasi goreng kamu enak," ucap Syana pada Gavin yang ikut duduk di meja makan.


Gavin hanya menaikkan satu jempolnya menjawab ucapan Terima kasih dari Syana.


"Bolehkan lain kali Kakak minta dimasakin lagi?"


Gavin kembali menaikkan jempolnya mengiyakan perkataan Syana.


Syana dan Gavin saat bertemu mereka selalu membuat kekacauan. Namun, mereka juga selalu membuat keluarga besarnya tertawa bahagia karena ulah mereka.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membacaπŸ˜‰


Tetap beri dukungannya ya, dengan memberi like, vote dan komennya.


Banyak like dan komen kita up lagiπŸ™ˆπŸ™ˆ


Semangat ... semangat ... semangat.


Salam darikuπŸ€—


Author m anha❀️


love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2