Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Mencari Diandra part 3


__ADS_3

"Ayra, Ayo kemari." ucap Mikaila sambil memperlihatkan mainan pada cucunya yang mencoba melangkahkan kaki kecilnya menuju Mikaila. 


Mikaila terus memanggil nama bayi kecil yang sudah mulai berjalan, usianya kini memasuki 8 bulan. AYRA MYSHA ALMAHIRA WIJAYA, nama yang dipilih Arya untuk anak pertamanya.


Ayra berusaha berjalan menuju Mikaila, mengangkat kakinya dengan sangat berat. Raina yang terus mengikuti Ayra, menjaga di belakang bayinya, takut jika Ayra terjatuh. Namun, baru dua langkah Ayra berjalan menuju Mikaila ia sudah memutar langkahnya menuju ke Bram yang sedang duduk tak jauh dari Mikaila.


Mikaika yang tak terima diabaikan oleh cucunya langsung kembali menghadapkan Ayra kepadanya. Namun, lagi-lagi Ayra memutar badannya berjalan pelan menuju ke Bram.


Mikaila yang gemas langsung mengambil Ayra dan menciumnya.


Ayra menangis dan terus meronta, merentangkan tangannya ingin digendong oleh kakeknya.


"Maunya digendong sama Kakek, ya?" Bram kemudian mengambil Ayra yang langsung terdiam dan tertawa di gendong nya..


Ayra sangat dekat dengan kakeknya, bahkan saat Arya pergi ke kantor, Ayra hanya melambaikan tangan kecilnya dan mencium tangan Arya saat bersalaman sebelum berangkat ke kantor. Arya selalu mengajarkan Putri untuk mencium tangan saat bersalaman dengannya. Berbeda jika Bram yang akan ke kantor, Ayra akan terus menangis dan tak mau melepas pelukannya pada Bram.


Selama ini, Mikaila dan Bram selalu membawa Ayra ke kamar mereka.


Arsy bahkan mulai cemburu disaat Bram lebih memperhatikan Ayra dibanding dirinya.


"Mas, Ini sudah waktunya Arsy pulang sekolah, Mas jemput Arsy sana!" ucap Mikaila mencoba mengambil Ayra dari gendongan Bram, Namun Ayra memeluk dengan erat leher Bram.


"Sini, sama nenek ya!" Mikaila berusaha  merayu Ayra.


Ayra menggeleng dengan memasang senyum nya, memperlihatkan dua gigi kecil yang baru tumbuh.


"Ayra mau ikut kakek jemput kakak Arsy?"tanya Bram pada bayi kecil.


Seolah mengerti, Ayra mengangguk.


"Ya, udah. kita jemput kakak Arsy," ujar Bram terus mencium dengan gemas cucunya.


"Aku juga ikut Mas Kalau Ayra juga pergi," ucap Mikaila.


"Ya udah, kita berangkat sekarang, nanti putri kamu ngambek lagi jika kita telat."


Merekapun pergi untuk menjemput Arsy ke sekolah dengan membawa Ayra yang tak mau lepas dari Bram.


"Kamu yakin, Mas! mau memangku Ayra sambil menyetir?" Mikaila melihat Bram masuk ke jok kemudi dengan Ayra yang tak mau melepas pelukannya.


"Iya, nggak apa-apa, Ayra tenang kok."


Bram mulai menjalankan mobilnya dangan Ayra yang terus memainkan stir mobil.


Saat di pertengahan jalan, Bram tak refleks menginjak ram saat ada anak kecil yang menyebrang dengan tiba-tiba. Membuat Ayra terbentur di stir dan menagis.


Mikaila dengan cepat mengambil dan mengusap kening Ayra yang memerah.


"Sakit ya sayang?" ucap Mikaila menghapus air mata cucunya.


Mikaila memberikan beberapa permainan Ayra yang tadi di bawanya membuat Ayra perlahan berhenti menagis.


Arsy yang melihat Ayra di kaca jendela mobil papanya yang baru datang, langsung berlari dan dengan gemas mencubit pipi Ayra yang mengeluarkan kepalanya dari pintu mobil.


"Bunda kita jalan-jalan dulu yuk! sama adik Ayra,"  pinta Arsy begitu sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang.


"Mau kemana kita?" tanya Bram melihat Arsy dari kaca spion dan mulai menjalankan mobilnya.


"Kita ke wahana bermain aja ya, yang ada di Mall aja, Pah!" ajak Arsy.


"Oke,"ucap  Bram mulai melajukan mobilnya.


Mereka berempat bermain bersama, Bram dan Mikaila ikut larut dan bermain bersama dengan anak dan cucunya. Mereka baru pulang saat malam hari, beruntung Mikaila selalu membawa stok ASI saat ia pergi membawa Ayra.

__ADS_1


Saat dijalan Arsy dan Ayra sudah tertidur, mereka kelelahan seharian bermain bersama.


"Apa Gavin benar-benar akan pindah ke luar negeri dan mengurus perusahaan  Mas yang di sana?" tanya Mikaila.


"Ia, sepertinya memang begitu. Gavin sepertinya sangat semangat, beberapa bulan terakhir ini dia terus bolak-balik menyesuaikan diri dengan Perusahaan itu katanya, dan dia bilang dia sangat menyukai perkembangan bisnis disana dan ingin mencoba mengembangkannya."


"Mas. Bukannya perusahaan itu akan di berikan kepada Kelvin?"


"Tak masalah, jika Gavin memang mau menjalankan perusahaan itu. Gavin bisa memilih mana yang akan ia jalankan.


Lagian Kelvin  juga sepertinya merasa senang bekerja di sini, dengan begitu ia  bisa lebih dekat dengan Natali," ucap Bram.


"Iya, aku juga senang jika Kelvin dekat dengan Natali." Natali anaknya yang sangat baik, sepertinya Ia juga sangat mencintai Kelvin dan begitu juga sebaliknya," ucap Mikaila yang selama ini selalu memperhatikan mereka berdua.


Saat sampai Arya sudah menunggu di depan di teras rumah.


Arya membuka pintu dan langsung mengambil putrinya yang tertidur di pangkuan bundanya.


"Bunda dari mana?" tanya Arya yang sudah menggendong Ayra yang kembali terlelap di gendong nya.


"Tadi habis dari mall untuk bermain. Anak kamu itu pasti  sangat kelelahan, di sana dia terus saja bergerak kesana kemari, Ayra sangat aktif."


"Kenapa anak Papa, kecapean ya" ucap Arya mengecup pipi putrinya dan dan segera membawanya masuk.


Bram juga menggendong Arsy, sama dengan Ayra, Arsy juga terlihat begitu kelelahan sehabis bermain.


Setelah menidurkan Arsy di kamarnya, Bram memanggil ketiga putranya ke ruang kerja.


Mereka membahas masalah pekerjaan.


"Bagaimana dengan kamu Gavin? Apakah sudah pasti kamu akan pindah ke luar negeri?" tanya Bram.


"Iya, Pah! Gavin sudah memikirkannya, Gavin akan mengurus perusahaan yang ada disana dan menetap di sana,"


"Aku terserah Papa saja, aku tak masalah menjalankan perusahaan yang mana, tapi jika memang Gavin  ingin menjalankan perusahaan yang di luar negeri, itu lebih bagus. Aku lebih senang tinggal di sini, aku baru saya pulang aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian."


"Baiklah kalau itu mau kalian, Gavin Papa berharap kau tak main-main lagi saat menjalankan perusahaan, jika kau ingin mengambil alih perusahaan yang disana."


"Baik, Pah! Gavin akan berusaha membangun dan mengembangkannya," jawab Gavin yakin.


Davin mendapat telepon, ia sedikit menjauh dari mereka bertiga.


Setelah selesai menelepon, Gavin kembali bergabung dengan yang lain.


"Ada apa? Siapa yang menelpon sehingga kau menjauh seperti itu?" tanya Arya menatap Gavin dengan curiga.


"Bukan siapa-siapa, Kak."


"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa kau pergi menjauh seperti itu?" tanya Kelvin.


"Secret," ucap Gavin kemudian terkekeh.


"Pah, mungkin minggu ini aku akan pindah ke luar negeri!" 


"Ada apa sebenarnya, Kau menemukan kekasih baru disana sehingga kau begitu bersemangat untuk tinggal di luar negeri?" tanya Arya.


"Mungkin bisa dibilang seperti itu, dia wanita yang sangat cantik, membuat hatiku terus berdebar saat menatapnya," ucap Gavin memegang dadanya dan berlagak membayangkan wanita itu sedang berada di depannya..


"Bukannya Papa melarang untuk mendekati seorang wanita, tapi Papa harap kamu harus tetap fokus dan bertanggung jawab atas pekerjaan mu. Kamu boleh mendekati wanita selagi itu tidak mengganggu pekerjaanmu,"


"Tenang saja Pah, kali ini  Gavin tak main-main lagi, Gavin sudah serius menjalaninya dan akan serius menjalankan perusahaan." 


Semua kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Kelvin  berdiri di balkon kamarnya, tak lama kemudian Arya datang.


"Bagaimana ini, Kak. Ini sudah 8 bulan pencarian. Kita belum juga menemukan Diandra. Alex bahkan sudah memperluas pencariannya, memeriksa hampir semua jadwal penerbangan. Namun tetap saja kita tidak menemukan sedikitpun informasi tentang Diandra dan Clara."


"Aku harap mereka berdua baik-baik saja.Bagaimana hubunganmu dengan Natali!" tanya Arya.


"Natali percaya padaku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa sampai Diandra bisa ditemukan."


"Apa selama kalian tinggal bersama Ibu Sulastri tak pernah menyebutkan alamat lain, mungkin alamat suami atau kampung halamannya yang di Indonesia?"


"Tidak, tidak pernah. Setelah menikahi istrinya, tak pernah lagi pulang ke Indonesia.


"Kita tunggu saja pencariannya, semoga semua masalah ini cepat berlalu cepat berlalu."


Arya ikut memandang taman yang bisa mereka lihat dari balkon kamar Kelvin.


"Semoga Diandra cepat ketemu dan masalahmu cepat selesai," ucap Arya  menepuk pundak Kelvin kemudian keluar dari kamar.


Kelavin mengambil ponsel yang ada di sakunya, kemudian melihat foto Diandra dan Clara yang ada di sana.


Kelvin mencoba menghubungi nomor Diandra, nomor itu sudah tak digunakan lagi.


Kelvin beralih ke nomor Alex,


"Bagaimana Om? Apa tak ada sedikitpun informasi tentang Diandra?"


"Tak ada sedikitpun. Aku bahkan sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian di sana, Namun tetap saja hasilnya tetap sama, informasi masih sama,"


"Terima kasih! Ya om. Kelvin berharap  Diandra akan segera ditemukan.


"Tenang saja, Om akan tetap mencari keberadaan Diandra." 


Kelvin mematikan teleponnya, dan sekali lagi mencoba memanggil nomor Diandra. Namun hasilnya tetap sama, Kelvin teringat akan nomor Ibu Sulastri, Kelvin dengan cepat mencari dan menghubungi nomor itu.


Kelvin terkejut saat mendengar suara Clara di balik telfon, "Clara kaulah itu?" tanya Kelvin.


sambungan terputus.


Kelvin , kembali memanggil nomor ibu Sulastri, Namun kini panggilan itu sudah tidak aktif.


Kelvin langsung menghubungi Alex dan mengatakan jika ia sepertinya baru saja tersambung dengan Clara adik dari Diandra, Kelvin memberikan nomor ibu Sulastri kepada Alex.


Setelah 3 jam menunggu dengan tak sabar, Alex memberitahu jika panggilan itu berasal cari kota tempat tinggalnya dan bahkan panggilan itu berasal dari gedung Apartemen Kelvin yang ada di luar negeri.


"Jika Diandra pernah datang ke Apartemenku, mengapa ia tak menghubungi ku, apa dia tidak membaca pesanku," gumam Kelvin berjalan bolak-balik, dia sangat gelisah dan tak bisa tidur.


"Cctv," Kelvin baru mengingat jika di Apartemen nya terpasang CCTV di setiap ruangan, Kelvin dengan cepat memeriksa CCTV yang tersambung langsung ke laptopnya. Kelvin mulai memeriksanya, dimulai dari malam kejadian dimana ia  melecehkan Diandra, Kelvin melihat jika Diandra sudah datang ke sana sejak siang dan menunggunya bersama dengan Clara. Kelvin juga melihat bagaimana dia memaksa Diandra masuk ke kamarnya.


Kelvin mempercepat rekaman malam itu dan mulai memperhatikan Semua rekaman di hari-hari selanjutnya. Setelah memeriksa semua, Kelvin tak menemukan jika Diandra pernah datang ke Apartemennya.


"Jika dia tidak datang ke Apartemenku, untuk apa Diandra dan Clara datang ke gedung itu,"


Aku harus memeriksa secara langsung.


Kelvin pun kembali ke luar negeri bersama dengan Gavin.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Like, vote, dan komennya.


salam dariku Author m Anha😘

__ADS_1


💖💖💖🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏💖💖💖


__ADS_2