Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] NUMPANG DADAKAN.


__ADS_3

Anin duduk di ruang tengah bersama Surya, ia menatap sekeliling rumah mereka. "Mas, sepi ya! Anak-anak sudah pada besar dan mereka sudah menikah, sekarang kita hanya tinggal berdua," ucap anin pada suaminya yang duduk di dekatnya.


"Iya, ternyata kenakalan anak-anak di saat kecil itu baru terasa berarti setelah mereka dewasa dan meninggalkan kita," ucap Pak Surya menatap setiap sudut ruangan. Masih teringat jelas anak-anaknya berlarian dan saling bertengkar, membuat keributan.


Rumah mereka yang dulunya sangat ramai dengan kejahilan Isabela dan Syana, dua kakak beradik itu bagaikan 10 orang saat sedang bertengkar.


Anin sangat merindukan masa-masa itu, dimana kedua anaknya itu membuatnya pusing, bahkan terkadang ia memarahi mereka berdua karena kegaduhan yang mereka buat.


Isabela sudah mengikuti Jabbar suaminya, sedangkan Syana juga setelah menikah. Syana langsung ikut tinggal di rumah ustad Ilham di luar kota.


Tinggalan mereka berdua, menghabiskan masa tua mereka bersama-sama. Selain di rumah, mereka juga selalu bersama di tempat kerja. Mereka bekerja di rumah sakit yang sama.


Anindita sangat senang saat mendengar kabar jika Syana sedang hamil dan ia ingin pulang. Syana ingin tinggal selama masa kehamilannya. Namun, baru dua hari ia tinggal bersama dengan ibunya, Syana tiba-tiba ingin menginap di rumah Gavin.


"Bu, apa Syana belum mau pulang?" tanya Pak Surya yang juga merasa kesepian.


"Sepertinya belum, Yah. Syana sangat senang tinggal di sana. Ibu juga nggak bisa memaksanya pulang," jawab Anin yang bisa melihat keceriaan Syana tinggal di rumah Bram.


"Jika Syana tak bisa pulang, kita bisa 'kan ikut menginap di rumah Bram?" tanya Pak Surya menatap Anandita.


"Iya, Ayah benar. Kita bisa menginap di sana, mumpung anak kita ada dikota ini. Ibu kok enggak kepikiran ya, untuk ikut menginap di rumah Bram. Dengan begitu kita juga bisa mengurus Syana yang tengah mengidam, tak merepotkan mereka," ucap Anin senang dan bergegas berjalan menuju kamar nya, dengan segera ia mengemas barang-barang mereka.


Pak Surya menatap heran Anin yang sudah turun dengan membawa koper besar.


"Ibu, mau kemana?" tanya Pak Surya pada Anin heran.


"Bukannya kita mau ke rumah Bram?" tanya Anin balik.


"Ya ampun Bu. Ini sudah jam 11 malam, masa kita ke rumah orang di tengah malam seperti ini, 'kan masih ada besok, Bu."


"Enggak apa-apa, Yah. Itu kan rumah adik aku, lagian aku baru aja menelpon Syana, mereka belum pada tidur, katanya Gavin habis jatuh dari pohon," ucap Anindita menarik koper besar miliknya keluar.


"Jatuh dari pohon, tengah malam begini? Emangnya Gavin dari mana? Enggak ada kerjaan apa dia manjat tengah malam gini?" tanya Pak Surya mengikuti Anin yang berjalan menuju garasi, memasukkan koper meraka ke bagasi mobil.


"Katanya anak kamu itu nyuruh Gavin manjat pohon mangga di tengah malam, mungkin Gavin masih ngantuk makanya ia jatuh."


"Syana?" tanya Pak Surya dengan alis terangkat.


"Kita kesana sekarang, sekalian ngobatin lukanya Gavin."


Pak Surya tak banyak bicara lagi, mereka kemudian menuju ke kediaman Abraham Wijaya.


Begitu sampai, Anindita langsung menghampiri mereka yang masih ada di Taras rumah, semua mata tertuju pada Pak Surya dan Anin, bukan pada kedatangan mereka, tapi pada koper besar yang mereka seret.


Syana sudah memberitahu jika ayah dan ibunya akan datang. Namun, mereka semua mengira jika Anin dan Surya datang hanya untuk mengobati Gavin.


Anin berjalan menghampiri mereka, Gavin duduk di sofa teras dengan menaikkan 1 kakinya yang terasa sakit.


"Mana yang sakit? Coba Tante lihat," ucapan Anin menarik kaki Gavin.


"Awww," Pekik Gavin saat Anin memegang kaki Gavin. "Pelan-pelan Tante."


Gavin tak bisa menggerakkan kakinya, lututnya sangat sakit saat digerakkan sedikitpun.

__ADS_1


"Sepertinya ada sendi yang bergeser," ucap Anin setelah memeriksa kaki Gavin. "Kamu tahan ya, Tante coba mengobatinya." ucap Anin mencoba membenarkan kan kaki Gavin.


"Kretek," bunyi tulang Gavin saat Anin menarik kaki Gavin.


"Aaaaaaahr," teriakan Gavin menggema di ruangan itu, wajahnya memerah menahan sakit.


"Ini semua gara-gara Kak Syana, orang lagi tidur dibangunin untuk manjat pohon mangga, besok bisa kan?" kesal Gavin sambil terus mengusap-ngusap lututnya.


"Iya, maaf. Ini 'kan kemauan bayi yang ada di rahim Kakak," ucap Syana tak mau di salahkan.


"Iya, aku tahu ini adalah kemauan bayinya Kakak, tapi nggak tengah malam gini juga kan, Kak. Ngebangunin orang panjat pohon, tuh lihat hasilnya, aku jatuh 'kan," kesal Gavin.


"Iya, maaf. Nggak lagi-lagi, deh. Kakak enggak akan nyuruh kamu manjat di tengah malam," ucap Syana.


"Jangankan tengah malam, siang bolong aja aku udah enggak mau panjat pohon mangga buat kakak, Kakak kan punya suami suruh suami Kakak yang panjat sendiri," kesal Gavin. "Orang dia yang Panjat kakak," gumam Gavin pelan nyaris tak terdengar.


"Ih, enggaklah, Kak Ilham nggak pernah panjat Kakak, justru Kakak yang panjat dia," ucap Syana santai.


"Kenapa, Kakak panjat kak Ilham?" tanya Arsy langsung menyambung ucapan Syana.


Semua langsung menatap horor pada Syana, ia bercanda seperti itu di depan anak kecil.


Syana menggaruk kepalanya dan tersenyum bodoh, Syana tak tahu harus menjawab apa pertanyaan Arsy.


Arsy terus menatap Syana dengan tatapan penuh tanya.


Arsy memiringkan kepalanya menatap Syana kemudian bergantian menatap Ustaz Ilham, Arsy membayangkan Syana yang tengah memanjat Ustadz Ilham yang sedang berdiri.


"Ngapain juga Kakak panjat kak Ilham, 'kan tinggal minta apa yang Kakak mau, kenapa harus capek-capek panjat?" tanya Arsy bingung.


"Awww," Pekik Gavin saat Anin memukul lututnya mendengar celotehan mereka yang tak berakhlak.


"Arsy kita tidur yuk, ini sudah malam. Besok sekolah 'kan?" ucap Bram meminta Arsy untuk pergi tidur.


"Pah, apa boleh Arsy tidur sama papa sama bunda," izin Arsy.


"Boleh dong sayang," ucap Mikaila mengecup pipi Arys yang berdiri di dekatnya.


Mikaila membawa Arsy kekamar.


"Kak, itu kopernya isinya apa?" tanya Bram yang penasaran melihat koper besar yang di bawa kakaknya, Anindita.


"Kakak mu menginap di sini," jawaban yang singkat.


"Tante mau numpang juga," sahut Gavin cepat.


"Awwww, Tanta ini beneran sakit,," Pekik Gavin. Ingin rasanya gavin menangis saat Anindita kembali memukul lututnya yang baru selesai dipasang penyangga.


"Pukul lagi aja, Bu!" ucap Syana yang tertawa melihat wajah Gavin yang sudah sangat memerah menahan sakit.


"Syana, ini sudah malam. Sebaiknya kau pergi istirahat. Tak baik ibu hamil begadang," ucap Anin yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 12.30 malam.


"Iya, Bu." Syana menggandeng Ustaz Ilham kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


Anindita menatap Gavin,


Gavin dengan cepat langsung menyingkirkan kakinya. "Tante jangan ditabok lagi,, aku nangis loh."


"Kamu ini kayak anak kecil aja, masa gitu aja kamu ga bisa tahan sakitnya," ucap Anin berdiri dari duduknya. Sebelum melangkah pergi Anindita kembali melempar bantal sofa ke arah lutut Gavin, beruntung Gavin melihat dan langsung menangkapnya.


Gavin menghembuskan nafasnya kasar.


"Ibu dan anak ini sama saja," batin Gavin mengusap lututnya.


Gavin melihat di sekitarnya, semua sudah pergi meninggalkan Ia seorang diri di teras rumah.


"Ini gimana caranya aku naik ke kamar?" gumam Gavin melihat kakinya.


"Mereka tega banget, sih. Ninggalin aku sendiri," lirih Gavin berusaha mengambil ponselnya yang ada di meja. Gavin ingin menelpon Arya agar membantunya ke kamar.


"Halo, Kak. Bantuin aku dong naik ke kamar," ucap Gavin saat Arya sudah mengangkat panggilannya.


"Bentar, ya. Kakak lagi manjat," ucap Arya tertawa terbahak-bahak kemudian mematikan panggilannya.


Gavin mendengus kesal saat melihat ponselnya, Arya sudah mematikan panggilannya.


Gavin kemudian menelepon Papanya.


"Pah, tolongin Gavin dong, Gavin nggak bisa naik ke kamar sendiri," ucap Gavin.


"Iya, sebentar. Papa turun sekarang," ucap Bram.


"Ada apa, Mas?" tanya Mikaila yang melihat Bram kembali turun dari tempat tidur.


"Kita lupa membantu Gavin naik ke kamarnya, ia masih di teras," ucap Bram menahan tawa, dia benar-benar lupa jika putranya itu masih ada di bawah.


"Papa, tega banget sih ninggalin Gavin sendiri disini," gerutu Gavin saat Papanya membantu dia berdiri.


"Iya, maaf. Papa kira Arya yang membantu mu."


"Gavin sudah menelpon Kak Arya, katanya dia lagi manjat," kesal Gavin.


Arya tertawa mendengar keluhan Gavin pada papanya, tadi ia hanya mencandai adiknya itu.


Bram dan Arya membantu Gavin untuk naik ke kamarnya. Gavin terus mengoceh sampai Bram dan Arya keluar kamar Gavin.


Bram dan Arya kembali ke kamar mereka masing-masing.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa like dan komennya ya kakak di setiap babnyaπŸ™


Salam dariku


Author m anhaπŸ’–

__ADS_1


Love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2