
Mereka sampai di rumah jam 9 malam, Raina kembali merasa mual, begitu turun dari mobil ia langsung muntah. Mikaila yang melihat Raina kembali muntah dengan cepat ikut turun dan memijat tengkuk menantunya.
"Kau tak apa-apa?"tanya Mikaila khawatir.
"Enggak apa-apa kok bunda, aku kok mual lagi ya bunda? tadi udah baikan," lirih Raina.
"Mungkin kamu kelelahan, istirahat saja dulu," jawab Bunda.
"Arya bawa Raina beristirahat ke kamar," panggil Bunda pada Arya yang masih memarkirkan mobilnya.
Dengan cepat Arya menghampiri mereka, "Kamu bisa jalan?" tanya Arya pada Raina yang masih duduk di sisi lantai teras rumah.
Raina menggeleng, "kepalaku pusing Kak,"jawabnya.
Arya langsung menggendong Raina masuk ke dalam rumah.
Bram juga menggendong Arsy yang tertidur saat dalam perjalanan pulang. Gavin yang melihat Papanya menggendong Arsy langsung mengambil Adiknya itu.
"Biar Gavin saja Pah yang gendongannya," ucap Gavin mengambil Arsy ke gendongannya dan membawanya ke kamar.
"Mas istirahat aja di kamar, aku buatkan bubur dulu Untuk Raina," ucap Mikaila.
Bram naik ke kamar Sedangkan Mikaila menuju ke dapur untuk membuat bubur buat menantu dan calon cucunya.
Semua belanjaan sudah dibawa masuk dan sedang dibersihkan oleh Bi Yanti. Mikaila mengambil beberapa buah.
"Bagaimana dengan bayinya?" tanya bi Yanti yang ikut senang dengan kehamilan Raina.
"Alhamdulillah Bi, bayinya baik. Tapi, sepertinya Raina mengalami ngidam yang berat, tadi saja dia masih muntah-muntah," ucap Mikaila.
"Semoga semua dalam kondisi baik sampai waktunya persalinan," ucap Bi Yanti mengambil buah yang sudah dipisah oleh Mikaila dan mencucinya.
"Bibi dipotong-potong ya, aku mau buat rujak buat Raina, sepertinya dia menyukainya," ucap Mikaila pada bi yanti dan dia sendiri mulai membuat bubur yang sama yang dibuat untuk Raina tadi pagi.
Gavin menghampiri mereka yang sedang sibuk di dapur.
"Bunda, sebentar lagi bunda jadi nenek dong," ucap Gavin.
"Iya. Bunda udah nggak sabar pengen jadi nenek," kekek Bunda Mikaila membayangkan dirinya dipanggil dengan sebutan nenek.
Gavin terus mengobrol sambil memakan satu demi satu potong buah yang telah disiapkan oleh bi Yanti untuk Raina, bi Yanti sedang membuat bumbu rujak.
"Bunda aku ke kamar dulu ya," pamit Gavin.
Mikaila hanya melihat kearah Gavin dan mengangguk.
Bi Yanti sudah selesai membuat bumbu rujak, ia berniat untuk mencampur bumbu rujak itu dengan buah yang sudah dipotong nya tadi.Namun, setelah melihat mangkuk buahnya, Ia melihat hanya tersisa 1 potong buah apel di sana.
Bi Yanti hanya menghela nafas dan melihat Gavin yang berjalan menuju ke kamarnya.
"Ada apa, Bi?" tanya Mikaila yang melihat di Yanti menghela nafas.
__ADS_1
Bi Yanti memperlihatkan nasib buah-buahan yang sudah dipotong-potong nya.
Mereka terdiam dan saling padang kemudian tertawa.
"Sudah, Bibi potong lagi," ucap Mikaila sembari mengambil beberapa buah lagi dari kulkas.
Rujak buah sudah jadi begitu pun dengan buburnya. Mikaila mengantarkan ke kamar Raina.
Begitu Mikaila masuk, ia melihat Raina dan Arya ada di kamar mandi, Raina terus saja mencoba memuntahkan isi perutnya.
Arya menggendong Raina dan membaringkannya. Kondisinya sama dengan kemarin malam, begitu pucat dan lemah.
"Raina makan dulu ya, ini Bunda sudah buatkan bubur biar perut kamu hangat," ucap Mikaila duduk di samping Raina dengan memegang mangkuk bubur.
Raina merasa tak enak jika menolak bubur yang telah dibuat oleh mertuanya.
Walau dengan perut mual saat melihat bubur itu, Raina tetap membuka mulut saat Bundanya menyendokkan bubur itu untuknya. Benar saja baru sesendok bubur masuk kedalam mulutnya, perut Raina sudah terasa sangat mual dan kembali memuntahkan bubur itu.
"Maaf Bunda," lirih Raina berkaca-kaca.
"Iya sayang, nggak apa-apa, kamu makan buah aja ya," ucap Mikaila mengambil mangkuk yang lainnya, yang berisi rujak buah yang tadi telah dibuat oleh Bu Yanti.
Raina mencoba memakannya, hasilnya tetap sama dia juga merasa mual dan kembali memuntahkannya.
"Bunda aku ingin yang seperti tadi sore. Rujak mangga muda, apa ada?" tanya Raina.
"Gimana ya, mangga mudanya sudah habis. Bunda ga beli mangga," jawab Mikaila.
Raina menatap Arya dengan tatapan memohon.
Sembari menunggu Arya datang, sesekali Mikaila menyuapi Raina dengan bubur.
Raina mengingat kata dokter Anindita Jika ia harus memaksa dirinya untuk makan demi bayinya.
Tak lama kemudian Arya kembali dengan membawa mangkuk yang berisi rujak buah mangga muda yang sudah dibuat oleh bi Yanti.
Raina yang melihat apa yang dibawa Arya sangat bahagia dan langsung mencicipi rujak buah mangga muda itu.
"Ada apa?" tanya Arya saat melihat ekspresi wajah Raina berubah saat mulai mengunyah rujaknya.
"Kakak ini rasanya tidak enak, yang Bunda buat tadi rasa mangganya lebih enak, lebih segar," jawab Raina.
"Tentu saja segar, mangga itu baru dipetik tadi pagi dan langsung Bunda buat rujak untuk kamu," ucap Bunda.
"Bunda petiknya di mana?" tanya Raina berbinar membayangkan rasa buah mangga yang segar dan masam baru di petik sudah terasa di lidahnya, membuat air liurnya seakan memenuhi rongga mulut Raina.
"Itu dipetik pak Wahyu di belakang rumah ini," jawab Mikaila.
Raina kembali melihat suaminya dengan tatapan memohon.
"Iya, aku minta Pak Wahyu untuk mengembalikannya lagi," ucap Arya.
__ADS_1
"Kak, aku mau ikut," ucap Raina mencoba turun dari tempat tidur.
"Kamu istirahat saja, biar kakak yang mengambilkannya," ucap Arya menghentikan Raina turun dari tempat tidur.
"Kak, Raina ingin melihat pohon mangga, sudah lama Raina enggak melihat pohon mangga. Raina jadi ingat pohon mangga di kampung kakek," ucap Raina berbinar.
"Baiklah, kita ke belakang," ucap Mikaila dan mereka pun pergi ke belakang menuju ke tempat di mana pohon mangga itu berada.
Mikaila dan Raina pergi lebih dulu sedangkan Arya mencari Pak Wahyu.
"Cari siapa, Den?" tanya Pak Slamat yang lihat Arya seperti mencari sesuatu.
"Pak Wahyu mana ya,Pak?" tanya Arya.
"Pak Wahyu sudah pulang, katanya ada urusan penting," jawab Pak Slamat.
"Gimana ya, Pak?" ucap Arya bingung.
"Emangnya ada apa, Den?" tanya Pak Slamat.
"Raina ingin mangga muda yang dipetik dari pohon belakang, katanya tadi pagi Pak Wahyu yang memetiknya." Kata Arya.
"Iya, tadi pagi Pak Wahyu yang memetiknya. Tapi, Pak Wahyu sudah pulang dan pak Wawan juga kayaknya sudah pulang," ucap pak Slamat.
"Terus gimana dong Pak?" tanya Arya.
"Gimana ya, dulu sih Bapak sering manjat pohon itu, tapi Sekarang bapak sudah tidak kuat," jawab Pak Slamat.
***
"Kak Arya mana ya Bunda, kok lama sekali?" tanya Raina yang sudah berada di bawah pohon mangga tersebut.
"Iya, cari Pak Wahyu aja kok lama sekali," jawab Mikaila
Bram menghampiri mereka. Bram yang sedang menikmati malam di balkon kamar melihat istri dan menantunya itu berjalan ke belakang, kemudian Ia pun mengikuti mereka.
"Kalian ngapain disini?" tanya Bram.
"Ini, Pah! Raina mau makan buah mangga ini," tunjuk Raina pada pohon mangga yang ada di hadapan mereka.
Bram melihat pohon mangga itu dari akar sampai ke atas. Bram menelan salivanya, dulu sewaktu Mikaila mengidam Arya, ia memanjatnya pohon ini. Tapi, tak setinggi ini. Bram tak bisa membayangkan jika Arya harus memanjat pohon ini juga demi mengambilkan buah mangga untuk calon bayinya, sama dengan yang ia lakukan dulu.
💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa ya Like, Vote dan komennya 🙏
Salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
__ADS_1
love all 💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖