
Maksud kamu Syana salah orang ?" tanya Ayasa,
Gavin kembali mengangguk.
Dengan cepat Ayasa berlari mengejar Syana.Namun, ia terlambat. Mereka sudah sampai di ruangan dimana kedua keluarga berkumpul, Ibu langsung mendudukan Syana di dekat kakeknya agar cucunya yang satu itu tidak banyak bertingkah.
Syana terus menunduk, ia tak mau melihat kearah calon suaminya. Syana takut jika ia langsung mengumpat di depan semua orang.
"Bagaimana ya aku bisa memberitahu Syana siapa calonnya yang sebenarnya," batin Ayasa, ia mencoba menghubungi nomor Syana. Namun, setelah ia lihat Syana tidak memegang ponselnya.
Ayasa melihat Gavin, seolah mencari cara bagaimana bisa memberitahu Syana.
Gavin hanya mengangkat bahunya sebagai tanda tak tahu harus berbuat apa.
Gavin tadinya hanya mengerjai Syana, tapi dia juga kasihan melihat Syana yang tertunduk dengan wajah murung nya, hampir menangis.
"Syana kamu masih ingat dengan saya kan ?" tanya ustaz Zakaria.
Syana tanpa melihat orang yang berbicara padanya hanya mengangguk.
"Walau kami sudah setuju dengan Perjodohan kalian, tapi semuanya tergantung padamu? jika kamu setuju pernikahannya akan dilanjutkan.Tapi, jika kamu tidak setuju kita bisa membatalkan nya," Ucap pak Zakaria.
Mendengar itu Syana seperti mendapatkan angin segar yang mengisi rongga dadanya yang terasa sesak.
Senyum terbit di bibirnya.Namun, saat akan menjawab dia terlebih dulu menatap tante, ibu dan neneknya, semua melebarkan matanya menatap tajam pada Syana, membuat senyum yang tadinya mulai nampak di wajahnya kembali murung.
"Iya Pak, saya terima ," lirih Syana.
"Alhamdulillah" ucap mereka semua.
Syana mengangkat wajahnya dan menatap Ayasa dan gavin yang berdiri di berdiri di sudut ruangan, seolah meminta pertolongannya.
Begitu Syana melihat Ayasa, Ayasa langsung menggeleng sambil menunjuk foto yang ada di ponselnya.
Syana mengerti apa yang dimaksud dengan Ayasa, hanya melalui tatapan mata saja dengan Ayasa.
Syana mengedipkan matanya berulang-ulang pada Ayasa, kemudian di jawab dengan menunjuk pria yang duduk di sebelah kirinya.
Syana dengan cepat melihat pria yang duduk di samping kirinya. Dengan susah Syana menelan salivanya saat melihat pria yang duduk di samping kirinya sangatlah tampan. Syana kemudian menatap Ayasa, membulatkan matanya dan Ayasa mengangguk.
Gavin menggaruk kepalanya melihat komunikasi di antara mereka yang hanya menggunakan isyarat mata.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Gavin pada Ayasa.
"Aku hanya memberi tau jika ia salah orang "jawab Ayasa tanpa melihat Gavin dan terus saling memberi kode kepada Syana.
"Emang kalian mengerti apa arti dari semua itu?"tanya Gavin.
Ayasa menutup mulut Gavin, yang terus saja mengganggu konsentrasinya berkomunikasi dengan Syana.
Syana kembali mengatur nafasnya, menelan salivanya kemudian perlahan ia melihat pria yang duduk di sebelah kiri nya.
Jantungnya berdetak kencang, pria itu sangat tampan dan sesuai dengan apa yang diinginkannya selama ini.
Ibu yang melihat cucunya itu terus memandang ke arah calon suaminya tanpa berkedip langsung mencubit tangannya.
__ADS_1
"Awww" Pekik Syana membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arahnya termasuk calon suaminya.
"Ada apa," tanya Ustadz Ilham saat mendengar jeritan Syana.
Syana dengan cepat menggeleng," Enggak apa-apa kok," jawab Syana kembali menelan Salivanya.
"Apa benar ini calon suamiku, dia tampan sekali dan Sepertinya dia juga orang baik. Ya Allah semoga dia jodoh terbaik untukku," batin Syana terus menatap ustaz Ilham yang juga menatapnya.
Ustadz Ilham yang terus ditatap hanya tersenyum dan mengangguk pada Syana.
"Ya Allah senyumnya, jantungku," batin Syana.
"Jadi bagaimana? apa kita sudah sepakat untuk lanjutkan acara Perjodohan ini ke jenjang pernikahan bulan depan," ucap ustad Zakaria.
"Tentu saja Pak, Cucu kami dan anak bapak juga sudah setuju. Semoga saja mereka akan menjadi keluarga yang saling melengkapi kelak," Ucap pak Wijaya yang diaminkan oleh semua orang yang ada di sana, termasuk Syana. Ia juga ikut mengaminkan doa kakeknya.
Acara tersebut mereka lanjutkan dengan menikmati cemilan yang ada.
"Syana kau bisa mengajak Ilham untuk berbicara di tempat lain, siapa tahu aja ada yang ingin kau tanyakan. Mintalah orang untuk menemani kalian Kalau kau memang tak mau berbicara berdua dengan Ilham," ucap Ibu Ilham.
"Aku akan menemaninya," sahut Gavin.
"Aku juga akan menemani kalian," timpal Ayasa.
"Mari kita ke taman belakang saja," ucap Ayasa mengajak ustaz Ilham dan Syana.
"Baiklah," ucap ustaz Ilham berdiri dari duduknya dan pamit kepada semua yang ada di sana.
"Aku juga akan ikut," ucap Dimas mengikuti mereka.
Benar saja, begitu mereka baru saja duduk mereka berdua sudah membuat kekacuan.
"Aku panggil Ilham aja ya?" ucap Dimas mereka memang seumuran.
"Tentu saja, panggil aku Ilham saja," ucap Ilham.
Mereka duduk di bangku taman belakang.
"Oh ya kak Ilham, kak Ilham mau tanya apa tentang sana?" tanya Gavin. Mereka semua melihat ke arah Ilham menunggu pertanyaan apa yang ingin ditanyakan kepada Syana.
"Apa aku boleh tahu Kenapa kau menerima Perjodohan ini ?" tanya Ilham.
"Aku mene-" ucap Syana terpotong ketika ia ingin mengatakan menerima saat Gavin langsung berbicara.
"Kak Syana tidak menyetujui Perjodohan ini, dia berencana kabur dan hanya berpura-pura menyetujuinya," ucap Gavin.
"Benarkah?" tanya Ustadz Ilham menatap pada Syana.
Syana dengan cepat menggeleng, tidak tahu harus berbicara apa.
"Kalau kau memang tak mau menikah denganku, Aku tak akan memaksa. Kau masih bisa membatalkan nya sebelum berita ini diketahui oleh orang banyak," ucap Ilham.
Syana kembali menggeleng dengan panik. Syana tak bisa berkata apa-apa..
Syana melihat Ayasa minta bantuan.
__ADS_1
Syana mau kok Kak menikah dengan kak," ucap Ayasa yang di benarkan oleh Syana."Tadi itu hanya salah paham," lanjut Ayasa.
"Salah paham bagaimana Sayang?" tanya Dimas pada istrinya.
"Kami pikir ini calon suami Syana," ucap Ayasa perlihatkan foto yang tadi di perlihatkan nya Syana pada Dimas.
Dimas tertawa, "Oh jadi tadi kamu ingin membatalkan pernikahanmu karena melihat calon suamimu seperti ini?!" tanya Dimas..
Ilham Yang penasaran juga ikut melihat foto yang ada di ponsel Ayasa.
"Ini pak Tohir, dia supirku," jawab Ilham.
"Iya Kak, tadi aku yang salah ngambil foto, aku yang salah paham. Aku pikir dia itu kakak," jelas Ayasa.
"Jadi sekarang kamu mau kabur atau mau tetap menikahi dengan Ilham ?" tanya Dimas.
Kali ini mereka semua melihat pada Syana.
"Kakak, " tanya Syana ragu." Kakak nggak suka mukulin orang kan?!" tanya Syana yang masih takut saat mendengar kata pernikahan.
"Seumur hidupku, aku nggak pernah sekali mukulin orang. Walau orang itu melakukan kesalahan padaku."jawab ustaz Ilham.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya ustaz Ilham balik.
"Aku hanya takut kehidupan Rumah tanggaku seperti sahabatku, yang sering mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Itulah salah satu yang menyebabkan aku selalu menolak saat seluruh keluarga menjodohkanku atau memintaku untuk segera menikah," jelaskan.
"Insya Allah, jika kau menjadi istriku. Aku akan menjagamu dengan baik dan akan berusaha membuatmu bahagia, membimbingmu.Kita bisa tetap selalu bersama hingga ke surganya Allah," ucap ustadz Ilham membuat Syana semakin meyakinkan hatinya untuk menerima sosok ustadz Ilham sebagai calon suaminya.
"Kak, Aku setuju kok menikah dengan Kak, Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat kakak," ucap Syana menerima dengan ikhlas Perjodohan mereka.
"Terus pacar kakak yang 2 itu, gimana?!"tanya Gavin.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Ustadz Ilham.
Syana tertawa bodoh... Ingin rasanya ia memasukkan Gavin kedalam botol dan membuangnya ke laut.
"Mereka pacar. Tapi, cuma dianggap teman," jawab Syana jujur.
"Me-reka?" tanya ustaz Ilham.
"Ibu, tolong anakmu ini," batin Syana.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Mohon dukungannya dengan memberi like, vote dan komennya π
Salam dariku π€
Author m anhaβ€οΈ
Love you all πππ
ππππππππππππππππ
__ADS_1