Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Mengkhawatirkan Ayah


__ADS_3

Arya mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi, namun Ia tetap tak bisa melihat mobil kakeknya.


Bram mengusap dada nya,


"Mas nggak apa-apa?" tanya Mikaila cemas melihat Bram sedari tadi suaminya itu mengusap dadanya.


"Iya, Mas nggak apa-apa,"jawab Bram yang melihat kekhawatiran istrinya.


Mikaila mengambil air minum yang ada di mobil dan memberikannya kepada Abraham.


"Minum dulu Mas," ucap Mikaila menyodorkan air mineral kemasan pada Bram.


Bram mengambil dan langsung meminum nya.


Rasa sesak di dadanya sedikit berkurang setelah meminum air tersebut.


" Mas sejak kapan Zaky dan Gavin berteman? apa mereka memang sering bertemu?!" tanya Mikaila.


"Mas juga tidak tahu, tapi bukannya Gavin tidak terlalu mengenal Zaky ," ucap Bram.


"Mas bener, terakhir kita ketemu Gavin sangat membenci Zaky, lalu mengapa mereka saling berkomunikasi, dan sepertinya mereka sangat akrab?!" ucap Mikaila.


"Maaf Pah, Bunda semua ini kesalahan Arya," ucap Arya ragu.


"Apa maksud kamu ini adalah kesalahan kamu?" tanya Mikaila menatap anaknya yang duduk di depan sambil fokus mengemudi.


Arya tak langsung menjawab pertanyaan bundanya, ia ragu apakah harus menceritakannya atau tidak.


"Arya mengapa kamu mengatakan semua itu salahmu! ceritakan pada Papa, jangan menutupi sedikitpun," ucap Bram menatap anaknya yang ada di sampingnya.


"Sebenarnya mereka bertemu saat di luar negeri Pah, saat Gavin pergi mengurus surat kontrak yang dibatalkan itu," jawab Arya.


"Lalu kenapa Gavin bisa bertemu Zaky di sana?" tanya Mikaila yang duduk di bangku belakang.


"Waktu itu Arya ingin menemui Zaky, Arya hanya ingin mencoba menyelesaikan permasalahan diantara keluarga kita namun Arya tak sengaja melihatnya keluar dari rumahnya seperti sedang dalam masalah. Dan saat itu Zaky meninggalkan rumah nya karena mengetahui perbuatan Mamanya, ia benar-benar terpukul saat itu.


Makanya Arya membawanya dan selama 3 bulan terakhir ini ia tinggal bersama dengan Kelvin." jelas Arya.


"Bunda ga percaya jika selama ini Zaky tinggal serumah dengan Kelvin. Mereka kan tak akur," ucap Bunda.


"Tapi emang begitu kenyataannya Bunda," jawab Arya.


Bram menyandarkan kepalanya kembali mengusap dadanya yang terasa sakit.


"Apa alasan mu membawanya ke sana?" tanya Bram.


"Tak ada alasan lain Pah, waktu itu Arya hanya kasihan melihatnya. Dia juga tak mau pulang kerumahnya, Arya hanya tak ingin dia pergi ke tempat lain makanya Arya membawanya ke Apartemen Kelvin. Namun saat di sana Arya berfikir sambil menunggu nya untuk bisa berpikir jernih dan menerima keadaannya, Arya minta Kelvin mengajarinya mengolah perusahaan yang akan Papa berikan padanya." jawab Arya.


"Zaky juga sudah setuju untuk mengambil alih perusahaan itu, katanya ia tak akan lagi mempermasalahkan permasalahan diantara kita ," lanjut Arya.

__ADS_1


"Maaf Pah, Arya tak bermaksud semakin memperkeruh suasana," sesal Arya.


"Sudahlah kita bahas itu saja lagi nanti, cepat susul kakekmu Papa sangat mengkhawatirkannya," ucap Bram.


Sementara itu, Pak Surya Ayah Isabela juga tak kalah lajunya mengendarai mobilnya. Anin terus saja menyuruh suaminya itu agar menambah kecepatan mobilnya.


"Kalau kamu menyuruh menambahnya lagi kita yang akan masuk rumah sakit, ini sudah batas kemampuan ku ," ucap pak Surya.


"Aku hanya khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ayah." ucap Anindita.


"Semua akan baik-baik saja Tenanglah," mencoba menenangkan istrinya, walau ia sendiri meresa cemas. "Tapi bagaimana ia bisa tahu tentang keberadaan Zaky.," pikir pak Surya.


"Pasti ayah mendengarnya dari salah satu dari mereka," tebak Anin.


"Dengar, kondisi Ayah benar-benar sangat lemah saat ini. Ayah tak boleh mendengar hal-hal yang bisa membuat kondisinya semakin drop," ucap Surya yang menambah ketegangan yang dirasakan oleh Anin..


Sementara di mobil Arandita,


"Ini semua salah kamu Mas," ucap Arandita menyalakan Yoga.


"Kenapa kamu menyalahkan ku, di mana letak kesalahan ku coba?" protes Yoga.


"Iya, kamu kan Asistennya. Seharusnya kau terus mengawasi Mas Bram," ucap Aran.


"Waktu kejadian itu kan kamu lagi hamil, mana mungkin aku meninggalkanmu," bela yoga pada dirinya sendiri.


"Sudahlah kita doakan saja kakek baik-baik saja, Mama tak usah menyalahkan Papa terus," ucap Ayasa yang sejak tadi hanya diam mendengar mamanya selalu mencaci dan menyalahkan Papanya.


Sepanjang jalan Arandita terus memarahi Yoga saking paniknya, Dimas terus menutup telinga Dias, Ia tak ingin anak semata wayang itu mendengar pertengkaran kakek dan neneknya.


Sementara di kediaman Wijaya, Arabela dan Queen terus menerus mandir di teras rumah, David menghampiri mereka.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya David.


"Kami lagi nunggu kakek dan nenek," jawab Queen.


"Bukannya mereka akan menginap di rumah Bram ," ucap David yang tahu jika mertuanya itu berpamitan untuk menginap di rumah Bram.


"Aku juga nggak tahu, katanya Ada masalah jadi mereka pulang. Apa masalahnya aku juga tidak tahu," Jawab Arabela cemas.


"Tadi Gavin telepon aku, katanya Kakek marah dan pulang," tambah Queen.


Beberapa saat kemudian, mereka bisa melihat mobil yang membawa Kakek sudah datang. David dengan cepat menghampiri mobil tersebut bersama dengan Arabela dan Queen. Ibu membuka pintu dan mencoba membantu Ayah untuk keluar.


David langsung memapah mertuanya itu hingga masuk kedalam kamarnya.


Arabela membenahi selimut Ayahnya.


"Ayah kenapa sih," tanya Arabela khawatir .

__ADS_1


"Apa kamu tahu jika Mas mu punya anak dari wanita lain?" tanya Ayah masih sedikit emosi.


"Apa_aa Mas Bram punya anak dari wanita lain," Pekik Bella membuat Ibu memukul lengannya karena terkejut oleh ucapan Arabela.


Arabela hanya mengusap lengannya bekas pukulan Ibu yang lumayan keras membuat lengannya memerah.


"David Apa kau tahu sesuatu tentang anak Bram?" tanya ayah beralih pada menantunya .


"Tidak Yah, Aku sama sekali tidak mengetahui hal itu," ucap David.


Ayah menatap kepada Arabela.


Arabela menggeleng dengan cepat.


"Aku tak tau sama sekali mengenai hal itu ," ucap Arabela.


"Sudahlah kalian keluar saja, Ayah ingin beristirahat," ucap Ayah menyuruh Arabela dan David keluar dari kamarnya.


Mereka baru akan keluar namun Anindita dan suaminya langsung masuk tanpa berkata apa-apa, Mereka langsung melakukan beberapa pemeriksaan kepada Ayahnya.


"Ayah kondisi Ayah sudah tak seperti dulu lagi, Ayah harus menghindari hal-hal seperti ini. Hal-hal yang bisa memicu penyakit ayah," ucap Anindita mengusap-usap tangan ayahnya.


Anindita hanya melakukan beberapa pemeriksaan, Suaminya lah yang lebih tau masalah penyakit Ayahnya.


Setelah memeriksa Surya memberi obat kepada mertuanya, " Ayah istirahat saja, semoga obat ini bisa lebih menyenangkan Ayah" ucap Surya.


"Ayah sudah tak apa-apa, Ayah hanya ingin istirahat. Kalian keluar saja ," ucap Ayah menutup matanya mencoba untuk beristirahat.


Mereka semua saling melihat dan mengangguk,


"Kami keluar dulu, Ayah istirahat lah," ucap Anindita yang dibalas anggukan oleh ayahnya.


Mereka semua pun keluar.


"Kunci pintunya," ucap Ayah.


Ibu menuruti Apa yang ayah katakan Ia berjalan menuju pintu dan menguncinya dan kembali ke samping suaminya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Mohon dukungannya ya dengan memberi


LIKE, VOTE KOMENNYA ❤️🙏


salam dariku Author m anha 🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2