Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Takut Kehilangan.


__ADS_3

Pagi ini Arya bersiap-siap ke sekolah, ia membawa beberapa file-file kantor ke sekolahan.


"Kakak jangan terlalu capek ya, Bunda gak mau kamu sampai sakit karena terlalu banyak pekerjaan," ucap Mikaila saat ketiga anaknya sudah duduk di meja makan.


"Iya Bunda," jawab Arya.


"Kamu juga kelvin, usahakan atur waktu istirahat dan kerja kalian, jangan lupa makan sesibuk apapun kalian.


"Iya bunda."


"Dan Gavin, Bunda tahu kau masih sangat muda untuk bekerja di kantor, tapi bunda harap kau bisa ikut bekerja membantu kakak-kakak mu, sepertinya Papa sudah tak bisa ke kantor lagi," ucap Mikaila yang merasa jika Bram merahasiakan kesehatannya.


"Bunda, apa Papa sedang sakit ?" tanya Kelvin.


Mikaila menghela nafas,


"Bunda juga nggak tahu, bunda sudah tanya ke papa, Papa terus mengatakan jika dia baik-baik saja, tapi Bunda meresa saat ini papa kalian sedang tidak sehat," lirih Bunda Mikaila,


"Bunda, Gavin yakin papa akan baik-baik saja,"


"Maaf ya, kalian harus menggantikan Papa di kantor padahal usia kalian masih seharusnya bermain bersama teman-teman kalian,"


"Enggak apa-apa Bunda, kami senang bekerja di kantor, lagi pula di kantor Arya nggak sendiri, ada Om Yoga,om David, kak Dimas dan kak Dika juga selalu membantuku," ucap Arya.


"Makasih ya, bunda sayang kalian semua," ucap Mikaila menghapus air matanya.


*****


Semenjak Bram sudah tidak lagi ke kantor, Mereka menjadi semakin sibuk, khususnya Arya, ia berusaha mengambil alih semua pekerjaan papanya,


Arya bahkan sampai melepas semua jabatannya di sekolah. Ketua OSIS dan kapten basket.


Tak jarang Arya dan yang lainnya bekerja lembur. Ketidak hadiran Bram sungguh sangat berpengaruh pada Perusahaan, Bahkan baru di bulan kedua Bram tak lagi mengurus pekerjaan kantor, Perusahaan mereka sudah mengalami penurunan.


Mereka saling bekerja sama memulihkan perusahaan Milik keluarga mereka.


Arya menyerahkan semua usaha papanya yang tidak termasuk dalam saham Wijaya grup kepada Kelvin dan Gavin.


Arya tak menyangka jika selama ini Papanya mampu mengurus semua nya dangan sangat baik.


Menjadi pemimpin perusahaan dan menjadi Kepala keluarga.


Gavin yang selama ini tak pernah ke kantor mulai membiasakan diri memakai stelan jas. Tak jarang ia mengambil beberapa pekerjaan yang mengharuskannya pergi keluar kota.


Wijaya school.


Saat jam istirahat Arya masih sibuk di dalam kelasnya, bukan mengerjakan pekerjaan sekolah namun ia mengerjakan beberapa pekerjaan kantor.


Raina menghampiri Arya di kelasnya,


"Kak ini buat kakak ,"Raina menyerahkan sebuah kotak makan di depan Arya,


"Terima kasih ya," ucap Arya masih sibuk dengan laptopnya.


Raina duduk didekat Arya, membuka kotak makan tersebut.


"Raina suapin ya Kak?!" ucap Raina.


Arya dengan patuh memakan makanan yang disuap kan oleh Raina sambil terus memandang ke arah layar laptopnya.


"Kakak sibuk ya, belakangan ini Raina lihat Kakak jarang ke kantin?" tanya Raina.

__ADS_1


"Kamu benar, pekerjaan di kantor sangat banyak. Papa pasti lelah selama ini bekerja sendiri, Aku tidak menyangka Papa bisa mengatur waktu menjaga Bunda, menjaga kami dan semua pekerjaan kantor yang menumpuk. Selama ini aku berpikir karena Papa pemilik perusahaan jadi ia tak perlu bekerja keras."lirih Arya.


"Aku dengar Papa nggak pernah ke kantor lagi ya?" tanya Raina


"Iya, Papa hanya mengerjakan beberapa pekerjaan yang benar-benar tidak bisa diwakili."


"Papa baik-baik saja kan?" tanya Raina.


Arya menghentikan pekerjaannya, ia menghela nafas dan menyandarkan bahunya .


"Aku juga nggak tau, semoga saja Papa baik-baik saja. Maaf ya, aku nggak bisa ngajak kamu jalan-jalan lagi," ucap Arya memandang Raina.


"Nggak apa-apa kok Kak," Raina ngerti.


"Makasih ya sayang," bisik Arya .


"Kak Arya Apaan sih, nanti ada yang dengar," Raina melihat sekelilingnya, untung saja semua teman kelas Arya sedang ke kantin.


"Santai aja sayang," ucap Arya memperjelas kata sayang dan tertawa melihat mata Raina melotot ke arah nya.


"kak Arya ih, ga lucu." ucap Raina berjalan keluar dari kelas Arya.


"Sayang, suapin lagi dong, masih laper nih" teriak Arya, Raina semakin mempercepat langkahnya.


Arya tertawa melihat teman masa kecil sekaligus teman yang mengisi hatinya saat ini.


Ia menghabiskan makanannya dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Sepulang sekolah Arya mengantar Raina pulang kemudian iya melajukan mobilnya ke kantor, pekerjaan kantor sudah menunggunya.


Di kediaman Abraham Wijaya.


Mikaila menghampiri Bram dan memeluknya dari belakang ,


"Mas kenapa di luar, udaranya sangat dingin,"


Bram menarik Mikaila ke pelukannya, mencium puncak kepala istri kesayangannya itu. Menghirup dalam aroma yang sudah menjadi candu buatnya.


"Enggak kerasa ya, anak-anak sudah tumbuh menjadi dewasa,"


"Iya Mas, perasaan baru kemarin kita menikah," ucap Mikaila menautkan tangannya di leher suaminya.


Bram mengangkat Mikaila, mendudukkannya di pembatas balkon.


"Kamu kok makin cantik sih," goda Bram mengecup bibir Mikaila.


"Mas, apa mas merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Mikaila menatap mata Bram.


Bram kembali mengecup bibir istrinya,


"Menurutmu ?"


Mikaila menarik tangannya yang masih melingkar di leher Bram, sehingga wajah Bram mendekat. Mikaila mendaratkan ciumannya di bibir suaminya,


"Menurutku mas merahasiakan sesuatu dariku,


""


"Mas baik-baik saja kan ?" tanya Mikaila ragu, matanya sudah mulai berkaca-kaca


Bram hanya diam.

__ADS_1


"Mas, Mas sakit ya?" tanyanya lagi, kini suaranya sudah bergetar,


Bram tetap diam, menatap mata Mikaila dalam,


"Mas tolong jujur sama aku, Mas baik-baik saja kan? nggak lagi sakit kan ?" air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.


"Bram tersenyum dan menghapus air mata yang ada di pipi istrinya,


"Mas baik-baik saja ,"


"Lalu obat apa yang Mas minum?" tanya Mikaila.


"Obat?!"


"Mas jangan bohong, aku tahu mas mengkonsumsi obat kan, itu obat apa Mas?"


"Hiks, hiks, hiks," Mikaila sudah tak bisa lagi menahan tangisnya,


"Hey, kenapa kau menangis. Mas gak apa-apa," Bram berusaha menenangkan Mikaila.


"Aku takut,"


"Inilah penyebabnya, mas tak memberi tahu mu, mas hanya tak ingin kau bersedih. Jantung Mas sedang tidak sehat-sehat, tapi mas akan melawan penyakit ini sekuat Mas. kamu percayakan?"


Mikaila hanya mengangguk, sebenarnya ia sudah memeriksa obat tersebut dan ia mengetahui jika obat tersebut dikonsumsi oleh orang yang memiliki penyakit jantung.


"Jangan beritahu anak-anak ya ,"


Mikaila kembali mengangguk dan terus mempererat pelukannya, bayangan kehilangan akan suaminya terus terlintas di pikirannya.


"Dulu aku sempat mengeluh saat Ayah menyerahkan perusahaan kepadaku saat aku masih duduk di bangku sekolah, ternyata aku juga melakukan hal yang sama. Aku harus membebani anak-anak karena penyakit ku," ucap Bram mempererat pelukannya, mengingat masa-masa Iya bekerja sambil terus belajar.


Mikaila mendongak,


"Mas, apa Ayah juga mengalami penyakit jantung saat masih seusia Mas?" tanya Mikaila,


"Hhmmmm, bahkan lebih muda dari mas," jawab Bram.


"Mas juga pasti bisa sehat,"


"iya,,,mas janji akan terus sehat sampai kita punya cucu dan cicit."


"Janji ya mas,,, Mikaila ga mau ditinggal" ucap Mikaila kembali menangis.


"Mas janji, jangan nangis dong, nanti cantik mas hilang."


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca,


jangan lupa


πŸ‘‰Like


πŸ‘‰ Vote


πŸ‘‰ Komennya


Author m anha ❀️


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2