
Bram terus berada di ruang kerjanya,memikirkan masalah Dimas dan Ayasa.
Walau hanya beberapa bulan saja tinggal dengan Dimas, Bram yakin Dimas orangnya sangat baik dan bertanggung jawab .Walau ia memiliki sikap humoris dan apa adanya.
"Apakah aku harus membantunya," tanya Bram pada dirinya sendiri.
Mikaila menghampiri Bram yang tengah berdiri di balkon ruang kerjanya menatap kearah bintang-bintang yang berkilauan,
"Kenapa Mas?" tanya Mikaila memeluk Bram dari belakang .
Bram membalikkan badannya dan membalas pelukan istrinya itu, kecupan sayang mendarat di bibir Mikaila.
" Mas hanya sedang memikirkan Dimas ,"ucap Bram.
"Emang kenapa Dimas," tanya Mikaila.
"Sepertinya Dimas mencintai Ayasa,"jawab Bram.
"Ayasa,bukannya Dimas pacaran dengan Syana?"tanya Mikaila.
"Sepertinya mereka sudah mengakhiri hubungannya, dan pagi tadi di kantor Dimas menyatakan kalau dia ingin berhubungan serius dengan Ayasa pada Yoga,"jawab Bram.
"Benarkah?Bukannya Ayasa sama El Barack ya?"tanya Mikaila lagi, kini ia melepas pelukan dari suaminya dan menatap penuh tanya pada Bram.
"Iya, sebenarnya Mas lebih suka Ayasa bersama Dimas ketimbang El Barack,"ucap Bram mencubit hidung istri tercintanya itu.
"Emang El Barack kenapa?, tanya Mikaila semakin penasaran.
"El Barack Anaknya baik, bertanggung jawab, Mas hanya khawatir saja karena kita beda kewarganegaraan,pasti banyak sekali perbedaan di antara kita.Mas hanya takut mereka tak bisa menyesuaikan diri setelah menikah dan lagi kalau ayasa menikah dengan El Barack dia pasti harus ikut dengan suaminya dan masih yakin Yoga tak akan sanggup berpisah dengan Putri kesayangannya itu," jelas Bram panjang lebar.
"Iya sih Mas,kalau sama Dimas pasti disuruh tinggal di rumah Ayasa, selain itu Dimas juga kerja di kantor bareng sama mas Yoga,"ucap Mikaila mengerti.
"Itulah maksud Mas, Apa kamu nggak apa-apa Mas tinggal?"tanya Bram mengarahkan wajah cantik istrinya menghadap padanya.
"Mas mau ke mana?"tanya Mikaila.
" Mas ingin bicara langsung dengan Ayasa sebelum mengambil keputusan, masih ingin tahu apakah dia juga menyukai Dimas atau tidak," Jawab Bram.
"Aku nggak apapa kok mas, lagian kan ada ayah sama ibu di sini.Arsy juga nggak rewel,"ucap Mikaila kembali memeluk suaminya.
"Mas nggak lama kok di sana, begitu sudah bicara dengan Ayasa mas langsung pulang.
Keesokan harinya Bram langsung terbang menggunakan pesawat pribadinya, ia tak ingin membuang-buang waktu dan langsung ke Apartemen Ayasa.
"Om Bram masuk,"ucap Ayasa terkejut saat membuka pintu ternyata yang datang adalah Bram.
"Apa om ganggu?" tanya Bram berjalan masuk.
"Enggak kok om,papa mana?" tanya Ayasa mengira Bram datang bersama Yoga.
"Om datang sendiri," jawab Bram.
"Duduk Om," ucap Ayasa mempersilahkan Bram duduk saat telah sampai di ruang tamu.
Syana langsung mengambil minum dan cemilan untuk Bram.
"Sebenarnya Om datang ke sini ingin bicara serius dengan kamu," ucap Bram menatap serius pada Ayasa.
__ADS_1
"Ada apa Om?" tanya Ayasa.
"Apa kau mencintai seseorang?"tanya berlangsung.
Deg jantung Ayasa serasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan yang tak disangka-sangka dari saudara ibunya itu.
"Maksud Om?"tanya Ayasa.
"Apa kamu menyukai El Barack?" tanya Bram. "Untuk saat ini aku masih menganggap El Barack sebagai teman, nggak ada perasaan lebih."jawab Ayasa.
"Apa kamu setuju menikah dengannya?"tanya Bram lagi.
"Aku terserah papa aja Om," jawab Ayasa.
"Bagaimana dengan Dimas?" tanya Bram melihat Ayasa.
Ayasa yang tertunduk langsung menatap wajah Om nya itu.
" Dimas, kenapa Om menanyakan Dimas," batin Ayasa.
"Apa kamu punya perasaan sama Dimas?" tanya Bram lagi saat tak menjawab mendapat jawaban dari pertanyaan nya.
Ayasa kembali menunduk dan memainkan ujung hijabnya.
"Ayasa om bertanya serius dan tolong jawab sesuai apa yang kamu rasakan,"Ucap Bram masih melihat ponakannya itu.
Ayah menggigit bibir bawahnya, ingin rasanya ia mengatakan jika ia juga mencintai Dimas Tapi entah mengapa mulutnya terasa kaku.
"Dimas cerita ke Om kalau dia sangat mencintai kamu,"ucap Bram tau kalau Ayasa masih ragu cerita padanya.
"Bukannya Dimas pacaran sama Syana?"tanya Ayasa.
Ayasa tersentak mendengar apa yang dikatakan Bram,ia tak pernah mengira Dimas juga mencintainya.
"Sekarang Om tanya sama kamu, Apa kamu mencintai Dimas apa kamu ingin menikah dengan Dimas ataukah dengan El Barack?" tanya Bram penuh penekanan.
"Aku,,aku,,hemmm aku,"Ayasa masih ragu mengakui perasaannya,
"Kamu nggak usah malu sama om,om hanya ingin yang terbaik buat kalian.Kamu sudah om anggap anak om juga,"ucap Bram.
"Iya Om Ayasa juga suka sama Kak Dimas,"ucap Ayasa pelan,
Bram tersenyum mendengar ucapan Ayasa, akhirnya ia mengakui perasaanya.
"Baiklah kalau begitu apa kamu tak keberatan kalau om membantu menyatukan kalian?" tanya Bram lagi.
Ayasa hanya mengangguk menjawab pertanyaan omnya.
"Ya sudah,om enggak bisa lama-lama, kamu tahu sendiri kan Tante kamu masih sangat terluka dengan kepergian bayi kami,ucap bram.
"Iya Om, aku ngerti terimakasih ya Om.Tapi aku nggak tahu gimana caranya bicara sama papa,"ucap Ayasa.
"Masalah papamu biar om yang tangani, intinya kamu juga menyukai Dimas itu sudah cukup," ucap Bram kemudian pamit kembali ke negaranya.
Setelah urusannya selesai Bram benar-benar langsung pulang ke negaranya.
,
__ADS_1
,
"Aku pikir Mas besok pulangnya," ucap Mikaila saat melihat Bram masuk ke kamar.
Bram hanya menghabiskan malam di pesawat
"Untuk apa Mas lama-lama di sana, Mas lebih betah tinggal di rumah bersama kalian," ucap Bram langsung menuju Putri kecilnya yang berbaring di atas tempat tidur.
Arsy langsung tertawa gembira saat mendapat ciuman dari papanya.
"Papa baru sehari nggak ngelihat udah kangen banget," ucap Bram terus mencium perut bayi kecilnya itu membuat Arsy mengeluarkan tawa kecilnya .
Mikaila pikir Bram akan pulang besok,jadi iya memanggil fotografer untuk mengambil beberapa gambar Arsy.
Mba Siti mengetuk pintu,
"Ada apa Mba?" tanya Mikaila menghampiri Mba Siti.
"Itu bu ,fotografernya sudah datang," ucap Mba Siti .
"Oh ya,suruh tunggu dulu ya Mba,"ucap Mikaila.
"Iya Bu,"ucap Siti turun ke bawah menemui sang fotografer.
"fotografer, untuk apa?" tanya Bram.
" Aku mau foto Arsy untuk kenang-kenangan, aku lihat di sosial media banyak foto bayi-bayi yang lucu," ucap Mikaila menggendong Arsy.
"Mas kita ke bawah,"ajak Mikaila.
"Kalian aja dulu, Mas mau mandi."ucap Bram.
Mikaila turun ke bawah,ia menyewa fotografer handal. Walau harganya mahal itu tak masalah yang penting hasilnya bagus dan profesional.
Fotografer mulai mendandani Arsy ia melilit kain panjang di badan Arsy agar terlihat cantik, memasang bandana dan mulai mengambil beberapa gambar. Baru satu warna yang dipakai Arsy,Bram turun dan melihat putrinya terlilit kain.
"Sayang apa-apaan ini?" ucap Bram langsung melepas kain panjang yang melilit Arsy. "Kenapa dibuka?"tanya Kayla mencoba menghentikan Bram..
"Udah, enggak ada foto-foto."Bram mengusir sang fotografer dan membawa bayi mungilnya itu naik ke kamar.
" Maaf ya Kak,"ucap Mikaila tak enak pada sang fotografer .
"Nggak apapa Bu, mungkin papanya kasihan lihat anaknya," ucap sang fotografer menahan tawanya.
Walau hanya satu foto tapi Mikaila tetap membayar full bayaran mereka.
Arsy Putri Abraham Wijaya.
ππππππππππ
Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya dengan memberi like ,vote dan comment sebanyak-banyaknya.π
__ADS_1
πsekedar info ya teman-teman, kita sudah masuk ke bab bab terakhir cerita.. salam hangat dari aku,,,m anha I love youπ