
Walau hanya mengundang kerabat dekat, tetap saja acara pernikahan nya di adakan dengan mewah,walau bagaimanapun Arabela tetaplah putri dari keluarga Wijaya.
David yang tak memiliki keluarga lain di dampingi oleh keluarga pak Surya,Meraka mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan di apartemen David.
"Apa kakak datang ke acara pernikahan David dan Arabela?"satu pesan terkirim ke ponsel Jabbar.
"kayanya aku ga bisa,mungkin hanya ibu yang datang,"pesan balasan Jabbar masuk di ponsel Isabela.
"kenapa kak?"tanya Syana kepo, melihat raut wajah Isabela menjadi cemberut saat membuka pesannya.
"mau tau aja ,"meneruskan menghias seserahan yang akan dibawa ke acara pernikahan David nanti.
"Jabbar ga bisa datang,"tanya ibu.
"iya Bu,katanya lagi sibuk."
David yang sudah baikan ikut bergabung dengan mereka,
"makasih ya mba,sudah bantu persiapannya."ucap David duduk di sofa.
"iya,ga usah sungkan.sebentar lagi kamu kan akan menjadi keluarga kami,jadi sekarang atau nanti sama saja.Mba sudah menganggap kamu bagian dari keluarga."jawab Anin.
David merasa sangat senang, keluarga Wijaya mau memaafkan dan menerimanya menjadi bagian dari mereka.Ia merasa memiliki keluarga baru,apalagi ada bayinya di rahim wanita yang sangat dicintainya dan sebentar lagi akan menjadi istrinya.
David sangat bersyukur masih ada kebahagiaan yang tersisa untuknya,setelah selama ini hidup dalam kegelapan.
Acara sudah semakin dekat,semua keluarga semakin sibuk.
Sementara di tempat lain seorang wanita baru saja di keluarkan dari penjara,ia mengangkat jempolnya saat berjalan keluar.
Seorang wanita lainnya tersenyum melihat temannya keluar dari penjara.
"kamu ga berhak bahagia,"ucapnya.
Hari pernikahan pun tiba,
"mas kamu ko belum siap,"tanya Mikaila yang melihat Bram masih bermain bersama anak-anaknya.
"mas lagi ingin di rumah aja sama anak-anak,kamu pergi saja sama ibu.Aku sudah minta pak Slamat mengantar kalian,"ucap Bram dan mengecup bibir Mikaila.
"mas yakin ga mau pergi,"
"hemm,"
"kalau mereka nanyain mas,aku jawab apa?"
"bilang aja aku lagi sakit perut,"jawab Bram menggendong Gavin.
"papa tatit peyut,"tanya Gavin menatap Bram dengan mata kecilnya.
Bram mencium seluruh wajah Gavin hingga ia tertawa karena kegelian.
Arya dan Kelvin yang melihat adiknya itu,menyerang papanya dengan memukuli papanya menggunakan bantal guling kecilnya.
Mereka tertawa bersama sambil terus saling pukul dan melempar bola mainannya.
Mikaila akhirnya pergi bersama ibunya dan di antar pak Slamet.
Anindita menelfon Mikaila agar ke apartemen David,
"pak,kita ke apartemen David ya,"
"iya Bu,"jawab pak Slamet.
__ADS_1
Mikaila datang bersama David dan rombongannya,
"Bram mana?"tanya ibu tang tak melihat putranya itu di rombongan.
"Bram ga datang Bu,"jawab Mikaila.
"dasar anak itu,"ucap ibu kesal.
Acara pernikahan berlangsung lancar,semua tamu undangan datang silih berganti hingga sore hari.
Mikaila dan ibunya pamit pulang.
"pak kita mampir ke minimarket dulu ya,"ucap Mikaila.
"iya Bu,"
Pak slamat memarkirkan mobilnya di depan minimarket, Mikaila ingin membeli popok dan beberapa kebutuhan Anak-anak nya.
Saat sedang memilih barang-barang yang ia butuhkan, Mikaila merasa ada yang mengawasinya.
Ia menghentikan kegiatannya dan menengok kekiri kekanan namun tak ada yang aneh.Ia kembali melanjutkan mengambil popok dan memasukkannya ke keranjang.
Seorang wanita dengan jaket Hoodie memakai topi dan masker di wajahnya tak lupa kacamata hitam tersenyum penuh arti menatap Mikaila dari kejauhan.
Mikaila sampai kerumah,ia kembali menengok ke arah pintu gerbang dan melihat seseorang melambai kepadanya lalu berjalan menjauhi pintu gerbang.
"siapa dia,"pikir Kaila dan masuk ke dalam rumah.
"unda,,,"teriak Kelvin menghampiri bundanya.
"mana papa?"tanya Kaila menggendong Kelvin.
"titu,"tunjuknya di ruang keluarga.
Mikaila berjalan menuju ruang yang di tunjuk Kelvin.
"gimana caranya,"tanya Bram sambil duduk menatap layar televisi,ia sedang menonton kartun bersama anak-anak nya.
"lancar,ga ada masalah apa-apa,"
"emang wajah David sudah sembuh?"
"udah kok,udah tampan lagi,"
"cih,tampan juga mas mu ini.Sepertinya aku kurang keras menghajarnya waktu itu."ucap Bram merengkuh bahu istrinya.
Mikaila bersandar di dada Bram,ia kembali mengingat sosok yang di lihatnya di gerbang tadi.
Makan malam.
"Gimana kabar ayah Bu?"tanya Mikaila.
"sehat,ayahmu lagi jagain buah-buahan nya yang sebentar lagi panen.Makanya ga bisa datang kesini."
"padahal aku kangen banget Bu sama ayah,"
"kalau ada waktu nanti kita bawa Kelvin dan Gavin ke kampung,"ucap Bram.
"janji ya mas,"
"iya,tapi untuk sekarang jangan dulu ya,mas banyak kerjaan dan ga bisa di tinggal."
"iya aku ngerti ko mas."
__ADS_1
Setelah menidurkan Anak-anaknya, Mikaila berdiri di balkon kamarnya,melihat bulan yang tengah purnama.
Lagi-lagi ia melihat sosok yang sama, seseorang dengan jaket Hoodie lengkap dengan topi dan maskernya.
Mikaila terus memperhatikannya,orang itu menunjuk Mikaila dan mengarahkan tangannya ke lehernya sendiri dengan gerakan memotong lehernya dan kembali menunjuk Mikaila.
Mikaila tersentak saat Bram memeluknya dari belakang,
"mas bikin kaget aja,"ucap Mikaila memukul lengan Bram yang mendekapnya.
Mikaila kembali melihat ke arah orang tadi dan ia sudah tidak di sana lagi, Mikaila mencari-cari ke sudut lain namun ia masih tak melihatnya.
"lihat apa sayang?"tanya Bram.
"bukan apa-apa,,"jawab Mikaila.
Bram mengangkat Mikaila masuk ke kamar mereka.
Di tempat lain.
Arabela berbaring membelakangi David,ia Manarik selimut menutupi hingga keleher nya.
"sayang,"David memegang bahu Arabela yang sudah sah menjadi istrinya itu..
Arabela tersentak dan langsung duduk menepis tangan David.
"maaf,"ucap Arabela menunduk.
"kamu ga apa-apa kan?"tanya David yang melihat tubuh Arabela gemetaran.
Arabela menggeleng,ia kembali menarik selimut seolah menutupi dirinya dari David.
David mengerti kalau Arabela masih belum bisa melupakan kejadian di mana ia memaksanya.
"tidurlah,kamu dan bayi kita pasti lelah.Aku akan tidur di sofa."ucap David mengambil bantal dan berjalan ke sofa.
"maaf,"ucap Arabela.
"selamat tidur,"ucap David.
Arabela merebahkan tubuhnya dan menutup matanya, sebenarnya ia juga ingin tidur dengan David,namun ingatan kejadian malam itu terus terbayang di benak nya.Bahkan tubuhnya masih menolak david.
Akhirnya mereka menghabiskan malam pengantin dengan David tidur di sofa dan Arabela tidur di kasur empuk miliknya.
Pagi hari Mikaila membuka tirai jendela kamar tidur nya, pandangannya langsung ke luar pintu gerbang.
"mungkin orang yang kebetulan lewat,"gumamnya terus menatap gerbang rumahnya yang menjulang tinggi.
Bram membuat pagar pembatas antara rumahnya dan sekitarnya dengan sangat tinggi dan kokoh,ia tak ingin rumahnya gampang di akses oleh orang lain.Selain pak Wahyu Bram juga mempekerjakan beberapa satpam di luar gerbangnya.
"aaagh"pekik Mikaila saat berbalik ada Bram di hadapannya.
Bram tertawa melihat tingkah istrinya itu,
Mikaila yang tidak terima dikejutkan dan di tertawai oleh Bram memukulinya dengan guling yang sedari tadi ia peluk.
Bram terus menghindari pukulan Mikaila dan terjadi keributan di kamar itu.
Anak-anak yang mendengar keributan di kamar papa dan bundanya yang melarikan menghampiri mereka.
Pintu pembatas antara kamar mereka memang jarang ditutup.
Saat masuk dan mendapati bundanya tengah memukul tubuh papanya dengan guling,mereka langsung berlari mengambil guling kecil mereka dan ikut membantu memukuli papanya.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir 💗🙏
Jangan lupa like dan komennya.