Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] GAGAL.


__ADS_3

Bram juga menyusul Anindita masuk kedalam rumah, tadi ia melihat Arya dan Mikaila yang berlari masuk kedalam rumah.Namun, Ia berpikir mungkin saja itu tidak begitu penting, tetapi saat melihat Anindita juga ikut berlari masuk ia pun menjadi khawatir, takut sesuatu yang buruk terjadi kepada istrinya atau putranya.


Bram melihat Anindita masuk ke dalam sebuah kamar, Ia pun ikut masuk dan melihat Raina terbaring di tempat tidur dan Mikaila yang duduk di sisi-nya terlihat begitu khawatir.


"Ada apa dengan Raina?" tanya Bram menghampiri Mikaila.


"Enggak tau juga Mas, tadi Raina tiba-tiba pingsan di kamar mandi," jawab Mikaila.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Bram melihat kakaknya Anindita yang masih sibuk memeriksa kondisi Raina yang terlihat begitu lemas. Raina terus memegang tangan Arya dan menutup matanya, wajahnya terlihat begitu pucat.


"Raina apa bulan ini kalau sudah menstruasi?" tanya Anindita, Raina hanya menggeleng tanpa membuka matanya ia merasa sangat pusing.


"Kapan terakhir kau menstruasi?" tanya Anindita lagi.


"Aku lupa Tante," lirih Raina masih dengan mata tertutup.


"Raina belum pernah menstruasi selama kita menikah," jawab Arya.


"Aku terakhir dapet seminggu sebelum menikah," jawab Raina yang baru mengingat nya.


Anindita tersenyum dan mengelus lengan Raina, "Sepertinya kau sedang hamil."


"Hamil!" seru ketiganya.


"Apa Mbak bilang tadi?! Raina hamil?" ulang Mikaila ingin memastikan ia tak salah mendengar kabar yang sangat menggembirakan bagi mereka.


"Iya, kemungkinan besar dia hamil.Tapi, untuk memastikannya kita harus memeriksanya terlebih dahulu. Besok bawalah Raina ke klinik untuk lebih memastikannya," ucap Anandita.


"Alhamdulillah.Mas, kita akan punya bayi," ucap Mikaila memeluk suaminya.


"lho, kok Bunda yang punya bayi, ini kan bayi aku sama Raina," protes Arya.


"Iya, itu juga bayi kami," kekeh Bunda Mikaila.


"Sekarang ini kamu istirahat saja dulu," ucap Anindita yang melihat wajah Raina begitu pucat.


"Apa enggak ada obatnya Tante?" tanya Arya.


"Usia kandungannya masih sangat muda, sebaiknya kita menghindari pemakaian Obat sebelum memastikan kondisi kandungan nya." jawab Anindita.


"Raina apa kau ingin makan sesuatu nak?" tanya Mikaila mengusap rambut Raina.


Raina menggeleng, ia mengeratkan pegangannya pada Arya saat Bunda Mikaila menyebut kata makanan perutnya tiba-tiba terasa mual kembali.

__ADS_1


"Raina kau tak apa-apa?" tanya Arya yang merasakan genggaman tangan Raina.


"Aku mau muntah lagi Kak," ucap Raina mencoba bangun dari tidurnya.Namun ia kembali pusing.


"Kamu di sini saja, Kakak ambilkan tempat muntah," ucap Arya berlari keluar kamar dan mengambil tempat muntah untuk Raina.


Raina kembali memuntahkan isi perutnya. Namun, hanya cairan yang ia keluarkan.


Mikaila dengan setia memijat tengkuk menantunya, setelah muntah, Mikaila memberikan air mineral pada Raina agar perutnya tidak begitu kosong.


"Bunda ambilkan cemilan saja mau? atau kamu mau makan buah," tawar Mikaila, ia tahu bagaimana rasanya saat seperti itu.


Raina pun mengangguk, "Buah saja bunda," lirinya. Mikaila berdiri untuk mengambilkan buah.


"Biar aku aja yang mengambilkannya," ucap Bram menawarkan diri kemudian langsung keluar mencari apa yang diinginkan menantunya. Bram juga senang mendengar Raina hamil, itu berarti sebentar lagi akan menjadi seorang kakek. Dia tak kalah bahagia dari Arya.


"Kamu istirahat dulu ya, Tante mau menemui tamu dulu, nggak enak kalau Tante nggak menjamu mereka," pamit Anindita pada Raina.


"Iya Tante, makasih," jawab raina.


"Raina biar kami saja yang menjaga. Mbak," ucap Mikaila.


Anindita pun Kembali ke tempat acara menemui para tamu yang datang memberi selamat kepada mereka, acara pernikahan Ilham dan Syana berlangsung penuh kebahagiaan, teman-teman Syana juga mulai berdatangan memberi ucapan selamat, Syana menggandeng lengan ustadz Ilham dan memperkenalkannya pada teman-temannya.


Syana juga tak ragu mengatakan pada suaminya jika mereka lah adalah mantan kekasihnya yang waktu itu ia putuskan.


Ustaz Ilham hanya mengangguk dan melihat istrinya, ia kembali melihat sifat berbeda istrinya dari kebanyakan wanita pada umumnya. Jika biasanya, para wanita tak akan melakukan hal yang baru saja Syana lakukan.


Ustadz Ilham masih harus lebih mengenal seperti apa sifat dan karakter istrinya ini, ia ingin mencari tahu terlebih dahulu karakter seorang Syana yang ia nikahi agar ia tak salah dalam menasehati dan membimbingnya kelak.


Para tamu mulai berpamitan, acara hanya berlangsung sampai sore hari, tak terlalu banyak tamu undangan yang datang hanya keluarga dan beberapa kerabat saja dari kedua mempelai, juga beberapa teman-temannya Ilham dan Syana.


Para tamu undangan sudah pulang termasuk keluarga ustadz Ilham, hanya keluarga inti saja yang tersisa.


Mereka semua beristirahat sejenak kemudian kembali berkumpul saat makan malam tiba.


Saat makan malam Bram mengumumkan jika sebentar lagi keluarga mereka akan bertambah satu orang lagi, Arya akan menjadi seorang ayah dan ia akan menjadi seorang kakek. Berita itu membuat semua keluarga khususnya ayah dan ibu Bram sangat bahagia. Hari ini Pak Wijaya mendapat dua kebahagiaan, ia akan menjadi seorang buyut lagi dan cucunya Syana juga sudah menikah. Salah satu yang sering kakek pikirkan adalah Syana yang belum menikah Di Saat usianya sudah sangat matang.


Setelah makan malam, semua kembali ke kediaman mereka masing-masing termasuk keluarga Abraham.


Ini adalah malam pertama Syana, ia pun masuk ke kamar dan melihat ustaz Ilham duduk di Salah satu sisi tempat tidur sambil memainkan ponselnya, ada rasa bahagia tersendiri dihati Syana saat melihat sosok ustaz Ilham ada di kamarnya. Ia pun dengan cepat menuju ke lemari pakaiannya dan mengambil piyama yang sudah ia siapkan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Syana melihat pantulan dirinya di cermin, ia mengenakan piyama yang begitu seksi yang nyaris memperlihatkan bagian dadanya, memberi sedikit warna di bibirnya dan memakai parfum. Syana merasa malu saat memikirkan apa yang akan mereka lakukan nanti. Malam ini adalah malam pertamanya, bayangan malam panas dengan ustadz Ilham terus terbayang di benaknya, wajahnya sampai memerah karena membayangkan hal itu.

__ADS_1


Sebelum ia Keluar Syana kembali memastikan penampilannya, "Oke aku sudah siap," ucapnya dengan jantung yang berdebar semakin kencang.


Saat akan memegang gagang pintu, satu pesan masuk di ponselnya. Syana mengernyitkan keningnya saat melihat isi pesan tersebut.


"Kenapa Gavin mengirim kan foto ini," gumam Syana sembari membuka pintu mengabaikan isi pesan Gavin yang menurutnya tak penting.


Gavin mengirim kan foto obat tidur dosis tinggi.


"Saat ini aku tak membutuhkan obat tidur yang aku butuhkan obat lain," batin Syana.


Syana berjalan keluar dengan piyama seksinya, ia sengaja membiarkan kancing atasnya terbuka memperlihatkan bagian dadanya.


Dugaannya benar, suaminya terus melihatnya. Syana hingga ia duduk di sampingnya.


ustadz ilhan mengedipkan matanya saat keterpesonaan nya buyar ketika Syana menyentuh tangannya, "Itu minuman apa?" tanya Syana melihat Ilham memegang segelas jus yang sudah nyaris habis.


"Jus alpukat dari Gavin," jawab ustaz Ilham.


Syana membulatkan matanya, "Dari Gavin?" pekiknya.


"Iya ini dari Gavin, emangnya ada apa?" tanya ustaz Ilham sambil menguap.


"Oh tidak, jangan bilang Gavin memberikan obat itu diminum Ilham," batin Syana menjerit membayangkan malam pertamanya akan gagal.


Syana langsung mengambil gelas itu, "Jangan diminum lagi," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Ilham melihat heran pada Syana yang terlihat begitu panik.


Syana berjalan menyimpan gelas tersebut di atas meja dan saat kembali ia melihat ustadz Ilham berbaring dan langsung tertidur pulas.


"Gaviiiiiin," jerit Syana dalam hati. Bayangan malam panas yang akan mereka lakukan malam ini tiba-tiba menghilang dan tergantikan bayangan dirinya yang menghajar Gavin tanpa ampun.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


love you all 💕💕💕

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2