
Hari ini Raina pulang ke kediaman Abraham Wijaya, disana Sudah ada kedua Kakek dan Nenek dari Papa serta Kakek dan Nenek dari bunda Calon suaminya.
Meraka semua berkumpul di kediaman Bram.
Kedua orang tua Bram yang mengetahui besan mereka datang ikut menginap di rumah Anaknya.
Mereka jarang bertemu, hanya saat ada acara saja mereka bisa kembali bertamu. Jarak tempat tinggal mereka cukup jauh bagi ayah Bram yang sudah sakit-sakitan.
Ibu Mikaila langsung menghampiri Raina saat melihat Raina datang bersama dengan Arya.
"Nenek sangat senang kalian akan menikah," ucap Nenek memeluk Raina dan mengusap punggungnya.
Raina hanya tersenyum dibalik cadarnya mendengar ucapan Nenek Arya yang sudah dianggap sebagai Nenek nya sendiri.
Raina kemudian menghampiri semua keluarga Arya dan ikut duduk bergabung bersama mereka.
"Raina kita ke kamar Bunda yuk, Bunda sudah menyiapkan seserahan untuk kamu. Coba kamu lihat dulu!" ucap Bunda Mikaila mengajak Raina untuk melihat seserahan yang baru dibelinya.
Semua pun ikut dengan Mikaila kekamarnya, Arsy dan kedua neneknya juga ikut.
Mereka semua ikut Mikaila dan Raina,
Mereka juga ingin melihat seserahan yang disiapkan oleh Mikaila.
"Bagaimana kamu suka?" tanya Mikaila mulai membongkar barang-barang tersebut.
"Suka lah Bunda, ini cantik-cantik semua," ucap Raina melihat barang-barang tersebut.
Arsy ikut membongkar barang-barang yang masih ada di dalam paper bag.
Ia mengeluarkan semuanya.
"Bunda enggak beli untuk Arsy!"ucap Arsy melihat barang itu semuanya untuk orang dewasa.
"Ini kan untuk pengantin wanita, emang Arsy juga mau jadi pengantin?!" tanya Nenek.
"Mau dong Nek, Arsy juga sudah pesan baju pengantin yang akan dipakai nanti!" ucap Arsy yang memang mereka sekeluarga sudah melakukan fitting baju untuk acara persiapan pernikahan Raina dan Arya nanti.
"Oh ya, kok Arsy nggak aja Nenek hm' pasti Arsy nanti terlihat sangat cantik," rayu Nenek yang melihat cucunya itu sudah mulai berkaca-kaca karena semua barang itu untuk Raina.
Arsy kembali tersenyum dan mulai menceritakan model baju yang akan di pakainya nanti.
Semua mendengar celotehan Arsy sambil mulai menghias seserahan tersebut.
Meletakkannya ke dalam sebuah kotak yang cantik dan memberikan hiasan.
Beberapa Asisten rumah tangga juga membantu mereka menghias seserahan tersebut.
Saat malam hari!, semua berkumpul di meja makan, saat waktu makan malam.
Suasana makan malam kali ini sungguh sangat meriah, karena adanya ke empat orang tua mereka yang masih lengkap. Namun ada satu yang mengganjal di hati Mikaila, salah satu putranya tak hadir di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Kenapa Kelvin belum datang ?" tanya Ibu Mikaila.
"Iya Bu, Kelvin masih ada mata kuliah katanya yang harus dibereskan." Jawab Mikaila.
"Ibu sangat kangen dengan anak itu, sudah lama Ibu tidak melihatnya," ucap Ibu Mikaila.
"Dia baru datang dua hari lagi Ibu ," ucap Bram.
"Apa masih lama dia kuliah di sana?" tanya ibu Bram.
"Sekitar setahun lagi Bu," ucap Bram singkat karena masih mengunyah makanannya..
"Mudah-mudahan saja kuliahnya cepat selesai, Aku kasihan bu dia sendiri disana, apalagi saat seperti ini kita lagi ngumpul dia nggak ada," ucap Mikaila merasa sedih.
"Itukah demi kebaikannya, dia pergi untuk belajar! untuk masa depannya dia!, jadi kamu tak usah bersedih seperti itu, itu tak baik," ucap Ayah Mikaila menasehati putrinya.
"Lagian Sekarang kan sudah zaman canggih, kalian masih bisa berkomunikasi Walau jaraknya cukup jauh," ucap Ayah Bram.
Mereka pun mulai makan dengan diam. Selesai makan mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka di ruang keluarga.
Semua berkumpul dan duduk di atas kursi kecuali Gavin dan Arsy, mereka lebih suka duduk melantai sambil memakan cake yang baru dibeli bundanya.
"Bagaimana persiapan pernikahan nya?" tanya Ibu bram.
"Sudah 90%. Nak, bentar lagi selesai. hanya tinggal membereskan sedikit saja ," ucap Arya yang terus memantau persiapan pernikahannya.
"Sebaiknya mulai besok kau tidak usah ke kantor! takutnya kau kelelahan dan terjadi sesuatu!. Tak baik calon pengantin terus keluar," ucap ibu Mikaila .
"Serahkan saja pekerjaanmu kepada yang lain, tak usah bekerja dulu. Kan ada David, Yoga, Dimas dan juga ada Dika yang bisa mengerjakannya," ucap Papa Bram.
"Iya, Papa juga akan membantu mengerjakan pekerjaan mu.," ucap Bram.
"Tidak, tidak usah kau tidak usah bekerja," ucap ibu yang khawatir!,
Setelah mengetahui jika anaknya juga memiliki penyakit yang sama dengan suaminya. Ibu sangat sedih. Ia tahu betul resiko apa saja yang di dapatkan jika Bram memaksa untuk bekerja.
"Iya Mas, masih banyak yang bisa mengerjakannya. Gavin kamu kerjakan ya semua pekerjaan Kakak kamu," ucap Mikaila pada Gavin yang sejak tadi hanya diam memakan cake bersama Arsy.
"Iya Bunda," ucap Gavin.
"Emang kamu bisa?" tanya Arya menggoda adiknya dan ikut menyodokkan kue yang ada di depan adiknya itu.
"Bisa dong! kalau begitu aja si kecil," ucap Gavin menyombongkan diri.
"Kalau kecil Kenapa kamu sampai ke luar negeri segala untuk memperbaiki kesalahan mu?!" ucap Arya.
"Iya itu kan emang kesalahan Gavin, Gavin yang lupa akan janji kami, jadi sudah seharusnya Gavin yang pergi menyelesaikannya sendiri.
"Gavin, kakek berharap kamu juga sudah Bisa membantu kakak-kakakmu. Kakek dengar kalau kamu masih sering bolos masuk kantor?!"
Gavin hanya terdiam, memang benar dia sering tidak masuk kantor.
__ADS_1
Ia keluar dari rumah, namun tak sampai ke kantor! entah kemana ia pergi.
Cake yang dimakan Gavin dan Syahidah sudah habis, Gavin membersihkan meja dan membawa piring-piring tersebut ke dapur.
Ponsel Gavin terus berdering! mengganggu pembicaraan mereka. Ibu Bram yang duduk di dekat ponsel Gavin mengambil ponsel tersebut dan melihat nama Zaky yang tertera di sana.
"Zaky," ucap Ibu Bram membaca nama panggilan yang ada di layar ponsel Gavin.
Semua yang mengetahui kebenaran Zaky lihat ke arah Ibu Bram, mereka semua terdiam. Dering ponsel membuat mereka menjadi tegang.
Semua memperhatikan tangan ibu yang menekan tombol untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, ini siapa?" tanya ibu.
"Gavin ada Bu?" tanya Zaky dari balik telfon
"Gavin sedang ke dapur, kamu telepon saja sebentar lagi," ucap ibu dan mematikan panggilannya.
Semua bernafas lega melihat ibu meletakkan ponsel Gavin kembali ke meja.
Gavin datang dan langsung kembali duduk di dekat Arsy.
"Gavin tadi ada yang nelpon mu!" ucap nenek saat Gavin baru duduk.
"Siapa Nek?" tanya Gavin memeriksa ponselnya.
"Teman kamu namanya Zaky, itu Zaky teman SD kamu yang sering mukulin kamu dulu?!" tanya ibu yang sering mengantar Gavin ke sekolah.
Gavin melihat panggilan masuk,
"Oh bukan, ini bukan Zaky yang itu Nek, ini Zaky anak Papa yang ada di Batam," ucap Gavin tanpa dosa.
Semua melihat ke arah Gavin, Gavin yang baru sadar dengan apa yang di ucapkan nya, langsung menggigit bibir bawahnya. Dan memutar bola matanya menatap Nenek dan Kakeknya yang menatap penuh tanya padanya.
"Apa maksud kamu Gavin?"tanya Nenek.
"Anak Papa mu bagaimana?" tanya Kakek.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
Beri dukungan kalian ya , dengan memberi
LIKE, VOTE, KOMENNYA π
Salam dariku π€
Author m Anhaβ€οΈ
ππππππππππππππππ
__ADS_1