
David dan Arabela menemui Bram di kantornya,
"kak kenalin ini David,"ucap Arabela saat Bram baru masuk ke ruangannya.
"David,"ucap David mengulurkan tangannya.
"Bram, silahkan duduk,"ucap Bram
Arabela menyerahkan berkas-berkas David.
Bram menggeleng melihat kelakuan adiknya itu.Ia membuka-buka berkas yang di berikan Bela.
"punya kamu mana,"Tanya Bram mencandai adiknya.
"Minta aja sama ibu,"jawab Arabela ketus.
Bram mempelajari berkas-berkas David dan menanyakan beberapa hal kepadanya.
"Kalian bisa bekerja mulai besok,mas yoga akan menjelaskan apa saja pekerjaan kalian."
"makasih ya mas,"
"untuk kamu David,kami harus melihat dulu pekerjaanmu,kalau kamu bisa bekerja dengan baik baru bisa tandatangani kontrak kerja."
"iya mas,saya mengerti,"jawab David menjabat tangan Bram.
Mikaila melihat kalender,
"kenapa aku belum dapat ya,
seharusnya aku dapat di awal bulan,ini sudah akhir bulan,mungkin karena aku terlalu lelah.
Tapi ini sudah sangat terlambat,
nggak mungkin aku,,,ah pasti aku sedang capek aja."berbicara pada dirinya sendiri.
Hari-hari bahagia di lalui Mikaila dengan penuh kebahagiaan,bisa melihat tumbuh kembang putra kesayangannya dan mendapat kasih sayang dari suaminya.
Mikaila merekam saat Arya berusaha untuk duduk sendiri dan mengirimkannya kepada Bram.
Bram memutar Vidio itu berulang-ulang.
"makasih sayang Vidio nya."balas Bram.
Rasa lelahnya seolah sirna walau hanya melihat rekaman putranya.
Ia menyimpan banyak rekaman dan foto-foto di ponselnya,Mikaila selalu mengirim foto dan Vidio kepadanya agar Bram juga bisa melihat tumbuh kembang putra mereka walau sedang sibuk bekerja.
Saat harus keluar kota atau keluar negri foto dan video kiriman Mikaila itulah yang menjadi pengobat rindu nya.
Malam ini ibu Bram mengundang semua anak anaknya untuk makan malam di rumah besar.
Semua keluarga berkumpul,
Mikaila menarik Isabela ke kamarnya .
"ada apa Tante?"tanya Isabela.
"aku mau nanya sesuatu,"ucap Mikaila pelan.
Mikaila mengunci pintu dan menarik Isabela duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Emmm gimana ya ngomongnya,"Mikaila bingung memulai dari mana.
"ngomong dari mana aja Tante,pasti aku ngerti,"ucapnya membanggakan diri.
"emmm,aku ko ga dapet ya bulan ini?"
"Tante hamil lagi?"
"huss jangan berisik,belum tau juga,makanya aku nanya kamu kan dokter."
"emangnya Tante kapan terakhir haidnya?"
"sekitar tanggal 2 atau 3."
"Tante belum dapet bulan ini?"
__ADS_1
Mikaila menggeleng.
"tunggu di sini dulu ya Tante."
Mikaila mengangguk.
Isabela ke kamarnya dan membawa kembali tasnya.
"Tante baring dulu,"
Isabela memeriksa dengan teliti kondisi Mikaila.
"kayanya Tante memang hamil deh,untuk lebih jelasnya pakai tespek aja."
"kamu punya tespek,?"
"taadaa,aku ambil di tas ibu."
Mata Mikaila mulai berkaca-kaca.
"aku ga mau hamil dulu,"
"siapa yang hamil? tanya Arabela yang tiba-tiba muncul.
Mereka saling pandang,Arabela menatap horor Isabela.
"kamu hamil?"tanyanya pada Isabela.
"ihhh enak aja,aku masih perawan tau.Nih kayanya Arya akan jadi kakak deh."
"kakak ipar hamil lagi?"
Melihat Mikaila yang sudah terisak.
"Kakak ko nangis sih?"ucap Arabela mengusap punggung kakak ipar nya itu.
"kan belum pasti,makanya di tes dulu Tante"
Meraka membawa Mikaila ke kamar mandi.
"ayo Tante pipis dulu"
"kenapa kakak takut,kan kakak punya suami."
"emangnya Tante ga program ber-KB,?"
Mikaila menggeleng.
"ayo kak pipis"
Mikaila dengan lesu masuk dan pipis di wadah yang diberikan Isabela.
Berjalan lunglai keluar dan menjatuhkan tubuhnya di kasur.
Dengan semangat 45 Isya dan Bela mencelupkan alat tespek ke urin Kaila.
"berapa lama hasilnya terlihat?"tanya Arabela
"bentar lagi"ucapnya sambil terus melihat alat itu bekerja.
Perlahan alat itu bekerja dengan cepat terus naik dan satu garis muncul,kembali naik dan melewati tanda garis kedua.
Garis kedua pun berubah warna menjadi merah yang menandakan hasilnya positif.
"positif"ucap Isabela pelan.
Mereka berdua kegirangan di dalam kamar mandi, berpelukan sambil berjingkrak-jingkrak tak karuan tanpa mengeluarkan suara. meluapkan kegembiraanya.
Mereka berjalan keluar di ikuti tatapan memelas Mikaila.
Mereka ingin tertawa melihatnya namun berusaha di tahannya.
"Bagaiman hasilnya?"
Isabela memberikan tespek tadi.
Mikaila mengambil nya tapi enggan untuk melihatnya.
__ADS_1
Lama ia memegang benda itu dan akhirnya memberanikan diri melihatnya.
Matanya melotot saat melihat garis 2 yang tertera di sana.
"Aaaaaa,"Mikaila histeris saat mengetahui kalau dirinya hamil lagi,ia masih bisa mengingat dengan jelas rasa sakit saat melahirkan Baby Arya,bayangan berat badannya akan bertambah 2 kali lipat. Ia menangis layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya.
Bram berlari menuju lantai atas saat mendengar teriakan Istrinya.
Ibu, Anin dan Aran yang sedang bermain bersama Arya di kamar sebelah juga mendengar teriakan Mikaila.
Mereka ikut masuk saat melihat Bram berlari masuk ke kamar nya
"ada apa ini?"tanya Bram mendekati Mikaila yang sedang menangis.
"mas,aku belum siap,"ucap Mikaila di sela-sela tangisnya.
Bram menatap adik dan ponakannya,begitu juga dengan ibu dan kedua kakaknya.
Isabela memberikan tespek ke Bram.
"positif"ucap Bram heran dan kembali menatap kedua tersangka di hadapannya.
Arabela menunjuk Mikaila dengan matanya.
Hening sejenak,mereka masih berfikir apa maksud dari kata positif.
Sesaat kemudian mereka saling tatap saat otak mereka memikirkan hal yang sama.
"Alhamdulillah"ucap mereka kompak.
Mendengar itu Mikaila semakin menambah volume suaranya.
Arya yang melihat bundanya menangis ikut menagis.
"sayang jangan nangis dong,kan Arya ikut nangis juga,"Bram menghapus air mata Kaila dengan sedikit tertawa.
Mikaila mengusap air matanya menahan tangisnya melihat anaknya yang ikut menangis karena melihatnya.
"gitu dong nanti adiknya kak Arya jadi sedih karena bundanya nangis."
Mikaila memukul Bram dengan bantal mendengar candaan suaminya.
"malam ini kalian menginap di sini aja,"ucap ibu menggendong baby Arya keluar dan menyuruh Arabela membawa stok ASI-nya.
Diikuti yang lainya.
Bram memeluk Mikaila mencoba memenangkan dan memberi pengertian.
Walau sudah menikah dan menjadi seorang ibu,tetap saja usia Mikaila masih sangat mudah untuk hal ini.
Malam ini mereka menginap di rumah ibunya dan Arya tidur di kamar neneknya.
Kabar kehamilan Mikaila merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi keluarga Bram.
Bram turun kebawah untuk sarapan.Arya yang melihat papanya meminta untuk di gendong.
Bram duduk di meja makan meminum kopi sambil menangku Arya.
"Bagaimana istrimu?"
"dia masih tidur."
"apa dia sudah menerima kehamilan?"
Bram mengangguk sambil mengunyah makanan.
"syukurlah"ucap nenek Bram.
"sepertinya dia masih trauma pasca melahirkan,"sambung ibu.
"iya Bu,ia belum siap untuk melahirkan lagi."
"kamu harus lebih memperhatikannya,berikan dia dukungan."tambah nenek Bram.
"iya nek".
Makasih sudah mampir
__ADS_1
jangan lupa like dan votenya 🙏.