
Ayah dan ibu Mikaila saling pandang melihat situasi yang ada sekarang, mereka tak tahu apa yang sedang terjadi. Mikaila tak memberi tahu kepada ibu tentang masalah yang dihadapi anak-anaknya, yang Ibu dan Ayah tahu Diandra adalah anak dari orang yang telah bekerja di rumah Kelvin dan sekarang mereka adalah yatim piatu.
"Raina Ada apa sebenarnya?" tanya ibu yang bisa merasakan aura ketegangan.
Ayah dan ibu Mikaila hanya tahu jika Kelvin melakukan sebuah kesalahan saat ia mabuk, tapi ia tak tahu kesalahan Apa itu, Ibu dan Ayah Mikaila juga tak tahu jika gadis yang baru di bawah Mikaila ada hubungannya dengan kesalahan kelvin saat dirinya sedang mabuk.
Melecehkan wanita, merupakan aib besar bagi keluarga Wijaya. Mereka sangat dihormati dan di eluh-eluhkan menjadi contoh yang baik.
Entahlah apa yang akan terjadi saat keluarga besar tahu hal itu.
Sebelum Sampai ke kota X, Bram sudah meminta mereka semua untuk merahasiakan apa yang terjadi sampai ia sendiri yang akan memberitahukan keluarga besarnya, dan peringatan itu untuk semua yang ada di pesawat khusus untuk Gavin. Bram mewanti-wanti Gavin untuk menahan diri agar tak memberitahu kan terutama pada pak Wijaya.
"Raina juga tidak terlalu paham, Nek!" jawab Raina yang tak mau memperkeruh suasana.
"Kamu jangan bohong sama Nenek, Nenek tau kamu tau semuanya," ucap nenek menatap selidiki pada cucu menantunya.
Raina hanya tersenyum canggung, seperti ia tak punya bakat untuk berbohong.
Tak lama kemudian Diandra mendekat, dia juga bisa merasakan ada ketegangan yang terjadi.
"Apa mereka akan membahas masalahku dan Kelvin," batin Diandra menatap pada pintu ruang kerja dimana mereka semua masuk tadi.
"Diandra temani aku mandiin Ayra, yuk!" ajak Raina yang bisa melihat wajah kekhawatiran Diandra.
Diandra yang belum terlalu mengenal situasi di rumah itu hanya mengangguk dan mengikuti Raina.
Raina mengambil Ayra dari gendongan bi Yanti dan membawa ke kamarnya.
Mereka memandikan Ayra bersama-sama. Diandra sedikit melupakan kesedihannya saat melihat bayi itu mandi dengan sangat gembira bermain air dan memukul-mukul air hingga memercik ke wajahnya, tawanya mengisi di seluruh kamar mandi.
"Ayra, sudah ya mandinya," ucap Raina mengangkat putrinya itu dibantu oleh Diandra. Mereka memakaikan minyak telon, bedak, pupuk dan yang lainnya buat Ayra. Diandra benar-benar senang bisa bermain dengan balita itu.
Disaat Raina dan Diandra bersenang-senang di kamar, di ruangan lain Kelvin berlutut dihadapan Papanya.
Bram bersandar di mejanya melipat kedua tangannya di dada menatap tajam pada putranya yang sedang berlutut di hadapannya.
Gavin dan Arya hanya berdiri melihat apa yang terjadi di ruangan itu, saat mereka masuk mereka sudah melihat posisi seperti itu. Kelvin yang berlutut dan papanya yang terlihat sangat kecewa menetap Kelvin, tak ada yang bicara sampai detik ini.
Mikaila juga tak berani membuka suara, dia tak tahu apakah suaminya itu akan marah atau tidak, akankah ia memberi solusi dari semua masalah itu.
__ADS_1
Bram menarik nafas dalam memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
Kelvin melakukan kesalahan besar disaat-saat terakhirnya di luar negeri.
Ia membawa pulang kebanggaan dan aib untuk keluarganya.
"Kelvin kamu sadarkan seberapa besar kesalahanmu ini bukan? Jika masalah kamu mencuri, mabuk-mabukan atau merusak barang itu semua bisa Papa ganti, tapi berbeda dengan kesalahanmu ini. Papa tak bisa membantumu, Papa hanya bisa memperbaikinya."
Kelvin hanya diam dan terus menunduk tak mempedulikan kakinya yang sudah terasa keram karena sejak tadi Ia terus berlutut meminta maaf walau tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Suasana kembali hening Bram mencoba berjalan ke arah cermin besar yang ada di ruangan itu, melihat keluar jendela. Ia harus mengontrol emosinya demi kesehatan jantungnya yang belakangan ini kembali terasa sakit saat memikirkan masalah Kelvin.
"Mas, sekarang apa rencana Mas, untuk Diandra? Aku ingin Diandra mendapat keadilan dan bisa bahagia apapun caranya," ucap Mikaila..
"Kita tidak punya solusi lain selain menikahkan mereka," ucap Bram tanpa melihat ke arah mereka semua, matanya masih tetap fokus menyaksikan pemandangan di luar rumahnya.
Semua mata langsung tertuju pada Bram, Kelvin meremas tangannya, bayangan Natali yang menangis di pelukannya kembali terlintas di pikirannya.
Begitu juga dengan Gavin, saat mendengar ucapan Papanya tubuhnya terasa lemas, ia hanya bisa bersandar di sandaran sofa yang ada di belakangnya.
Gavin mencoba menyikut Arya yang berdiri dekatnya.
"Bicaralah pada Papa," jawab Gavin juga tanpa bersuara, matanya melirik ke arah papanya.
Arya menggeleng dan menaikkan bahunya, dia tak berani angkat bicara dalam situasi seperti itu.
"Mas, apa tidak ada jalan lain selain menikahkan mereka," ucap Mikaila membuat Gavin kembali berdiri tegak seperti ada secercah harapan ia bisa bersama dengan Diandra begitu juga dengan Kelvin yang sejak tadi hanya menunduk langsung mendongakkan kepalanya mendengar dan menatap bundanya.
Menatap dengan penuh memohon agar Bundanya mau membujuk Papanya untuk menarik kata-katanya yang tadi.
"Jalan keluar apa? Tak ada jalan keluar lain, kita tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang darinya, bahkan apabila kita menjadikan dia putri di rumah ini itu tidak akan bisa menggantikan apa yang telah diambil Kelvin," tegas Bram.
"Maksudku kita bisa mengurus mereka tanpa harus menikahkannya dengan Kelvin, kita bisa menjamin hidup mereka," usul Mikaila.
"Kita pasti akan menjamin kehidupan mereka berdua, tapi itu belum cukup."
"Lalu apa sekarang, apa tindakan mas selanjutnya?" Duduk di kursi.
Bram tak menjawab, ia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah menikahkan Diandra dan Kelvin itulah keadilan buat Diandra.
__ADS_1
"Pah, Diandra tidak mau menikah dengan Kak Kelvin," ucap Gavin, kini semua mata mengarah padanya begitu juga dengan Bram.
"Apa yang dikatakan Diandra padamu? Apa yang dia inginkan?" tanya Bram berjalan ke kursinya dan duduk di kursi kebesarannya.
"Kelvin duduk di sana?" ucap Bram menuju kursi yang ada di depannya.
Kelvin menyeret kakinya menuju ke tempat yang diminta papanya, disampingnya bundanya. Kakinya terasa sangat pegal. Tentu saja, mungkin hampir satu jam ia berlutut di hadapan papanya.
"Pah, aku sangat mencintai Natali, Kelvin juga sudah berjanji akan menjadikannya pendamping. Pah, aku mohon carilah jalan keluar yang lain," pinta Kelvin dengan wajah memelas.
Bram kembali terdiam kemudian ia melihat Gavin meminta jawaban dari pertanyaan nya tadi.
" Apa yang Diandra inginkan?"
"Diandra hanya bilang dia tidak ingin jika Kak Kelvin bertanggung jawab atas yang terjadi padanya, dia sudah melupakannya dan tak ingin membahasnya lagi dan satu yang pasti dia tidak ingin berdekatan dan bertemu dengan Kak Kelvin."
"Mbak Anin juga bilang jika Diandra mengalami trauma," ucap Mikaila menatap tajam pada Kelvin, pandangan mereka bertemu. Namun, Kelvin langsung kembali menunduk tak berani melihat mata Bundanya.
"Kelvin, Bunda benar-benar kecewa sama kamu. Bunda selalu mewanti-wanti kamu untuk menghindari alkohol karena Bunda tahu di negara itu alkohol sudah menjadi hal biasa bagi mereka, tapi bagi kita itu sangat tak boleh, Nak!" Mengucapkannya dengan penuh penekanan dan bercampur dengan perasaan kesal dan kecewa.
"Lihatlah sekarang apa akibatnya, kau … kau merusak sendiri masa depan mu. Di bawah pengaruh alkohol kamu mampu melakukan hal sekeji itu, Bunda yakin jika kau dalam keadaan sadar Kau tak akan melakukan hal menjijikkan itu," tambahnya.
"Sebaiknya kau panggil Diandra kemari," ucap Bram pada Mikaila..
Mendengar itu Mikaila langsung keluar dan mencari Diandra.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏
Mampir ke karya yang lainnya ya Kak, mari saling dukung 💗🙏
Salam dari ku Author m anha ❤️
Love you all 💕🤗🙏
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖