
Gavin terus bersenandung sambil berjalan mengambil sebuah kotak yang berisi hadiah yang sudah disediakannya. Malam ini ia akan menyatakan cintanya kepada seseorang.
Gavin membuka kotak tersebut dan melihat sebuah jam tangan cantik yang mungkin senilai dengan harga sebuah mobil. "Kuharap hadiah ini bisa membantu meluluhkan hatimu," gumam Gavin kembali menutup kotak hadiahnya dan kemudian kembali bersenandung sambil berjalan menuju keluar Apartemennya,
'Bukalah hatimu, untuk diriku,
Sebelum cinta, hilang,
Nanananana nanananana
Nanananana nanananana.'
Gavin menghentikan langkahnya seraya menghentikan lagunya saat melihat Alex berjalan menuju ke arah Apartemennya.
"Waduh … kenapa Om Alex bisa di sini," gumam Gavin kembali membuka pintu, mengintip keluar memastikan apakah penglihatannya benar atau salah.
"Iya, itu memang om Alex, ngapain ya dia ke sini," tanya Gavin bergumam sendiri.
Gavin bisa melihat dengan jelas jika orang yang berjalan ke arahnya adalah Alex, orang kepercayaan Papanya.
Dengan cepat Ia pun kembali ke kamarnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah dan menggantinya dengan cepat, memakai kaos biasa, mengacak-acak rambutnya yang sudah berjam-jam dirapikan nya.
Bel pintu berbunyi, Gavin dengan cepat berlari menuju ke pintu. Namun, baru saja ia akan membuka pintu, dia kembali menghentikan tangannya saat melihat kotak hadiahnya masih ada di atas meja, Kelvin kembali berlari masuk kedalam kamarnya menyimpan dengan rapi kotak hadiahnya.
"Yah benar seperti ini, kamu nggak boleh dilihat oleh Om Alex, jika ia melihat jam tangan ini dia pasti banyak bertanya mengapa aku membeli jam tangan semahal ini untuk seorang wanita."
Setelah menyimpan kotaknya dengan aman, Gavin kembali berlari menuju ke arah pintu.
Sejenak Gavin menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan, ia mengulanginya sebanyak 3 kali hingga ia benar-benar tenang. Namun, ia tak bisa menghentikan keringat yang terus menetes di keningnya akibat berlari.
Dengan memasang wajah senyum sumringah nya Gavin menyambut Alex.
"Om Alex, malam Om, Om dari mana?," Gavin mencoba bertanya.
"Kamu habis olahraga?" Alex melihat keringat Gavin yang bercucuran dan nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.
"Iya, Om. semenjak tinggal di sini perut Gavin sedikit membuncit. Mungkin karena makanannya terlalu enak," ucap Gavin asal bicara padahal sebaliknya semenjak tinggal di sini berat badannya langsung turun drastis, perut Gavin sudah biasa disuguhkan dengan makanan masakan bundanya yang khas masakan Indonesia.
Alex berjalan duduk di sofa diikuti Gavin yang berjalan di belakangnya.
"Ada apa om?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Kamu tinggal di sini?" tanya Alex menjawab pertanyaan Gavin dengan pertanyaan.
"Iya Om, Gavin akan tinggal di sini dan mulai menjalankan bisnis papa," jawab Gavin mencoba sesantai mungkin.
"Maksud aku, kamu tinggal di Apartemen ini? Di Apartemen Kelvin, bukankah kamu sudah membeli Apartemen 1 lantai sebelum lantai Apartemen ini.
"Wah ... wah ... Om Alex memang hebat, dari mana dia tahu kalau aku sudah membeli Apartemen," batin Gavin.
"Kamu heran! kenapa Om bisa tahu kamu jika kamu baru saja membeli Apartemen baru di lantai bawah? Om juga tahu jika kau tak memberi tahu papamu 'kan jika kamu membeli Apartemen itu!" Ucap Alex memperhatikan perubahan raut wajah terkejut Gavin.
Gavin hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alex, memang benar ia merahasiakan dari semuanya jika ia membeli 1 Apartemen yang berada lantai bawah sebelum Apartemen tempatnya sekarang.
"Kau sudah membeli Apartemen, kenapa kau tak tinggal di sana?" tanya Alex.
"Nggak Om, aku lebih nyaman di sini. Disini juga perabotannya sudah lengkap daripada harus beli lagi kan repot. Lagian Apartemen Kelvin juga nggak ada penghuninya," alasan Gavin.
"Kamu benar juga, Kamu bisa pindah kapan saja jika Kelvin sudah ingin menggunakan Apartemennya."
"Ya, itulah maksudku Om, aku juga tidak punya banyak waktu untuk membeli perabotan baru."
"Lalu Kenapa kamu menggunakan uangmu sendiri untuk membeli Apartemen itu, kau bisa meminta nya pada papamu dan dia pasti membelikan Apartemen manapun yang kau suka."
"Iya, Kau benar. Belajar mandiri memang sangat bagus. Belajar menanggung kehidupan sendiri sebelum menanggung kehidupan istri dan anak-anak kita. Om setuju dengan pikiranmu, Om mau istirahat dulu, capek!" Alex berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar tamu.
"Om ada pekerjaan ya dari Papa, sehingga datang ke sini! ke negara ini?"
"Iya. Ada sedikit masalah yang harus Om urus, kembali lah ke kamarmu. Om mau istirahat dulu, besok pagi akan langsung pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus Om selesai."
"Oh iya, Om. Selamat istirahat," ucap Gavin menutup pintu kamar Alex.
Begitu Gavin menutup pintu, Alex langsung merebahkan tubuhnya. Ia sangat lelah. Alex langsung menjelajahi alam mimpinya hanya dalam beberapa detik setelah menyentuh bantal.
"Ternyata, om Alex tak pintar yang aku bayangkan, dia tahu jika aku membeli sebuah Apartemen, tapi dia tidak tahu aku membelinya untuk siapa," gumam Gavin terkekeh dan kembali ke kamarnya.
"Kita akan menemuinya besok saja, sabarlah dulu kita tunggu sampai Om Alex kembali," ucap Gavin pada kotak hadiah yang dipegangnya.
Pagi hari Alex bangun lebih dulu dari Gavin, Alex membangunkan Gavin.
"Ada apa Om?" Gavin mencoba untuk duduk dan membuka matanya yang masih terasa sangat berat.
"Om hanya mau pamit pulang, kamu emang nggak ke kantor, ini sudah jam berapa?"
__ADS_1
"Om hati-hati di jalan ya, lihat-lihat jika mau nyebrang, 5 menit lagi Gavin akan ke kantor," ucap Gavin kembali membuang dirinya ke kasur dan kembali mendengkur ringan.
Alex hanya menggeleng melihat tingkah putra dari seorang Abraham Wijaya itu.
Sebelum keluar, Alex tak sengaja melihat kotak yang ada di meja di kamar Gavin, Alex mendekat dan membuka kotak tersebut. Ia hanya tersenyum melihat jam mahal yang ada di sana.
"Gadis mana lagi yang ingin ditaklukan anak ini" batin Alex yang tahu jika jam tangan itu sangatlah mahal.
Alex menyimpannya kembali, ia tak terlalu memikirkannya. Mungkin harganya sangat mahal baginya. Namun, untuk seorang keturunan Abraham Wijaya harga itu tidaklah terlalu mahal untuk mereka.
Semua sudah tahu jika Gavin selalu membelikan barang-barang mewah untuk teman wanitanya. Semua tak mempermasalahkannya karena Gavin membelinya dengan uangnya sendiri, tak pernah sekalipun ia mengambil uang kantor apalagi meminta kepada orang tuanya.
Gavin tak pernah memilih barang itu mahal ataupun murah. Jika ia menyukainya dia akan membelinya dan memberikan kepada orang yang mau menemani nya.
Alex kembali ke kota X, ia masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya. Walau tak sebanyak dulu saat Bram yang memimpin Perusahaan. Ia tetap konsisten dalam bekerja, menyelesaikan semua tugas-tugas dari Bram sampai benar-benar tuntas.
Gavin dibangunkan oleh panggilan ponsel di ponselnya yang terus berdering.
Dengan berat Gavin membuka matanya dan melihat si pengganggu tidurnya. Itu dari kepala sekolah, Gavin dengan cepat mengangkatnya.
Kepala sekolah mengatakan jika akan diadakan pertemuan dan diharuskan Gavin juga harus menghadiri pertemuan tersebut.
Gavin melihat jam di ponselnya, "Pertemuannya 2 jam lagi," gumam Gavin. Dengan malas Gavin bangun dan mulai bersiap-siap, setelah itu ia langsung melajukan mobilnya ke salah satu sekolahan yang sederhana, tapi sangat disiplin dan sangat nyaman. Memiliki pendidikan yang baik dan yang terpenting sekolah itu berasrama, dimana para muridnya diharuskan tinggal di asrama sekolah.
"Kak Gavin," panggil seseorang menghampiri Gavin saat telah sampai di sekolah tersebut.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote dan komennya.
Satu komentar dan like sangat berpengaruh pada popularitas dan level karya❤️
Salam dariku
Author m anha ❤️
Love you all 💕🤗🙏
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖❤️
__ADS_1