Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Kehangatan keluarga


__ADS_3

Mikaila dan Gavin sudah menunggu di Rumah Sakit bersama dengan Anindita dan Pak Surya.


"Sebenarnya siapa yang sakit?" tanya Anin,


"Aku juga ga tau Kak, tadi Kelvin hanya mengatakan kalau mereka sedang menuju kesini," jawab Mikaila.


"Mudahan-mudahan mereka baik-baik saja , dan tak ada yang luka serius!" lanjut Mikaila.


"Emangnya ada apa, apa yang terjadi?!" tanya Pak Surya,


"Begini mas...!" Mikaila baru akan menjelaskan namun mereka sudah melihat mobil Bram memasuki area rumah sakit ,


"Itu mereka," ucap Gavin berlari menghampiri mobil Papa nya, begitu membuka mobil Mikaila histeris melihat putranya sudah tak sadarkan diri dan begitu banyak cairan merah memenuhi tangan suaminya.


"Tenanglah, Arya tak apa-apa," ucap Bram menenangkan Mikaila .


"Cepat bahwa dia masuk," teriak Anin.


Arya langsung dilarikan ke ruang operasi dan langsung menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya.


Arya kehilangan banyak darah, Kelvin mendonorkan darahnya untuk kakak nya.


"Mas bagaimana bisa Arya seperti ini ?! bagaimana dia bisa tertembak ?!" tanya Mikaila merasa khawatir.


"Tenanglah, mas Surya pasti akan menyelamatkan anak kita," ujar Bram mencoba menenangkan Mikaila, sebenarnya Bram juga merasa sangat khawatir karena Arya terlalu banyak mengeluarkan darah saat di perjalanan.


Sementara itu Raina terus menangis di pelukan Anindita, ia tak kalah khawatir melihat kondisi Arya.


"Penampilan Raina saat ini sangatlah berantakan, bajunya berlumuran darah Arya dan ada luka sayatan di pipinya bahkan saat ini Raina sudah tak memakai cadar nya lagi.


Tak lama kemudian Natali menghampiri Raina,


"Raina, ini ganti dulu pakaian kamu," menyodorkan paper bag yang dibawanya.


Saat Kelvin mengatakan pada Bundanya bahwa mereka sedang menuju ke rumah sakit, Natali mengira Raina yang terluka, ia merasa bersalah. Natali sungguh sangat menyesal telah membahayakan Raina demi menyelamatkan dirinya, ia tak berani untuk menemui Raina di rumah sakit dan memutuskan untuk kembali ke kos-kosannya.


Gavin mengirim pesan pada Natali jika Arya yang terluka dan memintanya untuk membawa pakaian Rain kerumah sakit.


Karena terlalu panik dengan kondisi Arya, Mikaila sampai melupakan jika Raina ada bersama mereka.


Mikaila mengambil pakaian Raina dan membantunya untuk berganti pakaian serta mengobati luka di pipinya.


Mereka kembali menunggu di depan ruang operasi Arya. Raina terus memeluk bundanya, bunda Mikaila yang sangat di rindukannya.


Natali hanya duduk diam melihat kasih sayang yang bunda Arya berikan kepada Raina.


"Apa Raina sangat berarti untuk keluarga ini ?!" batin Natali.


Karena terlalu kelelahan Raina tertidur di dekapan Mikaila, Bram yang melihat Raina tertidur memindahkan Raina ke ruang khusus bagi keluarga Wijaya di rumah sakit itu.


"Pergilah ke kamar temani Raina," pinta Bram kepada Natali.


Natali hanya mengangguk dan langsung berjalan keruangan dimana Raina sedang tertidur pulas.


Natali mendekati Raina yang sedang tertidur, melihat luka lebam di pergelangan tangan Raina Sepertinya itu adalah bekas ikatan.


Natali juga tadi melihat luka sayatan di wajah Raina.


"Raina maafkan aku, semua ini karena salahku.

__ADS_1


Aku yang telah memberitahu Anes hubunganmu dengan kak Arya, aku sama sekali tak bermaksud untuk menyakitimu aku sangat menyayangimu. Aku sudah menganggap mu sebagai saudariku, Raina aku benar-benar minta maaf ," lirik Natali memandang Raina yang masih tertidur.


****


Operasi Arya berjalan lancar dan kondisinya sudah terlepas dari masa kritis.


Raina yang baru bangun langsung menuju ke ruangan Arya, Raina melihat seluruh keluarga Wijaya sudah ada di sana.


Ibu Bram langsung memeluk Raina,


"Raina sayang, Bagaimana keadaan kamu ?!" tanya Ibu Bram,


"Raina baik-baik saja Nek!" jawab Raina membalas pelukan nenek Arya.


"Kasihan sekali kamu nak, sejak kecil kau selalu dalam bahaya. Semoga saja ini yang terakhir kalinya, semoga saja kebahagiaan akan terus bersamamu," doa nenek Arya.


"Amin nek..."jawab Raina.


Raina menghampiri semua keluarga Wijaya yang ada di sana, semua menyambut Raina dan sangat merindukannya.


Raina melihat bunda Mikaila yang terus menggenggam tangan Arya dan menghampirinya.


"Bunda Bagaimana keadaan kak Arya?" tanya Raina.


"Dia sudah baik-baik saja sayang, Arya Sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya menunggu ia sadar dan memastikan keadaan," jawab Mikaila.


Raina ikut duduk di samping Arya, melihat wajah Arya yang begitu pucat, hatinya sangat sedih mereka harus bertemu dengan cara seperti ini.


Semua keluarga sudah pulang.


"Sebaiknya kalian juga pulang, besok pagi kalian datang lagi?!" ujar Bram


"Sayang kamu nggak kasihan lihat Arsy, dia sudah tidur. Dia pasti tak nyaman tidur di sini." ucap Bram.


"Tapi mas...boleh ya?!" menatap Bram memohon.


"Pulanglah bersama anak-anak, Mas yang akan menjaganya di sini. Bawa Bunda kalian pulang," ucap Bram pada kedua putranya.


"Iya Pah." jawab mereka.


Kelvin menggendong Arsy yang sudah tertidur, mau tidak mau Mikaila pun mengikuti Kelvin pulang. Sebelum ia pulang ia mengecup kening putra sulungnya itu.


"Pah boleh ya Raina tinggal sama papa disini," mohon Raina.


"Baiklah kau boleh tinggal di sini," jawab Bram.


Saat di parkiran Kelvin melihat Natali masih duduk di motornya.


"Gavin bawa Bunda pulang ya, aku masih ada urusan," ucap Kelvin.


"Iya kak," jawab Gavin kemudian pulang bersama Bunda dan adiknya.


Kelvin menghampiri Natali.


"Kamu belum pulang ," ucap Kelvin mengagetkan Natali.


Natali dengan cepat mengusap air matanya,


"Aku sudah mau pulang, tapi motorku nggak mau bunyi," alasan Natali.

__ADS_1


"Benarkah ?!" tanya Kelvin mencoba men-starter motor Natali. Hanya dengan satu kali mencoba motor tersebut langsung bunyi.


"Ini bisa ," ucap Kelvin, "Baiklah aku akan mengantarmu pulang.


Natali menggeleng dan tetap berdiri di tempatnya.


Kelvin kembali matikan motornya.


"Aku tahu kau pasti sangat merasa bersalah dengan kejadian ini, Aku harap kau bisa menjadikan semua ini sebagai pelajaran dan tak mengulanginya lagi," ucap Kelvin, Natali hanya mengangguk mendengar ucapan Kelvin, air matanya kembali menetes.


"Kruk,,kruk,kruk,"


Natali memegang perutnya saat perutnya berbunyi.


"Kamu belum makan?!" tanya Kelvin.


Natali hanya menunduk diam, sesekali ia mengusap air matanya yang terus mengalir.


Kelvin menyalakan kembali motornya dan menarik tangan Natali untuk naik ke boncengannya.


Begitu Natali naik, Kelvin langsung melajukan motornya menuju ke sebuah warung makan yang sederhana.


Natali turun dan melihat tempat itu, ia sedikit bingung. Tadinya ia berfikir Kelvin akan mengajaknya ke restoran mewah atau semacamnya.


Kelvin tersenyum melihat kebingungan Natali.


"Walau hanya sederhana tapi makanan di sini sehat dan bersih, dan pastinya sangat mengenyangkan," ucap Kelvin mengerti apa yang dipikirkan Natali.


Setelah makan Kelvin mengantar Natali hingga ke kos-kosannya.


*****


Arya terbangun di malam hari dan melihat Raina tidur disampingnya sambil menopang kepalanya dengan kedua tangan menjadikan bantalnya.


Arya terus memperhatikan wajah Raina yang tertutupi cadar, mata indah yang begitu menenangkan.


Arya ingin mengusap wajah Raina namun ia menahan keinginannya itu, takut jika Raina terbangun.


Sepanjang malam Arya terus memperhatikan mata indah Raina yang terpejam, bulu mata yang lentik dan alis yang hitam tebal sangat kontras dengan warna kulitnya yang sangat putih.


Bram hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya itu dan kembali menutup matanya.


Bram tidur di sofa yang ada di ruangan itu.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Makasih atas dukungannya ya akak😊😊😊🙏


Tetap beri


👉Like


👉 Vote


👉 Komennya 💗💗ya akak 🙏☺️☺️


Agar karya ini lebih baik lagi.🙏😍


Mampir juga ya ke

__ADS_1



__ADS_2