
Mikaila terus menatap ke arah luar jendela,ada keraguan di hatinya untuk mencari kebenaran suaminya.
"apa aku mampu menerima kenyataan ini,apa aku bisa menerima semua ini,"batin Mikaila.
Mikaila sampai di bandara dan langsung naik ke pesawat.Sepanjang penerbangannya ia terus memanjatkan doa memohon di berikan kebesaran hati keikhlasan menerima kenyataan yang akan di jumpainya.
Bi Yanti yang sejak tadi gelisah karena Bram tak mengangkat telfonnya terus menelfon Bram.
"ada apa bi Yanti?"tanya bi Sumi melihat bi Yanti sejak tadi terus menelfon seseorang.
Bi Yanti menceritakan Semua kepada bi Sumi apa yang menjadi kekhawatirannya.
"telfon Bu Anin aja bi,"usul bi Sumi yang pernah bekerja di sana.
"ya udah bi Sumi,kamu saja yang telfon,saya tidak punya kontak Bu Anindita."ucap bi Yanti.
Bi Sumi kekamar dan mengambil ponselnya.
mencoba menelfon Anindita dan memberikan kepada bi Yanti saat Anin mengangkat telfon nya.
"assalamualaikum Bi Sumi,"ucap Anindita dari balik telfon.
"waalaikumussalam Bu,ini bi Yanti,"jawab bi Yanti.
"iya Bi Yanti,ada apa,"tanya Anin.
Bi Yanti menceritakan semua yang ia lihat beberapa hari ini,perubahan Mikaila dan saat-saat Mikaila menagis.Dan mengatakan kalau Mikaila baru saja berangkat ke Batam menyusul Bram,bi Yanti juga mengatakan kalau ia sejak tadi menelfon Bram tapi tidak di angkat.
"ya udah bi Yanti,akan saya cari tahu."ucap Anindita mengakhiri panggilannya.
Anindita menjadi emosi mendengar penjelasan bi Yanti,ia langsung menelfon Arandita dan menceritakan semua yang bi Yanti cerita kepada nya.
Isabela yang kebetulan lewat mendengar pembicaraan ibunya di telfon.
"Bu ada masalah dengan om dan Tante Mikaila?"tanya Isabela mendekati ibunya.
"ibu juga ga tahu,ibu baru minta Aran menanyakan kepada Yoga."jawab Anin.
"Bu, beberapa hari yang lalu Tante mengirimkan laporan medis padaku,ia menanyakan ini,"ucap Isabela memperlihatkan chat Mikaila.
Anindita memeriksa semua yang di kirim Mikaila dengan teliti.
"ini punya siapa?"tanya Anin pada anaknya.
"Tante ga bilang ini punya siapa."jawab Isabela.
"ayo kita kerumah Yoga "ucap Anindita kekamar mengganti pakaian nya begitu juga dengan Isabela.
Aran sudah mewawancarai suaminya,ia yakin suaminya itu tahu semua tentang Bram.
"mas kamu jujur saja,ada apa sebenarnya,"desak Arabela.
__ADS_1
Yoga tak menjawab,ia terus menelfon Bram namun hasilnya sama telfonnya tidak di angkat.
"aku akan ke Batam "ucap Yoga tanpa menjawab satupun pertanyaan istrinya.
"ada apa ini sebenarnya?"tanya Anindita yang baru datang.
Yoga juga tak menjawab pertanyaan kakak ipar itu, ia langsung masuk ke kamar dan langsung berjalan keluar sambil memakai pakaiannya.Terlihat sangat terburu-buru.
Anin yang tak mendapat jawaban ikut masuk ke mobil Yoga.
Mereka langsung ke bandara,Yoga menelfon seseorang untuk menyiapkan keberangkatannya ke Batam.
Yoga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Anin tak berani menggangu konsentrasi Yoga menyetir dengan menanyakan pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
Sesampainya di bandara Yoga langsung berlari menuju pesawat jet pribadi milik Bram,lebih tepatnya milik Mikaila.
Anindita yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi ikut naik ke pesawat itu.
Setelah di pesawat Anindita menanyakan apa sebenarnya yang terjadi.
"maaf mba,biar Bram sendiri yang akan menjelaskannya,"ucap Yoga.
"kenapa tidak aktif,"gumam Isabela terus mencoba menghubungi Mikaila.
karena terlalu gugup, Mikaila lupa mengaktifkan ponselnya.
Di Batam,
Mikaila yang sudah sampai langsung memesan taksi dan memberikan alamat rumah sakit kepada supir taksi.
"aku pasti bisa melalui ini semua,"menarik nafas dan menghembuskan.
Bayangan anak-anaknya menguatkan hatinya.
Walau menyakitkan ia tak ingin Bram membohonginya,ia ingin Bram berterus terang padanya apa yang sebenarnya ia sembunyikan dari dirinya.
Mikaila turun dari taksi memakai ransel di punggungnya,ia melihat rumah sakit yang ada di hadapannya,lama ia berdiri di sana.
"Bismillahirrahmanirrahim,"ucap Mikaila memegangi dadanya.
Mikaila berjalan pelan memakai ransel dan memegang catatannya,berjalan menelusuri setiap kamar yang ada di rumah sakit itu.
Mikaila terus berjalan mencari no kamar yang sudah ia catatan sebelumnya.
Setelah cukup lama mencari akhirnya ia menemukan kamar tempat Bram dan anak yang bernama Zaky di rawat.
Mikaila berdiri mematung di depan kamar ruang perawatan yang dicarinya.
Ia memegang erat tali tasnya,berjalan pelan mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka.
"deg deg deg deg deg,"jantung Mikaila berdetak semakin kencang saat ia berjalan semakin dekat dengan pintu itu.
__ADS_1
"deg,"seakan jantungnya berhenti berdetak saat melihat Bram duduk di atas ranjang pasien dan memakai baju khas pasien yang telah menjalani operasi.
Bram berbicara dengan seorang wanita dan terlihat tersenyum pada wanita itu.
Mikaila tak bisa melihat wajah wanita itu Karena membelakanginya,
Mikaila menggenggam semakin erat tali tas ranselnya, berjalan semakin mendekati pintu,menajamkan pendengarannya,sesekali ia mengedip kan mata karena pandangannya kabur akibat air mata yang sudah menggenang di matanya.
"rahasiakan ini semua dari istri ku,"Mikaila bisa mendengar jelas apa yang di katakan Bram kepada wanita itu.
Mikaila menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Bram, Mikaila terus melihat ke dalam ruangan itu,terlihat seorang anak kecil berbaring di ranjang pasien lainya.
Ada seorang laki-laki lagi di sana tapi Mikaila juga tak bisa melihatnya karena ia juga membelakangi nya .
"Anda tenang saja pak,ini akan menjadi rahasia kita bertiga,"ucap Randy.
Mikaila melebarkan pandanganya saat mendengar Suara Randy,
"kak Randy,"batin Mikaila.
Mikaila fokus pada pria yang ada di sampingnya wanita berhijab di samping Bram..
"kenapa kak Randy ada di sana,"batin Mikaila saat ia bisa melihat jelas wajah Randy. Randy berjalan ke arah anak yang berbaring di sebelah ranjang Bram.
"Zaky,,apa Zaky yang di maksud Talia adalah anak mba Zahra,"batin Mikaila terus bertanya tanya,,,
Ingatan saat Zahra memukulnya di butik dan menyatakan kalau Bram adalah miliknya tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.
Bayangan saat Bram mengelus rambut Zaky saat ada di pangkuannya,saat ia mengatakan mata Zaky mirip mata Kelvin putranya,bayangan Zaky menjadi tenang saat di pangkuan Bram,Zaky yang menagis histeris saat di pisahkan dari Bram terus terulang di pikirannya.
"apa mas Bram sudah tahu saat itu kalau Zaky adalah putranya,
Zaky bahkan jauh lebih mudah usia nya dari Gavin,
Apa mas Bram selama ini bersama Zahra"
Pertanyaan-pertanyaan aneh terus bermunculan di kepalanya.
Mikaila tak bisa mendengar apapun di sekitarnya,Merasa di hianati,dibohongi dan dibodohi bercampur jadi satu menjadi menghantam hatinya meninggalkan luka mendalam.
"buukk,"Mikaila jatuh terkulai lemah di lantai.
Bram, Randy dan Zahra menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ada yang terjatuh di balik sana.
"suara apa itu,"ucap Zahra berjalan menuju pintu.
"mba Zahra,"ucap Mikaila melihat wajah wanita yang ada di samping suaminya saat mereka semua berbalik ke arahnya,,wanita itu adalah benar Zahra.
Air mata Mikaila jatuh menetes ke lantai sebelum benar benar kehilangan kesadarannya.
Terimakasih sudah membaca karyaku, 🙏💗
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komennya 💗🙏💗.
Satu like sangat berharga bagi kami para penulis.😊