
Malam hari, Jessica terkejut saat seseorang berusaha mendobrak pintu rumahnya.
Ia mencoba melihat apa sebenarnya yang terjadi di luar sana.
Jessica mendekat ke pintu bermaksud melihat siap di luar sana.
pintu berhasil di buka paksa oleh mereka,
Jessica berusaha melawan saat tiga orang pria mencoba menangkap nya,tiga pria bertubuh besar yang ia yakini adalah suruhan orang yang telah menyekapnya dulu.
Jessica melemparkan semua barang-barang yang ada di dekatnya kepada mereka.
Natali yang mendengar suara gaduh di luar langsung membangunkan Raina yang tengah tertidur pulas.
Mereka mengintip keluar dan terkejut saat seseorang memukul Jessica hingga pingsan.
Natali dan Raina langsung berlari melewati pintu belakang rumah mereka.
Mereka bingung harus ke mana, tiba-tiba seseorang langsung menarik tangan mereka dan memasukkan ke dalam mobil.
"tolong, tolong, tolong "teriak mereka memukul mukul jendela mobil.
"diam,"bentak seseorang dari balik kemudi.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Raina dan Natali saling berpegangan,mereka sangat ketekutan.
Roy,dia adalah sahabat Alex sekaligus orang suruhan Bram yang di tugaskan mencari Raina.
Roy yang sudah mendapatkan alamat Raina langsung bergegas ke alamat yang di berikan.
tapi sayang ia sedikit terlambat,ia melihat tiga orang sudah berada di dalam rumah itu.
"aku pasti kalah jika melawan mereka."batin Roy.
Roy memutuskan mencari jalan lain untuk masuk ke rumah itu,dan ia melihat dua orang anak kecil keluar dari rumah itu.
"Salah satu dari mereka pasti Raina,"gumam Roy.
Roy langsung membawa mereka ke mobilnya dan menancap gas,ia tak bisa menyelamatkan satu orang setidaknya ia harus menyelamatkan dua orang khususnya Raina.
Roy melihat ke belakang dan melihat anak itu ketekutan.
"siapa di antara kalian yang bernama Raina?"tanya Roy saat merasa mereka sudah aman.
"aku Raina,"jawab Raina ragu.
"kalian jangan takut,aku akan menyelamatkan kalian,kamu tau Arya kan?"tanya Roy lagi.
"iya,"jawab Raina cepat,ia sangat senang mendengar nama Arya.
"aku akan membawa kalian ke papanya Arya,jadi tenanglah."
Raina mengangguk dan tersenyum,ia merasa lebih tenang saat mengetahui mereka bersama orang yang akan menolong nya.
Raina dan Natali tertidur setelah lama di perjalanan,Roy menghentikan mobilnya,ia menghubungi Alex.
"Raina sudah bersamaku,"ucap Roy.
"kamu amankan mereka sementara ini,kami sedang ada masalah."ucap Alex.
Roy membawa meraka ke pondok pesantren pamannya,ia berfikir tempat itu adalah tempat yang paling aman untuk mereka.
Di kota X.
__ADS_1
Bi Yanti menagis melihat kondisi suaminya,ia menelfon semua anak-anaknya.
Pak slamat dalam kondisi kritis,dan dalam ruangan ICU.
Bi Yanti mengingat Mikaila.
"Bu apa Mikaila sudah tau tentang ini semua,"tanya bi Yanti.
"belum,Yoga masih mencari Bram dan Arya.Kita tunggu kabar dari mereka dulu,"jawab Anindita.
Alex memperluas pencarian mereka, mereka berhasil menangkap beberapa anak buah Sonia, namun tak ada yang bicara tentang keberadaan Sonia.
Yoga datang dan langsung menembaki beberapa dari mereka.
"katakan dimana bos mu membawa Bram dan putranya?"tanya Yoga dengan emosi yang sudah memuncak.
Dor Dor dor,
Yoga terus memuntahkan peluru nya,namun belum ada yang berbicara.
Tersisa tiga orang,
"katakan,kalian akan selamat jika membuka mulut."ancam Yoga siap menekan pelatuk pistol nya
"mereka membawanya ke dermaga,"ucap salah satu dari mereka,,
Dor dor,,,Yoga kembali mengeluarkan dua pelurunya.
"Tunjukan jalannya,aku akan menjamin keselamatan mu dan memberikan harga untuk ini."ucap Yoga langsung menyeret orang tersebut masuk ke dalam mobil.
Alex dan yang lainnya mengikuti Yoga.
Di dermaga,
Byurrrr,,Anak buah Sonia mengguyur Bram dengan air agar Bram tersadar dari pingsannya.
Bram tersadar dan di hadapkan pada Sonia,
Sonia langsung menyiram wajan Bram dengan wine yang di pegangnya.
"kamu harus merasakan penderitaannya yang telah aku rasakan selama ini,"ucapan Sonia mulai memukuli Bram dengan tongkat.
Bram terkulai di lantai kedua tangannya di ikat ke belakang.
"jangan pukul papaku,sudah cukup,"ucap Arya mencoba menghentikan Sonia.
Sonia langsung mendorong Arya hingga terbentur di dinding.
"haiiiiii,"jangan sentuh putraku,"teriak Bram dengan sisi tenaganya.
Arya menagis di pojokan.
"Arya jangan lihat papa,"ucap Bram terbatuk-batuk tenggorokannya terasa sangat kering,Bram menggeleng mencoba tetap tersadar.
Arya membalikkan badan mendengar ucapan papanya,ia menangis dan menutup matanya dengan kedua tangannya.
Sonia terus menerus meluapkan semua dendamnya,hingga Bram kembali tak sadarkan diri.
Di kampung,
Mikaila terus berusaha mencarikan kabar,ia terus berusaha menghubungi semuanya namun tak satupun yang menjawab telfon dari nya.
Mikaila tak tahan lagi,ia meminta Jabbar mengantarkannya pulang, Jabbar yang mendapat kabar dari Isabela tentang apa yang tengah terjadi langsung membawa Mikaila dan kedua orang tuanya ke kota X,ia merahasiakan apa yang ia ketahuinya,ia tak ingin membuat mereka panik dalam perjalanan.
Mikaila terus berusaha menghubungi Bram, namun ponsel Bram sudah tidak aktif.
__ADS_1
"Bu ada apa ini,kenapa perasaanku semakin tak enak,"ucap Mikaila sudah berkaca-kaca.
"tenanglah,semua pasti baik-baik saja."ucap ibu mendengarkan walau sebenarnya ia juga sedang panik.
Di kota X.
Hujan turun dengan sangat lebat, bunyi suara petir saling bersahut-sahutan.
Arya semakin ketakutan,ia menggoyang-goyangkan lengan Bram yang kembali tak sadarkan diri.
Sonia dan yang lainnya berjaga di luar,ada yang bersenang senang dengan meminum alkohol,ada pula yang pergi membeli beberapa makan untuk bekal mereka,
Mereka akan berlayar ke sebuah pulau terpencil tempat persembunyian baru mereka.
Mereka menunggu cuaca membaik,keadaan ombak yang sangat buruk membuat mereka harus menunda keberangkatannya.
Arya mengambil pisau yang ada di atas meja,ia memotong tali yang mengikat tangan papanya.
Tali berhasil terpotong,Arya mengambil air dan menyiram ke wajah Bram,ia mengingat bagaimana cara mereka membangunkan papanya tadi.
Bram benar sadar dari pingsannya,
"papa,"ucap Arya saat melihat papanya membuka mata.
Bram langsung memeluk Arya,ia mencium seluruh wajah putranya,
"kamu baik-baik saja?"tanya Bram memeriksa kondisi Arya.
"iya pa,"jawab Arya.
Arya memegangi luka yang ada di wajah Bram.
"papa baik-baik saja"ucap Bram tersenyum menengkan anaknya.
Bram mencoba berdiri dan melihat situasi.
"ayo kita pergi dari sini,"ucap Bram menarik tangan Arya.
Bram terus menggeleng,penglihatannya buram,kepalanya terasa sangat sakit,ia terus mencoba menjaga agar tetap tersadar.
Bram menggenggam erat tangan Arya.
Mereka berjalan dengan hati-hati sambil terus melihat situasi.
Bram dan Arya berhasil keluar dari kapal.
Bram semakin merasa sakit di kepalanya,
"Itu mereka,"teriak seseorang yang melihat Bram dan Arya keluar dari kapal.
Mereka semua langsung mengejar Bram dan Arya.
"Arya dengar papa,kamu harus berlari ke sana,"tunjuk Bram pada sebuah bangunan yang terlihat ada cahaya lampu.
Bram yang melihat beberapa anak buah Sonia mendekat harus bisa menahan mereka agar Arya bisa mencari bantuan dan menyelamatkan diri.
Bram sudah tak bisa berjalan lagi, kesadarannya mulai hilang.
"Arya lihat papa,kamu harus lari secepat mungkin dan minta bantuan disana,papa akan menyusul kamu nanti,kamu paham kan?."tanya Bram menjelaskan.
Arya mengangguk dan langsung berlari.
😭😭😭😭🙏👍✌️😭😭😭
terimakasih sudah membaca 💗💗😭✌️🙏
__ADS_1
Terus tunggu kelanjutannya ya.
Like vote dan komennya 💗