
Talia keluar dari kafe dengan sangat bahagia,ia memutar-mutar kunci mobilnya di jari telunjuknya.
Bayangan pertengkaran Bram dan istrinya menari-nari di benaknya.
Mikaila meremas kertas yang ada di hadapan nya,
"ini hanya sebuah kertas,ini tak membuktikan apa-apa,"ucapnya menghapus air matanya yang sialnya terus mengalir membasahi pipinya.
"mas bram ga mungkin melakukan ini, semua ini pasti akal-akalan Tania ,"Mikaila terus meremas keras itu,
Mikaila terus meyakinkan dirinya, mencoba percaya pada suaminya,menguatkan hatinya.
Mikaila keluar dari kafe,meninggalkan amplop dan semua isinya di meja.
Sepanjang perjalanan Mikaila terus beristigfar,lantunan zikir terus keluar dari mulutnya menghapus air mata yang terus mengalir.Berusaha fokus menyetir.
"mas Bram ga mungkin selingkuh,mas Bram mencintai aku,mas Bram menyayangiku,mas Bram hanya milikku,mas Bram ga mungkin bersama Wanita lain."Ucap Mikaila menepikan mobilnya.
Mikaila tak tahan lagi,ia menangis sejadi jadinya di dalam mobil.
"ini pasti ga benar,"terus meyakinkan dirinya.
"Astagfirullah astagfirullahhalazim astagfirullahhalazim astagfirullah"ucap Mikaila mengelus bahkan memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sesak.
"ini pasti ga benar,aku percaya mas Bram,dia suami terbaik.yah ini pasti hanya fitnah Talia."Mikaila terus saja meyakinkan hatinya.
Mikaila menarik nafas dan menghembuskan, menghapus air matanya dan kembali menjalankan mobilnya.
Mikaila berusaha melupakan apa yang baru saja ia alami.
Bram pulang dari kantor, Mikaila mencoba bersikap tenang namun ia tak berani menatap wajah Bram,ia takut hatinya kembali sakit dan kembali menagis...
Mikaila terus menghindari Bram,ia menyibukkan dirinya di dapur dan di kamar anak-anaknya untuk menghilangkan pikiran buruknya terhadap Bram.
Bram pergi ke ruang kerjanya, Mikaila mengambil kesempatan itu,ia masuk ke kamar dan pura-pura tidur,menutup tubuhnya dengan selimut.
Bram kembali ke kamar dan mematikan lampu memeluk Mikaila yang membelakanginya.
Mikaila menggigit selimut dan meremasnya,mencoba menahan isakannya.
Entah mengapa saat Bram memeluknya luka di hatinya semakin sakit.
__ADS_1
Mikaila dengan sekuat tenaga menahan tangisnya agar tak di ketahui Bram.Mengatur ritme pernafasannya agar rasa sakit di hatinya bisa berkurang.
"ini hanya fitnah,mas bram sangat mencintaiku."batin Mikaila terus mengulangi kalian itu seolah menjadikan mantra penguat hatinya.
Merasa Bram sudah tertidur pulas Mikaila berbalik menatap wajah tampan suaminya itu, melihat dengan sangat intens,tak terasa air
matanya mengalir dari sudut matanya.
Mikaila bangun dan mengambil air minum yang ada dinakas samping Bram, dan ia melihat ponsel Bram,dengan ragu Mikaila membuka, memasukkan kata sandi tanggal pernikahan mereka.
Ponsel Bram terbuka,ini pertama kalinya Mikaila mengutak-atik ponsel bram tanpa sepengetahuan Bram.
Mikaila menggigit kukunya dan sesekali melihat Bram,ia membuka semua aplikasi yang ada di sana mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ia cari,sambil terus mengusap air matanya.
Tak ada apapun di sana.
Mikaila berjalan menuju ruang kerja Bram,ia mengunci dari dalam dan mulai membuka semua laci mencari di tumpukan berkas-berkas yang ada di lemar dan di atas meja.
Lama ia mencari namun tak menemukan apa-apa,
"ada apa denganku,kenapa aku lebih percaya pada Talia daripada suamiku sendiri,"gumam Mikaila bersandar di meja kerja Bram,ia mengusap wajahnya menghapus jejak air matanya yang sedari tadi terus membasahi pipinya ia terus mencoba menenangkan hati dan pikiran.
"Deg"jantung Mikaila seakan berhenti berdetak saat melihat amplop rumah sakit yang tertulis nama suaminya.
Mikaila mengambil dan membuka amplop tersebut,tubuhnya terkulai lemah, kepercayaan yang terus ia bangun sejak tadi runtuh seketika saat melihat surat persetujuan operasi pendonoran sumsum tulang belakang.
Hatinya remuk,suami yang sangat di cintai tega menghianati cinta nya, Mikaila mencengkram kuat pegangan sofa tangannya bergetar,,,hatinya sangat sakit ia bahkan tak sanggup lagi mengatur nafasnya tangisnya tersendat-sendat.Seperti ada ribuan ton yang menindih tubuhnya,ribuan pedang yang di hembuskan kedadanya membuat ribuan luka sayatan di hatinya dalam sekejap.
Mikaila terduduk di lantai,, memukul dadanya yang terasa sesak, menagis saja tak sanggup mengurangi penderita nya...
Mikaila mengambil kertas dan mencatat alamat rumah sakit,kamar rawat dan waktu operasi.ia ingin tahu wanita seperti apa yang membuat Bram menghianati pernikahannya.
"ini berarti dua hari lagi,"gumam Mikaila melihat jadwal operasi nya.
Dengan sisa tenaganya Mikaila mengumpulkan dan memasukkan semua barang-barang milik Bram kembali ke dalam tas kerjanya.Sesekali ia kembali terduduk lemah di lantai,ia tak bisa menerima kenyataan ini,ini sungguh sangat berat baginya.
Setelah lebih tenang Mikaila mengambil air wudhu,tak ada tempatnya mengadu kecuali sang maha pencipta.
Mikaila masuk ke kamar anak-anaknya melaksanakan shalat tahajjud beberapa rakaat,membaca ayat suci Al-Quran,, berzikir hingga waktu subuh.
Mikaila tak berani masuk ke kamarnya dan melihat suaminya ,pagi-pagi ia ia langsung keluar rumah dan pamit kepada mba Yanti yang sedang sibuk di dapur,mengatakan kalau ia ingin membeli sesuatu dan meminta tolong mengurus anak-anak nya.
__ADS_1
Mikaila berjalan kaki tanpa tujuan,ia hanya ingin menenangkan diri dan menghindari Bram,
"ojek Bu?"sapa tukang ojek yang melawati Mikaila.
Tanpa kata Mikaila langsung naik,
"kemana bu?"tanya tukang ojek lagi.
"kemana aja pak,"ucap Mikaila mengusap air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya.
Abang ojek yang melihat Mikaila bersedih membawanya ke pantai.
"di sini aja Bu,kalau ingin melepas kesedihan "ucap sang Abang ojek.
Mikaila turun dan membayar ongkos,
"ini masih pagi Bu,saya nggak ada kembalian,"ucap Abang ojek melihat uang Mikaila.
"ambil aja bang kembaliannya."ucap Mikaila langsung berjalan menuju pantai.
Mikaila duduk terdiam disana,hanya air mata yang terus menetes,matanya sudah bengkak karena sejak semalam ia terus menagis.
Memandang lurus kedepan melihat indahnya ombak yang saling kejar-kejaran.
"Ya Allah apa kebahagiaanku sudah berakhir,apa ini akhir dari rumah tanggaku,mengapa ini terlalu menyiksaku,sakitnya sungguh menyayat hatiku,mengapa engkau harus memberi cobaan seberat ini ya Allah."Mikaila membiarkan air matanya kembali tumpah membasahi pipi bahkan hijab nya sudah basah karena air matanya.
"Dosa apa yang sudah ku perbuat,sehingga mendapat teguran sesakit ini,ku mohon kuatkan lah aku,kuatkan hatiku,kasihanilah anak-anak ku ya Allah,"Isakan tangis memilukan mengiringi setiap doang.
Ia terus duduk di sana hingga siang hari,panasnya terik matahari menyadarkan dari kesedihannya.
Mikaila menghapus air matanya merapikan penampilannya,"aku ga boleh egois,aku harus kuat demi anak-anak ku."
Mikaila kembali ke rumah nya setelah hatinya benar-benar tenang.
Mikaila kembali berurai air mata saat melihat anak-anak nya bermain dengan gembira,ia naik ke kamarnya, masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower.Ia kembali menangis tersedu-sedu di bawah guyuran air,terkulai lemah di lantai dengan pakaian yang masih lengkap dan masih memakai hijabnya.
π₯Ίππ₯Ίππ₯ΊπβοΈππ
jangan lupa like Vote dan komennya.
__ADS_1