
"Bu ini bawaannya ga kebanyakan," tanya Jabbar saat melihat tas ibunya yang lumayan besar,belum lagi beberapa koper yang di tumpuk rapi hampir menyamai tingginya.
"tenang aja ibu punya uang ko buat bayar ini semua,"jawabnya sambil menunjukkan dompetnya.
"bukan masalah bayarnya, Bu bawanya itu gimana.Lagian itu ibu mau ke kota bukan mau ke hutan,"
"udah bawa aja ke mobil,ini semua itu titipan adik kamu,nanti dia ngambek lagi."
"emangnya ini apa aja Bu?"tanya ayah yang dari tadi mendengan percakapan mereka.
"ini tu jajanan yang ada di sekolahannya,di minta di beliin semua jenisnya,belum lagi buah buahan yang ada di kebun.Katanya disana ga enak,padahal kan sama aja buahnya,"
"emang Ade masi ngidam Bu?bukannya dah mau lahiran."
"tau ah,dari pada nanti dia ngambek di bawa aja semua."
"udah sana berangkat nanti ketinggalan pesawat lagi,"ucap ayah mulai memasukkan barang ke mobil.
"ayah titip bengkel ya,"ucap Jabbar menyalakan mobilnya.
"Ayu di mana ya,lama banget."
"sabar Bu,nanti juga datang,"
Saat Ayu sudah datang mereka langsung menuju bandara,
"bang lama di sana?"tanya Ayu sambil merapikan hijabnya.
"mungkin cuma sehari,di bengkel Masi banyak kerjaan"
"Wii bengkel abang keren pake banget,belum jadi aja udah banyak yang datang apalagi kalau udah jadi ya bang,pasti Abang kualahan.Kalau butuh karyawan hubungi Ayu ya bang,"
Jabbar hanya mengangkat jempolnya mendengar ocehan adik sepupunya itu.
Jabbar dan ibunya berangkat ke kota tempat tinggal Mikaila sedangkan Ayu membawa pulang mobil mereka.
"Mas aku ikut ya,"rengek Mikaila.
"kamu tunggu di rumah aja sayang,kasian dede bayi nya nanti capek.,"
"aku tunggu di mobil aja ko mas,boleh ya,"
"tunggu di rumah aja ya sayang,"mengecup kening Mikaila.
"iya ,"jawabnya lesu,ia tau kalau suaminya itu tidak suka di bantah.
Bram menjemput mertua dan adik iparnya.
Ting
pesan masuk di ponsel Bram dari Jabbar menyatakan posisinya.
Bram langsung ke arah yang dimaksud Jabbar.
"Bu biar Bram bawa tasnya,"ucap Bram mengambil tas besar yang di bawa ibunya.
"mas yang disana juga bawaan ibu,"tunjuk Jabbar pada koper yang tak jauh dari mereka.
"semua Bu,"
"iya,itu semua titipan istrimu,"jawab ibu sambil berjalan menuju mobil Bram.
Bram dan Jabbar memasukkan semua barang bawaan ke dalam mobil dan pulang kerumah.
"gimana pembangunannya?"tanya Bram sambil menyetir.
"80 persen lah mas,bentar lagi selesai."
"Oya nak,rumah kalian udah jadi tinggal perabotannya aja, pindahannya mau di tunda dulu atau gimana?"tanya ibu
"ibu atur aja Bu,kalau bisa sih ibu aja yang adain syukurannya.Kami belum bisa ke sana mungkin tunggu Mikaila sehat habis melahirkan."
"ya udah nanti ibu bikin syukuran kecil-kecilan aja dulu,nunggu kalian datang."
Mikaila sangat senang saat melihat mobil Bram memasuki gerbang rumahnya,ia sangat merindukan ibunya.Ia berdiri di teras rumah sambil melambaikan tangan ke arah mobil mereka.
Jabbar yang melihat tubuh adiknya yang semakin gendut dan perut yang besar tak bisa menahan tawanya.
__ADS_1
"Ade lucu Bu"ucapnya di sela-sela tawanya.
"hus,kamu jangan ledek Ade kamu,diperutnya itu ada ponakan kamu cucu ibu,"
"jangan bahas soal berat badan Kaila sensitif soal yang satu itu,"ucap Bram.
"ia mas maaf,tapi Ade cocok ko gembul gitu makin gemesin kaya waktu dia masi SD mas gendut banget."
Mikaila langsung memeluk ibunya,
"ibu ayah mana?"tanyanya yang tak melihat sosok ayahnya.
"ayah ga ikut,kalau semua kesini siapa yang mengurus pembangunan di kampung."
"Bu pesanan Ade ada kan?"
"iya ada,dipanasin dulu biar enak makannya.
Mereka menurunkan semua bawaan ibu kaila,
"ini bawa ke dapur aja ya,isinya cuman makanan,"ucap ibu menunjuk koper yang berisi pesanan Mikaila.
Bi Yanti dan mba Lala mengeluarkan semuanya dan menyimpannya di dalam kulkas,sedangkan ibu mengambil somay dan memanaskannya memberi bumbu kacang yang sangat menggoda.
Mikaila dengan lahap memakan somay tersebut
"makan apa sayang,lahap banget?"tanya Bram.
"ini mas somay yang di bawa ibu,enak lho.Mas mau?"tanyanya menyodorkan piring yang di pegang ya.
"enak,ya udah habiskan."ucapnya mencubit pipi gembul Mikaila.
Mikaila makan sambil bercerita tentang kegemarannya dan Humairah.Meraka ga pernah absen makan makanan itu saat sekolah dulu.
Bram hanya mendengar sambil membersihkan mulut Mikaila yang belepotan terkena bumbu somay yang ia makan.
Ibu bisa melihat Mikaila mendapat banyak cinta dari suaminya.
Mendengar besannya datang,ibu Bram mengunjungi rumah anaknya itu.
Isabela yang mendengar dari Arabela kalau Jabbar ada di rumah Mikaila langsung tancap gas, tak mau melewatkan sedikitpun untuk bertemu pujaan hatinya.
"kapan prediksi kelahirannya nak,?"tanya ibu Bram
"2 Minggu lagi Bu,"jawab Mikaila.
"Bram kamu sudah siapkan keperluan persalinannya,"
"sudah Bu,Bram sudah simpan semuanya di dalam tas."
"Bu makin dekat jadwal persalinannya Ade makin deg-degan."bersandar di bahu ibunya.
"itu wajar sayang,ini kan persalinan pertama kamu, tapi ibu yakin kamu pasti bisa melewatinya ,"ucap ibu mengelus pipi putri kecilnya.
"kak besok kita jalan-jalan yuk,"ajak Isabela kepada Jabbar.
"tapi besok aku dah pulang."
"ko pulang si,kan baru aja sampai,"protes Isabela.
"ya iya lah,dia itu kesini cuma nganterin ibunya bukan liburan,"ucap Arabela sambil melempar kulit kacang yang di pegang ya.
"emangnya mau kemana?"
"ya jalan jalan aja kak,"ucapnya manyun.
"boleh deh,kita jalannya besok pagi aja,aku rencana pulangnya agak sore ko,jadi bisa jalan-jalan dulu."
"kita mau kemana?"tanya Arabela.
"kita,,,siapa yang ajak Tante!! orang aku ajak kakak aja ko,"memegang lengan Jabbar.
"ya udah kalau ga mau ngajak aku,aku bisa jalan-jalan sama pacar aku ko!!.
"emang Tante udah punya pacar lagi?"
"udah dong.yang ini lebih tampan dari yang dulu tau,"memperlihatkan foto dari ponselnya.
__ADS_1
"biasa aja tu tante,tampan kak Jabbar kemana-mana .
"Gimana kalau besok kita perginya bareng aja biar lebih seru rame-rame,"
"boleh tu aku setuju"sambar Jabbar.
Isabela hanya bisa menghela nafas menatap horor Arabela,tadinya ia hanya ingin jalan berdua aja dengan Jabbar.
Sesuai janji,
Isabela menjemput Jabbar dengan mobilnya,rencananya ia akan langsung ke bandara sore nanti.
Mereka janjian di salah satu mall,mereka akan nonton di bioskop.
Arabela melambaikan tangan saat melihat Isabela dan Jabbar memasuki area bioskop tempat mereka janjian.
Arabela dan David pacarnya sudah membeli 4 tiket dan beberapa cemilan untuk mereka.
"Ayo langsung masuk,aku dan nyiapin semuanya,"ucap Arabela.
Mereka pun menonton lalu makan di salah satu restoran yang terkenal romantis di kota itu.
"Udah waktunya aku ke bandara,aku duluan ya,"ucap Jabbar setelah makanannya habis.
"aku anterin kak,"ucap Isabela membereskan tasnya.
"ga usah,aku naik taksi aja"tolak Jabbar.
"udah kamu di anterin isya aja,nanti telat lagi."
"ya udah deh,".
Isabela mengantarkan Jabbar ke bandara.
Saat di jalan Isabela terus memperhatikan Jabbar yang tengah menyetir.
"Ada apa,ada yang salah dengan wajahku?"tanya Jabbar yang merasa tak nyaman di perhatikan.
"iya kak,wajah kakak ganteng banget.Aku sampai ga bisa berpaling dari pandanganku."terus memandang wajah tampan Jabbar
"masa si,makasih cantik."balas Jabbar.
"kakak dah punya pacar?"
"aku masi sibuk ngebangun masa depan aku sekarang,ga kepikiran buat pacaran.
"kakak sukanya tipe cewe kaya apa?"
"ga harus tipe aku juga sih,yang penting seiman,cewe nya baik,Soleha,dan yang paling penting mau menerima aku apa adanya bukan ada apanya."canda Jabbar.
"kalau aku,masuk tipenya kakak ga?"
"kamu itu cantik,dari keluarga terhormat,cerdas pasti banyak yang suka sama kamu."ucap Jabbar.
"tapi aku masuk ga tipenya kakak?"
"iya,kamu tipe wanita idaman."kata Jabbar tersenyum ke arah Isabela yang membuat jantungnya hampir melompat keluar.
"udah sampai,makasih ya, tumpangannya,"kata Jabbar mengacak-acak rambut Isabela.
"aku anterin sampai dalam ya kak,"
"ga usah ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang.Ga baik anak gadis keluyuran malam-malam.."
bye bye.
Isabela memegangi rambutnya dan menatap kepergian Jabbar yang semakin menjauhinya.
"berbalik berbalik berbalik,"ucapnya memohon.
Dan benar saja Jabbar berbalik dan melambaikan tangannya.
Isabela berjingkrak jingkrak di dalam mobilnya saking senangnya.
"baju hitam jangan sampai lolos"bersenandung sambil mengarahkan tangannya ke arah Jabbar seolah menembak sasaran yang ada di hadapannya.
bersambung,
__ADS_1
terimakasih