
Vila keluarga Wijaya.
semua telah berkumpul di ruang keluarga,kecuali Bram dan yoga,walau mereka tengah berlibur namun pekerjaan tetep no satu.
Zahra bergabung dengan keluarga Wijaya dia bermaksud mendekatkan diri dengan keluarga besar Bram,Humaira bergabung dengan Arabela dan Isabela,mereka langsung akrab karena mereka memang seumuran.
Sedangkan Mikaila karena sering membantu ibunya menyiapkan makanan untuk keluarganya dan senang memasak ia memilih ke dapur membantu bi Sumi dan ibu Bram menyiapkan makan malam,sambil memasak ibu Bram bertanya pada Mikaila,
"kamu sudah lama bekerja,"
"sudah 2 tahun lebih Bu"
"kamu suka kerja di butik,"
"iya Bu,"jawabnya.
"kamu hebat ya,masih muda sudah mau bekerja,"
"Kaila dari keluarga sederhana bu,gaji Kaila lumayan buat bantu-bantu kebutuhan keluarga dan dengan bekerja Kaila bisa memenuhi kebutuhan Kaila sendiri,nggak nyusahin orang tua,"
"kalau kamu sudah nikah kamu masi mau kerja?"
"lihat dari pasangan Kaila aja, kalau dia mampu biayain kehidupan Kaila dan bantu keluarga Kaila ya untuk apa bekerja,Kai ingin ngurus suami dan anak-anak aja.
"kamu dah punya calon.??!"tanya ibu lagi.
"belum Bu,"
"kalau ada yang berniat nikahin kamu di usia kamu sekarang apa kamu siap menikah?"
"kalau orangnya baik dan Kaila nyaman kenapa tidak,"
"kalau usianya beda jauh dengan kamu bagaiman??!"
"hemmm gimana ya,"Kaila duduk menopang dagu Sambil berfikir.ibu ikut duduk menunggu jawaban Mikaila, begitu juga dengan Bram yang dari tadi mendengar pembicaraan meraka merasa penasaran,ia mengambil air minum dan duduk di dekat Mikaila.
"kalau dia udah tua kayanya engga deh Bu,"
"kenapa tanya Bram,"
"iya,nanti Kaila yang kerja dia hanya dirumah aja batuk-batuk pake koya,terus tiap malam minta di pijat dan di kerok lagi,"jawab Mikaila bergidik ngeri membayangkan dia menikah dengan kakek-kakek.
Bram tertawa,bahkan tawanya terdengar di ruang keluarga yang memeng masih terhubung dengan dapur.
Semua menoleh ke arah Bram yang semenjak kepergian orang orang yang di cintai nya tidak pernah tertawa lepas seperti sekarang ini,sampai mulutnya terbuka lebar.
jleb Mikaila memasukkan brownis yang sedang di potong-potong nya.
"dari pada tertawa lebih baik mas makan kue aja,"menyodorkan sepiring kue dan segelas jus,
"ga lucu tau,"muka ngambek.
karna gemes Bram menarik hidung Mikaila.
"adu Du sakit sakit,"keluhnya sambil memukul-mukul tangan Bram yang menarik hidungnya.
__ADS_1
"kalau ga mau ini buat kei aja,"sambil mengambil kue dan susu.
"eeee ini punya aku, kalau sudah memberi jangan di minta lagi ,"memasukkan potongan kue ke mulutnya.
"gimana rasanya tadi aku sama ibu yang buat,"tanya Mikaila bersemangat.
"Hemmm" gaya berfikir layaknya pencicip makanan.
"manis nya di kurangin dikit ya soalnya kamu dah manis banget,".
Blus pipi Mikaila memerah ia tersipu malu,ibu yang mendengar gombalan anaknya mencubit pinggang Bram
"adu Du sakit Bu,"
"Siapa suruh godain calon mantu ibu sampai pipinya kaya tomat merah gitu,"
Mikaila memegang pipinya,ia tersenyum kikuk mendengar ucapan ibu Bram.
"kalau yang lamar kamu itu Bram Gimana kamu mau kan?"tanya ibu to the poin.
"ha,"Mikaila terkejut mulutnya terbuka labar.
Bram membalas Mikaila memasukkan brownis ke mulutnya.
Kaila refleks memukul lengan Bram.
"kamu belum jawab pertanyaan ibu,"tanya ibu mendesak .
Mikaila hanya tersenyum kaku,bingung harus menjawab apa.
"Kaila ga tau bu, ," jujurnya ia menunduk memainkan jari-jarinya.
"kamu mau ga ta' Aruf Sama aku,aku nyaman sama kamu,aku mau kamu jadi istri aku,"tanya Bram.
Jantung Mikaila serasa mau melompat keluar Bram melamarnya di depan ibunya,ia benar-benar bingung harus menjawab apa.
Mikaila menatap Bram dan ibu Bram bergantian.
"mau ya,"kata Bram memperjelas.
ibu Bram mengangguk saat Mikaila melihatnya.
"Mikaila tanya ibu sama ayah dulu ya mas,"jawabnya tersenyum manis.
"tentu saja,mas tunggu jawabannya,"
Cie cie Isabela, Arabela dan Humaira tiba-tiba masuk ke dapur dan penggoda mereka,mereka menguping pembicaraan Bram dan Mikaila dari tadi.
Suasana dapur pun jadi ramai.karena ulah adik dan ponakan Bram serta sahabat Mikaila yang terus menggoda Mikaila bahkan bi Sumi sesekali ikut menggodanya.Sedangkan Bram sudah kembali keruangan kerjanya menemui Yoga yang sedari tadi menunggunya.
Tadi Bram keluar sebentar untuk mengambil air minum,namun mendengar pembicaraan ibu nya dengan Mikaila dia pun melupakan kalau ada yoga yang menunggunya.!!!
Saat makan malam Kaila tak luput dari godaan Isabela yang membuat anggota keluarga yang lain penasaran.
"maksud kamu apa sih nak,"tanya ayah Bram.
__ADS_1
"ini yah mas Bram ngajak Mikaila ta'aruf,"
Alhamdulillah ucap mereka,
"akhirnya kabar bahagia ini datang juga,"ucap Nene Bram menitihkan air matanya..
"semoga kalian cepat menikah dan memiliki keluarga yang sakina Mawardah warahma,bahagai hingga kakek dan nenek."kata sang nene dengan mata yang berkaca-kaca..Ia merentangkan tangannya ingin memeluk Mikaila,Mikaila menghampiri Nene Bram.Ia mendapat ciuman di seluruh wajah cantik nya.
"nene percaya Bram akan memberi kebahagian padamu,"kata Nene.
Mikaila menghapus air mata Nene Bram dan memeluknya.
Semua yang melihatnya ikut terharu kecuali Zahra,ia mengepal tangannya.
"ini enggak mungkin, sejak kapan Mikaila dekat dengan Bram,aku ga akan biarin mereka bersatu, Bram milik aku hanya milikku,"batin Zahra.
Mikaila sangat senang ia tak menyangka orang yang ia cintai juga mencintainya.
Hari ini hari terakhir di puncak.Bram mengajak Mikaila ke air terjun yang ada di belakang vila,Zahra yang melihat nya mengikuti mereka secara diam diam.
Mikaila sangat senang,pemandangan yang indah di temani pria yang ia cintai.mereka berjalan-jalan di sekitaran air terjun setelah lelah mereka duduk di bebatuan besar yang cukup curam namun memperlihatkan pemandangan yang indah.
"kamu tunggu di sini dulu ya,aku mau cari minum dulu"
"iya mas,"
"kamu ga apapa di tinggal sendiri,"
"hemm, "mengangguk sambil tersenyum
Bram gemes melihat tingkah gadisnya itu ,ia menangkap kedua pipi Mikaila gemes dan mencium keningnya.
Bram berjalan menjauh ,Mikaila memegang pipi dan keningnya.Wajahnya merona, baru kali ini ada pria yang menciumnya.
Zahra yang melihat Bram meninggalkan Mikaila dan di tempat itu sedang tidak ada satu orang pun tanpa berfikir panjang berjalan mengendap-endap dan mendorong Mikaila.
byurrrrr...... Mikaila terjatuh ke air,Zahra yang melihat Mikaila terjatuh ke air tersenyum bahagia,
"itulah akibatnya kalau kamu mencoba merebut Bram dari aku,"
Zahra dengan cepat meninggalkan Mikaila yang hampir tenggelam,ia tau kalau Mikaila tidak bisa berenang.
Bram yang kembali membawa air minum kebingungan mencari Mikaila,
"kaila kemana," gumamnya sambil melihat-lihat di sekitarnya,
Tanpa sengaja ia mendengar suara air, ia menengok kebawah dan melihat sosok Mikaila tengah berusaha menahan diri agar tidak tenggelam.Tanpa berpikir panjang ia melompat ke air dan berenang menuju Mikaila,belum sempat Bram menggapainya tubuh Mikaila terkulai lemah dan mulai tenggelam.Dengan cepat Bram menarik tangan Mikaila dan berenang ke tepian.
"kaila bangun sayang, "Bram mengangkat tubuh Mikaila yang sudah tak berdaya.
"bangun sayang,"Bram memukul-mukul pipi Mikaila menekan dadanya dan memberikan nafas buatan,ia melakukanya berulang ulang namun tak ada respon sama sekali.
Bram langsung membawanya ke rumah sakit.di perjalanan Bram terus berdoa agar apa yang ia takutkan tidak terjadi lagi,rasa sakit sewaktu kehilangan Inanti kini ia rasakan kembali. tak terasa air matanya menetes.
"Kai jangan tinggal kan mas Kai,ayo bangun buka mata Kamu sayang.Ia menggenggam tangan Mikaila dengan erat sambil terus menciuminya meletakkan di dadanya.ia melajukan mobilnya cukup kencang.
__ADS_1
bersambung...
jangan lupa like and votenya ya makasih 🙏👍😘