
Rumah besar kini selalu ramai oleh anak-anak, cucu, dan cicit dari Pak Wijaya. Anindita bahkan tinggal dirumah besar untuk sementara waktu. Ia turun langsung merawat Ayah yang sangat dicintainya. Pak Surya juga sesekali menginap di rumah itu.
Ibu dengan setia terus menemani ayah, duduk di sampingnya mengelus tangan suaminya.
Pria kekar, pekerja keras yang pernah dinikahinya itu terbaring lemah di atas tempat tidur dan bergantung pada alat-alat yang menempel pada tubuhnya.
Walau ayah tak banyak bicara. Namun dengan kehadiran anak, cucu dan cicit yang sangat disayanginya sungguh sangat membuat dia bahagia.
Sudah seminggu kini ayah dirawat dirumah dan kondisinya sudah semakin membaik.
Hari ini Raina sedang berkunjung ke rumah besar bersama Aira, putri kecilnya.
Raina dan Ayra langsung ke kamar kakek, seperti biasanya, ibu akan menemani Kakak di kamar.
"Raina, bagaimana dengan pertunangan Gavin, tanya ibu.
"Semua persiapannya sudah beres, Nek!"Jawab Raina sambil bermain dengan putri nya di lantai.
"Walau ibu belum mangenal Diandra, tapi sepertinya dia anak yang baik dan cocok buat Gavin."
"Iya, Nek. Diandra anak yang sangat baik, dia juga cantik dan sangat polos," jawab Raina.
"Tapi, kenapa Gavin terbilang mendadak ya, memutuskan untuk bertunangan dengan Diandra? Apa mereka memang sudah lama saling kenal, ya!"
"Raina juga ga tau, Nek. Yang jelas Sepertinya Gavin sangat mencintai Diandra dan begitu juga sebaliknya."
"Kelvin sendiri dengan Natali, apa mereka tak ada rencana untuk meresmikan hubungan mereka?"
"Kalau ga salah, aku dengar dari Natali. Kelvin pernah mengatakan jika ingin menikahinya. Tapi Natali sendiri nggak tau kenapa sampai saat ini Kelvin masih belum melamarnya. Mungkin menunggu Gavin lebih dulu menikah dengan Diandra," jelas Raina.
"Kenapa harus menunggu, mereka bisa bertunangan di hari yang sama," ucap ayah yang sedari tadi hanya mendengar pembicaraan mereka.
"Iya, mereka kan kembar. Di dalam rahim aja mereka bersama-sama, mereka juga bisa bartunangan di hari yang sama," tambah ibu.
"Kenapa mereka harus bertunanga, mereka bisa langsung menikah. Bukannya itu lebih baik, Gavin dan Diandra bahkan sudah tinggal di rumah yang sama. Sekarang Kuliah Kelvin juga sudah selesai, apa lagi yang membuat mereka tak meresmikan secepatnya hubungan mereka," sahut ayah.
"Raina juga ga tau, Kek!"
"Raina, Ini sudah jam berapa, kamu ga memberi makan Ayra," ucap ibu.
Raina melihat jam yang ada di dinding, karena terus berbicara, ia jadi melupakan Ayra. Jam makan gadis kecil itu sudah terlewatkan.
"Raina memberikan beberapa mainan dan mendudukkan Ayra di atas karpet yang ada di kamar itu. " Ayra main disini dulu ya, Mama buatkan mam, ya!" ucap Raina memberikan pengertian pada Ayra.
"Mamam," celoteh Ayra. Sudah beberapa kata yang ia bisa ucapkan, walau masih menggunakan bahasa bayi.
Raina ke dapur,
"Ayah, ibu ke dapur dulu, liatin Ayra sebentar, ya!"
__ADS_1
Ibu juga meninggalkan Ayah dan Ayra di kamar.
Ayah tersenyum saat melihat Ayra yang berusaha untuk naik ke tempat tidurnya dan terus meminta bantuan pada kakeknya. Namun Pak Wijaya yang begitu lemah tak mampu menolong cucunya itu untuk naik dan ikut bergabung dengannya.
Pak Wijaya hanya terbaring memberikan tangannya pada Ayra agar gadis kecil itu bisa memegang tangannya.
Ayra tertawa saat kakeknya menggerak-gerakkan tangannya. Ayra memegangnya erat jari telunjuk kakeknya, membuat Ayah merasa sangat senang dan ikut tertawa pelan.
Semenjak kakeknya sakit saat Arya akan ke kantor, ia akan membawa Raina dan Ayra ke rumah besar.
Walau tak meminta, tapi Arya yakin jika kehadiran Ayra pasti sangat menghibur kakek yang merasa kesepian di kamarnya.
Ayra kembali ingin mencoba untuk memanjat naik ke atas ranjang, ingin ikut bergabung dengan kakeknya. Ayra mencoba memanjat pada kain selimut yang menjuntai ke bawah.n Namun usahanya tetap saja gagal Setelah mencoba berulang-ulang
Ayah coba membantu cicitnya itu dengan memberi bantal yang ada disekitarnya, yang dapat digapai oleh tangannya.
Ayra dengan sigap mengerti apa yang dimaksud kakeknya, ia menyusun bantal itu satu persatu kemudian perlahan-lahan mulai menaiki satu demi satu bantal dan ia berhasil naik ke atas kasur bergabung dengan kakeknya.
Ayra yang baru berjalan mencoba untuk berdiri dan berjalan perlahan menuju kakeknya.
Kakek yang melihat cucunya itu tertawa senang dan berjalan ke arahnya mencoba memberi pegangan pada Aira dengan jari telunjuknya agar gadis kecil itu tak terjatuh saat berjalan di kasur yang empuk.
Begitu sampai pada kakek, Ayra langsung mencium pipi kakeknya menunjuk-nunjuk selang infus yang masih terpasang di pergelangan kakeknya.
Perlahan kakek menarik wajah cucunya itu mencium pipi kiri dan kanan dengan gemas kemudian membawa Putri Arya itu ke pelukannya mengusap lembut rambutnya.
Kakek hanya berharap jika seluruh keluarganya bisa berkumpul lagi di akhirat nanti.
"Tetet" ucap Ayra memanggil kakaknya dengan bahasa bayinya.
"Iya, Sayang," jawab Kakek merasa berbunga-bunga saat mendengar cicitnya itu.
"Tatet," ucap Ayra lagi membuat kakek semakin sangat gemes. Namun terasa sangat lemah untuk mengangkat cicitnya.
Beberapa saat kemudian ibu dan Diandra masuk kedalam kamar dan ia melihat Ayra sudah ada di atas ranjang bersama kakeknya.
"Bu, Bukannya tadi Ayra di bawah, ya?" tunjuk Raina pada beberapa mainan yang masih tergeletak di lantai.
"Iya, sepertinya tadi kita meninggalkan Ayra di lantai,"! ucap Ibu juga melihat ke arah ayah dan Ayra. Namun mereka kemudian melihat bantal yang tersusun di di salah satu sisi kasur.
"Ayah, Ayra naik sendiri ke kasur?" tanya ibu mendekati suaminya.
"Iya, dia anak yang pintar," ucap Ayah pelan mengelus Pipi bakpao cicitnya
"Ayra jangan ganggu Kakek, ya! Kakek lagi sakit," ucap Raina mencoba mengambil Ayra. Namun Ayra menolak dan terus pemeluk tangan kakeknya.
"Sudah tidak apa-apa, biarkan dia di sini. Ayo beri dia makan," ucap kakek.
Ayra pun makan sambil bermain dengan kakeknya.
__ADS_1
Hari ini Pak Wijaya terlihat begitu segar, biasanya dia hanya bangun Sebentar dan kemudian beristirahat kembali. Berbeda dengan hari ini, kehadiran Ayra membuat kakek sangat bahagia.
Sore hari Bram, Arya, Kelvin dan Gavin menghampiri kakek mereka sepulang kantor.
"Bagaimana keadaan kakek?" tanya Kelvin menghampiri kakeknya, memijat pelan tangan yang keriput dan sangat lemah..
"Seperti yang kamu lihat, Kakek tinggal menunggu ajal menjemput," ucap Kakek masih dengan model bercandanya.
"Kakek pasti sembuh, Kevin yakin Kakek akan sembuh."
"Seminggu lagi Gavin akan bertunangan, apa kamu tak mau membuat Kekek lebih bahagia lagi dengan kamu juga bertunangan atau mungkin kau langsung menikahi Natali," ucap Kakek.
Kelvin hanya terdiam.
"Papa sependapat dengan Kakek kalian. Bagaimana kalau acara pertunangan kita ubah menjadi acara pernikahan untuk kalian berdua," ujar Bram.
Kelvin dan Gavin saling tatap kemudian mereka berdua menata Arya.
"Kenapa kalian menatapku, tinggal bilang iya aja kan nggak masalah, beras," ucap Arya santai duduk di sisi lain kasur kakeknya.
"Lagian apa bedanya kalian menikah dan bertunangan. Gavin, Diandra sudah tinggal di rumah, coba kau bujuk dia sebaiknya pertemuan kalian dijadikan acara pernikahan saja," ucap Bram.
"Iya, Pah. Nanti Gavin coba menuju Diandra," ucap Gavin.
Ada benarnya juga, untuk apa bertunangan, Diandra juga tinggal di rumah yang sama. Bukankah meresmikan hubungan kami ke pernikahan jauh lebih baik. Pikir Gavin.
"Kelvin, gimana denganmu? Kakek juga sangat berharap bisa melihatmu menikah!"
"Akan Kelvin pikirkan, Kek!.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
Mampir ke karya ku yang lainnya ya kak 🙏
mohon dukungannya,💖
ditunggu like dan komentar 🥰
salam dariku Author m Anha ❤️
love all 💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1