Pilihan Ku

Pilihan Ku
Kamu milikku


__ADS_3

Tak terasa 2 Minggu telah berlalu,sudah waktunya Bram dan Mikaila untuk kembali ke kota x. Ayah, ibu dan kakaknya mengantar mereka ke bandara dengan mobil yang baru di beli oleh Bram dan Bram sendiri yang menyetir...


Mikaila berpamitan kepada ayah dan ibu nya, walau berat ibu mengizinkan mereka pergi dengan di iringi doa.


Saat pulang, Jabbar lah yang menyetir. Selama bekerja di bengkel ayah temannya, ia belajar menyetir mobil,,


"Enak ya kalau punya mobil sendiri ga usah susah-susah cari angkot," kata ibu bersandar mencari posisi nyaman.


"Bu, emang suami Ade kaya banget ya Bu?"


"kayaknya, kamu tau ga? Ade di beliin rumah besar banget. Ada taman yang luas dan 2 kolam renangnya,"


"Kapan-kapan kita ke sana ya, Bu."


"Iya, entar kalau mereka dah balik dari bulan madu baru mereka pindah ke rumah itu."


"Dia juga ingin merenovasi rumah kita, tapi ayah tolak."


"kenapa ayah tolak? Bengkel Jabbar aja mau di renovasi."


"kok kamu ga bilang si kalau bengkel mau di renovasi?" tanya ayah.


"Maaf yah, soalnya suami ade maksa. Biar bisa bantu ayah katanya."


"Nggak apa-apa lah, Yah! Toh yang membantu mantu kita ini."


"Ayah hanya ga enak, Bu. Di udah bantu kita banyak."


"Ayah, Bram itu bukan membantu kita aja, tapi banyak warga lainnya yang di bantu oleh nya ."


Sebelum pulang mereka berjalan-jalan terlebih dahulu, menikmati mobil baru mereka.


Bram membawa istrinya itu ke rumah orangtuanya terlebih dahulu.


"Mas, kok kita ke rumah ibu?" tanya Mikaila saat mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang rumah keluarga Wijaya.


"Kita nginap di sini dulu, sebelum kita ke pergi bulan madu nya."


"Maksud aku, Mas 'kan punya rumah sendiri. kenapa kita nggak ke sana aja?"


Bram hanya tersenyum menjawab pertanyaan istrinya sambil mengusap pipinya. Mana mungkin ia mengatakan kalau di sana masih tertata rapi semua kenang-kenangan almarhum istrinya dan anaknya.


"Ayo turun dah sampai, kamu pasti capek kan?" tanyanya mengalihkan perhatian istrinya.


"Iya, Mas, capek banget mau langsung rebahan."

__ADS_1


Mereka sampai ke rumah saat malam hari,


mereka di sambut oleh semua keluarga, karena Bram memang mengabari kepulangannya kepada ibunya.


Bram membawa barang-barang mereka ke kamar, sementara Mikaila diajak ibu ke ruang makan.


"Kamu makan dulu baru istirahat ya," kata ibu sambil mengambil kan makan di piring menantunya itu.


"Iya Bu, makasih,"


"Sama-sama, Sayang," ucap ibu mengelus rambut Mikaila.


"Bela panggil kakak kamu," teriak ibu pada anak bungsunya yang tengah asyik nonton drama Korea bersama Isabela cucunya.


"Iya, Bu," balas Arabela.


Saat Bram ingin keluar ia tak sengaja melihat foto Inanti di meja dekat tempat tidur, ia mengambil dan mengusapnya, ia menatap lama foto itu, entah perasaan apa yang menghinggapi nya saat ini.


"Kamu yang tenang di sana ya, doain mas bahagia bersama Mikaila. Kamu akan tetap menjadi bagian dari kenangan indah ku," ucapnya terus mengusap foto tersebut.


tok tok tok,


"Mas, di panggil ibu,"panggil Arabela.


"Iya." Bram menaruh foto tersebut di laci paling bawah meja tersebut.


Yoga dengan teliti menjelaskan ke adaan kantor saat ini.


Bram sangat berterima kasih kepada Yoga, walaupun ia tidak ke kantor selama 2 Minggu namun semua tetap berjalan lancar, selama di kampung Yoga selalu mengirim beberapa pekerjaan yang memang harus Bram sendiri yang mengerjakannya.


Yoga sudah menjadi asisten Bram sebelum Yoga menjadi kakak iparnya.


Meraka di ruangan itu cukup lama, saat Bram masuk ke kamar ia mendapati istrinya telah tertidur pulas. Bram ikut membaringkan tubuhnya iapun merasa sangat letih, perjalanan yang memakan waktu cukup lama di tambah harus langsung berurusan dengan pekerjaan.


Ia mengecup kening Mikaila lalu matanya tertuju pada bibir mungil


istrinya, awalnya hanya sebuah kecupan namun kecupan itu berubah menjadi ciuman. Mikaila terbangun dari tidurnya karena merasa terganggu.


Mereka pun tertidur pulas setelah melewati malam yang melelahkan.


Mikaila bangun lebih awal dari biasanya,itu adalah salah satu nasehat ibunya agar saat menjadi seorang istri ia harus bisa mengurus keperluan suaminya termasuk membuatkan sarapan.


Mikaila menghampiri ibu mertua dan beberapa asisten rumah tangga yang sedang berkutat di dapur membuat sarapan.Ibu yang melihat menantunya itu berjalan ke arahnya tersenyum.


"sudah bangun sayang,"

__ADS_1


"iya Bu,apa yang Kai bisa bantu.


"ini kamu potong aja sayuran ini,"kata ibu memberikan beberapa ikat sayuran.


"jangan sungkan ya sayang anggap ibu ini ibu kandung kamu sendiri,"


"iya Bu,"


"Bram masih tidur?"tanya ibu.


"iya Bu,tadi selesai shalat ia tidur kembali,"


"tidak biasanya dia itu kembali tidur setelah shalat,biasanya ia akan langsung ke ruang fitness.pasti dia sangat kelelahan,."


Mikaila hanya menanggapi ucapan ibunya dengan senyum.


"bagai mana ia tidak kelelahan,Bram melepaskan ku saat adzan subuh berkumandang,ia bahkan belum tidur sama sekali sepulang dari kampung.."batin Kaila.


Bram bahkan melewatkan sarapannya..


"Bram masih tidur nak,??"tanya ayah


"iya yah,tadi Kai udah bangunin tapi katanya sarapannya nanti aja,"


"begitulah kalau pengantin baru ,energinya suka terkuras,"goda pak Surya.


"bagaimana tidak capek,ia mengerjakan pekerjaan sebulan dalam semalam,"ucap yoga.


"maksud nya??"tanya ayah..


"katanya ia akan bulan madu selama sebulan," lanjutnya sambil terus mengunyah nasi goreng kesukaannya buatan ibu mertua.


Walau mereka dari keluarga konglomerat namun masalah makanan mereka yang memasak walau dengan bantuan asisten rumah tangga.


Mikaila menelan makanannya dengan susah payah mendengar kata 1 bulan mereka akan berbulan madu,masih terekam jelas di otaknya bagaiman Bram melakukan nya semalam.


Mikaila bahkan tak bisa merasakan tubuhnya sendiri,tak terhitung berapa kali Bram membuatnya mencapai puncaknya.


Bram terbangun saat merasa lapar,saat membuka mata ia melihat Mikaila yang tengah menyusun pakaian di lemari,


ia menghampiri dan memeluknya dari belakang, mencium pucuk kepala istrinya yang tertutupi hijab.


"mas ga lapar,"tanya Mikaila mengelus lengan suaminya yang melingkar di perutnya.


"temenin mas makan ya ?!"

__ADS_1


"iya mas,ini sudah mau makan siang lho."


Bram hanya mengangguk dan masuk kekamar mandi.


__ADS_2