
Gavin yang mendapat telepon dari Raina jika Papanya sedang ada di kantor dengan segara menghabiskan minuman nya.
"Nisa aku ke kantor dulu ya, ada rapat dadakan?" ucap Gavin pada pacar barunya.
"Nisa, siapa Nisa? tanyanya.
"Maaf maksud aku Naya," ralat Gavin.
"Siapa lagi tuh Naya," mulai geram.
"Salah ya,, nama kamu siapa sih?" tanya Gavin tak ingin salah lagi.Dia sedang panik jadi lupa siapa nama gadis yang sedang bersamanya.
"Mamaku Mia, kita putus aja," kesal Mia melempar serbet ke depan Gavin dan pergi dari sana.
"Kok putus sih kan baru aja jadian," gumam Gavin menggaruk kepalanya yang emang gatal.
Gavin baru sadar jika tadi Raina menelfon nya, ia bergegas kembali ke kantor. Gavin sedikit berlari Saat memasuki lobby, sebelum membuka pintu ruangan tempat kerjanya Gavin memperbaiki penampilannya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Bersiap untuk menjawab pertanyaan dari Papanya.
Gavin menghembuskan nafasnya kasar dan membuka pintu memasang senyum terbaiknya, Gavin masuk dan melihat jika semua yang ada di sana melihat kepadanya. Bunda, Papa, Arya, Raina, dan Natali. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan mereka masing-masing.
"Duduk," tegas Bram.
Bram duduk di kursi kebesarannya, Gavin pun duduk di kursi depan Papanya sedangkan yang lain duduk di sofa di ruangan itu menahan tawa melihat ekspresi ketakutan Gavin saat melihat Papanya,
"Kamu dari mana?" tanya Bram,
"Dari makan pah,"
Bram melihat jam yang melingkar di tangannya,
"Ini belum jam makan siang, ini masih jam kantor jam!"
"Iya Pak, maaf Gavin laper," ucapnya,
"Bukannya tadi di rumah Kamu sudah sarapan?!"
"Tadi sarapannya dikit pah, makanya lapar lagi," Alasan konyol Gavin, dari sekian banyak alasan yang sudah di persiapkan ya entah mengapa ia memiliki alasan itu.
"Kamu makan sama siapa?" tanya Papa lagi, memainkan pulpen di jarinya, mengetuk-ngetuk nya di meja. Bunyi ketukan pulpen itu terasa sampai di jantung Gavin.
"Sendiri Pah," jawabnya pelan.
"Kamu jangan bohong, kata Raina kamu sama pacar baru kamu,"
Gavin melihat Raina, Raina langsung memberi simbol hati dengan jarinya saat Gavin melihatnya.
"Gavin, Papa nggak ngelarang aku pacaran berapapun banyak pacar kamu Papa nggak masalah. Tapi, kamu harus tahu kapan kamu harus bertemu dengan mereka, kapan kamu harus bekerja. Coba lihat semua berkas ini," menunjuk berkas di hadapannya, "berkas ini tak akan selesai dengan sendirinya. Apa kamu nggak kasihan sama kakakmu dia mengerjakan semuanya sendiri, setidaknya bantulah dia seberapa pun yang kau mampu.," nasehat papa.
"Iya pah," lirih Gavin.
"Dengar Gavin, suatu saat nanti mereka akan punya keluarga, mereka tidak akan terus menjagamu. Papa dan Bunda mungkin juga tidak akan selamanya bersamamu, belajarlah mulai dari sekarang. Sekarang kau sudah besar sebentar lagi kau juga akan memiliki keluarga sendiri, Kau harus belajar lebih bertanggung jawab," lanjut Papa bram.
"Iya Pah," hanya itu yang bisa Gavin katakan.
Gavin orangnya pintar, bahkan bisa dibilang dialah yang paling pintar diantara ketiganya. Namun Gavin tak pernah serius dalam urusan pekerjaan nya, ia masih senang bermain-main menikmati hari-harinya.
Bram meletakkan setumpuk berkas di depannya,
"Kerjakan ini, Papa sendiri yang akan memeriksanya besok,"
__ADS_1
"Semua pah," ucap Gavin melihat tumpukan berkas di depannya.
"Iya, semua ini tak seberapa dibanding apa yang setiap harinya di kerjakan kakak-kakak mu," ucap Bram menatap Gavin serius.
"Enggak bisa setengahnya aja Pah,"tawarnya,
"Semuanya Gavin," ucap Papa Bram penuh penekanan, "ingat kerjakan sendiri dan papa sendiri yang akan memeriksanya besok,"
"Iya Pah," ucap Gavin pasrah mengambil tumpukan berkas itu dan membawanya ke mejanya. Gavin menatap Bundanya meminta pertolongan,
"Selamat bekerja ya nak," ucap Bunda tanpa suara, memberi semangat dengan kedua tangannya.
Gavin duduk di meja kerjanya dan mulai mengerjakan berkas satu demi satu.
"Arya kami pulang dulu. Awasi adikmu Cobalah untuk membimbing dia menjadi lebih bertanggung jawab," ucap Bram.
"Iya Pah," Jawab Arya mengantar Papa dan bundanya keluar kantor.
Bram meninggalkan kantor dan kembali ke rumah, seperti itulah yang ia lakukan, ia ke kantor hanya mengecek pekerjaan anak-anaknya saja kemudian kembali lagi menikmati harinya dengan istri tercinta.
Arya melihat Gavin yang sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Kasihan juga ya Kak," ucap Raina melihat penampilan Gavin yang sudah acak-acakan, bahkan dasinya sudah tak berada di tempatnya .
"Biarkan saja, biar dia bisa lebih tau bagaimana rasanya bekerja."
Sore hari Arya dan Raina akan kembali, Iya mendekati Gavin.
"Kita pulang, ini sudah jam pulang kantor besok saja lagi kau mengerjakannya." ajak Arya.
"Kakak pulang saja lebih dulu, tanggung kak, sedikit lagi," ucap gavin masih sibuk dengan laptopnya.
"Iya Kak," jawab Gavin tanpa melihat ke arah Arya.
"Natali kamu mau ikut pulang dengan kami," ajak Raina pada Natali yang sedang membantu Gavin.
"Iya deh, aku pulang aja perutku sedang tidak enak ," ucap Natali.
"Kamu enggak mau temenin aku disini," ucap Gavin melihat Natali.
"Perut aku sedang nggak enak, aku pulang duluan ya," ucap Natali.
"Temenin aku dong," Gavin memelas.
"Maaf ya, aku benar-benar nggak bisa. Aku lagi dapet,"
"Dapet apa?!", tanya Gavin.
"Dapet arisan," jawab Natali mengambil tasnya dan ikut bersama Arya dan Raina kembali ke Apartemennya.
Saat Arya pulang, Bram melihat hanya Arya sendiri,
"Adikmu mana?"
"Masih di kantor Pah, katanya nanggung dikit lagi .Arya ke kamar dulu ya pah,," ucap Arya yang berlalu naik ke kamarnya.
"Mas jahat banget sih sama anak sendiri, Aku lihat tadi Mas terlalu banyak memberinya pekerjaan . Mas sengaja ya?!"
"Enggak kok sayang. Itu cuman sedikit, hanya tumpukan kertas nya saja yang banyak," ucap Bram. Padahal Bram memang sengaja memberi banyak pekerjaan pada Gavin, Ia hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada Putra kesayangannya itu.
__ADS_1
Mikaila mondar-mandir menunggu Gavin, ia terus melihat jam besar yang ada di dinding rumahnya, jam sudah menunjukkan pukul 10 Gavin belum juga pulang.
"Mas Gavin kok belum pulang ya,"
"Kamu telepon aja suruh dia pulang,"
Mikaila mengambil ponsel dan menelpon putranya.
"Halo Bunda," jawab Gavin.
"Kamu kok belum pulang nak ?"
"Dikit lagi bunda,"
"Kamu sudah makan,"
"Sudah kok, tadi minta dibeliin roti sama karyawan lain yang juga lembur," jawab Gavin.
"Roti....Kamu kenyang makan roti?"
"Ya enggaklah bunda!, Tapi nggak apa-apa deh, dikit lagi kok bunda.
"Langsung pulang ya, jangan terlalu kemalaman. Bunda siapkan makanan, makannya di rumah aja nggak usah singgah-singgah lagi," ucap Mikaila.
"Iya bunda," Jawab Gavin mematikan panggilan nya.
"Tuh kan mas, pekerjaannya banyak, jam segini anak kamu masih kerja di kantor ," protes Mikaila.
"Sebentar lagi juga pasti dia pulang,"
"Aku mau menyiapkan makan buat Gavin, katanya dia hanya makan roti ," kesal Mikaila menatap suaminya.
Sementara itu di sebuah Apartemen di luar negeri.
Kelvin baru saja melakukan panggilan video call dengan Natali, kemudian ia melihat ponselnya.
"Kenapa Queen nggak pernah menelpon atau mengirim pesan lagi ya," gumam kelvin yang merasa ada yang kurang saat Queen tak pernah lagi mengganggunya.
"Ya ampun, aku kan memblokir nomornya," Gavin yang baru mengingat jika ia telah memblokir nomor Queen.
Kelvin mencoba menelpon nomor Queen tapi nomornya sudah tidak aktif,
" Kenapa Nomornya tidak aktif ya,"
Kelvin kemudian mencoba lagi namun tetap sama, dia mengirim chat kepada Queen, terbaca namun Queen tak membalasnya.
"Ada apa dengan anak ini ,"batin Kelvin.
💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖
Liiiiiike, Vote dan komennya ya kakak🙏🙏
Salam dariku Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
💆💆💆💆💆💆🤦💆💆💆💆💆💆💆💆💆
__ADS_1