
Gavin terbangun di tengah malam, kakinya masih terasa sakit.
"Ini semua gara-gara kak Syana, ada-ada aja nyuruh orang manjat pohon mangga di tengah malam," gerutu Gavin.
Gavin ingin ke kamar mandi. Namun, kakinya terasa sakit. "Aduh, gimana ini aku mau ke kamar mandi lagi," gumam Gavin.
Gavin kemudian menelpon Arya.
"Ada apa?" tanya Arya yang baru mengangkat telepon darinya setelah menelpon beberapa kali.
"Kak, aku mau ke kamar mandi. Bantuin dong!" pinta Gavin.
"Iya, bentar," jawab Arya.
"Ada apa, Kak?" tanya Raina.
Gavin ingin ke kamar mandi, Kakak bantuin dia dulu," ucap Arya.
"Iya, Kak!"
Sebelum pergi Arya mengecup perut Raina dan berjalan gontai keluar kamarnya.
"Ayo cepat, Kakak bantu?" ucap Arya setelah sampai di kamar Gavin.
Gavin yang sudah tak tahan dengan cepat berdiri sambil dipapah oleh Arya.
"Kamu benar-benar sakit 'kan?" tanya Arya Sambil mencoba membantu Gavin memperbaiki posisi berdirinya.
"Kakak, Gavin itu jatuh dari pohon mangga yang sangat tinggi, bukan jatuh dari beri pohon tomat," kesal Gavin.
"Iya, maaf. Kakak cuman bertanya, nggak usah kesel gitu," ucap Arya bersandar di pintu kamar mandi, matanya masih sangat mengantuk.
"Kak, malam ini tidur di sini, ya! Gimana kalau aku mau ke kamar mandi lagi, dari pada aku telfon Kakak lagi 'kan?"
"udah belum?"
"Iya, ini juga sudah selesai," jawab Gavin.
Arya kembali membantu Gavin ke kasurnya, kemudian tanpa bicara Arya langsung berjalan keluar.
"Loh, Kakak nggak tidur di sini?" tanya Gavin.
"Aku nggak bisa tidur kalau nggak peluk Raina," ucap Arya terus berjalan tanpa berbalik pada Gavin.
"Gimana Kak?" tanya Raina saat Arya kembali ke kamar.
"Udah, tadi dia nyuruh Kakak di tidur di sana, tapi Kakak malas, di kamar sendiri lebih nyaman ada kamu," ucap Arya memeluk Raina dan kembali tertidur, jam baru menunjukkan pukul 3 dini hari.
Pagi hari di Kediaman Abraham Wijaya, semua sudah sibuk di dapur. Mikaila dan Anindita membuat bubur untuk Syana.
"Apakah kemarin kau juga membuatkannya bubur seperti ini?"
"Iya, Mbak. Kemarin Syana menghabiskan bubur yang seperti ini, Aku harap kali ini dia juga menghabiskannya.
"Iya, semoga saja," ucap Anin, "Saat di rumah Syana sangat sulit untuk makan dan terus muntah."
Tak lama kemudian Syana turun dan ikut bergabung dengan mereka.
Syana langsung memeluk ibunya.
"Pagi sayang," ucap Anindita mengecup kedua pipi putrinya.
"Pagi, Bu. Ibu lagi masak apa?" tanya Syana yang masih memeluk ibunya dari belakang.
"Ibu dan tante lagi memasak makanan kesukaanmu hari ini, semoga saja kamu suka dan tak mual lagi," ucap Anindita mengusap rambut putrinya.
"Makasih ya, Bu," ucap Syana berbinar senang.
"Iya, sama-sama sayang. Ibu akan melakukan apa saja untuk cucu Ibu," ucap Anindita memegang perut Syana yang sangat masih sangat rata.
Setelah makanan siap, semua berkumpul di meja makan dan mulai sarapan.
"Apa Gavin belum bisa turun Sendiri?" tanya Arya.
"Sepertinya kakinya masih sakit," jawab Mikaila.
__ADS_1
"Ya, sudah. Aku bantu dia turun dulu," ucap Arya berdiri.
"Udah. Nggak usah, biar Bunda aja yang bawa kan dia sarapan. biarkan adikmu itu istirahat."
"Oh, oke Bunda," Arya kembali duduk dan memulai sarapannya.
Pak Surya menatap Syana yang makan dengan sangat lahap.
"Syana, kau sudah nggak mual lagi?" tanya Pak Surya yang tahu bagaimana penderitaan anaknya itu dalam kehamilan pertamanya.
"Udah nggak lagi, Yah. Syana sekarang juga sudah nggak pusing lagi," Jawab Syana.
"Syukurlah. Berarti nanti kamu bisa ikut pulang bersama kami?" tanya Pak Surya.
Syana mengangguk. "Iya, Pah. Lagian Gavin juga lagi sakit, nggak bisa disuruh buat masak. Padahal Syana sangat suka dengan masakan Gavin."
Mikaila berbatuk-batuk mendengar Syana mengatakan jika masakan Gavin enak. Ia masih ingat betapa hancurnya rasa masakan putranya itu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bram memberikannya segelas air.
Dengan cepat Mikaila minumnya, nggak apa-apa, Mas," jawabnya setelah berusaha menguasai batuk ya.
"Emangnya, Gavin bisa masak apa?" tanya Anindita mengerutkan keningnya.
"Bisa, nasi goreng. Rasanya enak banget, Bu," ucap Syana.
"Ayah kamu juga sangat pandai membuat nasi goreng," ucap Anindita.
"Benarkah, Ayah bisa membuat nasi goreng yang enak?" tanya Syana menatap ayahnya.
"Tentu saja, waktu ibumu hamil kamu, tiap pagi Ayah selalu membuat nasi goreng yang spesial. Rasanya enak hanya bila ibumu yang makannya." ucap Pak Surya.
Syana memiringkan kepalanya, mencoba mencerna apa yang Papanya katakan.
"Apa kalau orang lain yang memakannya, rasanya tidak enak?" tanya Arsy yang juga tak mengerti apa yang dimaksud oleh Pak Surya.
Semua tertawa mendengar pertanyaan Arsy, mereka semua tahu apa yang dimaksud oleh Pak Surya. Kecuali Syana dan Arsy, mereka berdua hanya saling tatap dan mengangkat lagunya, tak mengerti
"Ilham, kamu nggak keberatan 'kan tinggal di rumah kami untuk sementara waktu?" tanya Pak Surya pada menantunya.
"Ayah senang mendengarnya. Bahkan jika memungkinkan, kau bisa bekerja di kota ini saja. Kami sangat kesepian tinggal berdua, kehadiran kalian dan calon anak kalian pasti membuat suasana rumah kembali terasa ramai."
"Ilham akan pikirkan, Yah," ucap ustadz Ilham.
Mereka semua sudah sarapan, hari ini Bram yang menggantikan Gavin untuk menghadiri semua agenda rapatnya.
Arya dan Bram pergi kekantor dan Arsy ikut ke sekolah bersama mereka.
Anindita dan Pak Surya juga pamit untuk pergi ke rumah sakit.
Tinggallah Mikaila Syana dan Raina.
"Kalian saling bertukar pengalaman saja." ucap Mikaila melihat Syana dan Raina.
"Aku akan membawakan sarapan untuk Gavin," ucap Mikaila.
"Biar aku bantu Tante," ucapan Syana mengambil gelas yang di bawah Mikaila.
"Raina kamu sebaiknya istirahat di kamar,"
"Iya, Bunda Raina kamar dulu," pamit Raina.
Raina menuju kamarnya, Sedangkan Mikaila dan Syana menuju ke kamar Gavin.
Sebelum masuk, Mikaila mengetuk pintu dan membuka pintu kamar Gavin yang tak terkunci.
Mereka bisa melihat jika Gavin masih tertidur dengan sangat lelap.
Mikaila duduk di salah satu sisi tempat tidur "Gavin, bangun dulu nak. Sarapan lalu minum obatnya." ucap Mikaila membangunkan Gavin dengan penuh kelembutan.
Gavin hanya menggeliat dan kembali tertidur.
Syana iseng melempar kaki Gavin dengan bantal guling yang ada di dekatnya.
Gavin langsung terbangun dan meringis kesakitan dan menatap kesal kepada Syana.
__ADS_1
"Kakak. Sakit. Tau ga sih makna dari kata sakit,," keluh Gavin mengusap lututnya.
"Sebaiknya kamu makan dulu terus minum obat, biar kaki kamu itu cepat sembuh," ucap Syana tak memperdulikan tatapan Gavin.
"Semalaman, aku nggak tidur, Kak. Kaki aku sakit. Ini gara-gara kakak," kesal Gavin.
"Maaf, maaf kakak kan gak sengaja. Kakak nggak bermaksud buat kamu jatuh."
"Iya, nggak apa-apa. Gavin tahu ini kemauan bayi Kakak 'kan," ucap Gavin mencoba untuk bersabar.
"Bunda, kak Arya mana?"
"Arya, sudah ke kantor. Emangnya ada apa?' tanya Mikaila.
Gavin ingin ke kamar mandi
Bagaimana ini?" tanya Gavin melihat kakinya.
"Biar bunda bantu," ucap Mikaila meletakkan piring yang dipegangnya di atas meja yang ada di sampingnya.
Mikaila dan Syana bersusah-payah memapah Gavin ke kamar mandi, Gavin memiliki postur tubuh lebih tinggi dari mereka.
"Emangnya sakit sekali, Ya?" tanya Syana yang ikut meringis saat Gavin tertati-tati berjalan menuju kamar mandi.
"Kak, ini beneran sakit. Aku jatuh dari pohon mangga, po-ho-n ma-ngga," ucap Gavin menekankan kata-katanya.
"Iya, kakak tahu. Pohon mangga bukan pohon tomat kan?" canda Syana. Namun, tak dianggap lucu oleh Gavin. Kakinya benar-benar sakit.
Syana dan Mikaila menunggu di luar.
Kemudian kembali membantu Gavin saat selesai di kamar mandi.
Mikaila menyuapi Gavin kemudian memberikan obat.
"Apa sebaiknya dibawa ke rumah sakit aja Tante, takutnya ada yang parah dengan kakinya."
"Udah. nggak usah, nggak apa-apa kok Bunda, nanti juga sembuh sendiri. Aku juga sudah minum obat," ucap Gavin layaknya anak kecil yang takut pada dokter.
Syana menatap Gavin yang terlihat begitu kesusahan.
"Kenapa sepertinya aku merasa sangat senang melihat Gavin seperti ini, bahkan saat melihat Gavin jatuh dari pohon waktu itu, mual dan pusingku langsung hilang," Batin Syana mengusap perutnya. "Apa bayi ku juga ingin membalas dendam kepada Gavin, yang hampir menggagalkan rencana pernikahanku. Bahkan menghancurkan malam pertamaku."
Syana masih sangat kesal saat mengingat Gavin yang merusak malam pertamanya.
Setelah makan dan minum obat Gavin kembali berbaring, Mikaila merapikan selimut putranya.
"Bunda keluar dulu, ya. Kamu istirahat saja," ucap Mikaila mengambil piring dan gelas kosong sisa makan Gavin.
"Cepat sembuh, Ya! aku juga pamit pulang," ucap Syana ikut keluar dari kamar Gavin.
Gavin hanya mengangguk samar dan melihat mereka berdua keluar dari kamarnya. Ia pun kembali tertidur, semalam Gavin terus merasa nyeri, dan tak bisa tidur semalaman.
Ustadz Ilham dan Syana kembali ke rumah Pak Surya, ayah Syana. Mereka memutuskan akan tinggal di sana untuk beberapa bulan kedapannya.
"Apa kamu yakin sudah tak apa-apa?" tanya Ilham sesekali melirik Syana sambil tetap fokus menyetir.
"Iya, Kak. Aku sudah benar-benar baik-baik saja, Entah mengapa saat melihat Gavin jatuh dari pohon, ngidam langsung menghilang," ucap Syana kembali mengingat wajah kesakitan Gavin.
"Apa bayi kita ingin memberi pelajaran, ya! Pada Gavin, makanya dia meminta kita untuk menginap di rumah om Bram?" tanya Syana melihat suaminya.
Ustadz Ilham halnya tersenyum mendengar ucapan Syana.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca.🙏
Mohon beri dukungannya ya dengan memberi like dan komennya.🙏
Salam dariku,
Author m anha.
thank you all.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1