
Kelvin yang berada di luar negeri tidak menjadi halangan untuk hubungannya dengan Natali.
Walau hubungan mereka tak memiliki status yang pasti namun mereka sudah sangat dekat.
Kelvin dan Natali semakin sering berhubungan melalui telepon terkadang mereka melakukan video call atau mengirim pesan setiap saat.
Jarak yang memisahkan mereka justru membuat mereka semakin dekat, Kalvin selalu memberi kabar kepada Natali begitu pula sebaliknya.
Jika biasa Natali diantar jemput oleh Kelvin ke kampus dan ke kantor, pagi ini Natali diantar oleh Kak Jessica ke kampus.
Walau diantar oleh orang yang berbeda namun Natali tetap merasa senang. Keduanya adalah orang yang sangat berarti di hidup nya.
Selama ini Natali selalu mengimpikan diantar ke sekolah oleh kakaknya, saat melihat teman-teman di antara oleh orang tua mereka.
Hari ini Natali dan Jessica akan menghabiskan waktu berdua sepulang Natali kuliah. Sambil menunggu Natali pulang kuliah, Jessica menemui Alex, mereka sudah janjian di sebuah cafe sekitaran kampus Natali.
Hubungan Alex dan Jessica pun semakin dekat, Jessica sangat berterima kasih kepada Alex atas apa yang telah di lakukan nya.
Jessica baru tau jika Alex selama bertahun-tahun terus mencarinya walau atas perintah Bram.
Di kediaman Abraham Wijaya,
Semalam Arya terus memikirkan siapa pemilik nama yang ada di daftar warisan Papa nya, ia bahkan mencari semua berkas-berkas yang ada di sana namun tak satu pun yang menyangkut nama Zaky. Nama zaky hanya ada di berkas daftar warisan kekayaan Papanya.
Pagi hari saat sarapan Arya terus memperhatikan Papanya,
"Siapa Zaky sebenarnya. Apa hubungan Papa dengan Zaky, apakah Bunda tahu jika Zaky ada di daftar warisan Papa," batin Arya.
"Arya ada apa?" tanya Mikaila yang melihat Arya yang terus diam tak seperti biasanya,
"Enggak apa-apa Bunda," jawab Arya mulai memakan sarapannya.
Seperti biasa, sebelum ke kantor Arya akan menjemput Raina di Apartemennya dan mengantar ke kampus.
"Kak, Kakak kok enggak pernah ke kampus ya?" tanya Raina yang sudah beberapa hari Iya kuliah di tempat yang sama dengan Arya namun Raina tak pernah melihat Arya ke kampus, Arya langsung ke kantor setelah mengantar nya.
__ADS_1
"Kakak Sudah selesai, tinggal menunggu panggilan untuk wisuda aja," jawab Arya.
"Kok cepat banget kak?!" tanya Raina.
Arya hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Raina. Bagaimana tidak cepat, jika kampus tersebut merupakan salah satu kampus dimana Wijaya group memiliki saham terbesar di sana.
Saat di kantor Arya tidak konsen mengerjakan pekerjaannya, pikirannya terus tertuju pada satu nama yaitu Zaky. Arya memainkan pulpen di jarinya, memutar-mutar pulpen tersebut. Kemudian ia menyandarkan bahunya di sandaran kursi mencoba mencari jawaban dari semua pertanyaan di kepalanya,
"Jika Zaki tak punya hubungan dengan papa, mengapa Papa harus memberikan sebagian harta miliknya dan itu jumlahnya tidak sedikit. Apa Papa merahasiakan sesuatu dari kami dan juga bunda. Tapi itu tidak mungkin, Papa bukan orang seperti itu, apa Papa punya anak dari wanita lain. Tidak, tidak, tidak mungkin aku pasti salah jika Papa punya wanita lain. Papa takkan sebahagia itu dengan Bunda, Papa sangat mencintai bunda. Apa jangan-jangan Bunda tahu jika Papa punya anak lain ," gumam Arya mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi di sini.
"Aaaaaaahg," Teriak Arya menjambak rambutnya sendiri, semua pertanyaan itu membuat kepalanya seakan ingin pecah. Di satu sisi Iya sangat percaya kepada Papanya, sosok yang sangat ia kagumi. Dan di sisi lain ia tak bisa memungkiri jika surat warisan itu sangat mengganggunya.
Tak lama kemudian Yoga masuk ke ruangan Arya dan melihat penampilan Arya yang acak-acakan, tak seperti biasanya.
"Ada apa? kau baik-baik saja? kau ada masalah?!" tanya Yoga menatap aneh pada ponakannya itu sekaligus pemimpinnya.
Arya hanya menggeleng sambil terus mengacak-acak rambutnya, ia menghela nafas panjang dan menatap Yoga.
"Om Yoga kan sudah bersama Papa sejak dulu, bahkan sebelum menikah dengan bunda. Apa om Yoga tahu sesuatu mengenai seseorang yang bernama Zaky itu. Apa aku tanya saja pada om Yoga," batin arya menggigit bibirnya dan menatap Yoga penuh tanya.
"Apa Om Yoga tahu sesuatu tentang orang yang bernama Zaki ?" tanya Arya ragu.
"Zaky?!" tanya balik Yoga,
"Iya Zaky, apa Om tahu sesuatu mengenai dia, apa hubungan dia dengan Papa ?" tanya Arya .
"Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang Zaky?" tanya Yoga.
"Semalam aku melihat nama itu berada di daftar warisan Papa, apa sebenarnya hubungan Papa dengan Zaky," tanya Arya yang kini menegakkan duduknya agar lebih dekat dengan Yoga.
Yoga tak menjawab, ia hanya terdiam.
"Apa om tahu sesuatu?! tolong beritahu Arya Om," desak Arya,
"Om tidak bisa memberitahumu tentang Zaky, jika kau ingin tahu tanyakan sendiri pada papamu?!" jawab yoga menyerahkan berkas kepada Arya.
__ADS_1
"Papa, maksud Om?!" tanya Arya,
"Iya papamu, ia yang lebih berhak untuk menjelaskannya. Kau sudah besar aku rasa papamu akan menjelaskannya kepadamu jika kau menanyakannya,"
Arya menatap Yoga penuh curiga,
"Apa sebenarnya hubungan Papa dengan Zaky Ini," batin Arya.
"Baiklah kalau om tak mau menjawab pertanyaanku, aku akan menanyakan sendiri kepada Papa" ucap Arya.
"Apapun jawaban Papa kamu, aku harap kamu bisa mengerti dan berfikir tenang. Jangan terbawa emosi," Yoga menasehati Arya
"Apa maksud om?" tanya Arya semakin curiga dengan apa yang diucapkan oleh Yoga.
Yoga mengambil berkas yang sudah di tandatangani oleh Arya.
Arya terus melihat kearah Yoga.
"Aku sarankan kau menanyakannya hal itu saat Kalian sedang berdua," ucap Yoga kemudian keluar membawa berkas yang sudah ditandatangani oleh Arya.
"Semoga saja yang aku pikirkan itu salah," batin Melihat Yoga menghilang dari balik pintu.
Malam harinya Arya kembali melihat berkas itu di ruangannya. Ia terus membolak-balik kertas itu, dia tidak salah membaca Zaky juga mendapat bagian dari apa yang dimiliki oleh Papanya. Arya menyimpan berkas itu di laci bagian atas dan ia turun ke bawah bersama yang lain.
Arya duduk didekat Gavin yang sedang melakukan panggilan video pada Kelvin, Semua terlihat sangat senang begitu juga dengan Papa dan bundanya, Arsy terus saja mengambil alih pembicaraan, menanyakan ini dan itu. Menanyakan kapan kakaknya itu akan kembali, padahal belum sebulan ia meninggalkan rumah mereka.
Arya melihat Bunda yang bersandar di dada Papanya terlihat sangat bahagia,
"Apakah tak masalah jika aku menanyakan hal ini pada Papa, apakah ini tak akan menyakiti Bunda ," batin Arya
πππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca, tolong beri likenya ya di setiap babnya dan jangan lupa beri vote dan comment sebanyak-banyaknya.
Bisa mampir ke karya My Papa my Juga ya sambil menunggu update selanjutnya.
__ADS_1
Salam dariku author m anhaβ€οΈ love you all.π